The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 46



Brak.......


Suara pintu mobil yang di tutup oleh lidia, saat memasuki mobil aldo. Dan duduk di kursi penumpang. Sedangkan alya, duduk di depan bersama aldo.


"Dava kemana ? Kok gak jemput lo." tanya alya.


"Dava masih beli cemilan di supermarket yang buka dua puluh empat jam, untuk bekal nanti di perkemahan. Jadi, karna takut kesiangan, gue di suruh jalan duluan." ujar lidia.


Sedangkan alya, hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aldo ! Aku kangen kamu. Sudah berapa hari ini, gak ketemu kamu." ujar laura.


Menghampiri aldo, saat menurunkan barang alya, juga peralatan kemah di bagasi mobilnya.


"Ulat bulu sudah datang al. Samperin tuh si aldo, biar gak di makan sama ulet bulu." ujar lidia, menyenggol lengan alya.


Mereka berdua saat ini, berdiri tidak jauh dari mobil aldo.


"Sudah biarin aja. Kalau memang aldo, kepincut sama dia. Berarti bukan jodoh gue." ucap alya santai.


"Kenapa mendadak jadi panas gini yah ! Padahal masih pagi." batinku.


"Lo beneran gak cemburu ? Aldo di deketin ulet bulu loh. Lagian, kenapa tuh ulet bulu ikut kemah segala. Bukannya, dia sudah seminggu gak masuk sekolah. Pagi pagi sudah nongol aja." ujar lidia.


"Lah, gue malah di tinggal." ujar lidia.


Saat melihat alya yang berjalan menuju mobil aldo.


"Biar aku yang bawain tas kamu sayang, ini berat." ujar aldo.


Saat alya mengambil tas ranselnya. Setelah di turunkan dari bagasi mobil.


"Makasih. Gue bisa bawa sendiri." ujar alya ketus.


"Loh sayang, kamu kok manggil pelakor itu dengan sebutan sayang sih. Aku kan masih pacar kamu. Kamu sudah di pelet yah ! Sampai sampai kamu satu mobil sama dia, dan aku sakit pun kamu gak jenguk aku." ucap laura dengan manja.


"Heh, ulat bulu. Lo sudah sinting yah ! Jelas jelas aldo sudah putusin lo. Malah ngatain alya pelakor. Pulang sana, ngaca dulu sebelum ngatain orang. Kalau lo gak punya kaca di rumah. Nih, gue bawak kaca." ujar lidia.


Sembari memperlihatkan cermin yang dia ambil dalam tasnya.


"Sudahlah lid. Gak usah di dengerin, anggap aja angin lalu. Yuk ! Ke lapangan, semua murid sudah berkumpul di sana." ujar alya.


"Awas lo yah." seru lidia.


Sembari berjalan, menyusul alya yang menuju lapangan.


"Gue udah bilang berapa kali ke lo. Jangan pernah gangguin gue, apalagi deketin gue. Kita udah gak ada hubungan apa apa lagi. Ngerti gak lo." ujar aldo emosi.


Sembari berjalan meninggalkan laura, dan membawa semua barangnya. Setelah menutup bagasi dengan kasar.


"Gue bakal buat lo tersiksa pelakor, liat aja." gumam laura.


"Untuk semua peserta. Harap masuk ke dalam bus, jangan berebutan." ujar kepala sekolah.


Saat semua barang yang di bawa para murid, di taruh dalam bagasi bus.


"Lid, lo duduk bareng gue yah !" seru alya.


Saat menaiki anak tangga bus. Sedangkan lidia, masih berada di belakang.


"Gue gak janji." ujar lidia.


Sembari nyengir kuda.


"Aaaa....." pekik alya.


Saat tangannya di tarik, hingga terduduk di pangkuan seseorang.


"Aldo." gumam alya.


Saat tahu, aldo lah yang menarik tangannya. Sedangkan aldo, menampilkan senyumannya pada alya.


"Mau duduk di mana sayang ? Duduk sama aku, jangan jauh jauh dariku." ujar aldo.


Masih merangkul lengan alya. Saat dia terduduk di pangkuan aldo, untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Cieeee.....Khem ......Alya sama aldo romantis banget sih ! Sampai duduk di pangkuan aldo segala." seru semua teman kelas.


Menyoraki mereka berdua. Sedangkan alya, langsung tersadar dan gegas berdiri dari pangkuan aldo.


"Lebih baik lo duduk sama aldo, kursinya sudah pada penuh al." ujar lidia, sembari menahan senyumannya pada alya.


Alya hanya menatap aldo dengan cemberut. Dan gegas duduk di dekat jendela samping aldo. Saat aldo memberikan ruang untuk alya melewatinya.


"Bisa bisa nya tadi gue gak liat liat dulu pas masuk bus. Kejadian tadi, bikin gue malu." batin alya.


"Al, gimana rasanya duduk di pangkuan aldo tadi ?" tanya lidia menggoda alya.


Yang duduk di belakang kursi alya bersama dava.


"Kalau lo pengen merasakan, rasanya duduk di pangkuan cowok. Lo tinggal duduk aja di pangkuan dava. Jangan tanyain ke gue." ujar alya sembari menahan malu.


" Gue gak pengen ngerasain, gue cuman tanya aja." ujar lidia kesal.


"Lo hebat benar bos." ujar nanda pada aldo.


Sembari mengacungkan jempolnya. Yang di ikuti oleh riski dan doni. Mereka bertiga duduk di sebelah kursi aldo.


Sedangkan aldo, hanya menanggapi mereka dengan gelengan kepala sembari tersenyum.


"Dav, lo harus mencontohkan aldo. Biar si lidia tambah klepek klepek ke lo." seru doni.


"Kalau mereka berdua kan beda. Yang satu menjauhi dan yang satu lagi mendekati. Kalau gue, gak perlu mencontoh kan aldo. Karna gue sama lidia sama sama cinta. Iya kan beb." ujar dava.


Yang di balas anggukan oleh lidia.


"Yee....Lo emang sok bijaksana." ujar nanda.


Sembari melemparkan kacang kulit kepada dava.


Sedangkan di sisi lain, tepatnya di kursi belakang yang di duduki laura. Sudah memerah karna menahan kesal, melihat kejadian alya yang duduk di pangkuan aldo.


"Kenapa lo ? kok emosi gitu." ujar Ita.


Yang duduk di samping laura.


"Bukan urusan lo." ujar laura ketus.


"Sombong banget lo."


Di sisi lain, aldo yang melihat alya tertidur terlelap. Hingga terbentur ke jendela. Segera menaruh kepala alya, untuk bersandar di bahunya.


"Kalau kamu tidur, cantik mu semakin bertambah sayang." ujar aldo.


Sembari mengecup kening alya, dan menggenggam tangan alya erat.


"Bos, lo beneran sudah tunangan sama alya ?" tanya riski.


"Suit....jangan berisik, alya tidur." ujar aldo.


Sambil menaruh jari telunjuknya di bibir.


"Hehehe....Maaf bos." ujar riski cengengesan.


"Iya, gue sama alya sudah tunangan." ujar aldo mengusap pelan kepala alya.


"Tapi, alya kok masih sering menjauhi lo bos !" ucap nanda pelan.


"Karna, dia gak mau bertunangan sama gue. Dia berusaha melupakan gue." ujar aldo.


"Bukannya, alya cinta sama lo ya bos. Kenapa malah berubah."


"Dia berubah karna kesalahan gue sendiri, gue gak sadar kalau sudah dari dulu gue cinta sama dia. Oh iya. Nanti gue butuh bantuan kalian." ujar aldo sembari tersenyum.


"Kita siap bantuin lo bos, kapanpun." ujar mereka bertiga serentak.


"Em......."


Suara alya yang menggeliat .


Gegas aldo mengusap pelan lagi kepala alya, agar terlelap kembali.


"Kalian bertiga." ujar aldo, sembari menatap tajam mereka.


"Refleks bos." ujar mereka sembari nyengir kuda.


Tak lama kemudian, aldo juga merasa mengantuk. Dan mulai memejamkan matanya.


"Beb, romantisnya kayak aldo dong beb." ujar lidia pada dava.


"My baby, aku tidak bisa seromantis aldo pada alya. Tetapi, aku bisa mencintai dan setia kepada mu." ujar dava.


Sembari mencium tangan lidia.


"Kalau kayak gini. Gpp deh, kamu gak romantis. Yang penting tetap sayang dan cinta sama aku." ujar lidia tersipu malu.


Mengeratkan rangkulannya pada lengan dava.