
Tiba tiba saja perutku terasa perih sekali. Ku tekan perutku dengan pelan untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Lo kenapa al ?" tanya aldo.
Ketika melihat alya memegang perutnya sembari meringis kesakitan.
"Gpp. Gue mau ke toilet dulu bentar." ucapku.
Gegas aku berdiri dan menuju ke toilet.
"Gimana ini. Lupa gak bawak pembalut lagi." gumamku resah.
Ketika tau hari ini kedatangan tamu. Saat merasa seragam rokku ada sedikit noda merah. Bukannya masih ada dua hari lagi, untuk bertamu. Kenapa bertamu pas bukan waktu di rumah.
"Gimana gue mau pulang. Kalau keadaan gue seperti ini. Gue malu lah untuk keluar dari toilet. Gue tutupin pakai tangan saja kali yah ! Dari pada berdiam diri di sini." gumamku.
Segera aku keluar dari toilet. Sembari, menutupi rokku yang terkena tamu bulananku .
"Lo gpp kan al?" tanya aldo.
Menghampiriku dengan raut wajah yang khawatir. Setelah aku sampai di restoran tempat kita makan.
"Gue gpp. Gue pulang dulu." ucapku.
Dengan sedikit cemas. Takut takut aldo melihat rokku yang bernoda. Gegas aku mengambil tas ranselku di kursi yang ku duduki tadi. Dan segera keluar dari restoran.
POV Aldo
Tak sengaja. Aku melihat alya yang sedang meringis kesakitan. Sembari memegangi perutnya.
"Lo kenapa al?" tanyaku.
Cemas, melihat wajahnya yang mulai tampak pucat.
"Gpp. Gue mau ke toilet dulu bentar." ucapnya.
Aku hanya, menganggukkan kepala sebagai jawabanku. Sembari memperhatikannya, saat hendak ke toilet. Tak sengaja, aku melihat rok seragamnya. Ada bercak darah di bagian belakang. Mungkin, dia tidak menyadarinya, kalau dia sekarang datang bulan. Gegas aku ingin menyusulnya. Tapi, aku teringat sesuatu. Jika aku menyusulnya, dan tau bahwa aku melihat roknya ada noda darah. Pasti dia akan malu dan menghindari ku. Lebih baik aku urungkan saja niatku, untuk menyusulnya. Dan menunggunya kembali dari toilet. Aku baru ingat bahwa handphone alya ku ambil tadi pas sepulang sekolah.
"Bagusan gue beri nama apa yah !" gumamku.
Yang sudah berhasil membuka layar handphone alya. Yang ternyata tidak di beri kunci sandi. Ku ketuk pada nomerku sendiri, dan jariku mulai menari di atas keyboard handphonenya. Untuk mengedit dan memberi nama yang pas untukku.
Tak lama kemudian. Alya menghampiriku, setelah kembali dari toilet. Sembari menyembunyikan tangannya di belakang.
"Lo gpp kan al?" tanyaku.
Dengan raut wajah yang khawatir. Sembari menghampirinya. Ku tatap wajahnya, yang menampilkan raut wajah cemasnya. Mungkin dia takut aku melihatnya.
"Gue gpp. Gue pulang dulu." ucapnya.
Mengambil tasnya, dan berjalan menuju keluar restoran.
Gegas aku menyusulnya. Setelah selesai membayar pesanan kami, dan mengambil tasku. Ku lepas jaketku untuk ia pakai sementara.
Flashback on
"Pakai jaket gue." ucap aldo.
Sembari memasangkan jaketnya di pundakku. Setelah berhasil mengejarku.
"Apa mungkin dia tau, kalau rokku ada bercak darahnya."batinku.
Segera aku melepas jaket yang ia pakaikan padaku.
"Jangan di lepas al. Gue tau, kalau lo butuh jaket gue saat ini." ucap aldo.
Menahan tanganku yang ingin melepaskan jaketnya. Jika aku yang memakai jaketnya, terlihat kebesaran sekali di tubuhku. Sampai sampai menutupi sebagian rokku. Gegas dia menggenggam tangan kananku. Untuk bisa mengimbangi langkahnya.
Deg
Ku tatap tanganku yang ia genggam dan beralih menatapnya dari belakang. Ada rasa tak percaya, saat melihat perhatiannya padaku. Mungkin dia sudah mulai berubah ? Apa benar dia sungguh mencintaiku.
"Gu Gue bisa jalan sendiri, tanpa lo genggam tangan gue." ucapku terbata.
Sembari berusaha melepaskan genggaman tangannya.
Yang tak mau melepaskan tanganku, dan malah semakin erat menggenggamnya.
Sesampainya di parkiran motor. Gegas aku menaiki motornya pelan pelan. Saat dia sudah duduk di motornya.
"Pegangan al. Gue gak mau lo jatuh nantinya." ucapnya.
Setelah aku menaiki motornya. Segera aku berpegangan pada pinggangnya. Entah kenapa hari ini, aku tidak ingin membantah ucapannya.
Di sepanjang jalan, aku hanya melamun saja. Sembari melihat jalanan yang ramai. Entahlah, aku merasa di bingungkan saat ini. Gara gara perubahan dia padaku.
Tiba tiba saja motor aldo berhenti, tepat di depan minimarket.
"Lo tunggu sini. Gue mau beli sesuatu." ucapnya.
Sembari berlari kecil memasuki minimarket. Entahlah, apa yang ingin ia beli. Sehingga terburu buru saat memasuki minimarket. Sedangkan, aku masih duduk di motornya, tanpa hendak turun.
Tidak lama kemudian. Aldo keluar dari minimarket, sembari menenteng kresek kecil yang ia pegang.
"Sampai rumah, lo minum minuman ini. Supaya bisa meredakan rasa sakit di perut lo, saat datang bulan." ucapnya.
Sembari menyodorkan kresek kecil tadi yang ia pegang. Segera aku mengambilnya, dan melihat isinya. Ternyata, ada dua buah botol kiranti yang satu rasa jeruk dan yang satu lagi original. Ku ambil salah satunya, dan ku baca di stiker botolnya, apa manfaat meminumnya. Ternyata benar, minuman ini. Untuk wanita yang datang bulan.
Baru tau, kalau menghilangkan nyeri saat datang bulan, hanya dengan minum kiranti ini. Padahal selama ini aku tak pernah meminum kiranti, meski setiap bulan selalu merasakan nyeri dan perih yang luar biasa di perut. Kenapa dia tau soal masalah wanita seperti ini. Mungkin kah, dia pernah membelikan laura kiranti ? Sehingga dia langsung peka saat menghadapi ku waktu datang bulan.
"Makasih." ucapku.
Setelah sampai di depan rumah.
"Sama sama. Ini handphone lo gue balikin." ucapnya.
Sembari menyodorkan handphoneku yang ia ambil tadi pas sepulang sekolah. Segera aku mengambil handphonenku. Dan ku hidupkan layar handphonenku, terlihat sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dari bunda. Sepertinya, aku harus memberi alasan yang tepat pada bunda nantinya.
"Gue balik dulu, dan jangan lo blokir lagi nomer gue. Kalau lo masih tetap blokir nomer gue lagi. Liat saja, gue akan culik lo tengah malam." ucapnya dengan tegas.
Sembari melajukan motornya dengan cepat.
"Emangnya, lo siapa gue ! Ngatur gue segala. Pacar bukan, jodoh pun bukan." gerutuku kesal.
Gegas aku membuka pagar, dan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum." seruku.
"Bunda, ayah. Alya sudah datang."
"Loh, kemana bunda dan ayah. Tumben gak ada di rumah. Padahal sudah jam 16.30 seharusnya kan sudah pada di rumah sembari menikmati teh di sore hari." gumamku.
Saat melihat dalam rumah yang sepi.
"Gue mandi dulu deh. Baru gue telfon bunda." ucapku.
Selesai mandi, aku langsung menjatuhkan bobot tubuhku di ranjang. Untuk menghilangkan lelahku.
"Oh iya. Gue lupa, mau minum kiranti yang di beli aldo tadi." gumamku.
Gegas bangun, dan mengambil kantong kresek kecil yang ku taruh di nakas tadi.
"Coba yang original dulu deh." gumamku.
"Kok rasanya aneh begini sih. Gak enak." ucapku lagi.
Setelah menghabiskan satu botol kiranti. Ku ambil handphoneku, dan memulai panggilan suara di nomer ayah.
"Halo yah. Ayah sama bunda ada di mana ? Kok gak kasih tau alya kalau mau bepergian. " tanyaku.
Setelah telepon di angkat oleh ayah.
"Bunda sudah, menelepon kamu berkali kali. Tapi tidak kamu jawab nak. Ayah dan bunda ada keperluan penting. Mungkin sekitar jam 20.00 ayah dan bunda sampai rumah. Kamu sarapan dulu, sudah di siapkan sama bunda." ucap ayah.
"Hehe .....Maaf yah. Alya tadi gak denger kalau ada telfon soalnya tadi alya ada di jalan. Ya sudah. Ayah sama bunda hati hati yah ! Emuach." ucapku.
Sembari mematikan sambungan telepon.
.