The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 14



Tanpa sepatah kata pun. Dia pergi begitu saja. Aku tidak mau ambil pusing, ku lanjutkan makananku. Supaya aku segera ke perpustakaan.


"Sial ! Bisa bisanya dia melawan gue. Lagian gue ini kenapa sih ! Gak biasanya gue kayak gini." kesal aldo frustasi.


Yang sudah berada di rooftop. Sembari duduk di aspal, untuk menenangkan pikirannya yang kalut.


Sedangkan di tempat lain. Yaitu, tepatnya di meja kantin. Lidia dan dava sedang mengobrol santai.


"Oh iya aku lupa. Kalau alya menitip minuman. Bentar ya dav, aku mau beli pesanan alya dulu." ucap lidia.


Hanya di jawab anggukan saja oleh dava.


"Kenapa jantungku ! Bisa bisanya berdetak lebih cepat, saat berdekatan dengan lidia. Senyumannya, dan tawanya membuatku candu." gumam dava.


" Kemana tuh si alya. Di dalam kelas gak ada. Mungkin dia ke perpustakaan kali yah ! " gumam lidia.


Sembari memegang satu susu kotak coklat.


Sesampainya di perpustakaan.


"Lo tuh ! Kenapa gak bilang ke gue, kalau lo ada di sini. Jadi, gak perlu gue cariin lo di kelas tadi." kesal Lidia.


Sembari meletakkan susu kotak, dengan kasar di depan alya.


"Hehe.....Maaf. Gue lupa tadi mau bilang ke lo." ucapku cengengesan.


Sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Terimakasih. Gimana ! Makan bareng sama dava berduaan. Romantis gak sih! " ucapku. Menggoda lidia.


Ku lihat pipi lidia sudah memerah bak kepiting rebus.


"Cieee......Gak usah malu gitu kali." sembari menyenggol bahunya.


"Apaan sih al. Lo aneh deh, orang belom jadian. Malah di tanyain romantis enggaknya." jawabnya.


"Oh iya al. Gue gak keliatan aldo, tadi di kantin Kemana dia yah ! Biasanya dia selalu sekawan. Kemana mana berempat." tanyanya.


"Gak tau gue ! sekarang dia ada di mana. Tadi tuh ! Dia samperin gue." ucapku.


Dengan kesal, karna teringat tadi. Dengan tingkah aldo yang tidak seperti biasanya yang selalu cuek bebek padaku.


"Apa ! Dia nyamperin lo ? Tapi, lo gpp." pekik lidia.


Sembari memutar badanku seperti bola di oper saja.


"Apaan sih lid. Pusing kepala gue. Gue gpp kok. Dia hanya sekedar samperin gue, karena nanyain bekal untuk dia." ucapku.


"Haaaa........" beonya.


" Tutup mulut lo. Takut ada lalat masuk." ucapku. Sambil membantu menutup mulut lidia.


Kayak apaan coba, bantuin tutup mulut wkwkwk.


"Hehe... refleks al." ucapnya cengengesan.


" Tunggu dulu. Gak salah, aldo nanyak seperti itu ke lo ! Lagian nih, tumben aldo nanyain bekalnya. Bukannya selama ini, dia selalu buang bekal yang lo buat untuk dia. Kenapa gak minta bekal ke pacarnya saja. Heran deh gue sama laki laki satu itu." cerocosnya.


Dengan menggelengkan kepalanya, karna terlalu herannya.


"Entahlah gue juga gak tau." ucapku acuh. Yang tidak mau memikirkan dia lagi.


"Syukur deh, Kalau lo gak galau lagi karena dia." ucapnya santai.


Ku rebahkan bobot tubuhku. Di tempat yang ternyaman. Benda apa lagi, kalau bukan ranjangku. Setelah seharian beraktivitas.


Ku lihat galeri di ponselku yang begitu banyak foto aldo. Ku hembuskan nafas perlahan. Ternyata, begini rasanya, perjuangan tidak di hargai. Lebih sakit, dari yang ku kira. Kenapa juga aku mengejar cowok duluan. Seharusnya cowok yang lebih dulu mengejar cewek. Kenapa juga, dulu aku menjadi serendah ini. Agar bisa mendapatkan cintanya.


Segera ku hapus air mataku yang tidak mau berhenti untuk mengalir di pipiku


Mencintai seseorang memang sangatlah mudah. Tapi ! Untuk melupakannya, sangatlah sulit.


Ku ketuk jari telunjukku di aplikasi galeri. Untuk menghapus semua foto dan video tentangnya. Supaya aku tidak lagi mengingatnya. Meski di sekolah selalu bertemu.


Ku pasangkan headset di telinga, ku putar lagu untuk menenangkan hati, juga pikiranku. Perlahan ku tutup mataku, Sembari meresapi lagu yang ku putar.


Kau yang pernah singgah di sini


Dan cerita yang dulu kau ingatkan kembali


Tak mampu aku tuk mengenang lagi


Biarlah kenangan kita pupus di hati


Tak ada waktu kembali


Untuk mengulang lagi


Mengenang dirimu di awal dulu


Ku tahu dirimu dulu


Hanya meluangkan waktu


Mencintai dalam sepi


Dan rasa sabar mana lagi


Yang harus ku pendam dalam


Mengagumi dirimu


Melihatmu genggam tangannya


Nyaman didalam pelukannya


Yang mampu membuatku


Tersadar dan sedikit menepi


Tak ada waktu kembali


Untuk mengulang lagi


Mengenang dirimu di awal dulu


Ku tahu dirimu dulu


Hanya meluangkan waktu


Mencintai dalam sepi


Dan rasa sabar mana lagi


Yang harus ku pendam dalam


Mengagumi dirimu


Melihatmu genggam tangannya


Nyaman di dalam pelukannya


Yang mampu membuatku


Tersadar dan sedikit menepi


Mencintai dalam sepi


Dan rasa sabar mana lagi


Yang harus ku pendam dalam


Mengagumi dirimu


Melihatmu genggam tangannya


Nyaman di dalam pelukannya


Yang mampu membuatku


Tersadar dan sedikit menepi


Tersadar dan sedikit menepi


Tersadar dan sedikit menepi


"Bisakah ku putar waktu kembali. Dimana, pertemuan kita waktu hari pertama sekolah. Akan ku tutup mata hatiku. Supaya hati ini, tidak timbul cinta untukmu. Sehingga saat ini, aku tidak akan merasakan perih, dan sakit saat perjuanganku sia sia."


Flashback off


"Alya buruan deh ! Ini hari pertama kita sekolah. Gue gak mau telat nih." pekik lidia. Dari gerbang rumah alya.


Sedangkan alya. Sudah tergesa gesa menghampiri lidia yang duduk di motor.


"Gak sabaran banget sih. Lagian kita itu, siswi baru gak mungkin, kita akan di hukum di hari pertama sekolah." gerutu alya. Yang sudah menaiki motor.


Pertama hari sekolah, lidia memutuskan untuk berangkat bersama Alya dengan motornya.


"Dimana mana. Setiap sekolah akan menghukum siswa siswinya jika telat. Gak ada pengecualian. Apalagi, siswa siswi yang baru." pekik lidia.


Sedangkan alya hanya menanggapi dengan wajah yang cemberut.


Sesampainya di sekolah SMKN 01 Jakarta.


"Akhirnya.....Tepat waktu sampai sekolah." ucap lidia lega.


"Gue juga bilang apa tadi. Gak akan telat. Lo sih, tadi buru buru banget. Kayak di kejar hantu saja." ucap alya.


"Mulai deh. Lo ubah kata kata lo tadi ! Bukannya lo bilang gak akan di hukum karna kita siswi baru." ucap lidia tajam.


"Nyenyenye....awas ! ada ulat lid di bahu lo." ujarku.


Langsung berlari. Takut lidia tambah mengeluarkan tanduknya. Jika tahu aku mengerjainya.


"iiiih....alya. Awas lo yah." kesal lidia. Karna sudah di jahili alya.


"Alya berhenti gak." ucapnya.


Sembari mengejar alya di lorong sekolah.


"Gak mau wleeeee..." pekikku.


Yang terus berlari sambil melihat lidia yang mengejarku.


"Alya awas." teriak lidia.


"Gak. lo pa...."


Bruk


Tiba tiba tubuhku membentur sesuatu. Sepertinya, aku menabrak seseorang.


"Waduh ! Gawat nih. Kalau gue nabrak ketua osis. Bisa bisa gue di hukum. Seperti di novel, yang pernah gue baca." gumamku.


Masih menutup mata. Dan tidak mau melihat wajahnya. Karna takut pas melihat wajahnya jadi kayak macan. Kan serem.


"Heh. Lo gak mau bangun, dari atas tubuh gue." bentaknya.


Seketika itu. Aku refleks berdiri, dan melihat wajahnya.


"Ganteng banget. Apa ini beneran, wujud seorang pangeran yang sesungguhnya." gumamku.


"Lain kali. Kalau mau main kejar kejaran, jangan di sekolah. Tapi, di taman. Atau enggak di rumah lo." kesalnya. Yang tidak lain adalah aldo.


"Kalau aku main kejar kejaran di hatimu, boleh gak ! " ucapku.


Masih menatapnya. Dengan mata yang memuja.


"Gak waras lo." ucapnya.


Sambil berlalu pergi meninggalkan alya yang mematung.


"Lo gpp kan al ? " tepuk lidia di bahu alya. Setelah sampai di sampingnya.


"Gpp lid. Cowok tadi, ganteng banget. Terus jantung gue berdetak detak gitu. Kayak lagu DJ." ucapku.


"Mulai gak waras lo al. Sepertinya lo harus di bawa ke rumah sakit jiwa deh." ujar lidia.


Yang bergidik ngeri melihat alya masih bengong.


Flashback on