
Drt.....Drt....Drt....
Suara handphone ku berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Segera ku ambil handphone ku yang berada di atas nakas. Saat setelah mencuci muka tadi.
"Ngapain lidia nelfon gue." gumamku
Saat layar handphonenku tertera nama lidia ku usap tombol bergambar telpon yang berwarna hijau.
"Al, lo baik baik aja kan ? Terus keadaan lo sekarang gimana ? Gue tadi denger dari mama kalau lo semalam di ganggu sama preman. Gue mau ke rumah lo, jangan kemana mana. Al lo kok gak jawab pertanyaan gue sih ! Lo denger kan apa yang gue bicarakan tadi." cerocos lidia dari seberang telfon.
Belum sempat aku berbicara, sudah mendapatkan pertanyaan beruntun dari lidia.
"Bisa gak ! Kalau nanyak itu, satu satu. Gue harus jawab yang mana dulu, kalau lo melontarkan pertanyaan yang sama sekali belom gue jawab satu pun." ucapku.
"Hehehe....Maaf al, ini karna terlalu khawatirnya sama lo jadi cerewet gue." ucapnya.
"Gue baik baik lid. Lo gak perlu khawatir." ucapku.
"Ya udah. Gue sekarang ke rumah lo."
Tit ....Tit....
Sambungan telepon pun terputus.
"Nak ! Sarapan dulu yah." ujar bunda.
Sembari membawa nampan.
"Kenapa harus di anter ke kamar alya bun. Lagian alya masih bisa turun ke bawah untuk sarapan." ujar ku.
Sambil mengambil alih nampan dari tangan bunda.
"Gpp, ini juga demi kebaikan kamu. Lagian kamu masih belom pulih sepenuhnya. Ya sudah. Bunda mau ke bawah dulu, temenin ayah mu sarapan." ujar bunda.
"Siap bunda."
Bunda pun mengelus pelan rambutku dan beranjak pergi meninggalkan kamar.
Segera ku makan sarapan yang di bawa bunda dengan lahap, perutku terasa perih saat bangun tidur tadi. Karna, sudah sedari tadi malam aku tidak sarapan, biasanya sepulang kursus langsung makan sesampainya di rumah. Malah di cegat preman di tengah jalan, sesampainya di rumah malah tidak sadarkan diri.
Tok....Tok....Tok...
Suara pintu kamarku yang di ketuk dengan keras.
"Al. Lo lagi di dalam kan ! Bukain pintunya." pekik lidia.
"Buka aja lid, gak di kunci."
Segera ku teguk air minum yang di bawa bunda tadi. Beruntungnya, aku sudah selesai makan saat lidia menggedor pintu kamarku, jika tidak. Bisa bisa aku tersedak, karna ulah lidia, yang tidak mengetuk pintu dengan pelan.
Ceklek.
Suara pintu kamar ku di buka, menampilkan sosok lidia, sembari membawa parsel buah. Masuk ke dalam kamarku dan menutup pintu kembali.
"Al, lo baik baik aja kan !" ujar lidia.
Sembari memegang pipiku, setelah menaruh parsel buah di atas nakas samping tidurku.
"Auw.... Sakit lid, belom juga sembuh nih pipi main di pegang aja sama lo." ucap ku.
Sembari memegang pelan pipi ku yang terasa ngilu, karna lidia yang memegang pipiku dengan sedikit kasar.
"Maaf al. Gue gak tau kalau pipi lo lebam." ujar nya.
Menampilkan raut wajah yang cemas melihatku.
"Gpp. Lo ngapain ke sini bawa parsel buah segala. Memangnya lo kira gue sakit parah, sehingga lo harus bawain gue buah buahan." ujar ku.
"Itu mama yang beliin buat lo. Jadi, gue hanya membawakannya untuk lo. Kalau lo gak mau, ya sudah. Lebih baik gue yang makan." ujar nya.
"Mana ada kayak gitu, udah di kasih ke gue malah mau di ambil lagi."
Sembari memutar mata dengan malas.
" Terus kenapa tuh mata gerak gerak gitu. Lo iri yah ! Kalau gue di bilang cantik sama tante." ujar ku.
Sembari mencolek dagu lidia pelan.
"Enggak kok. Ngapain gue iri ke lo. Lagian mama terlalu lebay sampai nitip salam segala untuk lo."
"Ya udah deh. Lo gak iri." ujar ku.
"Oh iya al. Lo semalam kan di ganggu preman, gimana ? Lo gak sampai di lecehkan sama tuh preman kan !" ujar lidia.
Sambil menatapku dari atas sampai bawah.
Punya saudara, bukannya bersyukur saudaranya udah selamat. Dan tidak sampai di lecehkan malah pertanyaannya terselip doa di dalamnya.
"Wah....Jangan jangan, lo dalang di balik kejadian tadi malam. Terus lo datang ke sini, jenguk gue hanya untuk memastikan, kalau gue di lecehkan atau nggak." ujar ku.
Sedangkan lidia sudah menatapku dengan tajam.
"Lo kalau ngomong bisa di pikir dulu gak al. Lo bisa bisanya, nuduh gue dalang di balik semua kejadian yang lo alami tadi malam. Hanya karna, gue nanyak. Gue cuma bertanya al, bukan mengharapkan lo di lecehkan. Jahat lo jadi saudara gue." ujar nya cemberut.
"Hahaha lo lucu banget sih lid. Kalau lagi kaget gitu, padahal gue cuma ngetes lo."
"Iih....Lo tuh yah. Nyebelin banget sih al. Bikin jantung gue mau lepas tau gak. Karna tuduhan lo tadi."
"Lagian lo juga sih. Bukannya bersyukur gue udah selamat sampai rumah tanpa lecet pun. Malah ngomongnya kayak gitu."
Ku ambil parsel buah yang tadi di bawa lidia. Lalu ku buka plastik parselnya, ku ambil apel dan memakannya.
"Al. Bukannya kata tante lo tadi malam sampai rumah dengan keadaan pingsan yah ? Yang bawa lo tadi malam ke sini siapa ? Gak mungkin tuh preman kan, yang bawa lo pulang." ujar nya menatapku penuh selidik.
Ini otak lidia di isi dengan apa sih. Sampai sampai menanyakan pertanyaan nya seperti itu.
Tuk
"Auh.....Sakit al. Kenapa malah jitak dahi gue." ujar nya.
Sembari mengusap dahinya dengan pelan.
"Makanya tuh otak di isi dengan yang masuk akal. Masak iya gue jalan sendiri pulang ke rumah dengan keadaan pingsan. Tadi malam aldo nolongin gue, jadi dia lah yang bawa gue pulang." ucap ku.
Sambil mengigit apel dan mengunyahnya dengan kasar.
"Berarti aldo yang gendong lo ? Kenapa juga gue gak ada di tempat kejadian, pasti gue akan ngeliat lo, yang di gendong ala bridal style oleh aldo." ujar lidia.
"Mulai ngaco deh ngomongnya."
"Hehehe. Maaf al." ujarnya cengengesan.
Keesokan harinya.
" Pagi bunda, pagi ayah." ujar ku.
Saat sudah berada di ruang makan.
"Pagi nak." ucap ayah.
Yang sedang membaca koran.
"Loh kamu kok pakai seragam nak, hari ini kan acara pertunangan kamu." ujar bunda.
Sembari meletakkan nasi di meja makan.
Apa kata bunda tadi ! Acara pertunangan ku. Aku sampai lupa kalau hari ini aku akan bertunangan. Bisa bisanya, aku melupakan acara yang penting ini.
"Kamu mau kemana ? Ayah sudah minta ijin kepada kepsek kalau kamu libur sehari. Cepat ganti baju kamu." ujar ayah.