The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 33



"Sudah lama aku tidak masuk kelas kursus masak. Semoga saja, tidak dapat hukuman dari chef ahmad." gumam ku bergidik ngeri.


Membayangkan saja bulu tangan ku sudah berdiri.


"Hai al ! sudah lama kamu gak masuk kelas." sapa teman ku di kelas kursus masak.


"Iya nih kak, alya kemaren pulang kampung. Sudah lama alya gak pulang. Kalau kak nia sendiri gak pulang ? " tanyaku.


"Aku sibuk sama skripsi al, gak sempet buat pulang jenguk ibuku di kampung." ujar nya.


Di kelas kursus masak, hanya aku yang paling muda. Yang lainnya sudah kuliah, bahkan ada yang berkeluarga tetap mengikuti kursus masak.


"Sabar kak nia, nanti pasti kakak pulang kalau sudah selesai skripsi nya. Lagian, kak nia juga sudah hampir wisuda." ucap ku.


"Bener juga apa kata kamu. Oh iya al ! Dengar dengar kemaren, chef ahmad buat pengumuman. Kalau gak salah, yang sudah lama gak masuk kelas akan ada jadwal tambahan, sebagai hukuman." ucap kak nia.


"Kelas tambahan kak ? " tanya ku memastikan.


"Iya."


"Selamat sore semua." seru chef ahmad.


"Sore chef." ucap semua murid.


"Hari ini, chef ida absen tidak mengajar kalian, di karenakan ada kepentingan keluarga. Jadi, saya sendiri yang akan mengajarkan kalian. Semuanya sudah siap untuk memulai masak." seru chef ahmad.


"Siap chef."


"Ok. Hari ini kita akan memasak Roti John, terserah kalian isiannya ingin memakai daging sapi atau daging ayam, sesuai selera kalian. Saya kasih waktu selama lima belas menit, di mulai dari sekarang."


Seketika semua fokus memasak, sebelum memanggang rotinya harus menumis daging ayam atau sapi terlebih dulu. Sedangkan aku isiannya memilih daging ayam.


"Meskipun hari ini, menunya sederhana. Kalian tidak boleh ceroboh harus tetap berhati hati." ucap chef ahmad.


Lima belas menit kemudian.


"Waktunya sudah habis, silahkan semua berhenti. Tidak boleh ada yang melanjutkan lagi." seru chef ahmad.


Serentak semua berhenti dan menaruh alat masak yang mereka pegang masing masing.


Beruntungnya roti john buatanku sudah selesai tepat waktu. Kalau tidak, bisa bisa chef ahmad akan memberikan ku nilai jelek.



"Hari ini, kalian semua penuh dengan hati hati dalam mengelola masakan. Sehingga menciptakan cita rasa yang nikmat di lidah." ujar chef ahmad.


Ketika sudah selesai mencicipi semua masakan satu persatu.


" Baik, kalian boleh pulang. Untuk alya maharani dan salsabila putri, jangan pulang dulu."


Ketika namaku di sebut, membuat ku mematung sejenak. Kalau hukuman nya hanya jadwal tambahan kursus tidak masalah bagiku. Kalau hukuman nya, bukan jadwal tambahan dan hukuman nya malah menyapu, dan mengepel aula setiap hari. Rasanya aku tidak sanggup melakukannya.


"Alya Maharani, sudah dua minggu kamu tidak masuk kelas. Kemana saja ? Dan kenapa tidak ijin jika tidak masuk." ucap chef ahmad dengan datarnya.


"Maaf chef. Alya gak masuk kelas di karenakan pulang kampung, sekaligus menemani nenek di sana. Selama liburan sekolah." ucap ku.


Menundukkan kepala tanpa berani menatap chef ahmad.


"Salsabila Putri, kenapa sudah satu minggu tidak masuk kelas ? Dan kenapa juga tidak ijin jika tidak masuk." ucap chef ahmad.


"Maaf chef. Saya tidak masuk kelas di karenakan saya sakit chef."


"Ya sudah. Kalau begitu, kalian saya hukum dengan jadwal tambahan kursus selama satu minggu. Hukuman nya saya mulai besok. Untuk hari ini, saya masih ada keperluan penting. Kalian pulang lah dulu." ucap chef ahmad.


Sembari berjalan meninggalkan aula.


Gegas aku mengambil bingkisan di meja tempat masak, lalu berjalan meninggalkan aula.


"Huft....Capek banget hari ini, pesan gojek dulu deh." gumamku.


Saat sudah berada di luar gedung. Hari ini, aku memang sengaja tidak membawa motor sendiri, karna malas menyetir.


"Ngapain lo di sini al ?" tanya nya.


Ternyata, yang berhenti di sampingku, bukanlah abang gojek yang ku pesan. Melainkan aldo si pembuat hatiku selalu kesal jika selalu berada di dekatnya.


"Bukan urusan lo." ketus ku.


Sembari menyibukkan diri, dengan benda pipih ku. Tumben sekali abang gojek lama sampainya. Biasanya, hanya sekitar lima menit sudah datang.


"Ayo, gue anterin lo pulang." ujar aldo.


Menarik pelan pergelangan tanganku. Yang sudah turun dari motornya.


"Gak usah, gue bisa pulang sendiri. Lagian gue sudah pesan gojek." ucap ku.


Berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya.


"Ini, sudah malam al. Gak baik malam malam gini lo naik gojek. Lebih baik gue antar lo pulang."


Tin.......


Tiba tiba motor scoopy berhenti tepat di depan ku. Siapa lagi kalau bukan abang gojek yang memakai jaket warna hijau serta helm hijau.


"Akhirnya yang di tunggu tunggu sudah datang." batinku.


"Permisi kak, apa benar atas nama Alya Maharani ?" tanya nya.


"Benar pak saya sendiri." ucap ku sumringah.


Gegas aku melepaskan tanganku dari genggaman aldo.


"Lo tetap pulang bareng gue al." ucap aldo tegas.


Lalu menghampiri abang gojek. Sembari memberikan uang seratus ribu padanya.


"Ini pak, untuk ongkos bapak. Maaf pak saya cancel, soalnya pacar saya lagi ngambek. Jadi dia pesan gojek tanpa menyelesaikan masalah." ujar aldo.


"Benar benar nih orang, minta di tampol sama sepatu. Berani beraninya dia bilang ke abang gojek kalau gue pacarnya. Bikin gue malu aja." batinku.


"Makasih dek. Wajar kalau cewek seperti itu suka ngambek tanpa menyelesaikan masalah. Saya pamit dulu dan terimakasih." ucap abang gojek.


Sembari meninggalkan alya dan aldo.


"Akh......" pekikku kaget.


Tiba tiba tubuh ku sudah berada di dekapan aldo. Tepatnya aku di gendong ala bridal style.


"Lo bisa nggak sih ! Gak usah bikin gue kaget, gara gara tindakan lo yang mendadak gini. Bikin jantung gue mau lepas dari tempatnya." ucap ku kesal.


Yang sudah duduk di atas motornya.


"Jantung lo bakal aman al, kalau lo bareng gue". ujar nya sembari tersenyum padaku.


"Eh.....Lo ngapain buka baju di depan gue." pekik ku melotot.


Saat aku tidak sengaja melihat perut sixpack nya, saat bajunya tersingkap ke atas.


"Gue gak buka baju, gue cuma mau buka hoodie gue. Nih, pakai lo supaya gak masuk angin." ucap nya.


Menyodorkan hoodie padaku yang ia pakai tadi. Ku kira dia akan benar benar buka baju di depan ku. Ternyata, dia hanya membuka hoodie saja untuk aku pakai.


"Apa perlu gue pasangkan ! Kalau gitu, gue dengan senang hati pakaikan untuk lo." ujarnya.


Saat aku tak kunjung mengambil hoodie nya.


"Modus lo, gue bisa pasang sendiri." ucap ku.


Sembari mengambil hoodie di tangan nya.