The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 35



Gegas aldo, menghidupkan mesin motornya dan melajukan motornya dengan kencang. Meninggalkan area rumah alya.


"Aah......Gue senang banget hari ini, pertama kalinya gue melihat alya saat tidur, begitu menggemaskan." teriak aldo di tengah jalan.


Beruntungnya jalanan sepi tidak ada pengendara lain, bisa bisa di kira orang gila jika ada yang mendengar teriakan aldo.


Sedangkan di sisi lain tepatnya di kamar alya. Sedari tadi tak henti hentinya, bolak balik berjalan seperti baju di setrika.


"Kok bisa sih ! gue ketiduran pas di jalan. Biasanya gue gak kayak gini. Gue keliatan jelek gak sih ! saat tidur tadi. Aldo liat gue gak ! waktu gue tidur." cerocos alya.


" Tunggu dulu. Kenapa gue harus mementingkan cantik enggaknya, pas tadi tidur di bahu aldo. Lagian bagus juga, kalau aldo liat gue waktu tidur kelihatan jelek. Jadi, dia gak akan mengejar gue lagi. Lebih baik gue tidur aja." gumam alya.


Segera merebahkan bobot tubuhnya di ranjang.


"Al, sepulang sekolah ikut gue ke mall yah." ajak lidia.


Saat sudah sampai di sekolah.


"Gue gak mau ikut, kalau nanti gue di jadikan nyamuk." ucap ku.


"Gak lagi ngajak dava al, kita ke mall untuk menemani rina beli peralatan sekolahnya. Sedangkan mama gak bisa, jadi gue yang di suruh untuk mengantarkan rina." ucapnya.


"Gue gak bisa lid, sepulang sekolah gue bantu bunda mengantarkan pesanan customer. Setelah itu sekolah kursus masak, kalau gue bolos lagi, bisa bisa hukuman gue tambah berat dari chef ahmad. Lo ajak dava aja." ujar ku.


"Dava lagi gak bisa al. Dia ada urusan penting, ayolah temenin gue, gak asik kalau gak ada temannya." ujarnya sembari menampilkan puppy eyes padaku.


"Gue benar benar gak bisa lid." ucap ku.


Sembari duduk di bangku, setalah sampai di dalam kelas.


"Kalau gitu, gue yang akan minta ijin ke tante, supaya lo bisa ikut serta nemenin gue dan rina ke mall. Tante lastri kan baik, gak kayak lo. Pasti tante bakal ijinin lo nemenin gue." ucap nya sumringah.


"Lo bilang apa tadi ? Owh...berarti gue gak baik ya ke lo. Ya udah, kalau gitu gue bakal ngomong ke bunda jangan mengijinkan gue untuk nemenin lo." ucap ku kesal.


"Eh.....Jangan dong al, maaf gue tadi cuma bercanda." ucap nya.


Sembari menampilkan senyumannya padaku.


"Hahaha...... Bisa bisanya doni di tembak cewek culun." tawa riski.


Empat sekawan serangkai, memasuki kelas. Tidak lupa juga ada aldo yang saat ini, memandang ke arah alya.


"Al, tuh aldo lagi liatin lo." ujar lidia.


Refleks aku melihat ke depan, tatapan kami pun bertemu. Ku lihat aldo yang mengedipkan matanya padaku genit. Sembari berjalan, menuju ke arahku. Lebih tepatnya, aldo berjalan menuju bangkunya yang berada di sampingku.


"Kesambet di mana tuh orang." gumam ku.


Setelah aku sadar dari lamunanku.


"Al, sepertinya aldo salah minum obat deh." bisik lidia padaku.


"Mungkin. Gak biasanya, dia genit seperti itu." ucap ku bergidik ngeri.


Bagaimana tidak membuatku ngeri, cowok yang terkenal pendiam dan dingin. Hari ini malah bersikap genit padaku, dengan kedipan matanya.


"Sayang, kamu nantik pulang bareng aku yah !" ajak dava pada lidia.


Saat ini kami bertiga sudah ada di kantin, berhubung mata pelajaran pertama dan kedua jam kosong. Jadi memutuskan untuk bersantai di kantin.


"Maaf sayang. Hari ini, aku mau pulang bareng alya dulu. Besok aku berangkat dan pulang bareng kamu." ucap lidia manja.


"Padahal nantik aku gak bisa temenin kamu ke mall, sekarang malah gak pulang bareng aku." ucap dava.


"Khem....Khem...."


Sengaja aku berdehem dengan suara yang agak keras. Biar mereka sadar, bahwa masih ada aku di sini. Bisa bisa nya mereka berdua mengabaikan ku.


"Gak usah sok lupa, memang pada dasarnya jomblo selalu di belakangi. Dunia terasa menjadi milik kalian berdua yang kasmaran." ucap ku.


Sembari memasukkan pentol ke dalam mulutku dan mengunyahnya dengan sedikit kasar.


"Oh iya al. Hari ini kan jam kosong, gimana kalau kita pulang duluan. Gak ada yang melarang kan ! Lagian ngapain juga lama lama di sekolah kalau gak ada pelajaran." ucap nya.


"Kalau gitu, kita pulang duluan aja. Lagian kita bisa berlama lama di mall, tanpa harus buru buru dengan waktu." ucap ku.


"Bener tuh al. Jadi, ke rumah lo dulu terus ke rumah gue langsung ke mall."


Sedangkan dava, hanya menjadi pendengar. Tanpa menimpali ucapan kita.


"Oh iya. Memangnya, dek rina pulang sekolah jam berapa ?" tanya ku.


"Bentar lagi jam 10.30 dia pulang al." ucap lidia.


"Sayang, maaf yah ! Gak bisa nemenin kamu dan adek mu ke mall. Kalau bukan ada urusan penting aku akan nemenin kamu." ucap dava.


"Iya sayang, gpp kok. Lagian ada alya yang nemenin aku." ucap lidia.


Sembari mengelus lengan dava dengan pelan.


"Tante, boleh yah ! Alya aku bawak ke mall." ujar lidia.


Setelah sampai di rumah ku. Dan langsung menghampiri bunda di dapur.


"Ya sudah, alya boleh ikut kamu. Lagian, kue nya bakal di ambil kesini sama customer tante." ucap bunda.


"Alhamdulillah. Makasih tante." seru lidia.


"Yuk al, ke rumah gue. Lo buruan ganti baju sana." ujar lidia.


Sembari mendorong tubuhku.


"Dek, kita naik taksi aja yah, kalau naik mobilnya papa kakak gak bisa nyetir." ujar lidia pada rina.


Saat ini, aku, lidia juga rina. Sudah duduk di teras depan rumah lidia.


"Ya sudah kak, gpp naik taksi aja." ucapnya.


Gegas lidia memesan taksi di gojek.


Tak lama kemudian, taksi yang di pesan lidia sudah datang.


"Ayo al." seru lidia.


Gegas aku, lidia dan rina menaiki mobil.


"Mau ke mana neng." tanya sopir taksi.


"Ke mall jalan kelinci ya pak." ujar lidia.


"Baik neng."


"Kak, aku sudah ijin ke mama. Setelah membeli peralatan sekolah, aku mau main di wahana permainan yah kak." ucap rina sumringah.


"Siap dek. Tapi ada satu syarat, kamu gak boleh pergi tanpa sepengetahuan kakak sesampainya di sana."


"Iya kak. Lagian ada kak alya juga, mana mungkin aku bisa kabur." ucap nya cemberut.


Rina ini, meskipun sudah kelas lima masih tetap aja seperti anak kecil. Dan suka bikin orang kebingungan karna ulah nya yang suka menghilang tanpa ijin.


"Nah, itu kamu tau. Makanya, jangan selalu suka menghilang. Kalau mau pergi kemana mana itu, ijin dulu. Harus belajar berpamitan, kamu sudah besar, jangan selalu bersikap seperti anak kecil. Yang harus di ajarkan setelah membuat kesalahan." ujar ku.