
Sedangkan. Di suatu tempat, yang berada di dalam kamar. Seseorang cowok mulai gelisah, sembari menatap layar handphonenya yang masih berada di aplikasi whatsapp. Yang tidak lain adalah aldo, yang menunggu balasan chat dari alya. Sedari tadi hanya centang dua biru.
"Akh......Gue kenapa sih. Jadi gak tenang kayak gini ! " pekik aldo.
Segera, ia menghapus pesan. Pada nomer alya, yang sudah terkirim beberapa menit yang lalu.
"Semenjak kapan. Gue butuh di perhatikan sama tuh cewek." ucapnya kesal.
Sambil melemparkan handphonenya, ke sembarang tempat.
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di kamar alya. Hanya memandang miris di layar handphonenya. Yang masih berada di aplikasi whatsapp. Dia melihat chat dari aldo, yang sudah berubah tulisan menjadi.
🚫Pesan ini telah di hapus
Pukul 15.15
"Bunda ! " panggilku.
Yang sudah rapi dengan baju kemeja putih lengan pendek. Serta rok plisket berwarna hitam dengan rambut pendek sebahu, yang di gerai.
Setelah sampai di ruang tamu.
"Iya nak. Bunda ada di belakang." jawabnya.
"Ada apa ? " tanyanya.
Setelah alya, berada di hadapan sang bunda.
"Alya. Mau berangkat ke kursus masak dulu bun. Sudah lama alya absen." pamit ku.
Sembari mencium tangan bunda, dan tidak lupa mencium pipi kanan kirinya.
"Hati hati yah nak. Dan semangat untuk kursusnya." ucap bunda. Sembari tersenyum padaku.
Sudah hampir setengah tahun ini, aku memutuskan untuk mengikuti kursus masak. Di Ibukota Jakarta tepatnya di Kec. Menteng. Jakarta pusat.
Alasanku mengikuti kursus masak. Hanya ingin menambah ilmu, dan ingin tahu skill cara memasak dengan benar. Siapa tau aku mendapatkan gelar Chef nantinya, jika aku sudah mendapatkan Kursus Memasak Sertifikat Internasional.
Bahaya ini haluanku terlalu terbang tinggi.
Sesampainya di depan gedung yang menjulang tinggi. Yaitu Kitchen Magic tempat kursus masak terbaik di Jakarta. Ku langkahkan kaki ini, untuk masuk ke dalam. Segera aku menaruh tas slempang kecilku di loker, yang sudah tersedia. Untuk menaruh barang barang dengan aman.
Dan ku ambil apron ku yang sudah bertuliskan namaku. Semua para siswi kursus masak memang sudah di beri apron, dengan bertuliskan namanya masing masing.
Setelah itu. Aku bergabung dengan yang lain, di aula. Memang di jadikan tempat untuk memasak.
Chef yang mengajarkan kita. Hanya dua orang saja, yaitu ! Chef Ida, dan juga Chef Ahmad.
Di setiap meja masak sudah tersedia kompor dengan satu tungku. Bumbu, juga berbagai macam jenis pisau. Dan bahan bahan masakan sudah tersedia di atas meja. Hanya alat masak saja yang harus mengambil sendiri, tepatnya di belakang para peserta.
Di sini kita akan di ajarkan. Teknik dasar memasak, Teknik Memegang Pisau, Teknik Potongan sayuran. Dan jenis potongan daging, Juga Jenis kematangan daging.
Dan juga akan di ajarkan Attitude. Teliti Dalam Memilih bahan masakan harus dengan cermat, dan penuh kehati hatian. Juga akan di ajarkan Menggunakan alat alat masak, serta selalu mengoperasikan kehati hatian.
"Selamat sore. Terimakasih, kalian sudah hadir hari ini. Mari kita akan memulai kursus masak. Menu yang akan kita buat hari ini adalah, Chicken Steak" ucap Chef Ida.
Setelah itu. Semua fokus dengan menu masakan yang akan di buat.
Beberapa menit mengutat alat alat masak. Akhirnya Chicken Steak buatanku sudah matang. Selama kursus masak para murid akan selalu di awasi chef. Dalam kursus masak, tidak boleh ada yang gegabah. Apa lagi, sampai salah memilih bahan masakan.
"Baik. Untuk pelajaran menu masak hari ini. Kalian sudah cukup mengetahui bahan masakan yang akan di olah. Kita akan bertemu lagi di minggu depan, untuk membuat menu masakan dari Eropa. Terimakasih untuk hari ini. Kalian sudah kompak mengikuti kursus masak." ucap Chef Ahmad.
Sesampainya di rumah. Segera aku mencium tangan ayah, dan bunda yang berada di ruang tamu.
"Gimana hari ini, lancar belajarnya ? " tanya ayah.
"Alhamdulillah lancar yah. Dan beruntungnya, menu masakannya tidak terlalu susah" ucapku dengan cengengesan.
"Kalau belajarnya yang gampang gampang terus. Gimana dapet gelar Chef."
"Hehe....doain saja ayah ! "
"Ah.......Bunda. Bikin Alya jadi mewek loh." seruku. Sembari memeluk bunda dan ayah.
"Ya sudah. Sana mandi dulu, setelah itu sarapan."
"Siap bunda."
Segera aku menaruh bingkisan di atas meja. Setiap kursus masak. Masakan juga dapat di bawa pulang untuk disantap di rumah.
Sekarang sudah pukul 18.50 itu artinya, aku belajar kursus masak hanya sekitar tiga jam.
Ku langkahkan kaki ini, menuju ke kamar mandi. Untuk membersihkan diri, agar secepatnya aku merebahkan tubuhku.
Seperti kata pepatah, seharian tidak rebahan. Bagaikan seharian tidak sarapan. Yaitu PERIH.
"Kok jadi ngantuk begini yah selesai mandi." ucapku.
"Makan dulu deh." seruku.
Sembari keluar kamar menuju dapur. Pasti bunda, dan ayah sudah menungguku.
"Bunda masak apa hari ini ? " tanyaku.
Setelah sampai di meja makan.
"Ada terong balado, juga ayam jongor nak. Kamu mau yang mana ? " tanya bunda.
Yang akan mengambilkan nasi, serta lauk untukku. Setelah mengambilkan untuk ayah.
"Alya, mau terong balado saja bun. Alya mau makan steak" ucapku.
Sembari menunjukkan gigi putihku yang rapi.
"Jangan lupa baca doa nak. " ujar ayah.
"Hampir saja lupa." ucapku cengengesan.
Indahnya. Makan bersama keluarga, terasa nikmat. Dan rasa ingin selalu menambah terus.
Segera ku makan makananku. Tidak lupa juga, sudah ada steak yang ku letakkan di piringku.
Selesai makan. Aku membantu bunda meletakkan makanan yang tersisa di lemari. Tempat menyimpan makanan. Juga, menghampiri bunda di wastafel, yang mencuci piring.
"Sudah nak. Kamu istirahat saja dulu." ucap bunda.
Yang tak mengijinkan aku, untuk ikut serta membantu.
"Gpp bunda. Lagian hanya bantuin bunda, tidak akan menguras energiku kok. " ucapku.
Yang masih kekeuh untuk membantunya.
"Kamu tuh yah ! Persis seperti ayahmu, susah di bilangin."
"Hehehe.....kali ini saja bunda." ucapku.
" Alya mau ke kamar dulu yah. Sudah ngantuk nih." ucapku.
Setelah selesai meletakkan piring yang sudah ku cuci tadi.
"Ya sudah istirahatlah nak." ucap bunda.
"Huft........Sepertinya, aku harus menyibukkan diri. Agar bisa melupakannya." gumamku.
Yang tiba tiba saja, ada perasaan rindu ingin bertemu dengan aldo. Segera ku tepis jauh jauh, Supaya tidak semakin dalam luka yang ku rasakan nantinya.
Ku rebahkan tubuh ini di ranjang. Tidak lupa, mencharger handphoneku, dengan sisa baterai 20% di atas nakas samping tempat tidurku. Juga sambil menghidupkan alarm pukul 04.00 subuh. Agar tidak telat nantinya bangun, serta untuk menunaikan ibadah sholat subuh.
Hari ini. Cukup melelahkan tubuhku serta pikiranku.
Ku tutup mata ini. Tidak sabar menunggu hari esok tiba. Untuk menyambut pagi yang cerah, dan semoga saja, hatiku juga cerah, secerah matahari menyinari bumi.