
...Dasar Burung Aneh!...
Setelah pengumuman hasil ujian terakhir akademi pelatihan. Para peserta bisa meninggalkan akademi pelatihan.
Di luar pintu masuk akademi.
“Tuan Muda Nara!” Suara cukup keras untuk menarik perhatian orang.
Terlihat seorang remaja wanita yang berpakaian Maid dengan rambut hijau terurai sedang melambaikan tangannya.
“Bisakah biasa saja penyambutannya, Lisa?” Ucap remaja berambut hitam legam yang melihat ke sebuah karpet merah yang tertidur di jalan.
“Maaf, Saya hanya terlalu bersemangat, Tuan Muda Nara.” Ucap remaja berambut hijau yang merasa bersalah.
“Sudah.” Ucap Nara dengan acuh tak acuh.
“Hahahaha, bagus sekali penyambutannya, Tuan Muda Nara. Hahaha.” Ucap remaja pria berambut merah kecokelatan.
“Diam lah, Darius. Suaramu memecahkan gendang telingaku.” Ucap Nara sambil menutup telinganya.
“Kau setelah ini mau ke mana, Nara? Langsung pulang?” Ucap Darius menanyakan tujuan Nara.
“Iya, aku tidak mau terkena ocehan ibuku.” Ucap Nara dengan merinding.
“Hahaha, baiklah. Jika aku ada waktu aku akan mengunjungimu. Hahaha, daah.” Ucap Darius sambil berpamitan.
Nara hanya mengangguk.
“Tuan muda, apakah kita akan berangkat sekarang?” Tanya wanita berambut hitam panjang dengan pakaian Maid.
“Iya, kita berangkat sekarang, Tiara.” Ucap Nara sambil menaiki kereta kuda.
Diikuti oleh Tiara dan Lisa ikut duduk di hadapan Nara. Kereta kuda mulai melaju meninggalkan akademi pelatihan di belakang.
Waktu berlalu begitu saja. Terlihat kereta yang ditarik oleh kuda api berhenti di semacam tembok gerbang yang dijaga oleh prajurit.
“Maaf, silakan perkenalkan identitas terlebih dahulu!” Ucap prajurit yang menjaga gerbang dengan sopan kepada kusir.
“Saya kusir dari Tuan Muda Nara.” Ucap kusir sambil memperlihatkan semacam tanda pengenal berbentuk cincin.
Prajurit yang mendengar nama Nara. Menjadi takut dan langsung mempersilahkan kereta kuda kembali melaju.
Setelah itu kereta kuda, di sepanjang jalan terlihat para rakyat biasa dan bangsawan yang hidup dengan adil. Tidak ada yang saling merendahkan. Walaupun begitu tetap ada yang namanya perbudakan dan perbuatan kejahatan 'sedikit’.
Tidak lama setelah melaju. Kereta kuda memasuki gerbang mansion yang terlihat mewah. Dan berhenti tepat di pintu masuk mansion.
Di dalam kereta kuda.
“Tuan muda Nara, kita sudah sampai di rumah.” Ucap wanita berambut hitam panjang yang mencoba membangunkan remaja pria yang tertidur di pahanya.
“Hoam, Kita sudah sampai, Tiara?” Ucap remaja pria berambut hitam legam sambil menguap.
“Iya, Tuan muda Nara.” Ucap Tiara kepada Nara yang masih menguap.
Kemudian Nara turun dari kereta dan disambut oleh beberapa orang.
Di depan pintu masuk mansion.
Nara yang baru melangkah keluar dari kereta kuda. Dikejutkan dengan pelukan hangat dari wanita paruh berambut coklat.
“Ibu, lepas aku kesulitan bernafas.” Ucap Nara sambil mencoba melepaskan pelukan ibunya, Sarah Satya.
“Ibu, kangen sekali denganmu. Bagaimana keadaanmu? Kamu tidak membuat masalah kan?” Ucap ibu Nara sambil melepaskan pelukannya.
“Aku baik-baik saja.” Ucap Nara sambil tersenyum kepada ibunya.
“Baguslah.” Ucap ibu Nara sambil berjalan menuju pria paruh baya berbadan tegap yang memiliki rambut hitam.
“Nara, bagaimana pelatihan di akademi? Apakah berjalan dengan baik?” Ucap pria paruh baya kepada Nara yang berjalan menujunya.
“Berjalan dengan baik, walaupun membosankan, Dad” Ucap Nara dengan wajah acuh tak acuh.
“Hoam, aku masih mengantuk dan capek. Aku tidur dulu.” Ucap Nara dengan santai masuk ke dalam mansion.
“Tiara, siapkan tempat tidurku.” Ucap Nara sambil berjalan tanpa melihat ke arah Tiara.
“Baik, Tuan muda.” Ucap Tiara sambil menyusul Nara menuju kamar.
“Dasar anak itu.” Ucap ayah Nara.
Setelah beberapa langkah dari tempat orang tuanya. Nara berhenti.
“Lisa, kau tidak perlu membawanya ke kamarku. Kau bisa meletakkannya di lantai nanti pelayan yang akan mengantarkannya. Kau bisa ikut Tiara menyiapkan tempat tidurku.” Ucap Nara kepada Lisa yang dari tadi membawa barang bawaan Nara sendirian.
Lisa yang mendengarnya, meletakkan barang bawaan Nara. Dan langsung mengikuti Nara.
Di keesokan harinya. Terlihat remaja pria yang melahap makanan dan sepasang suami-istri yang juga sedang melahap makanan di piring cantik.
“Nara, setelah makan kita akan bicara.” Ucap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik yang memiliki rambut panjang coklat.
“Baik, Bu.” Ucap Nara pada ibunya.
Tidak lama setelah itu, acara sarapan sudah selesai.
Di sebuah ruangan dengan terdapat banyak buku dan sofa panjang.
“Nara, coba perhatikan beast yang kamu dapatkan.” Ucap ibu Nara sambil mengelus kepala kucing dengan hawa hitam.
Sedangkan ayah Nara hanya mengamati dari pojok ruangan sambil memberi makan seekor burung hantu yang mengeluarkan hawa angin.
“Baiklah, Kala keluarlah!” Ucap Nara memanggil pada udara kosong. Tidak berselang lama keluarlah asap hitam pada bayangan Nara.
“Oakh”
Burung Gagak Hitam mendarat pada pundak Nara.
“Apa itu seekor Gagak Hitam?” Ucap ibu Nara sambil mencoba memegang burung Gagak Hitam yang hinggap di pundak Nara.
Ketika tangan ibu Nara hampir mendekati burung Gagak Hitam. Burung Gagak Hitam langsung bergerak mematuk. Tepat sebelum terkena patukkan, ibu Nara melapisi tangannya dengan mana hitam.
“Kamu terlalu cepat 100 tahun untuk melukaiku, burung kecil.” Ucap ibu Nara sambil mengelus bulu Gagak Hitam.
“Oakh” burung Gagak Hitam langsung terbang menghindari dan mencoba sekali lagi menyerang ibu Nara.
“Meow"
Kucing Hitam langsung melompat menerkam Burung Gagak Hitam yang mencoba menyerang ibu Nara.
Burung Gagak Hitam terkejut dan mencoba menghibur tapi sebelum sempat menghindar. Kucing Hitam tiba-tiba berada di belakangnya dan menjatuhkan Burung Gagak Hitam ke lantai.
“Meow Grr” Kucing Hitam mendesis.
“Dee, sudah cukup lepaskan.” Ucap ibu Nara kepada Kucing Hitam.
“Oakh” Burung Gagak Hitam yang sudah terlepas langsung terbang menuju pundak Nara.
“Sepertinya, Beastmu cukup bagus, Nara.” Ucap ibu Nara menilai Kala.
Burung Gagak Hitam yang merasa terpuji menganggukkan kepalanya.
“Dia 'bagus’? Dia hanya burung yang berbulu hitam saja.” Ucap Nara merendahkan Kala yang terlihat bangga.
Mendengar Tuannya merendahkan. Kala mematuk pundak Nara dan terbang ke pundak ibu Nara.
“Lihat! Dasar burung aneh.” Ucap Nara sambil melotot kepada Kala.
Setelah pertengkaran antara burung dan mamalia selesai. Terdengar suara yang cukup serius dari sudut ruangan.
“Nara, Class apa yang kau dapatkan?” Ucap ayah Nara, sambil memberi makan burung hantu tanpa melihat ke arah Nara.
“Farmer.” Ucap Nara dengan santai tanpa beban.
Duke Satya yang mendengar Class anaknya menghentikan aktivitasnya dan berjalan menuju Nara dengan langkah cepat.
“Wow, Nara itu Class yang unik. Keren!” Ucap Duke Satya dengan wajah ceria dan menepuk punggung Nara dengan kencang.
“Hendrix, hentikan. Kau membuat punggung anakmu kesakitan.” Ucap ibu Nara sambil melotot kepada suaminya.
“Apakah kamu tidak apa-apa Nara?” Ucap ibu Nara menghampiri Nara sambil menendang suaminya.
Nara mengangguk.
Setelah itu percakapan antara keluarga. Terhenti dengan makan siang dan Duke Satya harus menyelesaikan pekerjaannya.
Nara yang sudah lelah menghadapi pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya kembali ke kamar untuk melakukan hibernasi.