
...Upacara Kebangkitan Beast...
Setelah perjalanan beberapa meter dari area pertempuran tadi. Akhirnya Nara sampai di depan bangunan yang bernama “Singa Besi”.
Di dalam toko Singa Besi.
Nara di sambut oleh pria tua pendek berbadan kekar.
“Ada yang bisa dibantu?” ucap pria tua yang menghampiri Nara.
“Aku ingin membeli senjata.”
“Senjata seperti apa tuan? Silakan melihat-lihat dulu.” Ucap pria tua sambil mengajak Nara melihat-lihat tokonya
.
Nara melihat ada banyak sekali bermacam macam jenis senjata yang dijual di toko ini. Tetapi tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya.
“Apakah aku bisa memesan senjata? Seperti tidak ada yang menarik.” Ucap Nara dengan nada malas.
“Bisa, tapi mungkin agak lama tergantung pada kesulitan pembuatan dan bahan yang digunakan.” Jawab pria tua tersebut.
“Aku ingin senjata sabit panjang dengan pegangan tangan yang panjang. Untuk bahannya karena aku tidak terlalu mengerti bisa kau rekomendasikan?” jelas Nara.
“Bisa, Anda ingin karakteristik senjata sabit tersebut seperti apa?” tanya pria tua sambil membawa pena dan kertas.
“Mungkin sangat tajam, ringan, dan bisa menyesuaikan dengan sihir pengguna?” ucap Nara sambil berpikir.
“Kalau itu mungkin aku rekomendasikan menggunakan bahan batu hantu hitam, batu mana, dan untuk pegangannya menggunakan kayu hitam awan.” Ucap pria tua sambil menyerahkan kertas yang berisi bahan-bahan.
“Terserahlah, kau atur saja. Dan juga jangan terlalu lama aku berada di ibukota hanya 5 hari dari sekarang.” Ucap Nara memperingatkan pria tua.
“Baik Tuan, mungkin pesanan Anda akan selesai dalam waktu 3 hari dari sekarang.”
“Baguslah, berapa kira-kira harganya?”
“Harga kira-kira 6.000 koin emas hitam.”
“Baiklah, Tiara berikan uangnya.”
“Baik Tuan muda.” Ucap Tiara.
“Kalau begitu aku pergi dahulu.” Ucap Nara melangkah ke luar bangunan.
“Baik Tuan, terima kasih telah berbelanja.”
Setelah meninggalkan toko tersebut. Nara dan para pelayannya pergi menuju ke suatu bangunan yang digunakan untuk upacara kebangkitan beast.
Bangunan tersebut terlihat seperti bangunan bisa dengan ukuran yang cukup besar.
Di dalam bangunan upacara kebangkitan beast. Di bagian tengah bangunan terlihat panggung yang terdapat podium. Di sekeliling panggung terdapat kursi-kursi yang menghadap ke panggung.
Terlihat banyak sekali orang yang berkumpul mulai dari bangsawan hingga rakyat biasa. Mereka semua terlihat menunggu dimulainya upacara kebangkitan beast.
Nara memasuki bangunan dengan Lisa sedang Tiara menunggu di luar bangunan. Nara dan Lisa memilih kursi yang berada di paling atas.
Saat Nara sedang melihat sekeliling. Pandangan Nara tertarik dengan beberapa remaja yang terlihat seumuran dengannya.
Terlihat remaja laki-laki dengan rambut kuning keputihan yang duduk di barisan paling depan bersama dengan seorang wanita. Dia adalah putra mahkota kerajaan Majapahit. Dan sebelah putra mahkota adalah putri mahkota Ellisa yang memiliki warna rambut putih keperakan.
Selain itu Nara melihat remaja laki-laki dengan rambut merah yang memiliki penampilan berbadan sedikit lebar. Dia adalah putra dari Duke Bima. Duke Bima memiliki hubungan yang cukup baik dengan Duke Satya.
Di atas panggung.
“Selamat datang, para generasi muda yang berbakat. Perkenalkan nama saya Viona Rosella. Saya merupakan ahli beast. Saya dan para asisten saya akan memandu kalian semua dalam upacara kebangkitan beast.” Salam pembuka yang diucapkan oleh wanita tua yang bernama Viona Rosella.
Setelah salam pembuka tersebut satu-persatu dipanggil ke depan menuju panggung.
“Baiklah, kalau begitu mari kita mulai. Barisan depan dari kanan maju satu-persatu.” Ucap Viona Rosella.
Remaja yang dipanggil pun maju dengan membawa telur beast yang mereka bawa.
“Baiklah siapa namamu cantik?” Ucap Viona Rosella kepada remaja perempuan yang ia panggil.
“Nama saya Lina.” Ucap remaja perempuan.
“Baiklah Lina, letakkan telur beast yang kamu bawa ke wadah dudukan telur.” Ucap Viona Rosella sambil menunjuk wadah dudukan telur yang terbuat dari kayu dan sekelilingnya terdapat batu mana.
“Baik.” Ucap remaja perempuan tersebut sambil meletakkan telur beast ke dalam wadah.
“Setelah itu teteskan darahmu di atas telur beast. Jika kamu memiliki mana coba salurkan mana ke dalam telur beast. Tetapi jika tidak saya akan membantu mengalirkan mana.” Ucap Viona Rosella.
“Baik, saya memiliki mana karena saya seorang penyihir.” Ucap remaja perempuan sambil meneteskan darahnya.
“Baiklah kalau saya akan mengawasi dan memastikan tidak ada kesalahan dalam membangkitkan beast.” Ucap Viona Rosella.
Setelah itu remaja perempuan itu mengalirkan mananya pada telur beast sambil di awasi oleh Viona Rosella.
Tidak lama kemudian. Terlihat retakan demi retakan terlihat di telur beast yang dialiri mana oleh remaja perempuan tersebut.
Retakan bertambah banyak dan akhirnya muncullah seekor burung yang terlihat memiliki bulu yang dilapisi oleh api berbentuk mahkota. Burung tersebut terlihat seperti anak burung.
“Selamat, kamu telah membangkitkan beast burung Hoopoe atau burung upapa bermahkota api.” Ucap Viona Rosella memberi selamat.
“Terima kasih. Apa yang harus saya lakukan untuk merawatnya?” Tanya remaja perempuan.
“Kamu harus memberikan makanan biasa, makanan yang mengandung mana, dan untuk meningkatkan levelnya kamu harus memberikan makanan yang berupa daging atau tanaman yang mengandung elemen yang sama dengan beast kamu. Untuk tempat tinggal itu tidak perlu karena beast biasanya akan tinggal di dalam jiwa pemiliknya.” Jelas Viona Rosella.
“Begitu, terima kasih.” Ucap remaja perempuan.
“Baiklah, silakan masukkan beast kamu ke dalam jiwa dengan ucapkan mantra “Aether” dan untuk mengeluarkan ucapkan mantra “Exiter”. Begitulah cara mengeluarkan dan memasukkan beast.” Jelas Viona Rosella.
Setelah itu majulah satu-persatu remaja ketika giliran mereka tiba.
Tibalah saat seseorang remaja pria yang menarik perhatian Nara. Dia adalah putra mahkota.
“Selamat datang, putra mahkota.” Ucap Viona Rosella dengan sopan.
“Tidak perlu terlalu formal, panggil saja Ryan Lewis.” Ucap putra mahkota.
“Baiklah, putra mahkota Ryan.” Ucap Viona Rosella dengan mempertahankan sikap sopannya.
“Silakan letakkan telur beast yang di wadah telur. Kemudian ikuti instruksi seperti yang sebelumnya.” Ucap Viona Rosella.
“Baik.” Ucap putra mahkota Ryan. Putra mahkota Ryan mengikuti instruksi seperti yang sebelumnya.
Tibalah saatnya meneteskan darahnya di atas telur. Telur beast yang di bawa putra mahkota Ryan terlihat mulai retak. Saat semua cangkang telur terbuka terlihat seekor singa putih dengan aura dingin es.
“Selamat putra mahkota Ryan, telah membangkitkan beast yang langka Singa Putih Es.” Ucap Viona Rosella memberi selamat.
“Terima kasih. Aether!” Ucap putra mahkota Ryan sambil mengucapkan mantra.
Setelah itu putra mahkota Ryan turun dari panggung dan kembali ke tempat duduknya. Dan dilanjutkan dengan para peserta yang lainnya.