The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Makan Malam Di Luar



...Makan Malam Di Luar...


Di ruang kerja Nara. Terlihat wanita dengan telinga runcing yang dengan raut wajah gugup.


“Jadi seperti ini, Lisa. Di kota Densar Coast aku menemukan seseorang alkemis.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil menetap Lisa.


“Apakah alkemis itu sangat hebat?” Ucap Lisa dengan penasaran.


“Bisa dibilang begitu. Karena apa yang dia buat belum pernah aku temukan di kerajaan Majapahit.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil mengangguk.


“Memangnya apa yang Anda temukan, Tuan Nara?” Ucap Lisa dengan semakin penasaran.


“Sesuatu hal yang seharusnya kamu mengetahuinya.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil mengeluarkan sebuah botol kaca dari cincin dimensi.


Di atas meja kerja Nara terlihat sebuah botol kaca. Dengan isi sesuatu berbentuk butiran-butiran yang memancarkan hawa sihir.


“Bukankah ini Mystical Plant Seeds, Tuan Nara?” Ucap Lisa dengan tidak percaya.


“Benar, ini adalah Mystical Plant Seeds. Alkemis yang aku temui di kota Densar Coast yang membuatnya.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Lalu apa yang bisa saya bantu, Tuan Nara?” Ucap Lisa dengan membungkuk hormat.


“Aku berniat untuk membuat lahan untuk menanam Mystical Plant Seeds di Eternal Blue Forest.” Ucap Nara dengan membuka sebuah peta sambil menunjuk bagian Blue Forest.


“Dan hasil menanam Mystical Plant Seeds. Aku ingin menjual sebagian kecilnya. Menurutmu bagaimana?” Ucap Nara dengan menatap mata Lisa.


Lisa terdiam sejenak dengan menutup matanya. Kemudian membuka matanya lalu menatap mata Nara.


“Itu ide yang bagus, Tuan Nara. Tapi bagaimana kalau kita mengekstrak khasiat dari Mystical Plant kemudian dijadikan sebagai ramuan atau obat.” Ucap Lisa sambil menatap Nara dengan gugup.


Nara terdiam sambil mengetukkan jarinya ke meja.


Hmm, ide yang bagus. Tidak hanya menjaga ketersediaan Mystical Plant di pasaran. Tapi juga menambah harga jual.


“Ide yang bagus, Lisa. Lalu begitu kita mulai minggu depan proyek Mystical Plant.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Terima kasih atas idenya, Lisa. Dan kamu bisa kembali.” Ucap Nara dengan tersenyum.


“Baik, Tuan Nara.” Ucap Lisa membungkuk hormat lalu keluar dari ruang kerja Nara.


setelah Lisa keluar dari ruang kerja Nara. Nara melanjutkan pekerjaannya yang tertunda selama liburan.


Haa, banyak hal yang harus aku kerjakan. Belum lagi aku harus menjadi pelayan bagi dua wanita itu.


...—–—...


Waktu terus berjalan hingga sang matahari terbenam di gantikan oleh sang bulan.


Di Ruang kerja Nara. Terlihat Nara yang sedang meregangkan badannya.


“Akhirnya selesai juga.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil meregangkan badannya.


Kemudian Nara berdiri melihat ke luar jendela. Dari luar jendela terlihat suasana malam yang tenang dengan langit yang dihiasi oleh ribuan bintang yang bersinar redup.


“Sepertinya enak kalau makan malam di luar.” Ucap Nara dengan tersenyum.


Setelah itu Nara mengetukkan kakinya ke lantai. Lalu keluar lingkaran sihir hitam.


"The Dark Giant's Mouth"


Dari lingkaran sihir hitam keluar mulut raksasa yang langsung melahap Nara.


...—–—...


Di salah satu kamar di Mansion Nara.


Terlihat dua wanita yang sedang duduk di sofa. Dengan ditemani oleh cangkir teh yang masih hangat di meja.


Dengan wanita berambut pirang keputihan yang sedang membaca buku dengan berbaring di atas paha wanita berambut hitam kecokelatan.


Dan wanita berambut hitam kecokelatan juga sedang membaca buku sambil sesekali mengelus rambut wanita yang sedang berbaring di atas pahanya.


Lalu dari lantai muncul lingkaran sihir hitam. Kemudian keluar mulut raksasa dari lingkaran sihir hitam. Dari dalamnya keluar pria berambut hitam legam.


“Nona!” Ucap wanita berambut pirang keputihan.


“Apakah Anda sudah makan, Nona Fiona dan Nona Marissa?” Ucap Nara dengan tersenyum terpaksa.


“Kebetulan kita belum makan. Buatkan kita makanan, pelayan magang.” Ucap Fiona dengan ekspresi mengejek sambil berdiri.


“Baiklah, Nona Fiona. Bagaimana kalau kita makan di luar, Nona Fiona dan Marissa?” Ucap Nara dengan mempertahankan senyumannya.


“Ide yang bagus.” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Kalau begitu mari saya antar, Nona Fiona dan Nona Marissa.” Ucap Nara dengan sedikit membungkuk sambil mengulurkan tangannya.


Kemudian Fiona dan Marissa menerima uluran tangan Nara. Lalu mereka berdekatan. Setelah itu dari lantai terlihat lingkaran sihir hitam.


Kemudian keluar mulut raksasa dari dalamnya melahap mereka.


...—–—...


Di halaman Mansion Nara.


Halaman Mansion yang cukup luas. Dengan bangunan seperti gazebo yang terlihat elegan. Sebagai pusat dari halaman Mansion.


Dan hamparan kebun bunga putih dan hitam menghiasinya. Dan cahaya remang-remang dari kunang-kunang api.


Kemudian dari tanah muncul lingkaran sihir hitam. Kemudian keluar mulut raksasa dari dalamnya. Mengeluarkan tiga orang.


“Wow, bagus juga suasananya.” Ucap Fiona dengan melihat sekeliling.


“Tidak kalah bagus dengan suasana kota Densar Coast.” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Silakan menunggu di dalam gazebo, Nona-nona.” Ucap Nara dengan ekspresi mempertahankan senyumannya.


“Masakan yang enak, pelayan magangku.” Ucap Fiona dengan tersenyum mengejek.


“Baik, Nona Fiona.” Ucap Nara dengan ekspresi jengkel.


“Oh iya, jangan lupa sediakan makanan untuk beastku dan beast Fiona.” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Baik, Nona Marissa.” Ucap Nara dengan tak acuh.


Kemudian Fiona dan Marissa berjalan menuju gazebo yang terlihat diterangi oleh cahaya lentera.


...—–—...


Tidak berselang lama. Nara menghampiri Fiona dan Marissa yang berada di gazebo. Dengan membawa nampan berisi makanan.


“Ini makanannya, Nona-nona.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil meletakkan nampan berisi makanan di meja.


“Heem, baunya enak.” Ucap Fiona dengan mencium bau makanan.


“Makanan apa ini?” Ucap Marissa dengan mata berbinar.


“Ini adalah daging kelinci air yang dibakar dengan bumbu madu lebah api.” Ucap Nara sambil duduk di sebelah mereka.


“Makanan untuk Wendy dan Naraya dimanah?” Ucap Marissa dengan bingung.


“Di sana. Bersama dengan Kala.” Ucap Nara sambil menunjuk ke arah luar gazebo.


“Wendy, kamu makan di sana.” Ucap Fiona dengan ekspresi tidak sabar untuk makan.


Kemudian keluar ular putih dari bagian bawah pakaian Fiona. Lalu berjalan menuju ke tempat Kala.


“Kamu juga, Naraya.” Ucap Marissa dengan menatap makanan.


Kemudian keluar paus putih dari bagian dada Marissa. Lalu melayang ke tempat Kala.


“Baiklah ayo kita makan. Selamat makan.” Ucap Fiona dengan bersemangat sambil langsung mengambil daging kelinci air.


Setelah itu mereka makan dengan tenang. Sambil bercanda dan mengobrol santai. Dan ditempat Kala para beast bermain dengan saling menyerang.