The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 22



POV Aldo.


Pagi sekali, aku sudah sampai di depan rumah alya. Untuk berangkat sekolah bersama, selama dua minggu ini. Aku selalu merindukannya. Selama liburan juga, aku selalu menelponnya. Tapi sialnya, nomerku malah di blokir oleh alya. Jadi, aku memutuskan untuk mengganti nomerku, agar bisa menghubunginya kembali. Entahlah. Aku juga tidak tahu, kenapa alya bisa setega ini. Memblokir nomerku.


"Semoga saja, alya masih belom berangkat ke sekolah." gumamku.


Yang sudah mulai gelisah karna alya tidak kunjung kelihatan batang hidungnya. Hampir setengah jam aku menunggunya. Biasanya dia tidak pernah siang seperti ini jika berangkat sekolah.


"Apa gue, telfon saja ya !" gumamku.


Sebelum aku menelfon nomer alya, aku sudah lebih dulu melihat alya yang menuju motornya.


Segera ku klakson motorku, supaya dia menghampiriku. Apakah dia tidak ingat ! Bahwa hari ini, aku akan menjemputnya.


Tiin.....Tiin.....Tiin.....


Ku klakson motorku dengan sangat nyaring. benar saja, alya segera menuju depan pagar rumahnya, di mana aku menunggunya.


" Lo bilang tadi, mau duluan berangkat ke sekolah. Sudah berubah pikiran yah !" ujarku, yang gegas menghampirinya.


Sembari menaruh kunci motor di dalam tasnya.


Samar samar ku dengar alya, menyebut nama lidia. Ternyata benar dugaanku, alya tidak mengingat bahwa aku akan menjemputnya. Ku lihat alya dengan intens yang masih sibuk dengan tasnya.


Ternyata begini ya, rasanya tidak di pedulikan, memang sakit rasanya. Pantas saja, alya selalu bersikap acuh tak acuh padaku. Sehingga hal sekecil ini saja dia tidak mengingatnya.


Flashback on


"Al. Sini." seru lidia. Melambaikan tangannya.


Ketika melihat alya yang sedang mengedarkan pandangannya. Untuk mencari bangku yang kosong.


Gegas Alya menghampiri lidia, di bangku sebelah kiri. Dekat jendela, yang berada di belakang.


"Pinter juga ya ! Lo cari bangku." ucap alya.


Setelah duduk di samping lidia.


"Iyalah. Gue kan dari lahir sudah pinter." ucapnya.


Dengan menyombongkan diri.


"Maksud gue, pinter cari bangku yang tidak mudah di jangkau sama guru. Lo kan, maunya bermalas malasan kalau belajar." ucapku jumawa .


"Nyenyenye......" cibirnya.


"Nyebelin Lo." ucapku.


"Hai al ! " sapa nanda.


Yang duduk di depanku, bersama doni. Artinya, aldo juga akan duduk di bangku belakang tepat di sampingku.


"Hai, juga nan." jawabku.


"Owh. Lo mau musuhan yah ! Sama gue ? Cuman alya saja, yang lo sapa." ujar lidia.


"Hai juga lid. " ucap nanda.


"Sudah telat." ucapnya ketus.


"Memang bener yah ! Semua cowok di mata cewek selalu salak, salak dan salak, gak ada benarnya." ujar nanda.


"Salah woy salah, bukan salak. Kalau salak banyak, di toko buah ada." seru doni menimpali.


Sedangkan aku hanya bisa mengulum senyum, karna ulah mereka.


"Owh salah yah !" ujar nanda, menggaruk tengkuknya.


"Dih.....Sok sok an buat kata kata puitis lo." ujar lidia.


"Suka suka gue lah."


"Oh iya al . Tumben duduk di belakang ? Biasanya lo bakal duduk di bangku tengah." tanyanya.


"Nurutin apa maunya kanjeng ratu nan." jawabku.


Sembari melirik lidia yang sedang menatapku.


"Al." ucapnya.


"Don, lo kelihatan ayang gue gak? " tanya laura.


Seketika, aku menatap laura yang sudah berada di depan bangku doni. Sambil menatapku dengan tatapan tidak suka. Punya salah apa aku, sehingga menatapku seperti itu.


"Gak tau. Gue gak lagi berangkat sama aldo tadi." ucapnya.


Tanpa mengalihkan pandangan dari benda pipih nya.


"Ayang ayang. Gak malu lo ? Sudah putus masih saja nempel macam ulat bulu saja." ujar nanda.


"Gak usah ikut campur lo." jawab laura dengan sinis.


Sedangkan yang di carinya. Baru saja memasuki kelas, dan menuju di bangku belakang tepatnya di sampingku.


Segera laura menghampiri aldo, yang sudah duduk di bangkunya. Sembari melihat alya, yang sedang mengobrol dengan lidia.


"Sayang, kok kamu sudah gak jemput aku lagi ? Padahal, aku sudah nungguin kamu loh, di teras rumahku." ucap laura manja.


"Jangan panggil gue seperti itu lagi. Karna kita berdua sudah putus. Dan jangan selalu nempel terus sama gue ra." ujar aldo.


Masih tetap menatap alya, tanpa mengalihkan pandangannya.


"Pasti kamu putusin aku, gara gara pelakor ini yah ? " ucap laura, sembari menunjukku.


Tidak sengaja aku bersitatap dengan aldo, saat ingin mengambil buku di dalam tasku.


Aauwh.....


Refleks kepalaku mendongak ke atas. Saat tiba tiba laura menjambak ku dengan kasar. Ku lepas tangannya dari rambutku dengan sekali hentakkan. Dia pikir, dengan cara menindas ku, aku akan takut padanya. Oh, salah besar jika dia benar benar menduga seperti itu. Aku tidak pernah takut di tindas, selama aku tidak melakukan kesalahan.


"Jangan pernah sentuh gue. Dengan tangan lo yang suka seenaknya berbuat kasar sama orang lain. Lo bisa kasar sama gue, gue bisa lebih dari yang lo lakuin ke gue." ucapku.


"Lo gila yah. Salah alya apa? sampai sampai lo jambak rambutnya ha !" seru lidia.


Tidak terima atas perlakuan laura yang kasar padaku. Sembari mendorong laura dengan kasar.


"Kalau lo ,berani macem macem dan berbuat kasar lagi sama alya. Lo akan berhadapan dengan gue. Inget itu." ucap lidia dengan tatapan tajam.


"Sudah lid. Gue gpp." ucapku.


"Nasehatin saudara lo. Biar gak jadi pelakor di dalam hubungannya orang lain." ucap laura sinis.


"Saudara gue bukan pelakor. Tapi lo nya saja kayak ulet bulu, gatel." ucap lidia tak kalah sinis nya.


"Jangan berbuat ulah di kelas. Gue putusin lo, bukan gara gara dia. Karna gue sudah bosan sama sikap lo. Dan jangan pernah lo sentuh dia." ucap aldo. Menengahi kami.


"Selamat pagi anak anak."


"Loh ada apa ini, kok kumpul seperti itu ?" ucap wali kelas.


Ketika melihat kami berkerumun.


"Owh. Gpp buk, kita lagi mengusir ulat bulu yang ada di meja kami. Agar tidak gatal buk. Makanya aldo dan nanda bantu kami mengusirnya." ucap lidia.


Sedangkan laura. Sudah menahan amarahnya, atas ucapan lidia tadi. Segera ia pergi meninggalkan bangku alya, dengan menghentakkan kakinya kesal.


"Ya sudah. Silahkan kembali ke tempat duduk kalian masing masing. Ibu akan memulai pelajaran. "


Gegas aku merapikan rambutku dengan jemariku yang berantakan tadi, karna ulah laura.


"Lo gpp kn ?" tanya aldo.


Dengan raut wajah khawatir, setelah aku duduk di bangkuku.


"Didik cewek lo. Supaya gak seenaknya menindas orang lain tanpa sebab." ucapku ketus.


Tanpa melihat kearahnya yang sedang menatapku.


"Lo gak ada yang luka kan al ?" tanya lidia.


Sembari memeriksa badanku dengan khawatirnya.


"Gue gpp lid. Santai saja." ucapku tersenyum.


"Bisa bisanya ulet bulu itu kasar sama lo. Gue gak habis pikir deh, dia yang di putusin. Kok lo yang malah kenak imbasnya. Liat saja, kalau dia masih berani kasar sama lo. Bakal gue balas dia dengan cara yang lebih kasar." ucapnya dengan kesal.