
...Jangan Terlalu Berlebihan
...
Pertarungan terakhir antara Fiona dan Marissa di mulai. Dengan kehilangan beast mereka masing-masing. Membuat mereka memulai pertarungan terakhir.
Suasana pertarungan terakhir antara Fiona dan Marissa. Disinari oleh cahaya sang matahari yang hampir terbenam di lautan.
...—–—...
Di tanah yang telah menjadi air. Terlihat dua orang wanita yang saling bertatapan.
Satu wanita berambut pirang keputihan. Terlihat melayang dengan sebuah rantai cahaya yang besar terletak di bagian punggung bawah.
Dan satu wanita berambut hitam kecokelatan. Terlihat muncul di atas permukaan air. Dengan bagian bawahnya seperti ekor berwarna hijau.
“Ayo kita mulai pertarungan terakhir kita, Fiona.” Ucap Marissa dengan mengarahkan payungnya ke arah Fiona.
“Aku juga berpikir begitu, Marissa.” Ucap Fiona dengan mengerahkan pedang panjangnya ke arah Marissa.
“Apa kamu yakin bisa menang melawanku, Fiona?” ucap Marissa dengan tersenyum sambil mulai merapal mantra.
“Aku juga penasaran, apa kamu sebegitu yakin bisa menang, Marissa?” Ucap Fiona sambil bersiap menyerang dengan pedangnya.
“Aku yakin, aku bisa menang, Fiona.” Ucap Marissa dengan melepaskan mantra sihir.
“Tsunami Of Sinners”
Setelah mengatakan itu air yang berada di sekitar Marissa. Terangkat membentuk ombak besar yang siap menerjang. Dengan Marissa berada di atasnya.
“Bagaimana Fiona? Apa kamu masih merasa bisa menang?” Ucap Marissa dengan bersiap menyerang.
“Hanya seperti itu saja.” Ucap Fiona dengan mengarah pedangnya ke Marissa.
“Purgatory Light Chain”
Setelah mengatakan itu rantai cahaya yang berada di bawah punggungnya Fiona membesar. Hingga seukuran tubuh Fiona.
Lalu rantai cahaya yang telah membesar. Melilit tangan kiri Fiona yang tidak memegang pedang. Sehingga hasil lilitan rantai cahaya membentuk sebuah tangan raksasa.
“Kita mulai pertarungan terakhir kita, Marissa!” Ucap Fiona yang langsung menerjang ke arah Marissa.
“Ayo kita mulai, Fiona!” Ucap Marissa yang langsung menerjangkan tsunami ke arah Fiona.
Tsunami yang menerjang ke arah Fiona langsung di tebas dengan pedangnya. Yang membuat Marissa terjatuh karena tidak memiliki pijakan.
Fiona memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Marissa. Dengan bantuan tangan raksasanya mencoba menangkap Marissa.
Marissa yang menyadari bahaya yang datang dari Fiona. Langsung merapal mantra sihir pertahanan. Dengan membuka payungnya muncullah sebuah lingkaran sihir.
“Defense Of Sinners”
Dari lingkaran sihir muncul sebuah perisai pendosa berbentuk topeng monster terbuat dari air. Perisai pendosa itu berhasil menahan serang Fiona.
Tidak hanya itu, Marissa yang telah terjatuh ke air. Berenang ke permukaan. Mencoba menyerang Fiona dengan melancarkan serangan sihir.
“Sinner Water Shot”
Dari payung transparan berwarna biru gelap. Keluar lingkaran sihir dan muncul tembakan air berwarna biru gelap. Tembakan air itu mengarah ke Fiona yang melayang di atas air.
Satu tembakan besar mengarah ke arah Fiona. Dengan kecepatan tinggi menembus angin. Dan berhasil mengenai tubuh Fiona.
Baam
Tambahkan sihir Marissa berhasil membuat Fiona terpental cukup jauh ke tanah. Marissa tidak berhenti, dia terus menembakkan sihir secara cepat.
“Sinner Water Shot”
“Sinner Water Shot”
“....”
Fiona yang melihat tembakan sihir Marissa. Mencoba bertahan dengan tangan kiri raksasanya. Tapi karena tembakan sihir Marissa yang sangat kuat.
Baam
Baam
...
Fiona yang mencoba bertahan dengan tangan kiri raksasanya. Menjadi kesakitan menahan tambakan sihir Marissa.
“Aakh, sialan kamu Marissa.” Ucap Fiona dengan kesakitan menahan tembakan sihir Marissa.
“Bagaimana Fiona sudah mau menyerah? Dan merelakan posisi istri pertama Nara menjadi milikku.” Ucap Marissa dengan tersenyum.
Fiona yang masih merasa sakit di tangan kirinya. Termenung sambil menatap Marissa yang masih bersiap dengan payungnya.
“Level penguasa memang berbeda dengan lawan yang pernahku temui sebelumnya. Dia mungkin berbeda di bawah kekuatan Nara tapi hanya sedikit.“ Pikir Fiona sambil menatap Marissa.
“Return The Chain Of Purgatory Light”
Setelah membatalkan sihir tangan kiri raksasanya. Rantai cahaya yang tadinya membentuk tangan kembali menjadi rantai cahaya.
“Apa kamu menyerah? Kamu menarik kembali sihirmu.” Ucap Marissa dengan heran.
“Tidak, aku hanya memikirkan sebuah cara yang bisa menang melawanmu.” Ucap Fiona dengan tersenyum.
“Soul Purgatory Dress”
Setelah mengatakan mantra sihir itu. Gaun cahaya yang dipakai Fiona berubah menjadi gaun yang ditutupi oleh api putih.
“Aakh, sialan. Aku sampai memakai sihir bodoh ini.” Ucap Fiona dengan kesakitan.
“Hmm, sihir yang aneh. Menambah kekuatan dengan menyucikan jiwa yang membuat merasakan sakit.” Ucap Marissa melihat sihir Fiona.
“Diamlah, Aakh sialan.” Ucap Fiona dengan kesakitan.
Dengan kekuatannya yang telah meningkat. Fiona mengangkat pedangnya. Dan menghilang dari tempatnya muncul di depan Marissa.
Ting
Marissa yang menahan serang Fiona dengan payungnya menjadi terhempas ke dalam air. Tidak berhenti, Fiona ikut menyelam ke air.
Dalam air Marissa yang terkejut dengan Fiona yang ikut menyelam ke air. Menjadi tidak siap dengan serangan pedang Fiona.
Slash
Pedang Fiona berhasil menembus gaun yang dipakai Marissa. Hasil tebasan pedang Fiona membuat darah merah gelap Marissa keluar. Membuat air di sekitarnya berubah warna menjadi merah.
Fiona yang merasa bisa menembus gaun Marissa. Menyerang dengan menebas cepat ke tubuh Marissa.
Slash-Slash
Tebasan Fiona menghasilkan luka yang cukup besar ke tubuh Marissa. Dan membuat darah merah gelap Marissa mengalir deras.
Fiona yang akan menyerang lagi ke arah Marissa. Tertahan dengan rasa sakit yang dirasakan tubuhnya. Akibat dari pengguna sihirnya.
Merasa tidak kuat menahan rasa sakitnya. Fiona keluar dari air dan berlutut kesakitan di tanah. Sambil berpegangan pada pedangnya.
Sementara Marissa yang kesakitan akibat tebasan pedang Fiona. Mencoba berenang ke permukaan air. Dan melihat ke arah Fiona yang berlutut di tanah.
Melihat Marissa yang keluar dari air. Fiona mencoba memaksa berdiri dengan kaki lemas. Sambil mengarahkan pedangnya ke arah Marissa.
Marissa yang juga terluka parah. Berusaha merapal mantra sihir dengan payungnya. Dari payungnya keluar lingkaran sihir yang cukup besar.
“Sinner Water Shot”
Dari lingkaran sihir keluar tembakan sihir yang langsung mengarah ke arah Fiona. Setelah menembakkan sihir itu Marissa terjatuh.
Sementara Fiona yang sudah tidak kuat. Akhirnya terjatuh dengan pasrah dengan tembakan sihir Marissa. Tepat saat tembakan sihir Marissa hanya beberapa meter dari Fiona.
...—–—...
Muncullah seekor beast beruang kegelapan menahan tembakan sihir Marissa.
Baam
Setelah itu turunlah seekor gagak hitam di atas kepala beast beruang kegelapan. Melihat ke arah Fiona yang hampir pingsan.
Tepat sebelum Fiona pingsan. Sebuah tangan menangkap tubuh Fiona. Fiona yang masih setengah sadar melihat seorang pria berambut hitam legam lalu menutup matanya sambil tersenyum.
“Haa, sudah aku bilang kalian jangan terlalu berlebihan.” Ucap pria berambut hitam legam sambil membawa Fiona menjauh.
Lalu membaringkannya di atas kursi malas. Setelah itu pria berambut hitam legam kembali. Melihat tubuh Marissa yang terapung di atas permukaan air.
Tanah yang diubah oleh Marissa menjadi air. Mulai kembali menjadi tanah kembali. Sehingga semua kembali menjadi tanah. Tubuh Marissa tergeletak di atas permukaan tanah.
Pria berambut hitam legam membawa tubuh Marissa yang terdapat banyak luka tebasan pedang.
Lalu membawanya ke tempat pria berambut hitam legam meletakkan Fiona. Tubuh Marissa juga dibaringkan di kursi malas di sebelah Fiona.
Setelah itu pria berambut hitam legam menatap ke arah tempat Fiona dan Marissa bertarung. Pulau yang tadinya indah sekarang tidak lagi.
“Kala, kamu buat pulau ini menjadi seperti semula.” Ucap pria berambut hitam legam kepada gagak hitam yang terbang di atasnya.
Oakh
“Baik, Tuan Nara.” Ucap gagak hitam lalu menutupi seluruh pulau dengan kegelapan.
Pria berambut hitam legam kembali ke tempat Fiona dan Marissa berbaring. Lalu memegang kepala Fiona dan Marissa. Setelah itu muncul mulut raksasa kegelapan menelan mereka.
Pertarungan antara Ratu Laut Selatan dan Ratu Cahaya Selatan. Diakhiri dengan tumbangnya mereka berdua.
Dengan ditutup oleh munculnya sang bulan ke langit. Dan pulau tempat mereka bertarung ditutupi oleh kegelapan.