
"Kemana alya lid ? Tidak seperti biasanya , dia gak masuk. Biasanya, dia gak pernah absen. Selalu masuk sekolah. " tanya riski.
Yang menghampiri lidia di bangkunya.
"Owh, dia lagi ijin sekarang. Pegal linu katanya." ucap lidia.
"Haa.... Pegal linu. Memangnya, Alya ngapain saja. Sampai pegal linu, padahal masih muda." ucap riski dengan heran.
"Pegal linunya, alya tuh. Beda, bukan badannya. Tapi hatinya." ucap lidia.
Sembari memandang aldo sinis.
Hachiii
Sedangkan di sisi lain. Seorang gadis, bersin bersin akibat namanya di sebut. Yang tidak lain adalah alya.
"Siapa nih. Yang lagi ngomongin gue. Gak ada kerjaan banget. " ucapnya.
Sembari menggosok hidungnya.
"Duh laper nih."
"Bunda sudah masak belom yah? " gumamku.
Segera aku keluar dari kamar, menuju ke dapur.
" Gak biasanya bunda belom balik sudah jam segini. Apa lagi nemenin ayah di toko ya !" gumamku.
Setelah baru sadar. Kalau tidak keliatan wajah bunda yang berparas ayu itu.
Selesai makan, seperti biasa. Aku selalu mencuci bekas piringku yang di pakai tadi.
Aku memutuskan pergi ke minimarket. Setelah selesai mandi, dan membeli cemilan untuk stok ketika laper tengah malam. Jaraknya, tidak jauh dari rumah. Hanya butuh waktu lima menit, dengan berjalan kaki sudah sampai.
Aku hanya mengenakan baju tidur yang masih belom, ku ganti sedari tadi malam. Dan ku tutupi pakai hoodie, agar bisa menghindari teriknya matahari. Lagian hanya ke minimarket sebentar, aku yang tidak mau ribet dengan masalah baju untuk keluar. Bergegas keluar rumah.
Sesampainya di minimarket. Ku ambil keranjang belanjaan. Dan ku masuki ke keranjang apa yang aku inginkan. Tidak lupa, aku membeli keperluanku sendiri. Seperti, sabun wajah, juga pembalut. Untuk berjaga jaga pas lagi datang bulan.
Bruuuuk
"Maaf maaf kak, aku gak sengaja." ucapku.
Sembari membantu memunguti barang dia, yang jatuh.
"Gpp kok." ucapnya.
Sambil tersenyum padaku.
Refleks aku menoleh, untuk melihat wajahnya.
"senyumannya.... bikin aku betah untuk memandangnya" batinku.
Gini nih, kalau belanja gak liat liat sekitar, jadi nabrak cowok kan. Sudah gitu, ganteng lagi, dan ramah.
"Hehe....Maaf ya kak. Sekali lagi." ucapku.
Sembari memberikan keranjang belanjaannya.
"Iya gapapa. Santai aja. Oh iya, perkenalkan. Namaku Muhammad alif dava, panggil saja Dava." ucapnya.
Sambil menjulurkan tangannya.
"Namaku alya kak." jawabku.
Membalas uluran tangannya.
"Nama yang cantik, sama seperti orangnya. " ucapnya.
Yang membuat aku, jadi salting dikit hehehe.
"Semua cewek cantik kak. Gak cuma satu cewek yang cantik." jawabku.
"Ada ada saja kamu."
"Ya sudah kak, aku pamit mau bayar ke kasir."
Segera, aku menuju kasir. Setelah belanjaanku sudah penuh dengan apa yang aku inginkan.
"Totalnya, dua ratus ribu dek." ucap penjaga kasir.
Segera ku ambil dompet yang ku taruh di kantong hoodie.
"Makasih kak" ucapku.
Setelah mengambil kantong belanjaanku.
Sesampainya di rumah. Segera, aku menuju ke kamar. Setelah menaruh semua cemilan di lemari pendingin.
"Ternyata, bosen juga, seharian di rumah." gumamku.
Keesokan harinya.
" Al, lo denger kabar gak ? " tanya lidia.
Yang mengahmpiriku di perpustakaan.
Hari ini, aku memutuskan. Untuk masuk sekolah. Tidak baik juga, lama lama tidak sekolah. Membuat pikiranku tambah mumet nantinya. Bukannya, bisa menenangkan pikiran, justru selalu ingat sama luka hati.
"Gak tau. Kan lo tau sendiri, gue kemaren gak masuk sekolah." ucapku.
Tanpa mengalihkan pandanganku, dari buku yang aku baca.
"Hehe......Lupa gue. Sekarang, akan ada kedatangan siswa baru. Dan denger denger nih yah, cowok itu ganteng tau. Gak sabar gue, untuk menyambut kedatangannya. Seperti apa sih, gantengnya. Apa bisa mengalahkan si aldo." ucapnya.
"Lah masih mendingan gue yah. Dari pada lo, mengejar yang gak pasti. Ujung ujungnya, lo yang sakit hati."
"Apaan sih lid. Aah......bikin gue galmov ( gagal move on) tau. Kalau setiap hari, lo bahas dia mulu. Gue tuh, pengen fokus sekolah saja. Sekarang, gue gak mau mikir yang bikin sesek di dada." ucapku kesal.
Sambil menatap lidia dengan tajam.
"Hehehe ......maaf al. Keceplosan tadi." ujarnya, dengan cengengesan.
"Owh. Berarti, lo pagi pagi ke sini. Biar bisa menenangkan pikiran lo itu ?" tanyanya.
"Iyalah. Lagian, kalau gue liat wajah aldo. Atau bersitatap muka sama dia. Hati gue, selalu tercubit." ucapku.
Teet teet teet
Bel pertama pun berbunyi. Menandakan, pelajaran pertama akan di mulai.
"Yuk, ke kelas." ajakku.
Setelah mengembalikan buku, yang ku pegang ke tempatnya.
Sesampainya di kelas. Tidak sengaja, mata ini. Bersitatap dengan aldo, yang kebetulan melihat ke arahku. Segera ku memalingkan wajah, agar tak melihatnya terlalu lama.
"Ada apa dengannya ? biasanya dia, selalu berinsiatif untuk mendekatiku. Dan membawakan ku bekal. Kenapa sekarang tidak lagi." batin aldo.
"Aah. .....kenapa gue harus mikirin dia. " gumam aldo.
"Kenapa lo ? " tanya doni.
"Gpp"
"Selamat pagi anak anak. Sebelum pelajaran di mulai. Ibu akan memperkenalkan siswa baru, yang akan menjadi teman baru kalian. "
ucap wali kelas.
"Ayo nak, mari masuk. Dan, perkenalkan nama kamu."
"Woh....ganteng banget."
"Gantengnya. Gak kalah sama aldo tuh ! "
"Seperti oppa oppa korea."
Ucap semua para siswi, yang langsung riuh ketika murid baru masuk kelas.
"Semuanya diam." ucap wali kelas. Dengan tegas.
Seketika suasana menjadi hening.
"Silahkan nak, perkenalkan dirimu."
"Perkenalkan. Nama saya, Muhammad Alif Dava. Panggil saya Dava. Saya pindahan, dari SMK 02 Bandung." ucapnya. Sembari tersenyum.
"Baik nak Dava. Silahkan, duduk di bangku kosong sebelah kanan " tunjuknya.
"Al. Gimana, ganteng kan? " tanya lidia.
Sambil menyenggol lengan Alya.
"Owh itu ganteng sih. Baru kemaren, gue ketemu dia." ucapnya.
"What ! " pekik lidia.
"Ada apa lidia ? " tanya wali kelas.
Dengan dahi yang berkerut.
"Hehehe....Gapapa buk. Kaki lidia, kesemutan tadi. " jawab alya.
Yang membekam mulut lidia.
"Lo, jangan keras keras kalau ngomong." ucapku .
"Bauk terasi tau tangan lo." ketus lidia.
Setelah melepaskan tangan alya, dari mulutnya.
Refleks, aku segera mencium tanganku sendiri, sembari ku tatap lidia dengan tajam.
"Heh. Tangan gue gak bau terasi yah, gue setelah bantuin bunda, langsung cuci tangan." sewot ku.
Enak saja, ngomong tanganku bau terasi, padahal. Setiap, selesai bantu bunda masak, aku selalu mencuci tangan.
"Hay Al. Kita ketemu lagi." sapa dava tersenyum.
Yang sedang duduk di depan bangku alya. Hanya bangku di depan alya yang kosong.
"Eh. Iya nih. " jawabku canggung.
"Ekhem" deham lidia.
"Oh iya dav. Perkenalkan, ini saudaraku." ucapku memperkenalkan lidia.
"Lidia." ucapnya. sembari tersenyum.
Yang membuat siapa saja klepek klepek. Tapi tidak denganku, justru melihat senyumannya bikin aku mual. Giliran cowok ganteng, malah tebar senyuman.
"Panggil Dava saja." ucapnya.
Sembari menjabat tangan lidia.