
Selesai mandi, gegas aku turun membantu bunda masak untuk makan malam.
"Mau masak apa hari ini bun ?" tanyaku.
Setelah menghampiri bunda di dapur, yang sedang mengambil sayuran di lemari es.
"Bunda mau masak capcay sama bebek goreng." ucap bunda.
"Alya siap siaga bantuin bunda." seruku.
Bergegas aku membantu bunda memotong sayuran untuk capcay, sedangkan bunda mencuci daging bebek.
Setelah semua sudah matang, semua menu masakan di sajikan di meja makan.
"Setelah makan, temui ayah di ruang keluarga. Ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan ke kamu." ucap ayah di sela makan.
"Memangnya soal apa yah ?" tanyaku heran.
Tidak seperti biasanya ayah berbicara serius ini padaku.
"Sebentar lagi kamu akan tahu nak. Selesaikan makanan mu dulu." ucap bunda sembari tersenyum padaku.
Sesuai apa yang ayah ucapkan tadi, selesai mencuci piring. Aku langsung menuju ruang keluarga di mana ayah sudah menungguku.
"Ada apa yah?" tanyaku.
Sembari duduk di sofa samping ayah.
"Begini nak, ayah ingin menjodohkan kamu dengan anak dari sahabat ayah. Kamu tenang saja, ayah menjodohkan mu dengan lelaki yang tepat. Ayah harap kamu tidak menolaknya." ucap ayah.
Deg
Mendengar penuturan ayah tadi, membuat nafasku tercekat. Apa aku tidak salah dengar, ayah akan menjodohkan ku dengan anak dari sahabat ayah. Bukankah aku masih sekolah. Bagaiman dengan masa depanku nantinya.
"Ayah, bercandanya jangan bikin alya susah nafas begini." ucapku tidak percaya dengan ucapan ayah tadi.
"Ayah tidak bercanda nak, ini permintaan ayah. Dua hari lagi, acara tunangan akan di adakan." ucap ayah dengan tegas.
"Apa ? dua hari lagi acara tunangannya ? Alya kan masih sekolah, dan masa depan alya masih panjang. Alya ingin menikmati masa muda dulu yah. Jangan menjodohkan alya seperti ini. Lagian alya gak kenal sama anak dari sahabat ayah. Alya gak mau terima perjodohan ini." ucapku kesal.
Masih tidak percaya dengan permintaan ayah yang menurutku aneh ini. Bagaimana ayah sebegitu percayanya bahwa pilihan ayah akan tepat.
"Jangan menolak permintaan ayahmu nak, terimalah." ujar bunda.
Sembari meletakkan cemilan malam di meja depan sofa.
"Tapi bun, alya masih sekolah. Bagaimana yang di jodohkan alya malah sudah berkepala tiga. Alya gak mau." bantahku.
"Calon tunanganmu juga masih sekolah, bahkan dia satu sekolah denganmu. Ayah gak mau dengar penolakan kamu lagi. Mau gak mau ayah akan tetap menjodohkan kamu dengan anak dari sahabat ayah." ucap ayah tegas tidak mau di bantah.
"Cukup jalani saja nak, bunda tahu ini berat bagi kamu. Tapi yakin lah, cinta akan datang sendirinya karna terbiasa." ucap bunda.
Menenangkan ku, sembari memberi kehangatan dengan mengusap punggungku pelan.
"Alya ke kamar dulu." ucapku.
Sambil beranjak dari tempat duduk, menaiki anak tangga satu persatu untuk menuju kamarku.
"Ayah sudah yakin, anak kita akan di jodohkan dengan faris ? " ucap bunda.
Memastikan keputusan yang ayah buat.
"Tenanglah, pilihan ayah tidak akan salah." ucap ayah.
Hiks........Hiks.....
"Kenapa ayah menjodohkan gue, dengan cowok yang gak gue kenal. Gue kan, masih muda. Masih ingin menikmati masa SMA tanpa adanya perjodohan. Huaaaaa.... gue gak mau tunangan dulu sebelum lulus sekolah. Menolak pun gue gak bisa." pekikku frustasi.
Beruntungnya aku sudah berada di dalam kamar.
"Apa? Lo di jodohin sama om dan tante, acaranya akan di adakan dua hari lagi !" seru lidia tak percaya.
Aku sudah menceritakan semua kejadian tadi malam padanya, saat sudah di kantin. Beruntungnya dava masih mengantri makanan untuk kita.
"Kalau pacaran sih gak masalah. Lah ini, malah tunangan, wah masa muda lo akan terancam deh al. Lo gak bisa bebas kemana mana. Denger denger nih kalau sudah punya tunangan itu gak boleh keluar tanpanya. Bagaikan anak ayam yang selalu mengikuti induknya." ujar lidia.
"Lo jangan bikin gue tambah galau lah lid, Kalau gue bisa nolak sudah tadi malam gue nolaknya. Terus gimana donk kalau misal gue keluar bareng lo masak dia juga harus ikut." ucapku kesal.
"Lagian tuh cowok kenapa juga mau di jodoh jodohkan segala." ujarku lagi.
"Ya sudah al, bener kata tante lo jalanin saja dulu. Masih ada gue sebagai penyemangat Lo." ucap lidia tersenyum padaku.
"Huft.....Gue gak tau lid. Kenapa ini semua terjadi sama gue. Masa depan gue nantinya gimana ? Gue gak mau menikah muda hiks." ujarku yang tak bisa menahan air mata.
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di pojokan meja kantin sekolah. Di mana aldo sedang memperhatikan alya sedari tadi, sembari memasang raut wajah yang bahagia.
"Untuk hari ini, gue gak mau ganggu lo dulu al." batin aldo.
"Kenapa alya sayang ?" tanya dava pada Lidia.
Sembari meletakkan nampan yang berisi tiga pesanan kami.
"Lagi di jodohin yang." ucap lidia.
"Kalian berdua juga, gak perlu deh manggilnya pakai yang yang begitu, jadi bikin tambah eneg ke gue." ucapku kesal.
Sudah di galau kan oleh perjodohan malah, harus mendengar mereka berdua memanggil dengan sebutan yang menggelikan di telinga.
"Nanti kalau lo sudah jatuh cinta, lo akan merasakan seperti gue al, rasanya di manja, di sayang, dan di perhatikan. Jangan iri gitu ke gue. dua hari lagi lo sudah punya tunangan. Lo bakal merasakan di cintai al. Sabar saja sudah dua hari lagi kok. " ucapnya.
" Saudara galau, bukannya menghibur malah di buat tambah puyeng." sindir ku.
Sembari memakan bakso yang di pesankan tadi oleh dava.
"Hehe.... Ya maaf nantik gue bakal temenin lo deh waktu acaranya biar tambah semangat." ujar lidia.
"Iya iya. Kalau bisa lo saja deh nyamar jadi gue." ucapku.
" Yee....Enak saja lo terus ayang dava gue mau di kemana in." seru lidia.
"Jangan aneh aneh deh al, hubungan kita masih sebesar biji loh." ujar Dava menimpali.
"Lo tadi nanyak kan dava mau di kemana in?" tanyaku pada lidia sembari tersenyum.
"Lo jadikan simpanan saja lid. Bereskan ? hitung hitung bantuin gue." ucapku tanpa beban.
Sedangkan lidia, dan dava sudah menatapku dengan tatapan horor. Seperti ingin memakan manusia hari ini juga.
"Sayang kamu pilih siapa, alya atau aku." ucap dava sok dramatis.
" Pilih kamu lah sayang, aku kan cintanya sama kamu. Gak mungkin lah kamu aku jadikan simpanan. Aku mau kau ku jadikan yang pertama dan terakhir." ucap lidia mesra.
Sembari memeluk lengan Dava.
"Denger sendiri kan lo ? apa kata saudara lo tadi. Gak mau menjadikan gue simpanannya." ujar dava.
"Haduh ......Berlama lama bareng kalian berdua ini, bikin gue pengen hilang saja. Geli gue dengerin kalian berdua bermesraan di depan gue." ucapku kesal.