
...Makan Malam...
Di dalam ruangan VIP Darius Bima.
Nara langsung duduk di kursi yang tersedia. Sementara para pelayannya berdiri di belakang Nara.
Tidak berselang lama setelah Nara duduk. Pesanan Wine Nara sampai.
“Ini Tuan Wine Anda.” Ucap pelayan restoran.
“Baik.” Ucap Nara. Wine tersebut langsung diambil oleh Tiara dan menuangkannya di gelas Nara.
“Ini Tuan muda.” Ucap Tiara menuangkan Wine.
“Terima kasih.” Ucap Nara sambil menikmati Wine yang diminumnya.
Tidak berselang lama. Datanglah Darius Bima dengan di ikuti satu pelayan wanita.
“Kenapa kau sudah minum saja.” Ucap Darius dengan nada sedikit naik.
“Kau tanya kenapa?” Ucap Nara sambil tersenyum dan mengeluarkan mana hitamnya.
“Hehehe, aku hanya bercanda. Aku minta maaf karena terlambat.” Ucap Darius.
Sementara kedua orang tersebut berbicara masuk dua orang ke dalam ruangan.
“Ehem.” Suara yang membuat perbincangan Nara dan Darius terhenti.
“Kenapa sakit?” Ucap santai Nara sumber suara.
“Kapan masih berdiri? Duduklah, Putra Mahkota Ryan” Ucap Darius dengan menekankan kata putra mahkota.
“Kenapa kalian masih saja suka berkelahi.” Ucap putra mahkota Ryan Lewis.
“Kau tahu kan sikap orang dingin ini. Itu membuatku ingin memanaskannya.” Ucap Darius menunjuk Nara.
“Iya aku tahu. Aku mengerti perasaanmu.” Ucap putra mahkota Ryan Lewis.
“Kenapa kalian ini.” Ucap Nara sambil menikmati Wine tanpa memperdulikan Darius dan Ryan Lewis.
“Kau yang kenapa.” Ucap Darius dan Ryan bersamaan.
“Aku, sedang minum.” Ucap Nara santai.
“Haa. Seperti tidak ada habisnya membicarakan orang dingin itu.” Ucap Ryan Lewis.
“Kau benar.” Ucap Darius.
“Kakak kenapa kalian akrab sekali.” Suara wanita yang mengalihkan pandangan Darius dan Ryan. Sementara Nara masih menikmati Wine.
“Itu karena kami berdua dan orang itu adalah teman atau mungkin bisa disebut sahabat.” Ucap Ryan kepada Ellisa Lewis, putri mahkota atau adik Ryan.
“Oh, seperti itu.” Ucap Ellisa.
“Kenapa kalian masih mengobrol kita ini mau makan. Aku sudah lapar dari tadi.” Ucap Nara.
“Haa. Baiklah pelayan tolong keluar menu makanan terbaik kalian.” Ucap Darius kepada pelayan restoran.
“Baik, Tuan.” Ucap pelayan restoran.
“Hei, Nara dari mana kau mendapatkan pelayan Elf seperti itu?” Ucap Darius sambil menunjuk Lisa.
“Aku tidak sengaja melihat di tempat jual budak.” Ucap Nara menjelaskan.
“Oh, kau cukup beruntung.” Ucap Darius.
“Iya, kau cukup beruntung.” Ucap Ryan.
“Tentu saja itu karena aku tampan.” Ucap Nara dengan narsis.
“Terserah kau.” Ucap Darius dan Ryan bersamaan. Sementara itu Ellisa hanya tertawa.
Tidak berselang lama tibalah beberapa pelayan yang membawakan makanan yang dipesan oleh Darius.
“Tuan ini dia menu makanan terbaik di sini. Jika ada yang lain silakan panggil saja.” Ucap salah satu pelayan yang mengantarkan makanan.
“Iya.” Ucap Darius.
“Baiklah ayo makan. Kalian para pelayan pribadi silakan makan di salah satu meja sana.” Ucap Darius menunjuk salah satu meja.
“Baik Tuan.” Ucap para pelayan pribadi.
“Tiara dan Lisa kalian ikutilah.” Ucap Nara.
“Baik, Tuan muda.” Ucap Tiara dan Lisa.
Setelah itu mereka makan tanpa ada percakapan yang terjadi.
Setelah makan habis.
“Pelayan, tolong keluar Wine terbaik kalian.” Ucap Darius kepada pelayan.
“Baik, Tuan.” Ucap pelayan restoran.
“Ini adalah Wine terbaik kami. Umurnya sekitar 1000 tahun dan terdapat kandungan mana kuno di dalamnya.” Jelas pelayan restoran.
Setelah itu pelayan menuang Wine di setiap gelas dan pergi setelah itu.
“Jadi ada apa kalian mengundang aku di makan malam ini.” Ucap Nara sambil meminum Wine.
“Jadi begini kerajaan Majapahit akan mengadakan evaluasi bakat generasi muda. Evaluasi tersebut akan diadakan di Rumah Bakat Majapahit, dua hari dari sekarang. Apakah kau akan ikut serta?” Ucap Ryan.
“Mungkin.” Ucap Nara.
“Kau tahukah perbedaan efisiensi kekuatan seseorang yang mengetahui kecocokan senjata dengan kelas/pekerjaan yang dimiliki. Perbedaannya sampai hampir 50%.” Ucap Ryan.
“Ooo.” Ucap Nara.
“Haa. Kau ini pasti tidak menganggap ini serius. Darius apakah kau ikut.” Ucap Ryan pada Darius.
“Ha, siapa yang kau panggil Darius. Aku ini adalah Jenderal Darius seorang panglima perang yang perkasa. Hahahaha.” Ucap Darius yang mabuk.
“Haaa. Untuk saja mereka adalah teman kalau tidak akan kuseret keluar mereka.” Ucap Ryan menghela nafas
“Sabar saja kak. Hihihi.” Ucap Ellisa.
“Iya, kau benar." Ucap Ryan murung.
Setelah itu Ryan meminum Wine banyak sekali sehingga mabuk.
Setelah Sang Bulan tepat berada di tengah langit malam. Ellisa yang masih sadar. Meminta para pelayan pribadi untuk membawa Tuan mereka kembali.
“Kalian bawa kak Ryan kembali ke rumah dan juga kalian pelayan pribadi kak Darius bawa kak Darius kembali ke penginapan.” Ucap Ellisa memberikan perintah.
“Baik, Putri mahkota Ellisa.” Ucap para pelayan yang diberikan perintah Ellisa.
“Kak Nara, aku dan kak Ryan pamit pulang dahulu. Sampai jumpa lagi.” Ucap Ellisa berpamitan.
“Baik, sampai jumpa.” Jawab Nara.
Setelah itu ruangan VIP menjadi sepi tinggal Nara dan para pelayannya.
“kita akan kembali.” Ucap Nara.
“Baik, Tuan muda.” Ucap Tiara dan Lisa.
Setelah itu mereka pergi dari restoran menggunakan kereta kuda dan kembali ke penginapan. Di penginapan Nara langsung tertidur.
Setelah semalaman Sang Bulan terjaga akhirnya ia tenggelam ke dalam tidurnya, tergantikan dengan bangunnya Sang Matahari yang menyilaukan.
“Tuan muda, sudah waktunya untuk Anda bangun.” Ucap Tiara sambil menggoyangkan tubuh Nara.
“Iya, iya. Aku sudah bangun. Hoam.” Ucap Nara.
“Baju Anda sudah saya siapkan.” Ucap Tiara.
“Em.” Ucap Nara.
“Kalau begitu saya permisi.” Ucap Tiara keluar dari kamar Nara.
Setelah itu Nara mandi dan memakai pakaian dan berkaca.
Dengan rambut hitam legam yang tergerai hampir menutupi mata Nara. Dengan pupil mata merah kehitaman memandangi pantulan bayangan dirinya.
“Aku memang tampan.” Ucap Nara.
“Tiara.”
“Iya, Tuan muda.” Ucap Tiara memasuki kamar Nara.
“Bantu aku merapikan pakaianku.” Ucap Nara.
“Baik, Tuan muda.” Ucap Tiara.
Tiara mulai merapikan pakaian yang dipakai Nara.
Mulai dari merapikan kerah baju Nara hingga menata rambut Nara.
“Sudah Tuan muda.” Ucap Tiara dengan wajah yang memerah.
“Terima kasih, kau memang bisa diandalkan.” Ucap Nara.
“Baiklah, ayo turun sarapan.” Ucap Nara.
“Baik.” Ucap Tiara.
Setelah itu Nara dan Tiara turun menuju ke lantai satu untuk sarapan. Di salah satu meja makan sudah terdapat Lisa yang sedang menunggu Tuannya.
“Selamat pagi, Tuan muda.” Ucap Lisa.
“Iya.” Jawab Nara.
Setelah Nara duduk Tiara dan Lisa ikut duduk di sebelah Nara. Setelah itu mereka mulai makan tanpa adanya suara.