The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Kekurangan Istirahat



...Kekurangan Istirahat...


Di sebuah kereta kuda yang melaju dengan kecepatan sedang menembus angin dan rerumputan.


“Apakah masih lama, Van?” Ucap seorang wanita dengan rambut panjang pirang keputihan dengan ekspresi datar.


“Seharusnya sebentar lagi akan sampai Nona.” Ucap wanita berambut hijau pendek.


...—–—...


Di sebuah kamar, cahaya matahari masuk melalui celah jendela dan mengenai wajah tampan seorang pria berumur 18 tahun yang sedang menikmati tidur. Tapi terhenti dengan.


“Tuan Nara, sudah pagi. Tuan besar dan Nyonya sudah menunggu Anda di ruang makan.” Ucap seorang wanita cantik berambut hitam panjang.


“Iya-iya, Hoam.“ Ucap Nara berdiri dan dengan santai membuka bajunya.


“Tuan Nara, air dan pilihan pakaian sudah saya siap.” Ucap Tiara sambil menikmati pemandangan badan Nara.


“Hm? Kenapa? Aku tampan ya.” Ucap Nara sambil mendekati Tiara.


“Tuan Nara.” Ucap Tiara dengan wajah memerah dan terengah-engah.


“Ada apa Tiara?” Ucap Nara dengan jarak yang sangat dekat dengan Tiara sampai tubuh Nara merasakan hembusan nafas Tiara.


“Anda tampan sekali. Bolehkah saya menyentuh tubuh Anda?” Ucap Tiara sambil mencoba menyentuh tubuh Nara.


“Tidak.” Ucap Nara dengan santai sambil berbalik dan menuju ke kamar mandi tanpa memperdulikan Tiara yang sudah sangat ingin melihat lebih dari tubuh Nara.


“Haa, ini sudah ke sekian kalinya, aku terjebak oleh Tuan Nara.” Ucap Tiara lalu pergi meninggalkan kamar Nara.


Di luar kamar Nara.


“Gimana? Kamu masih tergoda lagi? Hihi.” Ucap seorang wanita Elf dengan rambut kecokelatan.


“Diamlah, kamu bahwa hampir pingsan, Lisa.” Ucap Tiara kepada Lisa.


“Hehehe.” Ucap Lisa sambil tertawa kecil.


Setelah itu mereka pergi ke bawah untuk membantu menyiapkan makan bersama dengan para pelayan lainya.


Setelah beberapa menit. Akhirnya Nara turun menuju ke ruang makan.


“Selamat pagi, Tuan Nara.” Ucap para pelayan dengan wajah kagum dan memerah.


Nara tidak menjawab dan langsung menuju kursi yang berada di dekat ibunya.


“Selamat pagi, Bu.” Ucap Nara menyapa ibunya dan mulai memakan makanannya.


“Pagi, sayang.” Ucap ibu Nara sambil memperhatikan Nara.


“Kau tidak menyapa ayah?” Ucap ayah Nara.


“Selamat pagi ayah.” Ucap Nara dengan acuh tak acuh.


“Anak ini! Kau-” Ucap ayah Nara terhenti ketika mendengar.


“Nara, lihat dirimu sekarang. Kau terlihat sangat dewasa. Dua tahun lalu kamu masih terlihat seperti seorang tuan muda, sekarang kamu bahkan melebihi ayahmu.” Ucap ibu Nara sambil mengelus rambut Nara.


“Ibu hentikan.” Ucap Nara sambil mencoba mengelak.


“Ibumu benar, Nara. Kamu sudah dewasa. Sudah waktunya kamu menjadi pemimpin.” Ucap ayah Nara membenarkan ucapan istrinya.


“Tapi kamu masih kurang tampan dengan ayahmu ini, hahaha.” Ucap ayah Nara sambil tertawa.


“Hentikan, mari kita mulai makannya. Nanti kita bicarakan lagi Nara.” Ucap ibu Nara menghentikan percakapan dan mulai makan.


Nara yang masih bingung dengan apa yang terjadi terdiam sesaat dan mulai makan sambil memikirkan ucapan ibu dan ayahnya.


Di ruang kerja Duke Satya.


“APA!"


Ucap Nara tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Tenanglah Nara, kau membuat telingaku sakit.” Ucap ayah Nara sambil mengelus telinganya.


“Bagaimana bisa tenang. Kalian akan menjodohkanku tanpa persetujuanku.” Ucap Nara sambil meminum teh yang berada di meja.


“Kau harus belajar memimpin dan menjadi lebih bertanggung jawab.” Ucap ibu Nara sambil tersenyum.


“Haa, jadi kapan dia akan tiba di sini?” Ucap Nara dengan pasrah dengan pertunangan yang di rencanakan orang tuanya.


“Hehe, mungkin dia akan tiba di sini sekitar 2-3 hari lagi.” Ucap ayah Nara sambil tersenyum seperti sedang memenangkan sesuatu.


Nara yang melihat ayahnya tersenyum bibirnya berkedut.


Sial!


“Haa, aku keluar dulu. Aku ingin mencari udara segar.” Ucap Nara sambil keluar dari ruang kerja Duke Satya.


“Hati-hati jangan pulang terlalu makam.” Ucap ibu Nara mengingatkan.


“Iya.” Ucap Nara tanpa melihat ke belakang.


“Tup” pintu tertutup, menyisakan ibu dan ayah Nara.


“Kita tidak berlebihan kan?” Ucap ibu Nara dengan khawatir.


“Tidak, ini memang harus dilakukan.” Ucap ayah Nara sambil memeluk istrinya.


Di luar Mansion Duke Satya.


Nara keluar dengan membawa sabitnya dengan perasaan kesal. Berjalan keluar wilayah Duke Satya. Setiap warga yang melihat Nara melihat sabit langsung terdiam ketakutan.


Hingga sampailah Nara di depan gerbang wilayah Duke Satya.


Nara melewati mereka tanpa suara.


...—–—...


Di hutan yang tidak terlalu jauh dengan wilayah Duke Satya.


Sebuah kereta kuda berhenti di dekat pohon.


“Van, seperti kita agak tersesat.” Ucap wanita cantik dengan rambut panjang pirang keputihan.


“Ini bukan ‘agak’ lagi, kita memang tersesat, Nona.” Ucap wanita berambut hijau pendek sambil memperhatikan sekitar.


“Roarr” seekor wild beast beruang api muncul di dekat kereta kuda.


“Nona awas!” Ucap wanita berambut hijau menahan serang beruang api dengan pedang.


Wanita berambut pirang keputihan yang sadar dengan situasi bergerak cepat luar dari kereta kuda dan melihat sekeliling bahwa prajurit yang mengawalnya terluka.


“Vania awas, sepertinya wild beast itu berlevel 4.” Ucap wanita berambut pirang keputihan mengingatkan.


“Baik Nona.” Ucap wanita berambut hijau segera menghindar menjauhi beruang api.


Beruang api menerjang ke arah wanita berambut pirang keputihan dengan nafas api yang menyembur.


“Nona!” Ucap wanita berambut hijau berlari menghadang serangan beruang api.


“Aargh.” Ucap wanita berambut hijau kesakitan.


“Kau tidak apa-apa Vania.” Ucap wanita berambut pirang keputihan memeriksa punggung wanita berambut hijau pendek.


“Nona, Anda harus lari dari sini!” Ucap Vania sambil meyakinkan.


“Tidak.” Ucap wanita berambut pirang keputihan menolak usulan Vania.


Sementara drama berlangsung. Terdapat sesosok yang memerhatikan drama tersebut dari atas pohon.


“Apakah kalian gila?” Ucap seorang yang berada di atas pohon.


“Kalian masih saja memainkan drama, bahkan kematian menghampiri kalian.” Ucap seorang yang berada di atas pohon melompat turun.


“Roarr”


Beruang api langsung menerjang ke arah sesosok yang baru saja turun dari pohon.


“Slash-sreek”


beruang api langsung terbelah menjadi dua bagian.


Sesosok yang tubuhnya berlumuran darah dengan wajah acuh tak acuh berjalan mendekati wanita berambut pirang keputihan yang terlihat ketakutan.


“Mau apa kau?” Ucap wanita berambut pirang keputihan dengan ekspresi takut tapi datar.


Sesosok tersebut semakin mendekat. Sampai wanita berambut pirang keputihan bisa melihat dengan jelas wajah sosok tersebut.


Sosok tersebut memandangi wajah wanita berambut pirang keputihan dan langsung berbalik pergi meninggalkan wanita berambut pirang keputihan yang masih termenung.


Sesosok tersebut berjalan pergi sambil tersenyum membawa mayat beruang api dengan menyeretnya dengan sabit.


“Sreetk-sreetk”


Suara mayat beruang api yang terseret bergesekkah dengan tanah.


“Nona!” Ucap Vania menghampiri wanita berambut pirang keputihan.


“Aku baik-baik saja, Vania.” Ucap wanita berambut pirang keputihan dengan ekspresi datar.


“Vania coba kau lihat keadaan para prajurit dan keadaan kereta kuda.” Ucap wanita berambut pirang keputihan memerintahkan dengan nada datar.


“Baik, Nona.” Ucap Vania dengan langsung menjalankan tugas yang diberikan.


Sementara itu di depan gerbang wilayah Duke Satya. Terlihat seorang yang sedang menyeret mayat beruang api dengan sabit merah gelap.


“Sreetk-sreetk”


“Hei lihat itu!” Ucap seorang prajurit yang memperhatikan sosok yang menyeret mayat.


“Tunggu, bukankah itu Tuan Nara?” Ucap seorang prajurit lain.


Sosok tersebut terus berjalan menuju gerbang. Dan berhenti tepat di depan prajurit yang berjaga. Prajurit yang berjaga terlihat ketakutan melihat sosok yang wajahnya berlumuran darah.


“Kenapa?” Ucap sosok tersebut memandangi wajah prajurit yang ketakutan.


“Tidak ada, Tuan Nara.” Ucap mereka bersama dengan gugup dan ketakutan.


Nara mengabaikan mereka dan berjalan melewati mereka dengan santai tanpa dosa.


Mereka aneh, seperti mereka kekurangan istirahat.


Pikir Nara setelah melewati mereka.


Di depan pintu masuk mansion.


“Astaga, Nara kamu kenapa?” Ucap ibu Nara sambil memeriksa keadaan Nara.


“Nara, kamu tidak membunuh orang kan?” Ucap ayah Nara sambil menatap tajam.


“Aku tidak apa-apa, Bu. Dan tentu saja itu mungkin saja.” Ucap Nara dengan santai tanpa dosa.


“Kau ini dari mana saja!” Ucap ibu Nara sambil memukul kecil kepala Nara.


“Aduh, sakit sekali.” Ucap Nara sambil berakting kesakitan.


“Sudah, berhenti berakting. Segera bersihkan tubuhmu yang penuh dengan darah itu.” Ucap ibu Nara sambil menyuruh Nara.