The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Cara Hidup Manusia (Season 1)



...Cara Hidup Manusia...


Di luar area persembunyian kelompok aneh tersebut terlihat dua orang yang memperhatikan dengan saksama.


“Apa Tuan Nara baik-baik saja?” Ucap Javier dengan sedikit khawatir.


“Tuan Nara pasti baik-baik saja.” Ucap Lidya dengan tenang.


Mereka memperhatikan tempat persembunyian kelompok aneh tersebut yang telah tertutupi oleh semacam aura hitam di sekitarnya.


Kemudian terlihat aura hitam tersebut mulai menghilang dan memperlihatkan Nara yang di ikuti oleh seorang wanita berambut putih.


“Salam Tuan Nara.” Ucap Javier dan Lidya dengan hormat secara bersamaan.


“Mari kita pulang.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Baik, Tuan Nara.” Ucap Javier dan Lidya dengan patuh.


“The Dark Giant's Mouth”


Kemudian dari bawah mereka terlihat sebuah mulut raksasa kegelapan yang melahap mereka.


...—–—...


Di dalam kamar salah satu penginapan di kota Dwarf.


Terlihat sebuah mulut raksasa yang terbuat dari kegelapan muncul dari lantai kamar.


Dari mulut raksasa tersebut terlihat empat orang keluar dari dalamnya.


“Akhirnya bisa beristirahat.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil melemparkan tubuhnya ke atas kasur.


Di depan kasur Nara berbaring terdapat tiga orang yang masih setia dengan sikap berlutut dengan hormat.


“Kalian berdua bisa kembali untuk beristirahat.” Ucap Nara dengan melihat ke arah Javier dan Lidya.


“Baik, Tuan Nara.” Ucap Javier dan Lidya dengan bersamaan.


Kemudian mereka keluar dari kamar Nara dan menyisakan Nara dan Reese.


“Baiklah, Reese kamu juga masuklah ke dalam bayanganku.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Sesuai perintah Anda, Tuan Nara.” Ucap Reese dengan patuh sambil menghilang masuk ke dalam bayangan.


“Haa, saatnya untuk istirahat. Aku sangat kekurangan istirahat akhir-akhir ini.” Ucap Nara sambil memejamkan matanya.


...—–—...


Pada saat sang Matahari telah meninggi di langit yang luas.


Di salah satu ruangan di Rumah Agnes Taylor sang pemimpin kota Dwarf.


Terlihat Nara dan Agnes dan juga beberapa orang penting kota Dwarf dan dan bawahan Nara berkumpul di satu meja besar yang sama.


Dengan Nara dan Agnes yang berada di ujung meja besar tersebut.


“Sebelum rapat ini dimulai izinkan kami para Dwarf dari kota Dwarf mengucapkan terima-kasih kepada Anda, Tuan Nara dan pihak Anda.” Ucap Agnes sambil berdiri dari kursinya.


“Karena telah membantu menyelesaikan masalah The Wrath of the Red Moon.” Ucap Agnes dengan tulus.


“Sekali lagi kami ucapkan terima-kasih.” Ucap Agnes dengan menundukkan kepalanya dan diikuti oleh seluruh orang penting kota Dwarf.


“Kalau ada yang Anda inginkan, kami akan mencoba untuk memenuhinya, Tuan Nara.” Ucap Agnes dengan menatap ke arah Nara.


“Bagaimana dengan kesepakatan yang saya tawarkan?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Kalau itu tentu saja kami dengan senang menerimanya, Tuan Nara.” Ucap Agnes dengan tersenyum.


“Selain dari pada kesepakatan, apa ada yang Anda inginkan, Tuan Nara?” Ucap Agnes dengan melihat ke arah Nara.


“Eternal Technology Center.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Apa, Tuan Nara?” Ucap Agnes dengan penasaran.


“Aku ingin menjadikan kota Dwarf menjadi pusat teknologi di South Of Eternal.” Ucap Nara dengan tak acuh.


Agnes diam sejenak dan memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh Nara.


Setelah beberapa detik berlalu, Agnes langsung menatap Nara dengan kengerian yang di ide pikirkan olah Nara pada South Of Eternal ke depannya.


“Jadi bagaimana, Nyonya Agnes?” Ucap Nara dengan tersenyum.


“Tentu saja akan kami bantu Anda untuk mewujudkannya, Tuan Nara.” Ucap Agnes dengan tersenyum cerah.


Kemudian pembicaraan dilanjutkan menjadi lebih serius ke arah masa depan dari Eternal Technology Center.


...—–—...


Setelah pembicaraan yang panjang. Nara kemudian kembali ke penginapan.


Di penginapan atau lebih tepatnya pada kamar Nara.


Terlihat para bawahannya berkumpul pada ruang tamu pada kamar Nara.


“Kerja bagus semuanya.” Ucap Nara dengan melihat mereka semua.


“Terutama Joy, kerja bagus telah membawa kemenangan kepadaku.” Ucap Nara dengan tersenyum kepada Joy.


“Terima-kasih atas pujiannya, Tuan Nara.” Ucap mereka secara bersamaan dengan perasaan senang.


“Tiara, apa surat untuk kerajaan sudah kamu kirimkan?” Ucap Nara dengan melihat ke arah Tiara.


“Sudah saya kirim, Tuan Nara.” Ucap Tiara dengan tersenyum menatap ke arah Nara.


“Baiklah, karena kalian sudah bekerja dengan baik. Hari ini kalian bebas dan ini sedikit bonus untuk Kalian.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil mengeluarkan beberapa kantong koin.


“Tapi sepertinya Javier dan Lidya tidak membutuhkan koin receh ini. Jadi ini semua akan menjadi milik Joy.” Ucap Nara tersenyum sambil menyerahkan kepada Joy.


“Terima-kasih, Tuan Nara.” Ucap Joy dengan perasaan kagum dan penuh hormat.


“Baiklah, kalian bisa pergi untuk bersantai.” Ucap Nara dengan tersenyum.


“Baik, Tuan Nara.” Ucap mereka dengan membungkuk hormat lalu pergi dari kamar Nara.


Di kamar Nara hanya tersisa Tiara yang masih setia menunggu perintah Nara.


“Aku ada perintah untukmu, Tiara.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Saya akan melayani Anda, Tuan Nara.” Ucap Tiara dengan membungkuk Hormat.


“Raises”


Kemudian dari bayangan Nara keluar sesosok wanita berambut putih dengan sepasang tanduk di kepalanya.


Wanita tersebut langsung berlutut dengan hormat di depan Nara.


“Salam hormat, Tuan Nara.” Ucap wanita tersebut dengan hormat.


“Tiara, perkenalkan dia adalah Reese.” Ucap Nara dengan tak acuh.


Tiara memperhatikan sejenak lalu mengangguk kepada Nara.


“Dan aku ingin kamu melatihnya bagaimana cara hidup manusia.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Cara hidup manusia?” Ucap Tiara dengan bingung.


“Aku setan, dasar bodoh.” Ucap Reese dengan mengejek Tiara.


Tiara yang mendengar ucapan Reese hanya tersenyum.


“Saya akan mengajarinya cara menjadi manusia yang baik.” Ucap Tiara dengan tersenyum.


“Aku ingin memberimu sedikit pengetahuan, Reese.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Tiara adalah manusia dengan kekuatan setara setan tingkat tinggi.” Ucap Nara dengan tersenyum melihat wajah Reese yang memucat.


“Kalau begitu kami pergi dahulu, Tuan Nara.” Ucap Tiara dengan membungkuk hormat sambil memegang tangan Reese.


“Selamat bersenang-senang.” Ucap Nara dengan tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Kemudian terlihat Tiara dan Reese yang menghilang dalam kegelapan.


Nara yang hanya sendiri di dalam kamar berjalan menuju jendela.


Di luar jendela kamar Nara terlihat suasana kota Dwarf yang ramai dengan aktivitas para Dwarf di pagi menjelang siang.


“Ah, aku menjadi merindukan kedua wanita itu. Sedang apa mereka saat ini?” Ucap Nara dengan menatap ke arah luar jendela.