
"Pinggirkan motor lo al. Berangkat bareng gue saja, gue suruh orang untuk bawak pulang motor lo." pekik aldo.
Setelah berhasil menyamai motornya dengan alya.
"Gue bisa berangkat sekolah sendiri, tanpa bareng lo." ucapku.
Menambahkan kecepatan laju motorku. Supaya aldo tak mengejarku lagi.
"Gadis nakal." gumam aldo.
"Alya" panggil lidia.
Menghampiriku di parkiran motor, rupanya dia sedang menungguku datang.
"Enaknya. di jemput sama pacar, sampai sampai saudaranya sendiri lo hiraukan." ucapku dengan sindiran.
Sembari berjalan menuju kelas.
"Hehe....Besok gue berangkat bareng lo al. Jangan cemberut gitu dong." ucapnya cengengesan.
Bergelayut manja di lenganku. Ada apa dengannya hari ini, tumben sekali dia bersikap manja padaku.
"Selamanya berangkat sekolah bareng dava pun juga gpp, gue gak keberatan. Ada apa ? tumben lo manja sama gue. Ini nih apaan, lepasin lengan gue lid. " seruku.
"Iih....Gak ada apa apa kok, memangnya gak boleh gue manja sama saudara gue sendiri. Gue cuma merasa bersalah saja, sama lo udah dua hari ini gak berangkat sekolah bareng lo." ucapnya cemberut.
Sembari melepaskan rangkulannya dari lenganku.
"Gpp, tapi jangan keseringan lo berangkat sama dava. Gue jadi kesepian di jalan gak ada yang mau ngajakin gue ngobrol." ucapku.
"Siap komandan."
"Oh iya. Gue mau nanyak sama lo, tadi malam lo dari mana kok boncengan sama aldo ? Jangan jangan lo udah jadian sama aldo !" cerocosnya.
"Owh itu gu"
"Benar dugaan lo lid. Gue sama alya sudah jadian kemaren." ucap aldo.
Belum selesai aku melanjutkan pembicaraanku, tiba tiba tanpa di undang aldo sudah memotong pembicaraanku. Sembari merangkul pundakku.
"Wah....Kenapa lo gak kasih tau gue al." ucap lidia tak percaya.
"Iih lo apaan sih, jangan ngomong yang aneh aneh deh. Semenjak kapan gue jadian sama lo. Di terima aja gak." kesalku.
Sembari melepas tangan aldo di pundakku. Gegas aku menarik tangan lidia, untuk mengikuti langkahku.
"Segera lo jadi milik gue al. Tunggu saja." ucap aldo.
Sembari tersenyum, melihat alya yang berlari kecil sambil menarik tangan lidia.
"Sakit tau al, main tarik tarik saja tangan gue. Kayak lagi lomba tarik tambang saja lo." ucapnya.
Setelah duduk di bangku kelas kami.
"Iya iya. Maaf." ucapku setelah melepas tangan lidia.
"Beneran nih al ! Lo jadian sama aldo kemaren ?" tanyanya.
Sepertinya aku harus menjelaskan dengan detail padanya. Supaya dia tak salah paham padaku.
"Lo mau tau tadi malam gue sama aldo keluar ?"
"Iya gue pengen tau, soalnya tadi malam gue gak sengaja liat lo boncengan sama aldo. Kebetulan gue ada di luar nerima gofood." ujar lidia.
Ku hembuskan nafasku dengan kasar. Begini nih, kalau rumah dekat dengan saudara. Harus di jelaskan dulu biar tidak salah paham. Bukan karna iri tetapi rasa peduli sesama saudara.
"Memangnya lo di ancam apa al ? Sampai lo berani bohongin tante sama om ?" tanyanya.
"Anu itu.Gu gue di ancam, dia bakal ngadu ke ayah kalau gue sama aldo pacaran." ucapku gelagapan.
"Wah parah tuh sih aldo, bener bener dia yah. Sampai ngancam lo kayak gitu segala." ujar lidia.
"Beruntungnya lidia percaya gitu aja sama gue. Kalau nggak, bakal di tanyain secara beruntun gue. Masak iya, mau jawab sejujurnya, kalau gue di ancam dengan ciuman kalau gue gak nurut. Bisa panjang nanti urusannya." batinku.
Tidak lama kemudian yang di bicarakan, mulai memasuki kelas dan menduduki bangkunya. Yang berada di samping bangkuku. Ku lihat ke arahnya yang tersenyum padaku.
"Sok manis." batinku.
Teet.....Teet.....Teet.....
Bel masuk kelas pun berbunyi, tidak lama kemudian guru agama memasuki kelas. Pelajaran pertama adalah pelajaran agama.
"Selamat pagi anak anak. Bagaimana dengan hari ini ? Semangat kan, untuk belajar agama ?" tanyanya.
"Semangat donk buk." ucap serempak semua murid.
"Sepertinya, hari ini hari yang menyenangkan bagi kalian yah. Baik kita akan mulai pelajarannya."
Seketika semua menjadi hening, saat guru menjelaskan dan memberi soal. Semua fokus dengan buku masing masing.
Teet....Teet.....Teet.....
Satu jam pun telah di lewati, dan bel istirahat pun berbunyi.
"Ya sudah. Sampai di sini saja pelajaran yang ibu bahas. Kalian boleh istirahat." ucap buk ruqoyah, guru agama.
"Lid. Gue pindah saja yah ! Gak enak sendiri gue, jadi nyamuk begini." ucapku.
Yang saat ini, sudah berada di kantin pada jam istirahat. Dan tentunya aku mulai merasa panas sekali, jika melihat lidia dan dava saling suap suapan di depanku. Jomblo mah selalu di pinggir in.
"Lo mau pindah di mana ? Sudah penuh nih kantin. Lagian kenapa sih makan bareng kita." ucap lidia.
"Santai aja al. Gak usah canggung gitu ke kita, lagian kita gak ngapa ngapain." ucap dava.
"Kalian berdua tadi bilang apa ? Astaga, kalian berdua benar benar yah. Kalian gak sadar, kalau gue tetap di sini. Adanya, gue di jadikan nyamuk. Terus maksud kalian apa tadi ? Di depan gue, kalian berdua saling suap suapan. Panas hati alya panas. Mending gue makan sendiri. Dari pada liat kalian uwu uwuan." ucapku.
Beranjak dari tempat duduk kantin, sembari membawa bekal juga satu kotak susu.
"Lah, si alya kenapa dah." beo lidia.
"Sudah. Yuk kita lanjutkan makannya." ucap dava.
"Mereka gak tau apa ! Mengumbar kemesraan di depan jomblo tuh endingnya gak baik. Gara gara ulah mereka tadi, bikin gue pengen pacaran aja." kesalku.
Sembari melangkahkan kakiku menuju taman. Sepertinya makan di sana lebih nikmat sembari melihat alam.
Sesampainya di taman, terasa sepi. Mungkin, di karenakan semua siswa siswi pada ke kantin. Ku duduki bangku di bawah pohon mangga, yang terbuat dari semen itu.
"Suasana seperti ini kan. Lebih nikmat, dan tenang. Tidak perlu kepanasan melihat lidia dan dava mengumbar kemesraan di depan gue." gumamku.
Ku buka tutup bekalku, dan ku makan nasi goreng dengan telur mata sapi buatan bunda.
Tiba tiba ada seseorang yang duduk di sampingku. Gegas aku menghentikan suapan pertama di mulutku, dan melihat siapa orang yang duduk di sampingku tanpa ijin.
"Gak mau bagi makanan sama gue ?" tanya aldo, sembari tersenyum padaku.
Ketika aku melihat ke arahnya. Ku hembuskan nafasku dengan kasar.
"Dia lagi dia lagi." batinku.