
"Mari kita makan siang. Istriku sudah memasak banyak untuk menyambut acara pertunangan alya." ujar ayah.
"Jadi, merepotkan kamu wan." ujar om faris.
"Sejak kapan. Kamu begitu sungkan padaku, kalau ingat masa muda dulu kau selalu bar bar tak pernah sungkan."
"Itu kan dulu beda yang sekarang wan, aku sudah punya dua bontot."
"Hahaha kamu ini bisa aja." ujar ayah.
"Bunda. Alya duduknya sama bunda yah." ujarku.
Saat sudah berada di meja makan.
"Duduk di sebelah aldo saja al, tidak baik baru tunangan sudah jauh jauh an." ucap tante dina.
"Benar apa yang tante kamu bilang nak. Duduk dan makan lah di dekat nak aldo." ucap bunda, sembari tersenyum padaku.
Sedangkan aldo, sedari tadi tak henti hentinya menatap alya.
"Gak usah lihat lihat gue." ucap alya ketus.
"Tan, boleh gak. Alya aku bawa keluar setelah makan." ucap aldo pada bunda.
Di sela makannya.
"Boleh kok nak, biar kalian lebih dekat." ujar bunda.
Sembari menampilkan senyumannya.
Flashback off
"Aldo. Papa, gak mau tau kamu harus bisa menggantikan papa di perusahaan. Setelah kamu lulus sekolah, kamu bisa menghandle perusahaan juga cafe kamu, sambil kuliah. Papa hanya ingin menikmati masa tua papa di rumah dengan tenang. Usia papa sudah tidak muda lagi, kalau kamu tidak mau menggantikan papa, terus perusahaan siapa yang menghandle."
"Tapi pa ! Aldo gak suka mengurus perusahaan. Aldo, lebih suka mengurus cafe. Kalau memang papa mau menikmati masa tua papa. Ya sudah, biar aulia saja yang menggantikan papa." ujar ku.
Saat aku di paksa untuk mengurus perusahaan.
"Aulia tidak bisa menggantikan papa, kamu lebih berhak menggantikan papa. Karna, kamu adalah harapan papa, kamu anak laki laki, dan kamu yang akan memimpin keluarga. Papa gak mau tau ! Mau tidak mau kamu tetap menggantikan papa." keukeh papa.
Tiba tiba aku teringat sesuatu, sepertinya tidak masalah jika aku harus menggantikan papa. Asalkan, aku mendapatkan apa yang aku inginkan.
"Ok. Aldo mau menggantikan papa. Tapi, ada syaratnya." ujar ku sembari tersenyum.
"Papa kenal sama pemilik toko bangunan di jalan kelinci nomer enam kan ?" tanyaku.
"Pemilik toko bangunan !" ujar papa sembari mengingatkan.
"Owh... Irawan. Papa kenal banget sama pemilik toko bangunan. Dia adalah sahabat papa, memangnya kenapa ?" tanya papa.
"Pak irawan mempunyai anak perempuan satu kan pa? Namanya Alya Maharani, benar kan pa?" tanyaku.
"Iya benar. Memangnya kenapa do ?" tanya papa.
Menatapku dengan penuh selidik.
"Kalau gitu. Aldo mau minta sesuatu dari papa. Aldo minta papa menjodohkan aku, dengan anaknya pak irawan." ucap ku sambil tersenyum.
Saat ini, yang menganggu pikiran ku adalah alya. Aku ingin memiliki dia seutuhnya.
"Aldo, sedang mengejar alya pa. Aldo cinta sama dia. Dia sulit untuk di jangkau, setiap aku mendekatinya, dia selalu menjauhiku. Jadi, papa bisa kan menjodohkan ku dengannya ?"
"Kamu, benar benar serius dengan alya ? Atau hanya ingin main main saja. Jika hanya main main saja, papa tidak akan menjodohkan kamu dengannya. Karna alya, anak dari sahabat papa. Papa tidak mau persahabatan papa dengan pak irawan hancur hanya karna, kamu menyakiti alya." ujar papa dengan tegas.
"Aldo serius dengan alya pa. Jadi, bisa papa menjodohkan aldo dengan alya." ujar ku.
"Kalau begitu ! Sekalian papa akan melamar alya untuk di jadikan tunanganmu. Biar alya tidak bisa lagi menjauhi kamu. Juga, kamu bisa lebih dekat dengan alya dan menjaganya. Lagian papa setuju jika kamu dengan alya." ujar papa.
"Serius. Papa mau langsung melamar alya untuk aldo !" tanyaku.
Memastikan perkataan papa, bahwa aku tidak salah dengar tadi.
"Asalkan kamu, mau menggantikan papa di perusahaan. Papa akan secepatnya menemui pak irawan."
"Aldo setuju menggantikan papa." ucap ku serius.
"Besok, papa akan langsung menemui pak irawan. Papa harap setelah kamu mendapatkan alya, kamu tidak mengingkari perjanjian ini." ujar papa.
"Aldo, akan menepati janji pa. Tenang saja, aldo bukan cowok yang suka mengingkari janji." ucap ku.
Keesokan harinya.
"Bagaimana kabarmu wan ?" ujar papa.
Setelah aku dan papa sampai di toko bangunan om irawan.
"Seperti yang kamu lihat. Kabarku sangat baik. Oh iya ini siapa ?" tanya om irawan.
Sembari menunjukku.
"Ini, anak pertamaku aldo, masih ingat kan !" seru papa.
"Tentu saja, aku masih mengingatnya ris. Dulu, dia masih kecil suka sekali menempel padaku. Ternyata sudah sebesar ini." ujar om irawan menepuk nepuk pundakku.
"Sebentar. Bukannya, kamu waktu itu yang datang ke rumah. Dan bilang pada om bahwa alya ada kerja kelompok !" ujar om irawan lagi.
"Iya om. Benar kemaren itu saya. " ujar ku.
Ternyata, ingatan om irawan tajam. Sampai bisa mengenaliku langsung. Sedangkan, om irawan hanya menganggukkan kepala saja sebagai jawaban.
"Oh iya. Hampir saja saya lupa. Ayo silahkan duduk dulu.
Segera aku dan papa duduk di sofa yang sudah tersedia di sini.
"Ada apa ris ? Kenapa kamu tiba tiba mendatangi ku. Ada masalah apa ? Tidak seperti biasanya, kamu langsung mendatangiku. Biasanya, kamu akan meneleponku jika ada kepentingan. Sepertinya, hari ini ada keperluan yang sangat penting, sampai sampai kamu harus menemui ku langsung." ujar pak irawan.
"Begini. Aku ingin menjodohkan anak mu, dengan anakku. Sekaligus melamar alya untuk menjadi tunangan aldo." ujar papa.
Sembari menatapku.
"Kenapa tiba tiba mendadak kamu ingin menjodohkan anakmu dengan anakku. Apalagi, usia alya masih begitu muda, aku ingin anakku fokus dengan sekolahnya. Aku tidak setuju jika kamu datang ke rumah untuk melamar alya. Apa tidak mendadak jika begini. Bagaimana masa depan alya ! Jika di usia nya saat ini, sudah bertunangan dan malah membuatnya tidak fokus dengan belajarnya." ujar pak irawan tegas.
"Om, saya akan menjamin. Jika bertunangan dengan saya. Alya tetap fokus dengan sekolahnya dan fokus belajar. Saya, tidak akan melarang alya untuk mengejar mimpinya. Saya juga masih ingin menggapai impian saya. Saya mencintainya dengan tulus , saya ingin menjaga alya sebagaimana om menjaganya." ucap ku dengan tegas.
"Tenang saja wan. Meski alya telah lulus sekolah. Alya masih tetap bisa melanjutkan kuliahnya. Apalagi, aldo juga akan menggantikan ku di perusahaan. Jadi, aldo tidak akan menggangu masa mudanya alya. Ini hanya bertunangan saja. Untuk mengikat mereka dengan hubungan yang serius. Kalau soal nikah, biarkan anak anak kita yang memutuskannya. Percayalah, aldo bisa bertanggung jawab sepenuhnya atas alya. Kamu tahu sendiri, caraku mendidik dia saat kecil." ucap papa.