The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 25



Ku rebahkan tubuh ini di ranjang, kebetulan sekali. Bunda dan ayah, tidak ada di rumah. Waktunya untuk tidur sore. Perlahan ku tutup mataku. Setelah menghidupkan alarm.


Pukul 19.45


Tring......Tring......Tring......


Alarm pun telah berbunyi. Sedangkan alya, masih betah memeluk bantal gulingnya.


Tring.....Tring.....Tring......


Dengan malasnya alya mematikan alarmnya.


"Gue harus mandi nih ! Sebelum ayah, dan bunda datang." gumamku.


Selesai mandi. Aku bergegas menuruni anak tangga untuk menuju ke dapur.


"Makan dulu deh. Setelah itu nonton televisi."


Ku ambil nasi, serta lauk pauk. Yang sudah di siapkan oleh bunda di meja makan. Tidak lupa aku membaca doa sebelum makan.


Setelah selesai makan gegas aku mencuci piring. Ketika hendak mengambil remote. Tiba tiba ada suara pintu terbuka.


"Assalamualaikum." seru bunda.


Ternyata benar dugaanku, yang tadi buka pintu adalah bunda.


"Waalaikumsalam Bun." ucapku.


Sembari menghampiri bunda, dan terlihat bunda membawa banyak kantong kresek belanja. Sedangkan ayah, mungkin masih berada di bagasi untuk memarkirkan mobil.


"Waaaah.....Bunda beli apa saja tuh ? Punya alya ada gak !" tanyaku.


Setelah mencium telapak tangan bunda.


"Bunda belikan makanan favorit kamu." seru bunda.


Sembari memberikan satu kantong kresek sedang padaku.


"Makasih bunda. " ujarku senang.


Ku buka kardus kecil yang tadi di berikan bunda. Ternyata, bunda membelikan martabak terang bulan untukku. Dengan dua varian rasa yaitu coklat dan keju. Aku mengambil yang rasa coklat terlebih dulu dan memakannya.


"Nak. Ada yang cariin kamu di depan." ucap ayah.


Berjalan menuju ruang keluarga. Di mana aku dan bunda duduk.


"Teman siapa yah ? Alya gak sedang buat janji malam ini." tanyaku heran.


" Tadi dia bilang, mau kerja kelompok di rumah temannya. Terus dia telfon kamu gak di angkat. Coba kamu temui saja dia nak. Soalnya, tadi sama ayah. Sudah di suruh masuk ke dalam. Malah dia gak mau." ujar ayah.


"Iya yah. Alya temui dia dulu." ucapku.


Sembari berjalan menuju pintu.


"Siapa sih ! Yang bertamu jam segini. Sudah gitu bilangnya mau kerja kelompok. Padahal gak ada PR deh !" gumamku heran.


"Ngapain lo ke sini lagi ?" tanyaku ketus.


Ketika tau siapa teman, yang di maksud ayah tadi. Siapa lagi, kalau bukan aldo yang suka sekali menggangguku, akhir akhir ini.


"Kenapa telfon gue gak lo angkat ?" tanyanya balik.


Orang satu ini. Biasanya menjawab pertanyaan. Eh ini, malah balik bertanya.


Ku hembuskan nafasku dengan kasar. Lagi lagi aku harus bersikap sabar dengannya.


"Gue gak megang handphone sama sekali." ucapku ketus.


"Terus maksud lo apa? Bilang ke ayah gue kalau lo ngajak gue kerja kelompok." tanyaku lagi.


"Gue mau ajak lo jalan malam ini, dan gue gak nerima penolakan sama sekali." ujarnya dingin.


"Bukan ngajak namanya, tapi pemaksaan. Gue gak mau keluar rumah malam ini. Gue ngantuk." tolak ku kasar.


"Owh. Jadi lo gak mau yah. Sepertinya gue harus kasih lo hukuman kecil deh !" ucapnya.


Sembari berjalan mendekatiku, yang hanya berjarak dua langkah saja.


"L - Lo mau ngapain ? Jangan macem macem yah sama gue." ujarku gugup.


Sambil memundurkan badanku. Takut aldo bertindak sesukanya.


Setelah berhasil mengungkung ku di pagar rumah.


Glek


Rasanya susah sekali menelan saliva ku. Jika keadaan seperti ini.


"Stop. ok, gue mau keluar sama lo. Tapi, gue mau ganti baju dulu." ujarku.


"Ok. Gue tungguin lo di sini, Liat saja kalau lo bohongin gue. Bakal gue samperin ke dalam rumah lo." ucapnya.


Melepas alya dari kungkungannya.


Gegas alya segera berlari untuk masuk ke dalam rumah. Dan meminta ijin pada ke dua orang tuanya.


"Kenapa kamu lari lari nak ?" tanya bunda.


Ketika aku melewatinya begitu saja. Biarlah aku akan meminta ijin setelah aku mengganti bajuku.


"Gpp bun. Alya sedang terburu buru." seruku.


"Ayah. Di mana bunda ?" tanyaku.


Menghampiri ayah, yang masih berada di ruang tamu menonton televisi. Setelah aku mengganti baju yang lebih santai. Aku hanya mengenakan hoodie warna coklat susu, serta celana jeans panjang yang longgar.


"Bunda, sedang ke toilet tadi nak. Kamu mau keluar dengan temanmu yang tadi ?" tanya ayah.


"Iya yah. Alya lupa tadi, kalau sekarang kerja kelompok di rumah ketua kelasku. Alya pamit dulu ya yah ! Sudah di tungguin sama teman Alya." ucapku.


Tak lupa mencium tangan ayah dengan takzim.


"Hati hati nak. Dan jangan pulang terlalu larut. Anak gadis gak baik berada di luar malam malam." ucap ayah sembari tersenyum padaku.


"Asiap yah." seruku.


Gegas aku keluar rumah untuk menghampiri aldo. Jika mengingat tadi, membuatku emosi saja. Tiba tiba dia datang tanpa di undang. Dan malah membuatku mati kutu karna ancamannya.


"Sudah." tanya aldo.


Ketika aku sudah sampai di depannya.


"Gak bisa liat apa ! Pakaian gue yang sekarang beda dengan yang tadi." rutuk ku dalam hati.


"Gak usah ngatain gue dalam hati lo al." ucapnya.


Gegas aku menaiki motornya. Sambil berpegangan pada pundaknya. Bukan karna ingin modus tapi, ahli ahli menjaga keseimbangan tubuhku. Agar tidak terjatuh.


Brum.....Brum...... Brum.....


Refleks tanganku memeluk pinggangnya erat. Tentunya, hanya refleks bukan di sengaja.


"Tak bisa kah. Jika mengendarai motor tak selalu rem mendadak ! Bikin gue jantungan mulu setiap boncengan dengannya." batinku kesal.


Bukannya membuatku salah tingkah. Dengan cara dia mengendarai motornya seperti ini ! Malah membuatku jantungan tak karuan.


Beberapa menit kemudian.


"Kenapa lo diem aja ? Biasanya lo cerewet." pekik aldo.


Takut pembicaraannya termakan oleh angin. Sudah dua puluh menitan, kita masih berada di tengah jalan. Entah mau di bawa kemana diriku, sehingga harus membutuhkan waktu selama ini. Untuk sampai ke tujuan.


"Gue gak mood mau ngobrol sama lo. Gak ada gunanya juga." pekikku.


Sedangkan aldo. Memperhatikan alya di balik spionnya. Dengan senyuman tipisnya setipis tisu.


"Gue akan bawak lo ke suatu tempat, yang belom pernah lo kunjungi. Lo pasti bakal suka sama tempatnya." pekik aldo.


"Ya ya....." gumam alya pelan.


Sehingga aldo saja tidak bisa mendengar gumaman alya.


"Bukannya ini. Jimbaran ancol ?" tanyaku pada Aldo.


Ketika sudah memarkirkan motornya. Dan memasuki Jimbaran ancol.


"Yap, gue ngajak lo ke sini, bagus kan ?" tanyanya.


Sembari menatapku dengan intens. Sedangkan aku, masih fokus mengagumi wisata dengan lampu kuning yang remang remang. Meski aku menetap di Jakarta, tidak pernah aku mendatangi tempat ini. Karna jika keluar bermain bersama lidia. Tidak pernah ke tempat sejauh ini. Aku memang sempat mendengar wisata jimbaran ancol, tapi tak ku duga wisatanya sebagus ini. Membuat siapa saja akan betah berlama lama di sini.