The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Lihat Kamu Menjadi Gemuk



...Lihat Kamu Menjadi Gemuk...


Waktu telah berlalu. Sang Bulan telah tiba di tengah lautan langit.


Di dalam Mansion Nara.


Setelah perbincangan antara Nara dan pada Count selesai. Para Count pergi dari Mansion Nara dengan wajah cerah.


...—–—...


Di halaman Mansion Nara.


Terlihat seorang pria tampan berambut hitam legam yang sedang duduk menikmati Wine ditemani oleh cahaya Sang Bulan dan nyanyian serangga yang merdu.


“Bagaimana pertemuannya? Sudah melihat wajah tikus itu?” Ucap Fiona menghampiri Nara yang sedang duduk di halaman mansion.


“Hmm, wajahnya sama dengan sifatnya, membuat nafsu makan berkurang.” Ucap Nara kepada Fiona sambil menikmati Wine.


“Jadi akan kamu apakan tikus itu?” Ucap Fiona sambi mengambil gelas Wine Nara lalu meminumnya.


“Mungkin akan aku serahkan kepada barisan prajurit pengintaian. Biar mereka mendapatkan pengalaman yang nyata.” Ucap Nara dengan santai sambil memejamkan mata menikmati lantunan nyanyi serangga.


Cup


“Apakah tidak dingin tidur di sini? Bagaimana kalau kita pergi ke kamar?” Ucap Fiona dengan mencium dahi Nara.


“Hoam, baiklah.” Ucap Nara sambil menggendong Fiona lalu menghilang di telan kegelapan yang berbentuk sebuah mulut raksasa yang muncul dari tanah.


...—–—...


Di kamar Nara.


Terlihat mulut raksasa keluar dari lantai kamar. Dari kegelapan muncul mulut raksasa keluarlah sepasang manusia yang sedang bercumbu mesra.


Tetapi aktivitas mereka terganggu dengan suara ketukan pintu.


“Anda mencari saya? Tuan Nara.” Ucap seseorang dari luar kamar.


“Iya masuklah, Tiara." Ucap Nara sambil menurunkan Fiona di kasur.


Kemudian pintu terbuka, memperlihatkan Tiara masuk ke dalam.


“Selamat malam, Tuan dan Nona.” Ucap Tiara dengan membungkuk hormat.


“Jadi begini Tiara. Minta ke barisan prajurit barisan pengintaian. Dan habisi semua keluarga Count Walsh secara bersih dan buat sebagian kecelakaan. Bisa?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Bisa, Tuan Nara. Sesuai perintah.” Ucap Tiara kepada Nara yang kemudian pergi.


Setelah itu Nara dan Fiona melajukan aktivitas panas mereka dengan suara yang keras memenuhi kamar Nara.


...—–—...


Di Mansion Nara. Dengan langit menjatuhkan titik-titik air yang membuat udara menjadi dingin.


Setelah beberapa hari setelah pertemuan dengan para Count. Terlihat Nara sedang duduk menikmati teh yang masih mengepul. Sambil menatap keluar jendela yang sedang hujan.


Di meja kerja Nara terlihat sebuah koran yang terlihat memberitakan tentang wilayah Eternal Rock. Di dalam berita berisi kejadian yang tragis menimpa keluarga Count Walsh.


Dari hasil investigasi prajurit kerajaan Majapahit. Kejadian yang menimpa keluarga Count Walsh merupakan kecelakaan yang disebabkan oleh seorang pelayan yang tidak sengaja menjatuhkan lilin sehingga terjadi kebakaran.


“Kecelakaan? Sungguh alasan yang klasik.” Ucap seorang wanita cantik berambut pirang keputihan masuk ke dalam ruang kerja Nara.


“Iya, memang cocok untuk seorang tikus.” Ucap Nara dengan meminum teh yang masih terlihat mengepul.


“Lalu setelah kematian tikus itu. Apa yang akan kamu lakukan dengan wilayah Eternal Rock? Tidak mungkin kamu belum memikirkan.” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan.


“Tentu saja memilih seorang pengganti tikus itu. Aku sudah memikirkan sebuah nama yang cocok untuk menggantikan posisi tikus itu.” Ucap Nara dengan santai sambil menikmati suasana hujan.


“Itu keputusanmu, aku tidak akan ikut campur. Apa kamu sudah melihat keberadaan Wendy dan Kala? Aku tidak melihat mereka sejak beberapa hari lalu.” Ucap Fiona dengan ekspresi penasaran.


“Mereka sedang bermain di Eternal Wilderness. Sebentar lagi mereka akan pulang.” Ucap Nara dengan tak acuh.


Tidak berselang lama. Muncullah seorang wanita dari sebuah tetesan embun. Wanita tersebut mengenakan pakaian hitam yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.


“Salam hormat, Tuan Nara dan Nona Fiona." Ucap wanita tersebut.


“Ada apa?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Kami mendapatkan laporan. Bahwa terdapat seekor beast ular raksasa yang keluar dari Eternal Wilderness.


Diperkirakan level mereka 6,5. Dan akan tiba di area Mansion Anda 3 jam dari sekarang.” Ucap wanita tersebut dengan gugup.


“Hehe, level 6,5. Sepertinya mereka bermain terlalu bersemangat.” Ucap Nara dengan tersenyum.


“Haa, mereka terlalu bersemangat sehingga hampir mendekati batas level.” Ucap Fiona dengan ekspresi jengkel.


Wanita yang melaporkan situasi menjadi bingung dengan sikap Nara dan Fiona yang terlihat tenang dan tersenyum.


“Kamu kembali dan perintah para prajurit untuk berjaga di wilayah keluar Eternal Wilderness.” Ucap Nara dengan santai.


“Sesuai perintah, Tuan Nara.” Ucap wanita tersebut yang kemudian menghilang menjadi tetesan embun.


“Sepertinya kita harus menyambut mereka.” Ucap Fiona dengan ekspresi jengkel.


“Haa, ayo.” Ucap Nara dengan berdiri lalu merangkul pinggang Fiona lalu menghilang ditelan kegelapan berbentuk mulut raksasa.


...—–—...


Di sebuah batas luar hutan Eternal Wilderness. Terdapat sepasang manusia yang berteduh di bawah payung hitam yang dipegang oleh sang pria.


Tidak berselang lama keluarlah ular raksasa berwarna putih dengan rantai cahaya raksasa mengelilinginya.


Di sisi langit terdapat gagak dewasa berwarna hitam dengan membawa berbagai beast berbagai ukuran yang terbuat dari kegelapan.


Ular putih raksasa dan Gagak hitam terlihat bergerak membabi buta menuju ke arah sepasang manusia yang dari tadi melihat mereka dengan tatapan jengkel dan santai.


“Mereka sungguh merepotkan.” Ucap Nara dengan mengeluarkan sabit dan seekor beast kelabang dari kegelapan.


“Iya, mereka memang keterlaluan.” Ucap Fiona dengan mengeluarkan pedang dan muncul empat pasang rantai cahaya dengan ujung tajam melalui area punggung bawah.


Kemudian mereka berdua menghilang. Nara dan beast kelabang muncul di depan ular putih raksasa. Sedangkan Fiona muncul di depan gagak hitam dewasa.


...—–—...


Di bagian ular putih raksasa.


“Sepertinya kamu terlalu banyak makan, Wendy. Lihat kamu menjadi gemuk.” Ucap Nara dengan santai sambil menunjuk badan ular putih tersebut.


Sssss


Ular putih raksasa tersebut langsung menyerang Nara dengan mencoba menggigitnya.


Tidak sampai di sana ular putih raksasa menembakkan racun dari mulut yang berwarna merah.


Cess


Racun merah tersebut mengenai sebuah pohon di sebelah Nara dan membuatnya layu.


“Sepertinya tidak hanya menjadi gemuk kamu juga tidak menjawab kesehatan mulutmu.” Ucap Nara dengan menutup hidung.


Sssss


Ular putih raksasa yang dari tadi dihina langsung menyerang Nara dengan ekornya.


Nara hanya menghindar dengan santai sambil menyerang balik dengan sabitnya.


Petarung antara Nara dan ular putih raksasa terjadi cukup lama dan brutal sehingga membuat tanah dan pohon yang berada di sekitarnya menjadi layu dan terpotong.


“Bagaimana sudah lelah?” Ucap Nara dengan santai kepada ular putih raksasa yang terlihat mulai kelelahan.


Sssss


Ular putih raksasa melanjutkan menyerang menggigit Nara dan mengayunkan ekornya. Tapi Nara selalu menghindarinya dengan santai.


“Sudah, aku capek. Kita akhiri saja.” Ucap Nara dengan menghilang lalu muncul di depan kepala ular putih raksasa.


Muncul di depan ular putih raksasa. Nara


memotong kelabang kegelapan dengan sabitnya. Darah hitam mengalir ke permukaan kepala ular putih raksasa.


Darah hitam terus mengalir hingga menutupi seluruh tubuh ular putih raksasa sehingga berwarna darah hitam.


Setelah itu ular putih raksasa terjatuh lemas ke tanah setelah darah hitam menutupi seluruh tubuhnya. Tidak lama kemudian uap hitam keluar dari tubuh ular putih raksasa.


Setelah cukup lama uap hitam berhenti keluar dan terlihat ular putih raksasa yang mengecil menjadi seukuran ular putih dewasa yang normal dengan rantai cahaya ikut mengecilkan menjadi ukuran normal.


Melihat ular putih dewasa yang terguling lemas di tanah. Nara mengambilnya dan membawanya ke tempat yang aman untuk menonton pertarungan antara Fiona dan gagak hitam yang membawa pasukan beast kegelapan.