
...Pria Itu Tidak Akan Marahkan?...
Pemimpin kelompok aneh tersebut terus berlari hingga melihat sebuah altar yang menyala terang.
Nara yang telah menyusul pemimpin kelompok aneh tersebut melihat sebuah altar dengan tulisan aneh yang membentuk sebuah lingkaran.
Kemudian pemimpin kelompok aneh tersebut menghampiri altar dan berlutut.
Pemimpin kelompok aneh itu berlutut tepat di tengah altar tersebut.
“Oh, yang maha kuat. Oh, yang begitu hebat. Tolong bantu yang lemah ini!” Ucap pemimpin kelompok aneh tersebut dengan kedua tangan yang rapat berada di depan dadanya.
“Tolong bantu yang lemah ini! Wahai sosok dari Neraka!” Ucap pemimpin kelompok aneh tersebut dengan bersujud.
“Wahai sosok yang kuat dari Neraka! Makan jiwa dan tubuh yang berada di sini sebagai bayaran!” Ucap pemimpin kelompok aneh.
...—–—...
Dari altar muncul sebuah gerbang yang memiliki bentuk yang sangat mencolok.
Kemudian gerbang tersebut terbuka dan memperlihatkan sesosok yang begitu mencolok.
Sesosok wanita berambut putih panjang dengan tanduk yang berada di kepalanya.
“Akhirnya Anda tiba.” Ucap pemimpin kelompok dengan senang.
“Tolong musnahkan orang itu! Wahai sosok kuat dari Neraka.” Ucap pemimpin kelompok sambil menunjuk ke arah Nara.
Sosok tersebut menatap ke arah pemimpin kelompok aneh dengan tersenyum.
Lalu sosok tersebut membuka mulutnya dengan lebar yang menampilkan deretan gigi-gigi tajam.
Dan saat sosok tersebut membuka mulutnya tubuh pemimpin kelompok seperti terhisap ke dalam.
“Tidaaak!” Ucap pemimpin kelompok aneh sebelum terhisap sepenuhnya.
Tidak berhenti sampai di sana. Sosok dari Neraka tersebut juga menghisap seluruh tubuh anggota kelompok aneh tersebut dan hanya menyisakan pakaian saja.
“Haaa! Cukup nikmat walau hanya sedikit.” Ucap sosok tersebut dengan tersenyum.
“Jadi kau manusia lemah yang harus aku bunuh.” Ucap sosok tersebut menatap ke arah Nara.
“Hanya setan level menengah saja sudah sombong.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Ba-gaimana kau tahu tentang ‘setan’?” ucap sosok tersebut dengan keheranan.
“Apa kamu tidak punya mata?” Ucap Nara dengan mengeluarkan aura hitam.
“Bagaimana kau memiliki aura Raja Setan?” Ucap sosok tersebut dengan terkejut.
“Kau sungguh bodoh.” Ucap Nara dengan tak acuh.
Kemudian Nara menghilang dari tempat dan muncul tepat di depan sosok tersebut.
Dan Nara memukulnya tepat pada kepalanya hingga menyebabkan sosok tersebut terpental ke belakang.
Tidak berhenti sampai di sana. Nara menghilang dan muncul tepat di atas sosok tersebut.
Dan memukulnya lagi dan lagi dan terus lagi hingga berkali-kali.
Hal itu menyebabkan tanah yang di pijak oleh sosok tersebut hancur dan menghasilkan lubang yang cukup dalam.
...—–—...
Setelah beberapa saat menit berlalu.
Sosok dari Neraka tersebut terlihat membuka matanya.
Menatap sekitar dengan tatapan linglung dengan rasa sakit di area kepala.
Tatapan sosok dari Neraka tersebut berhenti tepat pada seorang pria yang sedang memakan keripik dengan santai.
Melihat pria tersebut sosok dari Neraka langsung bersujud di hadapan pria dengan ketakutan.
“Salam hormat, Yang Mulia Kaisar Eternal Laziness.” Ucap sosok tersebut dengan ketakutan.
“Lama sekali kau mengenaliku.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Maafkan hamba, Yang Mulia Kaisar Eternal Laziness.” Ucap sosok tersebut dengan takut.
“Hamba tidak bisa mengenali Yang Mulia Kaisar dengan wujud Anda sekarang.” Ucap sosok tersebut dengan gugup.
“Sudahlah lupakan.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Jadi kamu ini setan bawahan siapa?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Hmm, jadi kamu bawahan Leviathan. Jadi siapa namamu?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Nama saya Reese, Yang Mulia Kaisar Eternal Laziness.” Ucap Reese memperkenalkan diri dengan gugup.
“Jadi Ree, bagaimana keadaan Neraka sekarang?” Ucap Nara dengan serius.
“Keadaan Neraka sekarang sudah berada di bawah kekuasaan Raja Pride dan Raja Wrath.” Ucap Reese menjelaskan.
“Jadi Lucifer dan Amon yang menguasai Neraka sekarang. Ucap Nara dengan tak acuh.
“Benar, sejak kematian Anda dan kekalahan kerajaan Anda. Mereka mulai memperluas kekuasaan di Neraka.” Ucap Reese dengan gugup.
“Jadi kerajaan kecilku bisa menghambat pergerakan mereka, ya...” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Walaupun kerajaan Anda kecil. Kerajaan Anda merupakan kerajaan yang sangat berpengaruh di Neraka, Yang Mulia Kaisar Eternal Laziness.” Ucap Reese dengan tegas.
“Hahaha, begitukah.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Jadi, bagaimana kita menentukan nasibmu?” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Hamba terserah pada Anda, Yang Mulia Kaisar Eternal Laziness.” Ucap Reese dengan pasrah.
Reese dengan siap menerima keputusan Nara dengan menutup matanya.
“Kalau begitu.” Ucap Nara dengan tersenyum sambil memegang sabitnya.
Kemudian dengan satu ayunan Nara menebas ke arah leher Reese.
Reese yang merasa masih hidup membuka matanya dan melihat sedikit darahnya pada tanah.
Dan mencoba memegang lehernya dan merasakan lehernya masih utuh.
Setelah itu Reese melihat ke arah Nara dengan tatapan bingung.
“Kamu sudah mati selama beberapa detik lalu.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Tapi-” Ucap Reese terhenti dengan suara Nara.
"Dan aku membangkitkanmu dengan Laziness of Life." Ucap Nara dengan tak acuh.
Reese memperhatikan tubuhnya yang seperti diselimuti oleh aura hitam yang sangat tipis dan transparan.
“Jadi ini yang disebut kekuatan sang Kaisar Kehidupan dan Kematian.” Ucap Reese dengan memperhatikan tubuhnya.
Kemudian Reese berlutut di hadapan Nara dengan menundukkan kepalanya.
“Saya Reese siap melayani sang Raja dari Eternal Laziness.” Ucap Reese dengan hormat.
“Bagus, layani aku dengan benar.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Saatnya untuk menutup gerbang Neraka itu.” Ucap Nara dengan tak acuh.
Kemudian Nara dengan diikuti oleh Reese di belakangnya berjalan ke arah gerbang Neraka yang masih terbuka lebar.
...—–—...
Di depan gerbang Neraka yang memiliki penampilan yang sangat mencolok.
Nara memperhatikan sejenak gerbang Neraka.
“Apa aku harus meminta maaf kepada Leviathan tentang bawahannya?” Ucap Nara dengan bingung.
“Pria itu tidak akan marahkan?” Ucap Nara dengan sedikit merasa bersalah.
Mungkin aku akan memberi salam untuknya. Ucap Nara dengan menganggukkan kepalanya.
Kemudian Nara mengeluarkan seekor ular hitam dengan ukuran sedang dari tangan kirinya.
Dan Nara melemparkan ular hitam tersebut ke dalam gerbang Neraka.
Setelah itu Nara dengan tangan kanannya mengeluarkan lingkaran sihir dengan warna hitam.
Lingkaran sihir hitam tersebut menutupi seluruh gerbang Neraka.
“Laziness of Destruction”
Setelah Nara mengucapkan mantra gerbang Neraka mulai hancur dan menjadi debu.
“Baiklah, waktunya pulang.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Baik, Yang Mulia.” Ucap Reese dengan hormat.
Kemudian Nara dan Reese berjalan keluar dari tempat persembunyian kelompok aneh tersebut dengan santai.