
"Kakek. Nenek, alya pulang dulu yah ! Jaga kesehatan di sini. Kalau bisa tinggal di kota bersama alya." ucap alya. Yang sudah mencium tangan kakek dan neneknya.
Hari ini adalah. Hari terakhir liburan di kampung. Jadi, memutuskan untuk segera pulang. Lidia juga sudah pulang sedari tadi, hanya alya saja yang masih belum beranjak pergi. Karna tidak tega meninggalkan kakek dan neneknya.
Hikkkkksssss
"Alya bakal kangen sama kakek dan nenek." Isak Alya.
"Iya nak. Nenek dan kakek pasti merindukan kamu. Pulanglah, kasian ayah dan bundamu menunggu sedari tadi." ucap nenek.
"Ya sudah. Alya pulang dulu nek. Kakek di sini juga jaga kesehatan, jangan selalu berkebun." seru Alya.
Sesampainya di rumah.
"Akhirnya, sampai juga di kamar tersayang."
"Besok sudah mulai masuk sekolah. Semoga saja, belajar lebih giat lagi. Dari yang sebelumnya." ucap alya.
Yang sudah menjatuhkan bobot badannya di ranjang.
Drt.......Drt......Drt......
"Aduh siapa sih. Yang berani ganggu gue ! Gak tau orang lagi capek apa !" gerutunya.
Sembari mengambil handphonenya di tas slempang yang berada di sampingnya.
"Nomer baru. Siapa yah ! Perasaan lidia gak ganti nomer deh. Angkat saja deh ! Siapa tau penting." gumam alya.
"Halo." ucap alya. Mengangkat telepon.
"Gue kangen sama lo. Besok gue ke rumah lo, kita berangkat sekolah bareng." ujar seseorang di seberang sana, yang tidak asing bagi alya.
Deg
"Ini beneran Aldo kan! " batinnya.
"Al. Lo dengerin gue kan ?" ucap aldo lagi.
"Gak usah jemput gue. Gue bisa berangkat sekolah sendiri ,tanpa di jemput sama lo."
"Gak ada penolakan" tegas Aldo.
"Gue kan udah bilang ta."
Tut.....Tut......Tut.......
Belum selesai Alya bicara, telepon sudah di matikan lebih dulu oleh Aldo.
"Iih.....Nyebelin banget sih. Awas saja besok, gue bakal lebih dulu berangkat sekolah sebelum lo datang ke rumah gue." sungut Alya kesal.
Sembari menaruh handphonenya dengan kasar.
Keesokan harinya.
"Bunda, ayah. Alya berangkat sekolah dulu." seru Alya.
Sudah berada di meja makan, untuk mencium tangan kedua orang tuanya.
"Kamu tidak sarapan dulu nak? " tanya bunda.
"Sudah siang bun. Alya jadi kesiangan bangunnya, gara gara tidak menghidupkan alarm tadi malam." ucap alya sembari makan sehelai roti.
"Bawak bekal kamu nak." seru bunda.
Menyodorkan tepak makan di depan alya.
Segera alya, memasukkan tepak makan di dalam tasnya.
"Assalamualaikum." ucap alya.
"Hati hati di jalan nak." seru ayah.
"Asiap komandan."
Gegas alya berjalan menuju garasi, di mana motornya berada. Sembari memegang kunci motor.
Suara klakson pun berbunyi di luar pagar rumah alya.
"Perasaan, lidia tadi ngchat gue deh. Kalau dia duluan berangkat ke sekolah karna takut telat. Kalau nungguin gue. Mungkin dia berubah pikiran, gue samperin saja deh, dari pada dia berdakwah nantinya." gumamku.
Segera aku menuju pagar. Untuk menghampiri lidia. Tumben saja tidak langsung masuk ke dalam rumah, malah menungguku di luar rumah.
"Lo bilang tadi, mau duluan berangkat ke sekolah. Sudah berubah pikiran yah !" ujarku, yang gegas menghampirinya.
Sembari menaruh kunci motor di dalam tasnya.
Sedangkan yang di hampiri oleh alya. Menatapnya dengan intens.
"Gue sudah sedari tadi nungguin lo." ucap aldo.
Setelah alya sudah berada di depannya.
Sedangkan alya, langsung menatap lawan bicaranya.
"Ngapain lo di rumah gue ?" tanya alya, dengan sinis.
"Bukannya kemaren gue sudah bilang sama lo, kalau kita akan berangkat sekolah bareng !" ujarnya.
Sembari turun dari motornya.
"Duh.....Gue lupa kalau hari ini aldo bakal jemput gue." gumam alya pelan, dengan menepuk jidatnya.
"Gak usah tepuk jidat gitu. Gue tau apa yang lo pikirkan." ucap aldo.
Sembari mengangkat Alya dan mendudukkan di atas motornya.
"Ngapain lo angkat badan gue segala. Jijik gue kalau kulit gue bersentuhan sama lo." ucap alya dengan sinis.
"Dulu lo selalu nempel ke gue, bahkan lo sering meluk meluk tangan gue tanpa ijin dari gue." ujar aldo.
"Kalau yang dulu ya sudah yang dulu. Tidak usah di ingatkan kembali." ucapku dengan kesal.
Seenaknya saja dia mengangkat tubuhku tadi, tanpa ijin dariku. Kalau dulu sih, memang wajar aku suka menempel padanya. Bahkan, bersentuhan kulit pun dengan dia aku merasa senang. Lah ini ! Bukannya buat aku bahagia dan senyum senyum sendiri seperti dulu malah merasa aku jijik berdekatan dengannya lagi. Entahlah aku sudah muak saja dengannya. Ngapain juga dia menjemputmu segala, seperti gak ada kerjaan lain apa.
" Pegangan al, kalau lo jatuh gue gak mau di penjara gara gara gue mengendarai motor dengan kebut kebutan." seru Aldo.
"Gak usah modus, gue bisa pegangan di body motor tanpa pegangan sama lo." ucapku tak suka.
Sedangkan aldo hanya tersenyum tipis di balik helmnya, setelah mendengar ucapan alya tadi.
Brummmmm........
Refleks tanganku memeluknya, karna kaget juga takut jatuh. Tiba tiba saja dia gas motornya dan langsung mengerem mendadak.
"Nah ! Seperti ini kan enak. Keliatan kalau gue bukan sopir lo." pekik aldo.
Takut suaranya hilang di bawa angin.
Ku hembuskan nafasku dengan kasar, segera aku melepas pelukanku. Jika lama lama seperti ini, juga tidak baik untuk jantungku. Perasaan memang tidak bisa berbohong, meski aku selalu menepis perasaanku. Akan tetapi kalau berdekatan seperti ini, ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata.
"Jangan di lepas al, gue pengen di peluk kayak gini sama lo." ucap aldo.
Sembari menahan tangan alya yang ingin melepaskan pelukannya.
"Gue tau. Meski lo selalu menghindari gue, dan jauhin gue. Lo masih ada rasa sayang untuk gue. Gue akan mengejar lo sampai lo benar benar seutuhnya jadi milik gue. Meski akan sulit bagi gue, karna sikap lo yang selalu sulit untuk gue jangkau. Gue sadar al, kalau sebenarnya gue juga sayang sama lo. Tapi bodohnya gue, selalu menyakiti hati lo dengan sikap gue. Gue menyesal sekarang, kenapa gak dari dulu gue menyadari perasaan gue ke lo." ucapnya lagi.
Seketika membuatku tidak bisa membalas ucapannya. Apakah benar ! Dia punya perasaan yang sama kepadaku. Aku tidak boleh terlalu percaya padanya. Aku tidak mau di sakiti untuk yang kedua kalinya. Biarlah dia mengejarku jika dia benar benar mencintaiku.
Sedangkan aldo. Menatap alya dengan intens di balik spionnya.
Sesampainya di sekolah
"Jangan turun dulu, gue bantuin Lo turun. Supaya gak jatuh." ucap aldo. Segera turun dari motor.
Tanpa mendengar ucapan aldo, gegas alya turun dari motor dengan pelan pelan. Agar tidak jatuh untuk yang kedua kalinya.
"Gak usah, gue bisa turun sendiri tanpa bantuan lo." ucap alya yang sudah turun dari atas motor.