The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 32



Sedangkan di sisi lain, tidak jauh dari bangku yang alya tempati. Sedari tadi tak henti hentinya memandang alya dari belakang.


"Bos, kenapa lo senyum senyum dari tadi ? Kesambet di mana lo !" seru doni.


" Lo gak liat, sedari tadi bos lagi liatin alya." ucap nanda.


"Sepertinya, taman bunga akan bermekaran di hati si bos." ujar riski menimpali.


" Sebentar lagi, gue akan mendapatkan apa yang gue inginkan." ucap aldo sembari tersenyum.


"Apaan tuh bos ? Kita bertiga boleh tau gak !" seru nanda.


"Rahasia." ucap aldo datar.


"Gak seru si bos, me rahasiakan sesuatu dari kita." ucap riski.


"Nanti kita bakal tahu juga, sudah lah yang penting yang di rahasiakan bos adalah kabar baik untuk kita." ucap doni.


"Ya sudah, yuk buruan masuk kelas bel sudah berbunyi dari tadi." ajak nanda.


Mereka berempat pun segera memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran yang ke dua.


"Lid, gimana ini cara gue menghadapi acara tunangan gue nantinya." ucap alya dengan lesu.


Setelah berada di dalam kelas.


"Sudah, tenang aja gue bakal bantuin lo." ujar lidia.


Sembari duduk di bangkunya.


"Beneran ! Lo harus bantuin gue titik. Kalau bisa buat acara tunangan gue batal." ucap alya dengan semangat.


"Gue gak janji al, gue cuma bantuin lo semampu gue. Kalau misal gagal ya, lo harus menerima dengan lapang dada." ujar lidia.


Seketika membuat ku tidak bersemangat lagi karna perkataan lidia.


"Lo mau pulang sama gue, atau mau pulang bareng dava ?" tanya ku pada lidia.


Saat sudah sampai di parkiran.


"Pulang bareng saudara gue dong." ucap nya.


Sembari menaiki jok motor belakangku.


"Jomblo sehari dulu ya dav, hati hati lo di jalan." ucap ku.


Pada dava, yang sudah menaiki motornya.


"Kalau bukan karna pacar gue yang minta hari ini gak pulang bareng sama gue, gak akan gue ijinin." ujar nya.


"Lo tanpa gue, gak akan dapat restu dari orang tua lidia." ucap ku.


"Yang penting gue bakal minta restu dari orang tua lidia langsung, gak perlu lewat lo segala." ucap dava.


Brum.....Brum.....Brum......


"Hati hati ya sayang." teriak lidia.


Saat dava melajukan motornya, menuju keluar gerbang sekolah.


"Asiap sayang." teriak dava.


"Jangan hati hati dav, kebut kebutan aja di gas kan." teriak ku.


Menimpali ucapan mereka berdua.


"Begini nih kalau saudara sendiri di jadikan nyamuk, dunia berasa milik kalian berdua." ucap ku.


"Jangan iri gitu al, gak baik dosa loh." ucap lidia cengengesan.


"Ngapain juga gue iri sama lo. Oh iya, gue singgah di rumah lo yah bentar."


"Ok deh. Asal lo sudah ijin sama tante."


"Gampang deh, kalau sudah sampai rumah lo gue pasti bakal telfon bunda dulu." ucap ku.


Sembari melajukan motornya dengan pelan.


"Assalamualaikum."


"Assalamualaikum."


Ucap ku dan lidia ketika masuk ke dalam rumahnya.


Yang berada di sofa ruang keluarga sembari memainkan game di benda pipih nya.


"Kak riko gak kerja ?" tanya ku.


Berjalan ke arah sofa dan duduk di depan nya, tadi yang menjawab salam kami berdua adalah kak riko . Anak pertama dari tante dina sekaligus kakak lidia juga kakak sepupu ku. Sedangkan lidia tadi pamit untuk mengganti baju dulu.


"Sekali kali libur dek, biar ada fress nya ini pikiran." ucap nya.


"Iya juga sih kak." ujar ku.


"Oh iya ! dengar dengar dari tante, kamu bakal tunangan sama anak nya om faris. Beneran dek kamu bakal tunangan secepat ini ?"


"Iya kak, alya sudah berusaha menolak perjodohan ini ke ayah. Tapi, ayah gak mau dengerin alya. Mau gak mau alya harus menerima perjodohan ini." ucap ku.


"Ya sudah dek, kamu harus menerimanya dengan ikhlas. Lagian kakak juga kenal sama anaknya om faris. Malah satu sekolah sama kamu dan lidia. " ucap kak riko santai.


"Memangnya kakak kenal dari mana ?" tanya ku penasaran.


Bukannya selama ini, kak riko tipe orang yang susah untuk berkenalan dengan orang baru. Anaknya pak faris aja aku gak tahu malah lebih duluan kak riko yang tahu.


"Kakak mengenal dia sudah lama, namanya putra. Dia tipe cowok yang baik, dan mandiri. Kakak yakin jika kamu bertunangan dengan nya, pasti kamu akan di perlakukan baik olehnya. Hanya saja ibu nya meninggal di saat melahirkan adik perempuannya. Ya sudah kakak mau ke kamar dulu." ujar kak riko.


Sembari beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan alya sendirian.


Mendengar cerita dari kak riko membuat ku simpati padanya. Meskipun begitu, aku tetap masih tidak bisa sepenuhnya menerima perjodohan ini.


"Alya." seru lidia.


Sembari berjalan menuju alya.


"Lama banget sih lo ganti bajunya." ucap ku.


"Bentar doang malah di bilang lama." ucap lidia.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Papa kok tumben sudah pulang jam segini ?" tanya lidia.


Saat menghampiri om faisal, papa lidia.


"Iya, pekerjaan kantor sudah selesai nak."


"Alya, sudah makan ?" tanya om faisal.


Saat aku sudah mencium tangan om faisal dengan takzim.


"Alya masih kenyang om." ucap ku


"Ih... Papa bukannya tanya lidia dulu sudah makan belom nya malah alya duluan yang di tanyain." ucap lidia cemberut.


Om faisal memang selalu perhatian dan peduli dengan ponakannya, seperti menganggap anaknya sendiri. Seperti sekarang ini.


"Beda dong, kamu kan setiap hari sudah ada di rumah. Kalau alya jarang kumpul bareng kita. Ya sudah. Papa mau mandi dulu, kalian berdua bermain lah. " ujar om faisal.


"Oh iya gue hampir lupa, gue mau pulang dulu yah lid, soalnya hari ini jadwal kursus masak. Lain hari gue bakal main lagi ke sini." ucap ku.


Bisa bisanya aku melupakan jadwal hari ini. Yang di wajibkan untuk masuk kelas masak.


"Baru aja, lo nyampek sini sudah mau pulang. Ya sudah, lo hati hati di jalan." ujar lidia.


"Kayak lagi mau bepergian jauh aja gue lid. Rumah kita hanya berjarak dua rumah aja." ucap ku.


"Hehe.... Yang penting lo hati hati aja deh." ucap nya cengengesan.


" Gue pulang duluan, titip salam sama om dan tante yah." ujar ku.


Sembari berjalan menuju keluar.


"Assalamualaikum." ucap ku.


Setelah sampai di rumah dan berjalan menuju dapur.


"Waalaikumsalam. Loh kok sudah pulang dari rumah lidia ? katanya mau main dulu sama lidia." tanya bunda.


Saat aku sudah mencium tangan bunda dengan takzim.


"Iya bun, alya lupa kalau hari ini ada jadwal kursus masak. Untung aja alya inget tadi pas di rumah lidia." ucap ku.


"Kamu nih. Masih muda sudah pelupa." ujar bunda.


"Hehe....Ya sudah, alya mau ganti baju dulu." ujar ku.