The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Wajah Hitam



...Wajah Hitam...


Setelah pertandingan antara Leo dan Rio Rian. Para peserta mulai maju satu-persatu dan menantang peserta yang ingin dilawan.


Di barisan peserta, tempat Nara dan lainnya.


“Pang..eran” terdengar teriakan mengejutkan telinga semua yang menderanya.


“Pangeran Mahkota Ryan Lewis, silakan hukum bawah Anda yang tidak berguna ini.” Ucap seorang remaja bersujud kepada Ryan dengan badan penuh balutan perban berdarah.


“Leo, siapa yang mengizinkan kau kemari? Kau kan masih dalam keadaan terluka. Sebaiknya kau beristirahat di dalam kastel.” Ucap Ryan penuh wibawa menghawatirkan Leo.


“Tidak, pangeran mahkota Ryan. Hamba pantas untuk mendapatkan hukuman atas kekalahan hamba.” Ucap Leo dengan tegas sambil memegangi rambut kuningnya yang berbalut perban.


“Baiklah, karena kegagalanmu menghadapi musuh. Kau dihukum untuk beristirahat dengan benar dan kau juga dihukum dengan diharuskan berlatih dengan keras.” Ucap Ryan memberikan hukuman kepada Leo.


“Baik, pangeran mahkota Ryan. Hamba menerima hukuman.” Ucap Leo yang kemudian bangkit lalu pergi kembali ke dalam kastel dengan terpincang-pincang.


Setelah Leo mulai menjauh.


“Wow, lihat sikap kesatrianya. Sepertinya kau memang menemukan bibit kesatria yang unggul. Ryan.” Ucap tepat di sebelah Ryan.


“Iya, kau benar. Sepertinya dia akan menjadi kesatria yang hebat nanti.” Ucap Ryan membenarkan ucapan Darius.


“Hoam, ayam siapa sih! Mengganggu orang tidur saja.” Ucap Nara yang terbangun dari tidurnya yang indah.


“Tidak seperti dia yang malas.” Ucap Ryan dan Darius ketika melihat Nara dengan wajah mengejek.


“Bicara apa sih? Dasar aneh.” Ucap Nara sambil menggaruk Kepalanya.


“Apa aku melewatkan pertarungan kalian? Jika melewatkan sih tidak apa-apa. Tapi aku tidak bisa melihat muka kalian yang jelek terluka.” Ucap Nara yang acuh tak acuh kepada kedua sahabatnya.


“Kau bilang muka tampan ini jelek! Apakah matamu terganggu.” Ucap Darius yang tidak terima dengan pernyataan Nara.


“Tidak, kami belum bertanding. Sepertinya kita semua akan mendapatkan giliran terakhir.” Ucap Ryan.


“Baguslah, aku masih mau bermimpi lagi. Hoam.” Ucap Nara yang mulai menguap.


Tapi keinginan Nara untuk bermimpi kembali terhenti dengan suara-.


Di atas area pertandingan.


“Aku Vino Clover, Putra Duke Clover. Menantang Nara Satya.” Ucap seorang remaja pria dengan rambut terikat panjang berwarna hijau.


“Braak”


Terdengar suara seorang remaja pria yang terjatuh.


“Hei, Ryan kau akan menerima balasan dari Dewa dan Iblis Tidur.


Kenapa kau mendorongku! Aku masih ingin bermimpi lagi.” Ucap Nara yang masih tidak sadar dirinya yang menjadi pusat perhatian.


“Nara Satya!” suara teriakan.


“APA-!” ucap Nara terhenti ketika melihat Sir Tron yang mengepalkan tangannya.


“Kau tidur saat pertandingan berlangsung!” ucap Sir Tron.


“Iya, pertandingan ini terlalu membosankan.” Ucap Nara dengan mimik wajah malas.


“Haaa, sudahlah. Sekarang pertandinganmu melewati dia.” Ucap Sir Tron menunjuk Vino Clover.


“Apakah kau takut melawanku? Sehingga membuat alasan yang aneh.” Ucap Vino Clover mengejek Nara.


“Hoam, hei apakah bisa langsung dimulai. Aku sudah telat 1 menit dari tidur indahku.” Ucap Nara dengan malas kepada seorang pria berbadan kekar.


“Haa, peserta silakan untuk bersiap.” Ucap Sir Tron.


Nara bersiap hanya dengan mengeluarkan sabitnya sambil menggunakannya untuk menopang tubuhnya.


Sedangkan sisi lain Vino Clover bersiap dengan mengeluarkan senjata pedang sedang.


“Baiklah, seperti pertandingan sebelum-sebelumnya. Aku yang akan menjadi wasit.” Ucap Sir Adin.


“Peserta bersiap, pertandingan dimulai.” Ucap Sir Adin memulai pertandingan.


Vino memulai serangan dengan langsung menerjang Nara dengan cepat.


“Ting”


Suara pedang Vino bergesekkah dengan sabit Nara.


Tidak berhenti sampai disitu. Tiba-tiba terjadi ledakan pada tanah yang dipijak Nara.


“Boom!”


Tapi hal tersebut tidak berdampak pada Nara. Nara sudah bergerak di belakang Vino sambil mengerahkan bilah sabitnya yang berwarna merah gelap.


“Jlep”


Vino yang tidak takut dengan ancaman Nara menusuk paha Nara.


Nara mundur dengan wajah yang tersenyum.


Setelah itu Nara langsung menghilang dari tempat dan muncul langsung mengayunkan sabitnya tepat pada leher Vino.


“Ting”


Vino secara refleks menangkis serangan sabit Nara dan terpental mundur.


Tidak berhenti, Nara langsung menerjang dan mengayunkan sabitnya secara terus-menerus pada tubuh Vino.


“Ting-ting!”


Vino menangkis hampir sebagian besar serangan Nara. Tapi badan dan kaki Vino mengalir darah segar.


“Sial, ternyata rumor bahwa kau lemah ternyata salah.” Ucap Vino mengutuk orang yang menyebarkan rumor bahwa Nara lemah.


“Benarkah.” Ucap Nara acuh tak acuh.


Nara hendak mengayunkan sabitnya tapi-.


“Boom!”


Terjadi ledakan lagi pada tanah yang dipijak Nara.


“Kala! Aku sudah menyuruhmu untuk mengurusi curut tanah itu.” Ucap Nara yang kesal dengan ledakan tikus tanah kepada gagak hitamnya.


“Oakh.” Suara Kala menanggapi Nara.


Burung Gagak Hitam itu langsung turun menukik tajam ke tanah. Tepat beberapa centimeter dari tanah Kala menghilang menjadi asap hitam.


“Sepertinya kau sudah tahu keberadaan beastku.” Ucap Vino yang sedikit terkejut Nara mengetahui keberadaan Molly, tikus tanah peledak.


“Heh, hanya hama.” Ucap Nara meremehkan beast Vino.


Vino yang tidak terima menyerang Nara dengan cepat. Pedang yang berada di tangan Vino menjadi lebih besar dengan dikelilingi oleh tanah yang membentuk pedang besar.


“Bruhk”


Serangan Vino tertahan sabit Nara. Tidak berhenti Vino meledak pedangnya yang berlapis tanah.


“Boom!”


Ledakan itu berhasil mengenai Nara. Sehingga membuat wajah Nara menghitam dengan sedikit darah.


“KAU!” ucap Nara yang marah dengan wajah tampannya yang hitam karena ledakan.


Nara menghilang dengan cepat mengayunkan sabitnya.


“Jlep-jleb”


Serangan Nara berhasil mengenai tubuh dan tangan Vino sehingga Vino tidak dapat memegang pedangnya.


Nara masih mengayunkan sabitnya dan hampir mengenai leher Vino.


“Swus-ting”


Tepat saat ujung bilah sabit Nara mengenai kulit leher Vino. Sabit Nara terhenti dengan pedang rapier.


“Peserta Nara Satya cukup sampai disitu.” Ucap Sir Adin yang menahan sabit Nara dengan pedang rapier.


Nara menarik sabitnya dan memasukkannya kembali.


“Kala! Ayo kembali.” Ucap Nara sambil berjalan kembali ke barisan.


Dari tanah terlihat asap hitam menarik seekor tikus tanah yang terlihat terluka. Asap hitam tersebut berubah menjadi burung Gagak Hitam dan menjatuhkan tikus tanah. Dan terbang menuju Nara.


“Oakh”


“Pemenang pertandingan ini adalah Nara Satya.” Ucap Sir Adin mengumumkan pemenang.


Para peserta hanya diam ketika mendengar hasil pertandingan.


Di barisan peserta.


Peserta yang melihat Nara langsung menjauhi Nara. Tapi terdengar suara tawa dari barisan yang dituju Nara.


“Hahahaha, ada apa dengan wajah Tampanmu. Hahahaha.” Ucap Darius menertawakan wajah Nara. Dengan Nina yang berada di sampingnya.


“Hahaha, kau terlalu meremehkan lawanmu, Nara.” Ucap Ryan dengan tertawa.


“Sini kak Nara.” Ucap Ellisa dengan mengeluarkan sihir salju.


Nara mendekat kepada Ellisa. Sihir salju yang dikeluarkan Ellisa menyembuhkan wajah Nara dan membersihkan wajah Nara dari noda ledakan.


“Terima kasih Ellisa.” Ucap Nara berterima kasih.


“Kau terkena karma karena menjelekkan wajah tampanku, Nara. Hahaha” ucap Darius mengejek.


“Diam kau.” Ucap Nara dengan marah sambil melemparkan anggur pada wajah Darius.


“Hap”


“Terima kasih, hahahaha.” Ucap Darius sambil memakan anggur yang dilemparkan Nara.