The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Seorang Penjinak Reptil



...Seorang Penjinak Reptil...


Di barisan tempat sahabat Nara.


“Wow, Kak Nara keren sekali! Bisa bergerak secepat itu.” Ucap Ellisa yang terkagum-kagum dengan gerakan Nara.


Nara yang mendengar itu hanya acuh, tidak merespons.


“Kakakmu juga bisa membuat gerakan cepat itu, bahkan lebih cepat.” Ucap Ryan yang mendengar adiknya memuji Nara.


“Iya-iya.” Ucap Ellisa.


“Hei Nara, kenapa kau begitu marah? Hingga hampir membunuh peserta itu? Untuk saja Sir Tron datang di saat yang tepat. Jika tidak kita semua pasti melihat kepala menggelinding.” Ucap Darius yang bingung dengan sikap Nara yang marah.


Karena menurut Darius, Nara bukan orang yang akan terpancing emosinya hanya dengan diludahi.


“Aku hanya tidak suka.” Ucap Nara yang acuh sambil duduk dan memakan anggur.


Darius yang masih tidak puas dengan jawaban Nara mencoba menanyai Nara dengan berbagai pertanyaan tapi jawaban Nara tetap.


“Sudahlah, percuma kau menanyai Nara. Jika dia tidak mau menjawab mau kau apakan juga tidak akan dijawab.” Ucap Ryan yang sudah paham dengan sikap Nara.


“Kau benar.” Ucap Darius yang menyerah menanyai Nara.


Di depan barisan peserta.


“Pencocokan Class akan tetap di lanjutkan. Yang barusan terjadi adalah kesalahan peserta yang keterlaluan menghina Nara Satya. Dia akan diberikan sanksi dan Nara Satya juga akan diberikan sanksi karena menggunakan senjata pada peserta tanpa persetujuan.” Ucap Sir Tron yang menjelaskan tentang situasi yang terjadi.


Setelah kejadian itu banyak orang yang menyadari bahwa mengganggu Nara bukanlah pilihan yang tepat.


“Baiklah peserta selanjutnya silakan maju.” Ucap penyihir kerajaan.


Setelah itu para peserta mulai maju sesuai urutan. Kebanyakan hasil dari pencocokan Class tidak ada yang spesial.


Setelah beberapa lama. Tibalah giliran Ellisa Lewis dan diikuti dengan Nina Inera.


“Ooh, lihat itu Dewi kerajaan Majapahit.” Ucap peserta menunjuk Ellisa.


“Ya, kau benar. Tapi siapa papan cuci di sebelah Dewi Fortunaku.” Ucap peserta yang mengejek Nina.


“Enak saja! Dia adalah Dewi Fortunaku. Tapi kau benar siapa gadis papan cuci itu.”


Sementara itu di depan.


“Sabar Nina, sabar.” Ucap Ellisa yang menenangkan Nina yang dari tadi mengepalkan tangannya.


“Lihat saja nanti. Jika bertemu denganku di jalan pasti akan kujadikan beast beruangku.” Ucap Nina.


“Wah, ternyata kali ini adalah giliran bunga Majapahit. Salam putri mahkota Ellisa Lewis” Ucap penyihir kerajaan kepada Ellisa.


“Terima kasih.” Ucap Ellisa.


Nina yang merasa terabaikan mengertak jari-jarinya.


“Krek.”


“Oh, ternyata ada putri Nina Inera. Putri Duchess Inera. Maaf karena terabaikan.” Ucap penyihir kerajaan.


“Baiklah mari kita mulai.” Ucap penyihir kerajaan sambil mengulurkan Crystal Ball.


“Putri mahkota Ellisa silakan.” Ucap penyihir kerajaan.


“Baik.” Ucap Ellisa.


Ellisa mulai mengalir mana. Cahaya mulai keluar dari Crystal Ball dan memperlihatkan tulisan “SAGE ICE”


“Wow, seperti yang diharapkan dari seorang putri mahkota. Selamat putri mahkota Ellisa Lewis.” Ucap penyihir kerajaan.


“Terima kasih.” Ucap Ellisa.


“Baiklah sekarang giliran putri Nina Inera.” Ucap penyihir kerajaan.


Nina tidak menjawab karena masih kesal dengan perilaku penyihir kerajaan.


“Hahaha, sepertinya putri Nina masih menyimpan dendam terhadap saya. Silakan.” Ucap penyihir kerajaan sambil mengulurkan Crystal Ball.


Nina mulai mengalirkan Mananya dan cahaya mulai keluar memperlihatkan tulisan “MONK”


“Emm, seperti kerajaan Majapahit melahirkan seorang petarung wanita. Selamat putri Nina Inera.” Ucap penyihir kerajaan.


Setelah itu Ellisa dan Nina kembali ke barisan. Pencocokan Class dilanjutkan hingga peserta terakhir.


“Baiklah karena kalian semua sudah melakukan pencocokan Class. Besok kalian akan mempelajari dasar-dasar Class kalian dan untuk hari ini selesai sampai disini kalian bisa kembali ke kastel untuk beristirahat.” Ucap Sir Tron.


Setelah mendengar itu para peserta mulai bergerak menuju kastel.


Di dalam kastel.


“Akhirnya selesai, kakiku sakit sekali. Berdiri begitu lama.” Ucap peserta yang lalu-lalang.


“Ya, kau benar. Tapi sepertinya yang mendapat nasib buruk adalah Nara Satya.”


“Sepertinya kau benar. Tapi sepertinya kita jangan terlalu membuatnya marah, bisa-bisa kepala kita menggelinding di tanah.”


“Kau benar.”


Yang mereka tidak sadari Nara sudah mendengar semua yang mereka katakan tentangnya.


“Hei Nara, sepertinya kau begitu terkenal, hahaha.” Ucap Darius.


“Seorang yang tidak ingin terkenal. Menjadi terkenal hanya karena Classnya, kau sungguh berbakat menjadi orang terkenal Nara. Hahaha” Ucap Ryan.


Nara hanya diam dan mengutuk dewa, tuhan, iblis, roh, semua yang bisa dikutuk ia kutuk.


“Dasar dewa, tuhan, iblis, roh. Kenapa kalian membuat pemuda tampan ini menjadi menderita seperti ini. Aku hanya menginginkan ketenangan.” Gumaman Nara.


“...” sahabat Nara yang mendengar itu hanya diam.


Singkat cerita akademi pelatihan sudah berjalan selama tiga minggu dan hari ini adalah hari terakhir akademi pelatihan.


Di lapangan latihan. Para peserta sedang berbaris untuk melakukan ujian terakhir akademi pelatihan.


“Baik seperti yang telah kalian ketahui hari terakhir ini adalah hari dimanah kalian akan menjalani ujian terakhir akademi pelatihan. Kalian akan melakukan pertandingan satu versus satu.


Aturan pertandingan ini adalah kalian bebas menentukan siapa lawan yang ingin kalian hadapi. Kalian juga bebas menggunakan senjata apa saja dan kalian juga bisa mengeluarkan beast kalian.


Tetapi dengan syarat kalian tidak boleh membunuh, tidak boleh membuat lawan kalian menderita kecacatan.


“Mengerti.” Jawab para peserta.


“Baiklah, silakan siapa yang ingin maju duluan.” Ucap Sir Tron.


Terlihat seorang remaja pria maju ke area yang telah disiapkan.


Dia area pertandingan.


“Saya Rio Rian, putra Marquess Rian. Saya ingin menantang peserta Leo.” Ucap Rio Rian.


“Saya menerima tantangan.” Ucap Leo yang maju menuju area pertandingan.


“Baik, para peserta bersiap di posisi masing-masing.” Ucap Sir Adin yang memimpin jalannya pertandingan.


Rio Rian bersiap dengan mengeluarkan senjata semacam panah yang berwarna biru dan juga mengeluarkan Beastnya yang seekor burung Macaw biru angin.


Sedangkan Leo bersiap dengan mengeluarkan senjata pedang sedang berwarna merah dan mengeluarkan Beastnya seekor Komodo api.


“Bersiap, mulai.” Ucap Sir Adin.


Pertandingan dimulai dengan Rio menembakkan panah yang sangat cepat dibungkus dengan angin.


“Swus” Anak panah melesat cepat ke arah Leo.


“Ting” serangan berhasil di tahan oleh Leo.


Tidak berhenti sampai disitu. Rio melanjutkan tembakannya yang bertambah banyak dan cepat.


Leo menerima tembakan dengan tergesa-gesa.


“Modo, semburkan api.” Ucap Leo kepada beast komodo api.


“Bruss” semburan api terlihat menyembur ke arah anak panah yang mengarah ke Leo.


Setelah itu Leo memanfaatkan itu untuk menyerang ke arah Rio. Leo melesat bergerak menuju Rio.


“Ting” suara benturan antara pedang Leo dan panah Rio.


Tiba-tiba terdapat hembusan angin yang kencang ke arah Leo.


“Swuss” hembusan angin kencang menerpa Leo hingga terpental ke belakang.


“Kau lumayan untuk ukuran rakyat biasa.” Ucap Rio.


“Uhuk.” Leo terbatuk.


Leo tidak menjawab dan langsung melesat lagi ke arah Rio.


“Ting” terjadi lagi beraturan antara pedang dan panah.


“Modo sekarang.” Ucap Leo.


Rio yang tidak mengerti apa yang Leo rencana menjadi panik.


Tiba-tiba dari belakang Leo muncul komodo yang langsung menyembuhkan api ke arah Rio.


“Bruss” api langsung menyembur ke arah Rio yang tidak menyadari keberadaan beast komodo.


Rio langsung menghindar, tapi tidak sepenuhnya berhasil tangan kirinya terkena api dan terdapat luka bakar.


“Sial.” Ucap Rio.


Rio membalas dengan langsung menembakkan panah anginnya dan berhasil mengenai kaki Leo.


“Swuss, jlep.” Anak panah Rio berhasil mengenai kaki Leo.


“Akh.” Teriak kecil Leo yang merasakan sakit pada kakinya.


Tidak berhenti sampai disitu. Rio langsung melakukan tembakannya.


Menyadari tembakan Rio. Leo langsung bergegas menghindar tapi karena kakinya terluka Leo tidak bisa menghindar dengan tepat alhasil tembakan Rio mengenai tangan Leo.


Yang menyebabkan Leo menjatuhkan pedangnya.


“Ingin menyerah?” ucap provokasi Rio.


Leo yang tidak ingin menyerah dan tidak ingin mengecewakan Tuannya, Ryan.


Leo langsung mencabut panah yang menusuk tangan dan kakinya. Lalu mengambil pedangnya dan berdiri sambil menahan rasa sakit.


Rio yang kesal karena Leo yang tidak mau menyerah. Langsung menembakkan panah dan menyuruh Beastnya burung Macaw untuk menghembuskan anginnya secara bersamaan.


“Swuss, Swuss” terlihat Leo yang terpojok dengan panah dan angin yang dikeluarkan Rio.


Leo mencoba untuk menangkis serangan. Modo yang melihat pemiliknya terpojok mencoba membantu dengan menyemburkan apinya.


“Ting, Bruss” terdengar suara tangkisan panah dan api yang menyembur.


Tapi karena tidak cukup kuat. Angin dan panah berhasil menerobos dan mengenai Leo dan Modo Beastnya.


Leo yang terkena serangan tersebut jatuh pingsan dan Modo juga pingsan dan kembali ke alam jiwa Leo.


“Pemenangnya adalah Rio Rian. Dengan tumbangnya Leo.” Ucap Sir Adin mengumumkan hasil pertandingan.


Di tempat barisan peserta.


“Gila, ternyata seorang rakyat biasa bisa bertarung dengan bagus melawan putra Marquess Rian.”


“Ya, kau benar. Dia bertarung cukup hebat bisa bertahan melawan putra Marquess Rian. Jika itu tadi aku mungkin dengan beberapa serangan Rio Rian, aku bisa kalah.”


Terdengar suara yang bergosip tentang hasil pertandingan pertama Rio Rian melawan Leo.


Sedangkan di tempat lain.


“Wow, dia lumayan juga. Tidak hanya Classnya saja Dragon Tamer dia juga memiliki kemampuan bertempur yang lumayan.” Ucap Darius mengomentari pertandingan Leo.


“Tentu saja. Dia yang akan menjadi pedang kerajaan Majapahit di masa depan.” Ucap Ryan.


Sementara itu Ellisa dan Nina tidak terlalu menyimak pertandingan dan hanya melihat sekilas saja tidak terlalu banyak bicara. Mereka lebih membicarakan fashion dan baju, gaun yang baru-baru ini keluar.


Sebenarnya hanya Ellisa yang bersemangat membicarakan tentang fashion sementara Nina lebih ke arah terpaksa harus mendengarkan Ellisa.


Sedangkan Nara, dia hanya duduk sambil memakan anggur dengan wajah malas melihat pertandingan Leo.


“Seorang penjinak reptil.” Ucap Nara setelah melihat pertandingan Leo.