
...Gangguan Di Jalan...
Setelah selesai makan.
“Hari ini aku ingin ke toko senjata Singa Besi.” Ucap Nara.
“Apakah perlu saya siapkan kereta kuda?” ucap Tiara.
“Tidak perlu.” Ucap Nara.
Setelah itu Nara dan para pelayannya pergi dari penginapan.
Di jalan menuju toko Singa Besi.
Nara santai dengan diikuti oleh Tiara dan Lisa di belakangnya.
Suasana ibukota seperti hari-hari sebelumnya. Banyak orang berjualan dan lalu-lalang. Tapi tiba-tiba.
“Minggir dasar rakyat jelata!” terdengar suara dari sebuah kereta kuda yang cukup mewah terapi tidak semewah milik Nara.
“Apa kalian tidak dengar! Minggir! Putra Baron Niki akan lewat!” Ucap keras salah satu prajurit yang mengawal kereta kuda tersebut.
Nara yang tidak peduli tetap berjalan santai tidak menghiraukan suara tersebut.
“Hei kau! Apa kau tidak dengar! Minggir!” Ucap seorang remaja pria dari jendela kereta kuda.
“Prajurit! Habisi dia!” Ucap remaja pria tersenyum tersebut sambil menunjuk Nara.
“Baik, Tuan.” Ucap beberapa prajurit yang mengawal kereta kuda tersebut.
Setelah mengucapkan tersebut prajurit tersebut maju menghadang jalan Nara.
“Berhenti!” Ucap prajurit yang menghentikan Nara.
“Apa.” Ucap Nara dengan acuh.
“Kau menghalangi jalan Tuan Tino Niki, Putra Baron Niki.” Ucap seorang prajurit tersebut.
“Kau tidak lihat jalan masih lebar. Dan aku tidak peduli siapa orang tersebut.” Ucap Nara santai dan melanjutkan berjalan.
Setelah Nara melewati prajurit tersebut.
“Kau!” Ucap marah prajurit tersebut.
“Habisi dia!” Ucap remaja pria yang melihat sikap Nara.
“Baik, Tuan.” Ucap beberapa prajurit.
Saat ketika prajurit hampir mendekati Nara mereka semua tertahan dengan kehadiran burung Nuri yang menghembuskan bulu yang setajam pisau.
“Tiara, suruh mereka diam.” Ucap Nara.
“Baik.” Ucap Tiara yang secara tiba-tiba muncul di belakang Nara tepat di sebelah burung Nuri yang menghembuskan bulu.
“Siapa kau!” Ucap salah satu prajurit.
“Bisakah kalian diam. Kalian membuat Tuan muda merasa tidak nyaman.” Ucap Tiara.
“Ooo. Jadi kau adalah pelayan pria itu.” Ucap salah satu prajurit.
Tiara tidak menjawab. Tetapi mengeluarkan sepasang pedang pendek langsung menghilangkan dari tempatnya.
Tidak berselang lama setelah Tiara menghilang para prajurit yang menghalangi Nara tumbang satu persatu.
Setelah itu Tiara kembali di tempatnya dan membersihkan pedang pendek kembarnya yang memiliki noda merah darah di bilahnya.
“Aa-p, yang terjadi.” Ucap remaja pria yang menyaksikan prajuritnya tumbang hanya menghadapi seorang pelayan wanita.
Setelah kejadian itu Tiara menyusul Tuannya, Nara yang sudah berjalan cukup jauh dengan Lisa.
“Saya sudah selesai Tuan muda.” Ucap Tiara yang sudah menyusul Nara.
Nara hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanannya.
Setelah beberapa menit akhirnya tiba di Toko Singa Besi.
Kring, suara bel pintu berbunyi ketika Nara membuka pintu.
“Selamat datang, Tuan. Pesanan Anda sudah siap.” Ucap lelaki tua yang menyambut Nara.
Setelah menyambut Nara. Lelaki tua itu langsung masuk ke dalam. Ketika keluar lelaki tua itu membawa sebuah kotak peti.
“Ini, dia senjata yang Anda pesan Tuan.” Ucap lelaki tua itu sambil membuka kotak peti.
Di dalam kotak peti terdapat senjata yang dipesan Nara. Sabit Nara berpenampilan bilah sabitnya berwarna merah gelap dengan gagangnya berwarna hitam legam yang memiliki ukuran cukup panjang.
“Emm, cukup bagus.” Ucap Nara sambil mengambil senjata sabit tersebut.
“Ringan tapi kokoh, tajam tapi kuat. Cukup bagus.” Ucap Nara sambil mengayun-ayunkan sabit tersebut.
“Hehehe, terima kasih Tuan.” Ucap lelaki tua.
“Baiklah, aku puas dengan hasil kerjamu. Aku akan mengambil ini. Dan ini bonus untukmu.” Ucap Nara mengambil kotak peti dan memberi lelaki tua beberapa keping koin emas hitam.
“Terima kasih, Tuan.” Ucap lelaki tua.
“Baiklah, aku pergi dulu.” Ucap Nara melangkah pergi.
Setelah keluar dari toko Singa Besi.
“Tiara, simpan senjataku dalam cincin dimensi.” Ucap Nara kepada Tiara.
“Baik, Tuan muda.” Ucap Tiara sambil memasukkan senjata sabit Nara ke dalam cincin dimensi.
“Ayo kembali ke penginapan. Aku ingin melihat beastku dan mencoba untuk berkomunikasi dengannya.” Ucap Nara.
“Baik, Tuan muda.” Ucap Tiara dan Lisa.
Di perjalanan menuju penginapan. Sudah tidak terlihat rombongan yang milik putra Baron Niki.
“Sepertinya mereka sudah pergi.” Ucap Nara melihat jalanan.
“Benar, Tuan muda. Sepertinya mereka sudah tidak berani menatap Tuan muda lagi.” Ucap Lisa berpendapat.
“Jika mereka berani lagi. Akan saya pasti mereka akan menyatu dengan alam.” Ucap Tiara dengan wajah yang cantik tapi menyeramkan.
“Iya, baiklah. Ayo kita kembali, aku sudah tidak sabar melihat beastku.” Ucap Nara.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju ke penginapan.
Di penginapan, kamar Nara.
“Haa, akhirnya aku bisa beristirahat.” Ucap Nara.
“Ini camilan dan jus buah yang Tuan muda minta.” Ucap Lisa membawa beberapa camilan dan jus buah.
“Terima kasih.” Ucap Nara sambil mengambil beberapa camilan dan memakannya.
“Oh, ya. Tiara apakah kau membawa alat komunikasi rumah? Aku ingin memberi kabar kepada ibuku.” Ucap Nara.
“Saya membawanya.” Ucap Tiara sambil mengeluarkan semacam kotak dari cincin dimensi.
“Ini, Tuan muda.” Ucap Tiara.
Nara mengambilnya dan mulai menghidupkan kotak komunikasi yang berbentuk seperti proyektor.
Setelah Nara masukan mana ke dalam kotak komunikasi tersebut. Mulai muncul cahaya yang menampilkan kedua orang tuanya.
“Dari mana saja kau ini! Tidak memberi kabar kepada ibu. Dan malahan kau sudah menambah penghangat kasur.” Kata sambutan dari ibu Nara.
“Kau memang hebat Nara. Hahahaha.” Ucap ayah Nara.
“Kau ini!” Ucap marah ibu Nara kepada ayahnya.
“Jadi ada apa Nara?” ucap ayah Nara.
“Begini aku mungkin akan lama beranda di ibukota. Karena kerajaan akan mengadakan akademi pelatihan.” Ucap Nara pelan. Ia takut jika sang ibu marah.
“Begitu, Itu bagus untuk perkembanganmu dalam pertarungan nanti.” Ucap ayah Nara.
“Kau akan lama lagi. Kau tidak kasihan kepada ibu. Ibu sangat merindukanmu.” Ucap ibu Nara.
“Tenang saja ibu. Nara akan sesering mungkin menghubungi ibu.” Ucap Nara menenangkan ibunya.
“Oh ya. Aku ada kabar lagi. Aku mendapatkan Beast Gagak Hitam.” Ucap Nara sambil mengeluarkan Beastnya.
“Exiter”
Keluarlah seekor Gagak Hitam dari tubuh Nara.
“Oakh-Oakh” bunyi anak burung Gagak Hitam yang dikeluarkan Nara.
“Oh, seperti keberuntunganmu tidak bagus. Burung Gagak Hitam merupakan salah satu Beast yang cukup susah untuk hidup jika mereka tidak menyukai Tuan mereka.” Jelas ayah Nara.
“Tetapi jika mereka mengakuimu sebagai Tuan mereka, burung Gagak Hitam bisa menjadi beast yang menduduki peringkat atas beast tipe burung.” Jelas ibu Nara.
“Oh, seperti itu.” Ucap Nara.
“Oh ya, siapa itu yang berada di sebelah Tiara?” ucap ibu Nara menunjuk pada Lisa.
“Itu pelayan baruku. Namanya Lisa Leaf. Dia seorang Elf.” Ucap Nara.
“Salam kenal, Nyonya dan Tuan besar.” Ucap Lisa memberi salam.
“iya, Kau tidak melakukan macam-macam dengan para pelayanmu ketika ibu tidak ada kan!” ucap ibu Nara tersenyum menyeramkan.
“Ehem, tentu saja tidak. Mungkin nanti.” Ucap Nara dengan pelan pada kalimat terakhir.
“APA!” Ucap ibu Nara marah.
“Tidak-tidak hanya bercanda.” Ucap Nara dengan cepat.
“Good Job Nara.” Ucap ayah Nara sambil mengacungkan jempol kepada Nara.
“Diam kau. Kau dan Nara sama saja.” Ucap ibu Nara.
“Ibu, aku mau istirahat sudah dulu ya. Bey.” Ucap Nara.
“Baiklah, ingat jangan macam-macam ketika ibu tidak ada.” Ucap ibu Nara.
“Baik.” Ucap Nara.
Setelah itu cahaya komunikasi redup dan mati.