The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 20



"Al. Lo gak mau berhenti ? Sudah siang nih ! Nanti kita di marahi nenek loh." ujar lidia.


Yang sudah selesai mandinya sedari tadi.


"Padahal seru nih. Nantik sore kita mandi di sini lagi yah ! " seruku.


Rasanya betah sekali berlama lama mandi di sumber. Selain airnya dingin, dan segar juga membuat tubuh menjadi rileks.


Sesampainya di rumah, sepi sekali. Bahkan pintu rumah sudah tertutup.


"Nenek sama kakek pergi kemana ya al ?" tanya lidia. Setelah aku membuka pintu.


"Enggak tau juga ! Motornya juga gak ada. Mungkin ada keperluan yang lain kali. Makanya gak bilang sama kita kalau mau pergi." ucapku.


Ku langkahkan kaki ini menuju dapur. Ku buka kulkas, dan mengambil air botol besar yang sudah tersedia. Segera ku teguk untuk menghilangkan dahaga. Berlama lama berenang, membuatku kehausan seperti berpuasa saja. Ku taruh botol ke tempatnya yang sudah sisa separuh air botolnya.


"Lid. Lo laper gak ?" tanyaku.


Menghampiri lidia yang sedang duduk di ruang keluarga. Sembari menonton televisi film yang berjudul Kepincut Cinta Abang Martabak yang berlogo SCTV itu.


"Enggak. Gue masih kenyang nih ! Kenapa, lo laper lagi? " tanyanya.


Yang masih menatap layar televisi.


"Hehe iya nih. Padahal baru satu jam lalu yang makan. Malah cacing yang ada di dalam perut berdemo minta makan." ucapku.


"Ya sudah. Makan sana al, lagian masih ada nasi dan lauknya. Kalau misal gak ada makanan sama sekali, lo kan bisa masak."


"Temenin gue makan donk !" ajakku.


Sembari menarik tangannya agar bangun.


"Enggak ah. Lo sendiri yang laper, masak gue juga ikutan. Lagi seru serunya nonton film."


"Ya sudah iya. Gue mau makan dulu." ucapku sambil menghentakkan kakiku karna kesal.


"Gak tau juga kenapa perut gue sebentar bentar laper. Padahal baru saja makan, sudah laper lagi. Kalau seperti ini terus, bisa bisa jadi gemuk badan gue." gerutuku.


Gegas ku makan setelah menaruh lauk di piring sesuai keinginanku.


Seperti biasa, setelah makan ku cuci piring terlebih dahulu.


"Nenek datang dari mana ? " tanyaku ketika nenek pulang.


"Owh itu nenek lagi jenguk buk kades." ucapnya.


"Ya sudah. Nenek mau istirahat dulu yah al !" ujar nenek sambil menuju ke kamar.


"Iya nek. Selamat istirahat !" ucapku.


Pukul 20.00


"Al. Gue pengen bakso nih ! Tapi, gue gak tau warung bakso di sini." ucap lidia.


"Gue juga gak tau tempat warung bakso di sini lid. Lebih baik lo tanya kakek atau nenek saja deh. " ucapku memberi saran.


"Bener juga kata lo, Lo mau gak ?" tanyanya.


"Jelas mau lah gue." ucapku.


"Ya sudah ayo ikut gue !" ucapnya sembari menarik tanganku supaya bangun dari mode rebahan.


Setelah makan malam. Kami berdua menuju kamar, hanya sekedar rebahan dan scroll tiktok.


Segera ku ikuti langkah lidia untuk menuju ruang tamu. Siapa tau kakek dan nenek sedang menonton televisi.


Benar saja dugaanku. Ternyata mereka sedang menonton televisi.


"Kakek ! Di sini warung bakso di mana ? Lidia lagi ngidam nih !" seruku.


"Ngidam ngidam untumu (gigimu)" ujarnya sok bahasa jawa.


"Kalau mau ngjawa tuh ! Jangan separuh separuh lid. Nantik ketemu sama orang yang pinter bahasa jawa hahohaho lo." tawaku.


"Namanya juga belajar al, gak usah nyinyir terus deh" ketusnya.


"Sudah sudah. Kalian berdua selalu saja berantem dengan hal yang sepele." ucap kakek menimpali.


"Kalau mau beli bakso, kalian berdua nunggu di teras depan rumah. Sebentar lagi pak memet bakal lewat, dan jangan lupa bawa mangkok kalau mau ke teras. Supaya tidak pakai mangkoknya bang memet. Kasian kalau masih nunggu kalian makan, baru berkeliling lagi." ucap nenek.


"Nenek dan kakek gak sekalian mau beli ?" tanya lidia.


"Kakek masih kenyang, kalian berdua saja yang makan."


"Nenek juga masih kenyang."


"Ok deh." ucap Lidia.


Setelah mengambil mangkok masing masing. Segera aku dan lidia keluar untuk menunggu abang bakso lewat. Ternyata, kehidupan di kampung tidak seperti di kota, yang ingin beli sesuatu sudah ada. Sedangan di sini, mau beli bakso saja harus nunggu abang tukang baksonya lewat, baru bisa beli. Gimana kalau gak lewat lewat, mungkin hanya tinggal capeknya saja menunggu.


Dari pada bosan menunggu. Lebih baik ku sibukkan saja dengan benda pipih ku. Ku buka aplikasi whatsapp, ternyata ada dua puluh panggilan tak terjawab dari nomer yang tak di kenal.


"Nomernya siapa ini." gumamku.


"Lo tau gak sama nomer ini ?" tanyaku.


Pada Lidia sembari memperlihatkan Layar handphoneku.


"Sepertinya, nomernya si riski deh ! Coba saja lo chat. Siapa tau beneran dia." ujarnya.


"Tapi, kenapa nelfon gue ? Sampai sebanyak ini." ucapku.


"Mungkin bukan riski sendiri yang nelfon lo. Siapa tau si aldo yang nelfon lo pakai nomernya riski." ujarnya.


"Benar juga apa yang di katakan lidia. Mungkin aldo sendiri yang nelfon pakai nomernya riski. Oh iya, baru inget kalau nomernya aldo sudah gue blokir. Ada perlu apa dia." batinku.


Ku usap profile lalu ku usap lagi yang bergambar kertas. Ku ketik pada keyboard dan ku kirim pesanku yang bertuliskan


*Ada apa*


"Huh... lama banget nih ! Nungguin abang baksonya lewat. Sampai lumutan gue nih." gerutu lidia.


"Sudah yang sabar saja lid. Menunggu sesuatu itu, harus penuh dengan kesabaran tidak boleh marah marah. Entar berasa semakin lama datangnya." ucapku.


Tak lama kemudian, ada suara dentingan mangkok yang beradu dengan sendok.


Ting....Ting.....Ting


Suara apa lagi, kalau bukan suara pedagang bakso keliling.


"Akhirnya datang juga !" seru lidia.


Langsung berlari sambil membawa mangkok menuju pagar rumah. Supaya lebih mudah memberhentikan abang baksonya.


Aku yang melihat lidia, hanya bisa menggelengkan kepala. Melihat tingkahnya yang tadi lesu tidak berdaya seperti sudah seminggu tak makan. Cukup dengar suara dentingan mangkok, langsung berubah menjadi senang. Segera aku menyusul lidia ke depan.


"Pak, aku mau satu mangkok baksonya dan pakai mangkok sendiri pak." ucapku sambil memberikan mangkok yang ku bawa tadi.


"Pakai pentol yang besar ya pak dua duanya !" seru lidia.


"Baik neng."


Setelah meracik sambal sesuai selera di mangkok. Gegas aku membayar baksoku juga punya lidia.


"Berapa semuanya pak ?" tanyaku.


"Dua puluh ribu saja neng." ucapnya.


Segera ku beri uang lima puluh ribuan.


"Ini neng kembaliannya tiga puluh ribu yah !" ucapnya.


Sembari memberikan uang kembalian padaku.


"Makasih pak."


"Sepertinya, makan bakso di kamar. Lebih seru deh al, sambil nonton drakor." ujar lidia masuk ke dalam rumah.


Tak lupa ku tutup pintu dengan pelan. Biar nenek saja yang menguncinya nanti.


"Boleh juga tuh ! Gue ambil air dulu. Dan sekalian bawain bakso gue bisa kan !" ujarku sambil memberikan baksoku pada Lidia.


"Bisa al tenang saja . Kalau tumpah gak mau tanggung jawab gue ." ucapnya.


"Iih sembarangan lo. Awas kalau bakso gue tumpah. Bakso lo yang akan gue makan." ujarku.