The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 44



"Nanti juga bakal datang ke sini. Lebih baik, gue lanjut tidur aja. " ujar alya.


Saat sudah mematikan sambungan telepon.


Pukul 13.50.


Dor.....Dor....Dor.....


"Al, bukain pintunya." ujar lidia.


Mengetuk pintu kamar alya dengan keras.


"Iya bentar lid. Gak sabaran banget sih lo." seru alya.


Saat sudah bangun dari tidurnya.


"Al, sini sini. Ceritain ke gue sebenarnya apa yang terjadi." ujar lidia.


Sembari menarik tangan alya dan menerobos masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu kamar alya.


"Beruntungnya, gue masuk sekolah. Dan gak bantuin lo membatalkan pertunangan lo." ujar lidia.


Saat aku sudah menjelaskannya.


"Dih....Lo tuh sudah janji sama gue. Malah mengingkari janji." ujar ku kesal.


"Hehehe ya sudah sebagai gantinya gue bakal mentraktir lo makan." ujar lidia sumringah.


"Ogah. Gue gak mau." ucap ku ketus.


"Sudahlah al. Lagian yang jadi tunangan lo adalah aldo jalanin aja. Mungkin lo memang sudah di takdirkan untuk berjodoh dengan aldo. Dan, lo juga harus menerima dia, jangan jauhin dia lagi. Lagian dia sudah mengungkapkan perasaannya ke lo." ujar lidia.


"Nanti gue pikirin deh." ujar ku.


...****************...


"Pagi bunda, ayah." sapa ku.


Saat aku sudah berada di meja makan untuk sarapan.


"Pagi sayang."


"Pagi nak."


"Cerah sekali wajah anak bunda pagi ini. Sepertinya sedang bahagia." ujar bunda.


Sembari meletakkan air minum di sampingku.


"Hehehe.....Alya senang banget bun. Sudah tiga hari alya tidak masuk sekolah." ujar ku.


Sembari memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut.


Ting....Tong.......


"Biar alya aja bun, yang bukain pintu." ujar ku.


"Sudah, kamu lanjutkan sarapan kamu. Biar bunda yang bukain pintunya."ujar bunda.


Saat aku hendak beranjak dari tempat duduk, untuk membuka pintu.


"Ayo masuk nak, sekalian sarapan sama bunda." ujar bunda.


"Siapa bun ?" tanya ayah.


"Assalamualaikum om." ucap aldo.


Sembari mencium tangan ayah. Saat sudah sampai di meja makan.


"Waalaikumsalam, aldo. Ayo duduk, sekalian sarapan bersama kita." ujar ayah.


"Iya om terimakasih." ujar aldo.


Sembari duduk di sebelah alya.


Sedangkan alya yang sedari tadi fokus dengan sarapannya, seketika tersedak saat tahu aldo lah yang datang.


"Uhuk"


Buru buru ia meminum airnya dengan sekali tegukan.


"Alya, pelan pelan nak. Makannya, jangan terburu buru." ucap bunda.


Sembari menepuk pelan punggung alya. Sedangkan, aldo hanya menampilkan senyumannya pada alya.


"Nak aldo ! Makanlah." ujar bunda.


Sembari menyodorkan sepiring nasi yang sudah ada lauknya.


"Hati hati ya nak ! Di jalan, jangan kebut kebutan." ujar bunda.


Saat aldo mencium tangan bunda juga ayah. Untuk berangkat sekolah.


"Iya tan. Aldo sama alya berangkat sekolah dulu, Assalamualaikum." ujar aldo.


"Waalaikumsalam."


Saat sudah berada di tengah jalan. Karna takut suaranya akan di bawa angin.


" Jemput lo, buat berangkat bareng gue. Mulai hari ini, gue akan selalu jemput lo dan berangkat sekolah bareng gue. " teriak aldo.


"Lo gak usah merepotkan diri lo sendiri. Gue bisa berangkat sekolah sendirian."


"Gak bisa al. Karna lo sudah jadi tanggung jawab gue. Meskipun hubungan kita hanya tunangan."


Sedangkan alya tidak lagi menanggapi perkataan aldo. Gegas alya mengeratkan pegangannya di pundak aldo, saat laju motor semakin kencang.


Sesampainya di sekolah. Gegas alya turun dan pergi meninggalkan aldo di parkiran motor.


"Tambah cantik aja lo saat cemberut gitu." gumam aldo.


Sambil menatap alya, yang sudah mulai menjauh dari area parkiran.


"Lid. Sepertinya, gue gak akan berangkat sekolah bareng lo lagi deh. Karna, gue berangkat sekolah bareng aldo." ujar ku lesu.


"Gpp al. Lagian, itu memang kewajiban aldo untuk menjaga lo." ucap lidia.


"Mulai besok, kelas tiga akan mengadakan kemah. Mulai hari ini, kalian harus menyiapkan keperluan saat berkemah. Dan bawa kebutuhan yang penting saja. Hari ini kalian ibu pulangkan." ujar wali kelas.


Sembari meninggalkan kelas.


"Al, bareng gue yah ke mall." ujar lidia.


"Ok. Lebih baik, ke mall langsung. Gak usah pulang dulu ke rumah." ujar ku.


"Gue setuju. Lo bareng aldo, gue bareng dava." ujar nya.


Sesampainya di mall. Gegas aku turun dari motor aldo, dan menghampiri lidia.


"Gue mau gandeng tangan dava al. Kenapa lo malah narik gue." ujar lidia.


Saat aku menggandeng tangan lidia masuk ke dalam mall.


"Gak usah lebay deh lid. Bareng gue aja, gue gak mau bareng aldo." ujar ku.


"Sayang, jangan gitu. Biarkan lidia bareng dava. Kamu sama aku aja." ujar aldo.


Sembari menarik alya pelan, sampai menubruk dada bidang aldo. Sehingga tangan lidia terlepas dari genggaman alya. Tatapan mereka pun bertemu, dan terdiam satu sama lain.


"Lo apaan sih. Manggil sayang segala ke gue." ujar alya.


Sambil mendorong tubuh aldo dengan pelan. Saat sudah sadar dari lamunannya.


"Jantung gue." batinku.


Sembari memegang dadanya, karna detakan jantung yang begitu cepat. Sedangkan aldo, hanya tersenyum saja saat melihat alya yang memegang dadanya. Sembari mengeratkan genggamannya di tangan alya.


"Nah kayak gitu kan enak. Seperti, pasangan yang romantis. Ayo beb." ujar lidia.


Sembari menggandeng lengan dava.


"Tuh mereka berdua sangat romantis. Masak kita mau jauh jauh an. Yuk, kita susul lidia." ujar aldo.


"Lo kenapa sih ! Pakai aku kamu segala kalau ngomong sama gue." ujar alya kesal.


"Memangnya aku salah. Jika aku mengubah kosa kata yang lembut ke kamu hm." ujar aldo menampilkan senyumannya padaku.


"Ya sudah lah. Terserah lo aja." ujar alya.


"Kamu juga harus mengubah kosa kata menjadi aku dan kamu." ujar aldo.


"Iya, kapan kapan." ujar ku kesal.


"Ini juga kenapa jantung malah berdisko segala." batinku.


"Capek banget nih. Ternyata peralatan untuk berkemah banyak banget." ujar lidia.


Saat sudah membeli peralatan kemah. Dan saat ini, mereka berempat sedang duduk di tempat duduk mall di dekat tangga.


"Sayang, sebentar yah ! Aku, mau menyusul dava." ujar aldo.


Sembari meninggalkan alya dan lidia. Sedangkan dava, tadi pamit untuk membelikan minuman untuk lidia.


"Sepertinya, lo bakal jadi pasangan yang kasmaran deh. Seperti gue sama dava." ujar lidia sembari tersenyum padaku.


"Di lihat dari mananya coba pasangan kasmaran." ujar ku kesal.


"Buktinya, sedari tadi. Aldo gak henti hentinya manggil lo dengan sebutan sayang, terus ngomongnya aku kamu." ujar lidia.


Sedangkan aku hanya menghembuskan nafas dengan kasar.


"Terserah lo deh lid. Gue capek banget hari ini buat debat sama lo." ujar ku lesu.


Tak lama kemudian dava dan aldo pun datang sembari membawa minuman.


"Sayang, kamu pasti haus. Ini aku belikan kamu minuman." ujar aldo.


Sembari menyodorkan satu cup besar tea break boba rasa matcha yang sudah di tusuk sedotan.