The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 34



POV Aldo.


Saat di tengah perjalanan, tidak sengaja aku melihat alya berdiri di pinggir jalan. Sembari memainkan handphone nya, gegas aku menepikan motorku dan menghampirinya. Tidak seperti biasanya, dia kalau keluar pasti membawa motor sendiri. Malam ini malah sendirian berada di jalan, apakah dia tidak tahu banyak jambret dan juga preman yang berseliweran jam segini.


"Ngapain lo di sini al ?" tanya ku.


Saat dia melihat ke arahku.


"Bukan urusan lo." ketus nya padaku.


Huft


Ku hembuskan nafasku dengan kasar, alya benar benar sudah berubah padaku. Kalau dulu alya lemah lembut saat berbicara padaku, dan selalu menempel. Sekarang malah sebaliknya, jangan kan lemah lembut saat berbicara padaku. Berdekatan dengan ku saja, dia terlihat tidak suka. Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hatinya kembali. Segera aku turun dari motor dan menghampirinya, yang saat ini pura pura menyibukkan diri.


"Ayo, gue anterin lo pulang." ajak ku.


Sembari menggenggam dan menarik tangannya dengan pelan.


"Gak usah, gue bisa pulang sendiri. Lagian gue sudah pesan gojek." ucap nya.


Berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku. Ternyata dia sudah pesan gojek sebelum aku datang. Baik lah, tidak akan menjadi penghalang bagiku untuk mengantarkannya pulang.


"Ini, sudah malam al. Gak baik malam malam gini lo naik gojek. Lebih baik gue antar lo pulang." ucap ku.


Berusaha untuk tidak terbawa emosi, saat dia tetap kekeuh untuk pulang naik gojek.


Tak lama kemudian, motor scoopy berhenti di depan alya. Ku lihat seorang paruh baya yang mengendarai nya, dengan memakai jaket hijau yang berlogo gojek di belakang punggung nya.


"Permisi kak, apa benar atas nama Alya Maharani ?" tanya nya.


Ku lihat alya terlihat senang, saat gojek pesanannya datang. Aku cemburu melihatnya, saat aku datang tadi dia tidak menampilkan raut wajah seperti itu. Malah menampilkan wajah tak suka saat melihat kedatangan ku.


"Benar pak saya sendiri." ucap nya dengan senang.


Sembari melepaskan tangannya dari genggamanku, seketika membuatku kesal. Sebegitu nya dia tidak ingin aku yang mengantarkan nya pulang, sampai harus melepaskan tangannya dari genggamanku.


"Lo tetap pulang bareng gue al." ucap ku tegas.


Gegas aku menghampiri bapak gojek tersebut. Dan memberikan uang seratus ribu padanya.


"Ini pak, untuk ongkos bapak. Maaf pak saya cancel, soalnya pacar saya lagi ngambek. Jadi dia pesan gojek tanpa menyelesaikan masalah." ujar ku dengan sopan.


Terlihat alya sudah menggembungkan pipi nya karna kesal. Melihat dia cemberut seperti itu, membuatku gemas sendiri.


"Makasih dek. Wajar kalau cewek seperti itu suka ngambek tanpa menyelesaikan masalah. Saya pamit dulu dan terimakasih." ucap nya.


Lalu meninggalkan kita berdua. Gegas aku menghampiri alya dan menggendongnya ala bridal style.


"Akh...." pekiknya karna kaget.


Begini kalau dia kebanyakan melamun. Sampai terkejut saat aku menggendongnya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Lo bisa nggak sih ! Gak usah bikin gue kaget, gara gara tindakan lo yang mendadak gini. Bikin jantung gue mau lepas dari tempatnya." ucap nya kesal.


Wajahnya yang cantik dengan raut wajah yang kesal, membuatku tidak tahan untuk menciumnya. Tapi, ku tahan niatku jika aku mencium nya dia akan semakin benci padaku. Gegas aku duduki alya di motorku.


"Jantung lo bakal aman al, kalau lo bareng gue". ujar ku.


Sembari menampilkan senyumanku padanya. Gegas aku membuka hoodie ku untuk ia pakai supaya tidak kedinginan, melihat dia hanya memakai celana jeans panjang juga kemeja yang pendek.


"Eh.....Lo ngapain buka baju di depan gue." pekik nya terkejut.


"Gue gak buka baju, gue cuma mau buka hoodie gue. Nih, pakai lo supaya gak masuk angin." ucap ku.


Sembari menyodorkan hoodie padanya.


"Apa perlu gue pasangkan ! Kalau gitu, gue dengan senang hati pakaikan untuk lo." ujar ku lagi.


Saat dia masih tak kunjung mengambil hoodie ku.


"Modus lo, gue bisa pasang sendiri." ucap nya.


Sembari mengambil hoodie ku dan langsung memakai nya.


"Al, lo ngapain ada di kitchen magic ?" pekik ku.


Saat sudah di perjalanan menuju ke rumah nya.


Dug


Tiba tiba kepala alya bersandar padaku. Tumben sekali dia bersandar, tidak seperti biasanya yang selalu jaga jarak jika boncengan. Ku arahkan kaca spion pada alya, ku lihat wajahnya dari spion. Ternyata, dia tertidur di bahuku. Pantas saja dia dari tadi diam tidak banyak bicara, ternyata sudah tertidur pulas. Ku tepi kan motorku dan berhenti sejenak. Setelah memberhentikan motor, ku ambil ke dua tangan alya dan ku letakkan di atas perutku.


"Tidur aja, masih cantik lo al. Gue gak sabar akan reaksi lo nantinya." ucap ku.


Sembari mengelus kepalanya dengan pelan. Segara aku melajukan motorku dengan pelan, sambil menggenggam tangan alya bisa mengimbangi tubuhnya di atas motor saat tidur.


Flashback on.


"Al, bangun udah sampai di rumah lo."


Samar samar ku dengar aldo yang memanggilku. Dengan menepuk pelan tanganku. Gegas aku bangun dan menegakkan badanku. Saat sadar bahwa saat ini, aku di antarkan pulang oleh aldo.


"Sejak kapan, gue ketiduran pas di bonceng. Tidurnya di pundak aldo lagi, bikin gue malu sendiri, kalau kayak gini." batin ku.


"Gimana, enak tidurnya ? Sampai susah di bangunin. Pundak gue nyaman banget yah ! Sampai lo tidurnya pulas gitu." ujar aldo.


Menampilkan senyumannya padaku.


"Maaf gue gak sengaja, kalau gue tidur di pundak lo." ucap ku.


Sembari mengalihkan pandangan, karna saat ini aldo menatapku tak seperti biasanya. Membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Gpp, gue tau kalau lo kecapean." ucap nya.


Sambil mengelus pelan kepalaku. Dan mengangkat tubuhku untuk turun dari motornya.


"Ada apa dengan gue, kenapa gue gak memberontak saat aldo mengelus kepala gue dan mengangkat tubuh gue. Seakan akan gue gak mampu untuk melakukannya." batinku.


"Ya sudah, sana masuk ke dalam. " ucap aldo.


Seketika membuatku tersadar dari lamunanku.


"M... Makasih udah nganterin gue." ucap ku gugup.


Segera ku langkahkan kakiku dengan cepat, untuk menuju pagar rumah. Gegas aku membuka pagar dan masuk. Saat ingin mengunci pagar kembali, tak sengaja mataku bersitatap dengan aldo yang masih memperhatikanku.


"Jantung gue kenapa." gumamku.


Sembari memegang dadaku. Gegas aku mengalihkan pandanganku, dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Lucu sekali." gumam aldo.