
"Lo duluan saja sama dava ke kantin. Gue mau ke toilet dulu sebentar." ucapku.
Gegas aku berlari menuju toilet yang tak jauh dari kelasku. Untuk membuang air kecil, yang sedari tadi ku tahan, waktu pelajaran di mulai.
"Huft.....Akhirnya lega juga." gumamku.
Selesai dengan urusan toilet, segera aku menuju ke kelas untuk mengambil bekalku. Setelah itu menuju ke kantin untuk menyusul lidia.
"Nih. Gue pesankan lo es jeruk." ujar lidia.
Menyodorkan gelas yang berisi es jeruk di depanku. Setelah aku duduk di sampingnya sebelah kiri. Sedangkan dava, dia duduk di sebelah kanan lidia.
"Makasih, saudaraku tersayang." ucapku.
" Lo ada masalah apa al ? Sampai sampai laura kasar sama lo ?" tanya dava.
"Alya gak salah apa apa by, laura nya saja yang kegatelan. Gara gara di putusin sama aldo, malah melampiaskan ke alya." ujar lidia.
Sebelum alya angkat bicara.
"Tunggu tunggu. Lo panggil apa ke dava lid ?" tanya alya tidak percaya. Yang ia dengar tadi.
"Kalian berdua sudah pacaran ? Wah....Benar benar kalian berdua yah. Kenapa gak kasih tau gue, kalau kalian berdua sudah pacaran ? Kan jadi obat nyamuk gue kalau kayak gini." ucapku lagi dengan cemberut.
"Hehehe....Gue lupa al. Yang mau kasih tau ke Lo. Beneran nih ! " ujarnya sembari mengangkat dua jarinya.
"Lo gak jadi obat nyamuk kok al. Santai saja, kayak lagi sama siapa saja lo." ucap dava.
"Tau ah. Bete' gue, sama kalian berdua." ucapku.
Sembari memakan bekalku dengan lahap.
"By by al. Gue duluan yah ! Lo hati hati di jalan." seru lidia.
Yang sudah berada di motor Dava.
Ternyata alasan ini lah. Lidia duluan berangkat ke sekolah tadi pagi, Karna sudah ada yang menjemputnya. Siapa lagi kalau bukan dava.
"Gue duluan ya al." ucap dava.
Sembari melaju motornya dengan pelan. Sedangkan lidia sudah memeluk dava dengan senang.
"Gue pesan gojek saja deh. Malas gue boncengan sama dia lagi." gumamku.
Sedari tadi, yang sudah berada di luar gerbang sekolah.
"Lo mau kabur dari gue." ucap aldo.
Yang sudah berada di samping alya, dengan motor ninja nya.
"Ngapain gue kabur dari lo. Memangnya gue buronan apa." ucapku tak suka.
Bisa bisanya dia bicara seperti itu, bikin mood ku tambah buruk saja.
"Ya sudah, ayo naik." ucap aldo.
"Gue gak mau pulang bareng lo. Gue sudah pesan gojek." ucapku.
Sembari memperlihatkan ponselku di depannya. Yang masih berada di aplikasi GOJEK. Padahal aku masih belom memesannya, biar dia tidak memaksaku untuk ikut pulang bersamanya.
"Handphone gue ! Kenapa lo ambil. Balikin gak." seruku.
Ketika handphoneku di ambil oleh aldo, saat memperlihatkannya tadi.
"Handphone lo, gue balikin setelah sampai rumah lo. Sekarang lo naik ke motor gue." ucapnya dingin.
Sembari memasukkan handphone alya ke dalam saku celananya.
"Gue tadi bilang apa? Lo tuli yah. Gue gak mau pulang bareng lo. Dan balikin handphone gue." ucapku sinis.
"Gue akan balikin al. Setelah lo sampai rumah. Apa gue bakal angkat badan lo lagi, seperti tadi pagi. Supaya lo mau pulang bareng gue ! Dengan senang hati gue akan angkat badan lo." ucapnya. Sembari mengahmpiriku.
"Gue bisa naik sendiri." ucapku.
Sebelum aldo mengangkat tubuhku. Gegas aku menaiki motornya.
"Sepertinya, gue punya senjata ampuh. Supaya lo mau boncengan sama gue." ucapnya.
"Bisa gak ? Lo bersikap seperti biasanya, yang cuek dan gak peduli sama gue. " pekik alya kesal.
"Gue gak bisa. Karna gue pengen cinta lo ke gue, balik lagi seperti dulu. Gue akan tetap berusaha buat lo, gak benci lagi ke gue." jawab Aldo.
"Tapi, bagi gue akan sulit menepatkan nama lo di hati gue lagi."
"Gpp. Gue akan tetap berusaha Al."
"Tapi. Masalahnya sekarang, gue gak ada perasaan lagi sama lo. Jadi, gue minta tolong sama lo. Jauhin gue, gue risih di deketin terus sama lo." ucap alya.
Sedangkan aldo, tidak lagi membalas perkataan Alya.
"Maafin gue Al. Sudah menyakiti lo sedalam ini. Sampai sampai lo gak mau gue deketin." batin aldo.
"Dulu, gue memang berharap. Lo balas perasaan gue. Tapi sekarang, melihat lo mengungkapkan perasaan lo. Sulit bagi gue untuk menerima lo. Karna hati gue, sudah terlanjur sakit ulah lo sendiri. Gue bingung dengan keadaan yang sekarang. Gue ragu untuk menempatkan lo kembali di hati gue. Meski sejujurnya perasaan gue tetap sama seperti dulu." batinku.
Tak lama kemudian. Motor aldo berhenti di parkiran motor, tepatnya di mall terbesar di Jakarta.
"Ngapain lo bawa gue ke sini ? Gue mau pulang." ucapku.
Setelah menyadari. Bahwa aldo memberhentikan motornya bukan di depan rumahnya. Melainkan berhenti di parkiran motor di mall.
"Gue laper. Temenin gue makan di sini, setelah itu pulang." ucap aldo.
Ku hembuskan nafasku dengan kasar. Niat hati ingin segera sampai di rumah, malah di lama lamain berada di luar rumah.
Gegas aku mengikuti aldo di belakangnya.
"Lo mau pesen apa ?" tanya aldo.
Setelah duduk di restoran seafood dalam mall.
"Gue gak laper. Kembalikan handphone gue. Gue mau telfon bunda." ucapku kesal.
Sembari menjulurkan tanganku di depannya.
"Setelah kita makan, baru pulang." ucapnya.
"Tapi gue gak laper." ucapku kesal.
Sembari bersedekap dada.
"Ok. Temenin gue makan sebentar saja." ucapnya.
Aku tidak lagi menjawabnya. Lebih baik diam saja, dari pada nantinya membuatku bertambah emosi, jika aku berbicara lagi padanya.
Tak lama kemudian. Pesanan pun datang.
Tadi saja belom turun emosinya, malah di buat emosi lagi karna ulah dia. Gimana gak mau emosi, aku yang tidak ingin makan. Malah di pesankan Nasi Cumi saos Padang dengan es teh boba lemon. Sepertinya, dia harus di ruqyah biar tidak selalu bertindak sesukanya.
"Kenapa cuma diem saja ? Lo gak suka ?" tanya aldo.
"Kalau sudah tau gue gak suka, kenapa masih di pesankan makanan." geram ku.
"Gue ganti menu makanan lo." ucapnya.
Kenapa dia gak peka sih ! Aku kan bilang kalau tidak suka di pesankan makanan, karna perut belom laper. Eh, malah mau ganti menu makananku.
Huft......
Ku hembuskan nafas dengan kasar. Sepertinya harus ebih bersabar lagi menghadapinya.
"Gak usah. Gue bakal makan makanan ini." ucapku kesal.
Gegas aku memakannya setelah membaca doa dalam hati.
Sedangkan dia begitu lahap memakan makanannya. Seperti tidak makan setahun saja.
"Mau cicipi makanan gue !" tawar aldo.
Sembari menyodorkan satu sendok, nasi goreng cumi padaku. Ketika tidak sengaja melihatku menatapnya.
"Makasih." ucapku ketus.
Sepertinya dia suka sekali dengan hewan bertinta hitam, sampai sampai makananku saja menu cumi cumi.