
...Kucing Garang...
Setelah pertandingan Nara dan Vino selesai. Sekarang giliran Ryan maju ke area pertandingan. Setelah beberapa pertandingan sebelumnya.
Di arena pertandingan.
“Saya Ryan Lewis, menantang Darius Bima.” Ucap Ryan dengan lantang.
“Hahaha, seperti kau ingin menguji kemampuanku. Aku tidak akan mengalahkan.” Ucap Darius sambil menunjuk ke arena pertandingan.
“Kedua peserta silakan untuk bersiap.” Ucap Sir Adin memimpin pertandingan.
Ryan bersiap dengan mengeluarkan pedang sedang dengan bagian tengah pedang terdapat kristal mana.
Sedangkan Darius mengeluarkan semacam pedang panjang dengan satu mata bilah berwarna merah.
“Peserta bersiap pada posisi masing-masing. Pertandingan dimulai.” Ucap Sir Adin memulai pertandingan.
Ryan langsung menyerang Darius sambil ujung pedangnya mengenai tanah.
“Krek-krek”
Tanah mulai berubah menjadi membeku. Darius yang kesulitan untuk bergerak terkena ayunan pedang Ryan.
“Sling”
Darah segar keluar dari lengan Darius.
“Sial.” Ucap Darius yang sambil menahan pedang Ryan.
“Kenapa sudah ingin menyerah.” Ucap Ryan mencoba memprovokasi Darius.
“Hehe.” Ucap Darius kemudian ia bersiul. Dari siulannya keluarlah seekor badak bercula berlian yang langsung menghantam Ryan.
“Bruk”
Ryan terpental cukup jauh. Dan mencoba untuk berdiri. Belum sampai berdiri sempurna Ryan kembali terhantam badak Darius.
“Hahaha.” Ucap Darius yang berada di punggung badak.
“Sialan, White keluar dan bantu aku.” Ucap Ryan dan keluarlah seekor Singa Putih Es.
Singa putih tersebut langsung mengeluarkan menerjang ke arah badak Darius yang langsung membuat Darius terjatuh.
Darius membiarkan badaknya bertarung dengan singa Ryan. Dan langsung menyerang Ryan.
Ryan menahan serang Darius dan mencoba membekukan pedang panjang Darius. Darius yang merasakan pedang mulai terasa dingin. Melapisi pedangnya dengan berlian.
Tidak lama setelah terlapisi berlian pedang Darius sudah sepenuhnya membeku. Karena tekanan dan benturan dengan pedang Ryan. Lapisan berlian yang membeku pecah menjadi pecahan es.
“Sialan, kau Ryan. Kau pikir ini pedang murahan. Main menghancurkan saja.” Ucap Darius yang marah ketika melihat pecahan berlian yang melapisi pedangnya.
“Kupikir, itu pedang yang dijual di pasar loak. Haha.” Ucap Ryan sambil terus-menerus menyerang Darius.
“Ting-ting”
Benturan antara pedang terus berlanjut. Tapi tiba-tiba.
“Sling-sling-sling-sling”
Empat pedang yang terbuat dari berlian menancap tepat pada sekeliling Ryan. Darius memanfaatkan kesempatan dan langsung menyerang tangan Ryan. Ryan berhasil menghindar tapi lengannya tergores pedang Darius.
“Sial.” Ucap Ryan.
Ryan yang tidak ingin kalah. Mengeluarkan sihir yang membentuk armor es yang melekat pada tubuhnya.
Tidak berhenti sampai disitu. Ryan juga membuat perisai Es. Setelah selesai, Ryan menyerang Darius dengan brutal.
Serangan membabi-buta Ryan ternyata tidak menghasilkan luka yang berarti kepada Darius. Ternyata Darius telah memakai sihir yang membuatnya mengenakan armor berlian.
“Hahaha, tidak hanya kau yang bisa, Ryan.” Ucap Darius memamerkan armor berliannya.
“Aku sudah menduganya. Lihat!” Ucap Ryan menunjuk pada tempat Darius berpijak yang telah tertutup es.
“Sialan, Rhino!” ucap Darius sambil melihat ke tempat badaknya bertarung.
Tempat badak Darius bertarung. Terlihat seekor Singa Putih yang telah berdiri di atas badak yang terbaring dengan satu kaki berada di kepala badak.
“Menyerahlah!” Ucap Ryan sambil menodongkan pedangnya pada leher Darius.
“Aether.” Ucap Darius memasukkan kembali badaknya yang terbaring dan membatalkan sihir armor sambil mengangkat tangan.
“Pemenangnya adalah Pangeran Mahkota Ryan Lewis. Dengan pernyataan Darius menyerah.” Ucap Sir Adin mengumumkan pemenang.
Setelah Sir Adin mengumumkan pemenangnya. Ryan dan Darius mencoba berjalan ke barisan dengan dibantu oleh prajurit.
Di barisan peserta.
Setibanya Ryan dan Darius di tempat Nara dan lainnya.
“Aku tidak apa-apa, Ellisa.” Ucap Ryan kepada adiknya yang terlihat khawatir.
Sementara itu Darius mencoba untuk menarik perhatian tunangannya yang terlihat tidak peduli.
“Aduk-aduk sakit sekali, Sayang. Bisakah kau berikan ciuman penyembuh padaku?” Ucap Darius pada remaja wanita berambut merah keputihan yang menatap Darius dengan raut wajah khawatir.
“Hem, aku tidak peduli dengan kepadamu.” Ucap Nina yang mencoba memalingkan wajahnya dari Darius.
“Aduh!” Ucap Darius yang cukup keras yang menarik perhatian tunangannya, Nina.
“Kau tidak apa.” Ucap Nina yang cara cepat memegangi luka Darius yang mengalihkan darah.
“Hehe, kenapa kau tidak memberikan ciuman penyembuh padaku?” Ucap Darius sambil mencoba untuk mencium bibir Nina.
“Tidaaak.” Ucap Nina yang secara spontan memukul luka Darius dengan tinju yang dialiri mana.
“Bruk”
Terdengar suara lantai keramik yang Darius tiduri pecah dan meninggalkan bekas lubang.
Tepat sebelum tinju Nina mengenai tubuh Darius. Nara memindahkan Darius dengan sabitnya yang tertutup mana hitam.
“Hei, kalau kau ingin membunuhnya. Jangan tepat di depanku. Lakukan ditempat sepi saja!” Ucap Nara dengan tidak bergerak dari duduknya dengan tangan yang memasukkan kembali sabitnya.
“Ellisa, bisa sembuhkan Darius.” Ucap Ryan kepada Ellisa sambil memeriksa keadaan Darius.
“Baik.” Ucap Ellisa yang langsung mengeluarkan sihir salju.
Setelah Ellisa menyembuhkan Darius. Darius terbangun dan melihat sekeliling. Dan menemukan Nina yang menangis tersedu-sedu.
“Hei, tidak apa-apa. Lihat aku sudah bangun.” Ucap Darius yang menghampiri Nina sambil memeluknya.
“Maaf.” Ucap Nina yang menangis di pelukan Darius.
Darius hanya mengangguk dan mengelus punggung Nina.
“Aku juga minta maaf. Karena terlalu memaksa.” Ucap Darius.
“Pangeran Mahkota, Anda keren sekali.” Terdengar suara yang menghampiri Ryan.
“Terima kasih, Leo. Bagaimana keadaanmu?” Ucap Ryan kepada Leo yang berlutut di depannya.
“Hamba sudah baikkan.” Ucap Leo.
Kemudian Leo memandang ke arah Darius dan Nina yang berpelukan. Dan Nara yang terlihat seperti biasa bersikap tidak peduli. Sedangkan Ellisa yang terlihat histeris memandang sepasang kekasih yang berpelukan.
“Abaikan mereka.” Ucap Ryan kepada Leo yang terlihat tercengang.
Pertandingan terus dilanjutkan. Hingga semua peserta bertanding. Saat giliran Ellisa dan Nina semua berjalan lancar.
Tibalah pengumuman hasil ujian terakhir akademi pelatihan.
“Baik, karena kalian semua sudah selesai melakukan pertandingan. Saya akan mengumumkan, siapa saja yang lulus dan mendapatkan kartu rekomendasi kesatria.” Ucap Sir Tron sambil membacakan nama-nama peserta.
“Pertama ada Rio Rian, Kedua Leo, selanjutnya Vino Clover, Nina Inera, Darius Bima, Pangeran Ryan Lewis, Putri Ellisa Lewis, Nara Satya,......” ucap Sir Tron menyebutkan nama-nama, total ada hampir setengah dari total peserta yang mendapat rekomendasi kesatria.
“Nama yang saya sebutkan, kalian jika ingin masuk ke dalam kesatria Majapahit kalian akan mendapatkan rekomendasi.
Jika kalian tidak berminat kalian bisa menukarkan surat rekomendasi menjadi koin emas hitam.
Bagi yang ingin menukarkan rekomendasi kesatria bisa maju ke depan.” Ucap Sir Tron sambil melihat ke arah barisan peserta.
Setelah beberapa menit suasana menjadi hening. Tapi terusak dengan majunya seseorang.
“Hoam, kenapa tidak ada yang maju. Apakah mereka semua sangat kaya? Aneh.” Ucap Nara dengan menguap sambil menuju ke Sir Tron.
Setelah sampai di depan Sir Tron. Nara diam sambil memperhatikan Sir Tron.
“Kenapa diam, mana uangku? Jangan bilang kalau ini penipuan. Sungguh kejam sekali.” Ucap Nara sambil tersenyum berakting sedih.
“Kau ini dari keluarga Duke, Duke yang bisa dibilang sangat kaya. Kenapa keturunannya seperti kekurangan uang.” Ucap Sir Tron yang tidak mengerti dengan isi pikiran Nara.
“Kau benar, burung hantu tua itu memang kaya. Tapi ada kucing garang yang tidak memperbolehkan untuk meminta uang darinya.” Ucap Nara dengan santai.
“Sudah, ini uangmu.” Ucap Sir Tron memberikan Nara koin emas hitam.
“Hanya ini? Kau pasti bercanda. Aku menghabiskan waktu tidurku dan aku hanya mendapatkan ini.” Ucap Nara yang tidak terima dengan koin emas hitam yang diberikan. Bagaimana tidak Nara hanya menerima sepuluh ribu koin emas hitam.
Sementara itu peserta yang melihat Nara yang hanya diberikan koin emas hitam dengan jumlah sepuluh ribu koin hanya bisa menahan emosi mereka.
Nara yang tidak mendapatkan tambahan. Kembali ke barisan peserta.
Di barisan sahabat Nara.
“Hei Nara, siapa yang kau maksud dengan ”Kucing Garang”? Apakah itu bibi Sarah? Sepertinya aku memiliki bahan untuk melaporkanmu pada bibi Sarah. Hahaha.” Ucap Darius mengejek Nara.
“Diam lah.” Ucap Nara yang tidak senang.