
...Kalian Melupakanku? Sungguh Kejam...
Malam yang tenang telah terlewati. Tibalah saatnya badai menerjang kota Dwarf.
Pada malam berikutnya, di bawah sinar sang bulan yang berwarna merah.
Di depan gerbang terlihat beberapa pejuang dari kota Dwarf telah berkumpul.
Termasuk pejuang yang menjadi lawan Nara pada beberapa hari yang lalu.
Dari puluhan bahkan ratusan pejuang. Tidak ada satupun terlihat keberadaan Nara di dalamnya.
Malahan terlihat seorang gadis kecil yang menunggangi seekor harimau putih.
Gadis kecil itu dengan tenang memandang ke arah hutan sambil memegang tombak di tangannya.
Kemudian terlihat seorang pejuang menghampiri gadis kecil itu.
“Lapor laksamana Joy! Sudah hampir tiba waktunya The Wrath of the Red Moon.” Ucap pejuang tersebut dengan tenang.
“Baik, segera bentuk barisan.” Ucap Joy dengan penuh wibawa.
“Sesuai perintah.” Ucap pejuang tersebut dengan tenang.
“Semuanya bentuk barisan penangkapan!” Ucap Joy dengan lantang.
Setelah itu para pejuang langsung membentuk suatu barisan yang rapi.
Joy kemudian menghadap ke arah para pejuang kota Dwarf.
“Hari ini adalah hari di mana kita akan membersihkan para perusak perdamaian.” Ucap Joy dengan lantang.
“Dan hari ini kita juga akan membawa kemenangan mutlak untuk tuan kita, Tuan Nara Satya.” Ucap Joy dengan penuh keyakinan.
“Untuk Tuan Nara!” Ucap Joy dengan lantang sambil berbalik menatap ke arah hutan.
“UNTUK TUAN NARA!” Ucap para pejuang dengan lantang dan bersemangat.
Setelah itu dari arah hutan terdengar suara lolongan berbagai macam beast.
Auuu! Grrr! Oaak!
Kemudian dari arah hutan muncul berbagai macam beast yang menyerang dengan membabi buta ke arah kota Dwarf.
Joy yang melihat hal itu langsung memerintahkan untuk menyerang.
“Semunya! Serang!” Ucap Joy dengan lantang sambil bergerak menerjang ke arah gerombolan beast.
“SERANG!” Ucap para pejuang dengan mengikuti Joy menerjang.
Sang bulan merah yang menyinari medan pertempuran.
Pertempuran antara beast yang mengamuk melawan pejuang dari kota Dwarf pun pecah.
Dengan pecahnya pertempuran itu menandakan dimulainya The Wrath of the Red Moon.
...—–—...
Sementara itu di kedalaman hutan atau lebih tepatnya di dalam semacam gua. Terlihat sekelompok orang yang mengenakan jubah dengan lambang aneh.
“Hahahahah, kita tinggal menunggu para beast dan para Dwarf itu mati.” Ucap salah satu orang yang mengenakan jubah yang dengan lambang aneh.
“Hahaha, benar. Dengan begitu kita bisa mendapatkan kekuatan.” Ucap salah satu orang dalam kelompok aneh itu.
“Hahahah, dengan kekuatan dari ‘sana’ kita bisa menggulingkan pemerintahan bocah itu.” Ucap salah satu orang yang aneh dalam kelompok aneh.
“Tapi apakah ‘dia’ yang dari ‘sana’ benar-benar kuat?” Ucap salah satu orang aneh dengan tidak yakin.
“Apa kamu bodoh? Tentu saja ‘dia’ itu sangat kuat dan hebat.” Ucap salah satu orang aneh.
Saat orang-orang aneh itu berbincang-bincang tentang rencana mereka.
Terdapat beberapa mata lain selain mereka yang sedang mengawasi dalam diam.
Salah satu mata yang mengawasi orang-orang aneh itu adalah mata merah gelap.
Yang menatap mereka dengan disertai senyuman yang lebar.
...—–—...
Sementara itu di medan pertempuran antara Dwarf dan wild beast.
Terlihat di bawah kepemimpinan Joy. Korban dari pihak pejuang kota Dwarf tidak ada satu pun.
Dan para pejuang kota Dwarf berhasil menahan para wild beast dari pada membunuhnya.
Itu semua atas arahan dari tuan mereka.
“Pastikan untuk tidak membunuh wild beast bila bisa.” Ucap Joy dengan lantang sambil menahan salah satu wild beast.
“Baik, laksamana Joy.” Ucap para pejuang dengan tegas.
Dalam sekejap para wild beast yang mengamuk berhasil untuk di kurung oleh para pejuang Dwarf.
Melihat hal itu Joy langsung mengumumkan kemenangan dan menghubungi Tuannya.
“Kita menang!” Ucap Joy dengan lantang sambil mengangkat tombaknya.
“Oah!” Ucap para pejuang bersorak kemenangan.
“Tuan Nara, saya sudah menyelesaikan tugas saya.” Ucap Joy dengan menatap ke arah langit.
...—–—...
Sementara itu di dalam hutan, tepatnya di dalam persembunyian kelompok aneh.
Terjadi kerusuhan karena mereka mendapatkan informasi bahwa para Dwarf tidak membunuh para wild beast yang mengamuk.
“Bagaimana ini?” Ucap salah satu orang dengan panik.
“Kenapa para Dwarf bodoh itu tidak membunuh para wild beast?” Ucap salah satu orang dengan marah.
“Dan lagi waktu untuk persembahan sudah hampir tiba.” Ucap salah satu orang dengan panik dan ketakutan.
“Bagaimana ini ketua?” Ucap salah satu orang dengan muka panik.
“Iya, bagaimana ini ketua?” Ucap salah satu orang yang ikut panik.
“Ketua!” Ucap salah satu orang dengan panik.
Saat orang-orang dengan penampilan aneh itu panik karena rencana mereka sepertinya gagal.
Dari atas mereka terlihat seorang pria tampan berambut hitam legam dengan mata merah gelap menatap ke arah mereka.
Sambil memakan keripik buah, pria yang berada di dahan pohon menatap ke bawah dengan tatapan bosan.
“Apa kalian sudah selesai?” Ucap pria bermata merah gelap dengan bosan.
“Siapa kau?” Ucap salah satu orang dari kelompok aneh tersebut.
“Kalian melupakanku? Sungguh kejam.” Ucap pria bermata merah gelap sambil turun dari dahan pohon.
“Tidak mungkin, kamu adalah Marquess Nara Satya.” Ucap salah satu orang dengan terkejut.
“Akhirnya kalian mengenaliku. Tuan-tuan dari wilayah Duke Galeleo.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Bagaimana kamu tahu?” Ucap salah satu orang dengan terkejut.
“Hehehehe, apa kalian mau merusak wilayahku?” Ucap Nara dengan tersenyum lebar.
“Memangnya kamu mau apa?” Ucap salah satu dari mereka dengan meremehkan.
“Kamu hanya seorang bocah!” Ucap salah satu orang dengan mengejek.
“Hmm, kalian benar. Aku hanya seorang bocah.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Seorang bocah ini yang akan mengirimkan hadiah kepala kalian kepada Duke Galeleo.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Hahaha, menangnya bisa apa seorang bocah sepertimu?” Ucap salah satu orang dengan meremehkan.
Nara tidak menjawab hanya tersenyum menatap ke arah orang-orang yang mengenakan jubah dengan lambang aneh tersebut.
Dengan sekali gerakan tangan Nara berhasil mengirim satu jiwa ke alam lain.
Sling Bruk
Terlihat sebuah kepala tergeletak di tanah dengan darah segar mengucur deras dari tubuhnya.
“Haaaa!” Ucap salah satu orang dengan terkejut sekaligus takut.
“Berikutnya adalah kalian.” Ucap Nara dengan tersenyum lebar.
“Serang dia!” Ucap salah satu orang yang terlihat seperti seorang pemimpin mereka.
Kemudian beberapa dari mereka menyerang Nara dengan bersamaan.
Sling Sling Bruk Bruk
Tapi sebelum mereka menyerang Nara mereka melihat tubuh mereka yang tanpa kepala.
“Haaah-haaah, tidak-tidak.” Ucap pemimpin kelompok aneh itu ketakutan dengan air mata dan ingus keluar.
“Kalau tidak salah kau adalah seorang Count.” Ucap Nara dengan tersenyum sambil menghampirinya.
“Tidak! Jangan mendekat! Dasar monster!” Ucap pemimpin kelompok aneh tersebut sambil berlari.
Pemimpin kelompok aneh itu terus berlari sambil melihat para anggota kelompoknya yang sudah tergeletak tidak bernyawa di tanah.
“Tidak! Aku harus hidup!” Ucap pemimpin kelompok aneh sambil terus berlari.
Pemimpin kelompok aneh terus berlari hingga melihat sebuah altar yang menyala.