
"Lutut gue masih sakit. Temenin gue bentar, Setelah gue di jemput sama riski. Baru lo bisa pergi."
Segera ku duduk di sampingnya dengan kesal. Tidak tega juga meninggalkan dia dengan keadaan seperti ini. Sesama manusia harus saling menolong bukan !
Ku gigit kecil ujung plastik yang berisi cilok. Supaya berlubang, dan bisa di santap. Ku minum kuahnya dulu baru memakan pentolnya.
"Ternyata, lo suka jajan sembarangan yah ?" ujar aldo. Menatap alya yang sedang memakan ciloknya.
"Suka suka gue.Bukan urusan lo." ucap alya ketus. Yang masih tetap fokus makan ciloknya.
"Huuuu......haaaa..... pedes banget."
"Sini, biar gue yang bukain tutup botolnya." ucap aldo. Sembari mengambil air botol yang berada di dekat alya.
Segera alya meminum airnya hingga tandas. Sedangkan aldo, masih tetap memandang alya dengan sedikit senyuman yang tipis.
#setipis tisu author yang hampir habis ckckck#
"Lucu banget si lo al." batin aldo.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu ! Gak ada kerjaan banget." ketus alya.
"Memang gak ada kerjaan. Jadi, lebih baik gue liatin lo." jawabnya.
"Modus." ketusku.
"Lo gak lagi ngerjain gue kan ! Sudah satu jam nih. Gue nemenin lo, tapi riski gak kunjung datang juga." ujarku. Dengan sorot mata tajam.
"Gue emang gak minta riski jemput." ucapnya santai. Seakan akan tidak ada beban.
"Bukannya lo bilang tadi. Kalau lo minta di temenin sama gue, karna riski mau jemput lo." kesalku.
"Gue gak pernah bilang gitu kok." ujarnya
Dengan menatap alya dengan senyumannya tanpa dosa.
"Lo nyebelin yah." ucapku kesal, menahan amarah.
Segera ku tinggalkan dia sendirian tidak peduli saat ini, dia yang memanggilku berulang kali.
"Dia pikir siapa! seenaknya saja ngerjain gue, udah gue temenin dengan ikhlas. eh malah gak taunya gue di tipu" batinku.
Aku mengedarkan pandangan mencari keberadaan Lidia.
"Al sini." teriak lidia.
Yang tidak jauh dari tempatnya aku berdiri.
"Lo kenapa ? Kok mukanya sudah asem gitu." tanyanya. Dengan penuh selidik.
"Kesel gue. Tadi ada orang gila yang ngerjain gue. Minta di temenin, karna mau nunggu temennya. Gue sudah nemenin dia sampai satu jam. Setelah gue tanyain temennya ada di mana. Eh ! Gak taunya dia bilang kalau dia gak pernah minta jemput ke temennya. Rasanya gue pengen tampol dia dengan sepatu gue. Tapi sayangnya, gue gak seberani itu." cerocos ku tanpa henti.
Sedangkan lidia, hanya menatapku dengan kebingungan. Mungkin dia mengira kalau aku habis menemani orang gila beneran.
"Orang gila yah al ?" tanyanya polos.
"Sudah deh lupain saja. Dava mana ? Kok gue gak keliatan." tanyaku.
"Owh....Dia pulang duluan tadi, mau anter mamanya ke supermarket. Gue sudah nungguin lo dari tadi sama dava. Gak taunya yang di tungguin malah nemenin orang gila. Gak takut di amuk lo ? " ucapnya bergidik ngeri.
"Hais benar kan dugaan gue, dia kira gue beneran nemenin orang gila" batinku.
"Ya sudah yuk ! Kita pulang saja. Sudah jam sembilan nih ! " ajaknya.
🙊🙊🙊🙊
"Alhamdulillah. Akhirnya kita naik kelas lid." pekik alya.
Yang sudah melihat nilai raportnya. Setelah semua para wali murid mendapatkan raport anaknya masing masing.
"Sama al. Gue juga naik kelas. Gak sia sia ternyata kita belajar dari jauh jauh hari." ucap Lidia. Sembari membalas pelukan Alya.
"Khem.....Nak. Ini di sekolah loh. Gak malu kamu di lihatin temannya mencak mencak gitu sama lidia." ucap bunda cengengesan dengan tante dina.
"Hehehe...." nyengir ku.
Sembari menyenggol lengan lidia yang menggaruk tengkuknya. Meski tidak gatal, untuk mengurangi rasa malunya.
"Ya sudah. Kalian berdua mau pulang bareng kami. Atau kalian mau pulang berdua saja." ucap tante dina.
"Kita berdua mau pulang nanti mam. Tunggu informasi libur dulu dari guru." ucap lidia.
Biasanya informasi libur sekolah. Pasti di sampaikan pada wali murid. Lah ini, malah beda banget. Tidak seperti tahun kemaren. Jadi, harus dengan sabar menunggu guru mengumumkan tanggal libur. Baru bisa pulang deh.
"Ya sudah. Kamu dan Alya hati hati ya nak ! Mama pulang dulu"
"Iya mam siap."
Gegas ku mencium tangan bunda, juga tante Dina.
"Yuk ke kantin ! " ajak lidia.
"Let's go lid." seruku.
"Lo denger kabar gak al ? "
"Ya gak denger lah. Kalau lo gak kasih tau gue." jawabku.
Sembari mengaduk aduk bakso agar tercampur dengan sambalnya.
"Makanya. Dengerin gue dulu al." ucapnya. Sembari celingukan ke kanan kiri.
"Aldo sama laura sudah putus. Tapi, laura yang gak terima di putusin aldo. Dia tetap menganggap aldo sebagai pacarnya. Bahkan nih yah ! Dia masih suka nemplok ke aldo." bisik lidia pelan.
Mungkin saja, takut pemilik nama yang di sebutkan muncul tiba tiba.
"Terus, masalahnya sama gue apa ? Bukan urusan gue juga lid. Gue gak mau ngurusin kehidupan orang lain." ucapku, sambil menatap lidia dengan wajah polosnya.
"Hehe iya juga sih. Ngapain juga gue kasih tau lo. Lo kan udah move on." ujarnya cengengesan.
"Liburan sekolah kan dua minggu nih ! Gimana kita sekeluarga pulang kampung. Liburan di rumah nenek, sepertinya seru deh !" ucapku.
Sumringah yang sudah membayangkan liburan di kampung. Sembari menikmati keindahan desa.
"Sepertinya, mama sama papa gak akan bisa deh nemenin gue liburan ke rumah nenek. Apalagi sampai dua minggu. Terus kerjaan papa gimana ? Gak bisa di tinggal juga." ucap lidia lesu.
"Bener juga sih. Kalau misal dua mingguan di rumah nenek. Terus, kalau bunda ada pesanan kue. Masak mau di tolak, dan otomatis toko ayah juga tutup donk, selama dua minggu gara gara nemenin gue liburan ke rumah nenek." ucapku.
Sembari berfikir keras untuk menemukan solusi.
"Gimana gini saja lid. Kita berdua hanya minta antar saja ke rumah nenek. Setelah itu baru deh orang tua kita pulang. Hanya kita berdua saja yang liburan di kampung. Gimana setuju gak lo ?" ucapku sumringah.
"Wah.... Bener juga kata lo al. Ok deh, gue setuju. Nantik pas sepulang sekolah, gue bakal ngomong sama mama dan papa."
"Kira kira kita bawain oleh oleh apa yah ! Untuk kakek dan nenek. Sudah lama, kita tidak bertemu dengan mereka." ucapnya lagi.
"Kalau oleh oleh gampang lid. Kita belikan mereka makanan kesukaannya saja." jawabku.
"Bener juga tuh."
Sesampainya di rumah.
"Ayah bunda. Alya mau minta sesuatu boleh?" tanyaku. Yang sudah berada di ruang tamu.
"Boleh nak. Kamu mau minta apa ? Tinggal bilang saja sama ayah." ucap ayah.
"Alya dan lidia pengen liburan ke rumah kakek nenek boleh ? Kita akan menghabiskan liburan di kampung saja selama dua minggu. Ayah dan bunda cukup hanya mengantarkan alya dan jemput saja." ucapku.
Menunduk takut kalau permintaanku tidak di ijinkan.
"Boleh banget sayang. Lagian sudah lama kita tidak ke kampung." ucap bunda.
"Wah beneran nih bun ! Bolehkan yah ?" seruku berbinar.
Sedangkan ayah, hanya menganggukkan kepalanya. Tanda menyetujui permintaanku.