The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Pemasok Mystical Plant Seeds



...Pemasok Mystical Plant Seeds...


“Tuan Nara seperti telinga saya terganggu. Bisa Tuan Nara ulangi lagi.” Ucap Laura dengan pelan.


“Aku bilang aku akan memberikan 1.000.000 koin emas hitam. Dan kamu harus menjadi pemasok Mystical Plant Seeds untukku.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Anda serius? Pembelian Mystical Plant Seeds yang tadi saja sangat mahal.” Ucap Laura dengan tidak percaya.


“Apa aku terlihat bercanda? Lagi pula susah mencari pemasok Mystical Plant Seeds di benua Nusantara.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil menatap Laura.


“Sebenarnya berapa penghasilanmu, Nara? Hingga bisa mengeluarkan uang dengan begitu mudahnya. ” Ucap Marissa dengan ekspresi penasaran.


“Dia tidak berpenghasilan besar. Tapi yang aku tahu jika dia bisa mengeluarkan uang dengan jumlah banyak. Pasti akan ada untung berkali-kali lipat.” Ucap Fiona dengan ekspresi santai.


“Jadi bagaimana Laura? Apakah kamu mau menjadi pemasok Mystical Plant Seeds untukku?” Ucap Nara dengan serius sambil mengulurkan tangannya.


“Saya menerima tawaran Anda, Tuan Nara.” Ucap Laura dengan mata berair sambil menjabat tangan Nara.


“Selamat Laura! Kamu sudah menjadi alkemis dengan penghasilan yang besar.” Ucap Marissa dengan tersenyum sambil bertepuk tangan.


“Haha, selamat Laura!” ucap Fiona dengan tersenyum.


“Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Besok aku akan kembali dan mendiskusikan lagi tentang ini.” Ucap Nara dengan berjalan keluar dari toko Laura.


“Daah. Sampai besok, Laura.” Ucap Fiona dengan berjalan mengikuti Nara.


“Sampai besok, Laura.” Ucap Marissa dengan tersenyum sambil berjalan keluar dari toko Laura.


“Sampai bertemu besok, Tuan dan Nona.” Ucap Laura dengan membungkuk hormat.


...—–—


...


Saat langit gelap dengan diterangi oleh cahaya rembulan. Di salah satu kamar di penginapan Star Sea.


“Haa, besok sudah harus kembali ke South Of Eternal Center.” Ucap Nara dengan wajah malas sambil tiduran di kasur.


“Apa kamu tidak kasihan dengan Tiara, Lisa, dan Vania yang harus kembali untuk mengawasi wilayahmu.” Ucap Fiona dengan menikmati Wine ditemani oleh Marissa.


“Apa kamu ikut ke South Of Eternal Center, Marissa?” Ucap Nara dengan duduk di tepi kasur sambil menatap Marissa.


“Memangnya kenapa aku harus ikut? Aku akan bukan siapa-siapa kamu.” Ucap Marissa dengan pelan sambil menatap Nara.


“Heh, kalau begitu aku akan membuatmu menjadi milikku.” Ucap Nara dengan tersenyum.


“Hahaha, kenapa kamu bersikap seperti itu, kak Marissa? Bagaimana kalau kita bermain bertiga?” Ucap Fiona dengan ekspresi nakal di wajahnya.


“Hehe, aku tidak akan menolak.” Ucap Nara dengan tersenyum.


“Aku tidak keberatan.” Ucap Marissa dengan muka memerah sambil menghampiri Nara.


“Hahaha, aku juga ingin ikut.” Ucap Fiona sambil mendekati Nara.


“Akan aku buat kalian tidak bisa berjalan besok.” Ucap Nara sambil tersenyum.


Dari malam yang sunyi dengan nyanyian serangga. Berganti dengan malam yang penuh teriakan dan erangan dari kamar Nara.


...—–—


...


Pada pagi yang indah dengan udara yang masih sejuk. Di restoran luar ruangan penginapan Star Sea.


Saat para tamu masih fokus dengan sarapannya. Perhatian mereka dicuri oleh tiga orang yang sedang berjalan menuju salah satu meja yang kosong.


“Seperti biasa Tuan Nara terlihat tampan.” Ucap tamu wanita dengan wajah memerah.


“Kamu benar, bahkan dengan pakaian yang santai masih terlihat tampan.” Ucap tamu wanita.


“Tapi Nona Fiona dan wanita di sebelahnya terlihat aneh.” Ucap tamu wanita dengan penasaran.


“Iya, cara berjalan mereka terlihat aneh. Seperti ada sesuatu yang sakit atau perih.” Ucap tamu wanita berpendapat.


...—–—...


Di salah satu meja kosong di restoran penginapan Star Sea.


“Apakah dia memang seperti itu ketika di ranjang, Fiona?” Ucap Marissa sambil duduk secara perlahan.


“Tadi malam tidak seberapa. Saat hanya aku sendiri, dia lebih gila lagi, kak Marissa.” Ucap Fiona dengan ekspresi jengkel sambil menatap tajam mata Nara.


“Hahaha, kamu terlalu meremehkan kekuatanku, Marissa.” Ucap Nara dengan tersenyum.


Tidak lama kemudian pelayan menghampiri meja mereka. Dan meletakkan beberapa menu makanan untuk sarapan yang autentik kota Densar Coast.


Setelah makanan dan minuman telah tiba semuanya. Mereka mulai sarapan dan mengobrol ringan.


Beberapa saat kemudian. Mereka telah selesai sarapan lalu pergi dari restoran penginapan Star Sea.


...—–—...


Warga kota Densar Coast di pagi hari. Banyak yang sedang bersikap membuka toko. Ada juga yang terlihat baru pulang dari menangkap ikan di laut.


Saat sedang berjalan menuju toko Laura. Tercium aroma yang enak dari salah satu toko yang baru buka.


Aroma yang enak itu sulit untuk menolak untuk melihatnya. Mereka menghampiri toko yang mengeluarkan aroma yang enak tersebut.


“Selamat datang Tuan dan Nona. Silakan mencoba Pai Susu yang terbuat dari susu sapi air.” Ucap wanita tua menyambut kedatangan Nara dan lainnya.


“Aroma yang enak seperti biasanya, bibi Sinta.” Ucap Marissa dengan tersenyum sambil mengambil salah satu Pai Susu.


“Ternyata itu Anda, Nona Marissa. Saya sudah lama tidak melihat Anda.” Ucap wanita tua dengan tersenyum.


“Aku mau coba satu, bibi.” Ucap Fiona dengan ekspresi tidak sabar.


“Baik, ini untukmu Nona cantik.” Ucap wanita tua sambil memberikan satu Pai Susu.


“Hmm! Ini enak sekali bibi. Nara cobalah kamu pasti suka.” Ucap Fiona sambil menyuapi Nara.


“Enak, aku mau lima potong Pai Susu, bibi.” Ucap Nara dengan santai.


“Hehe, bibi Sinta adalah pembuatan Pai Susu terenak di kota Densar Coast.” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Anda bisa saja, Nona Marissa. Ini pesanannya Tuan tampan. Harganya 5 koin emas hitam.” Ucap wanita tua sambil menyerahkan kantong kertas kepada Nara.


“Ini uangnya bibi.” Ucap Nara sambil memberikan koin emas hitam.


“Ini terlalu banyak, Tuan.” Ucap wanita tua dengan tidak enak.


“Tidak apa-apa, bibi. Kalau begitu saya permisi dulu.” Ucap Nara sambil berjalan pergi.


“Aku pergi dulu, bibi Sinta.” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Daa, bibi Sarah.” Ucap Fiona dengan tersenyum.


...—–—...


Setelah melangkah beberapa lama. Mereka sampai pada toko yang terlihat tidak terurus. Mereka masuk dengan disambut dengan suara.


Kring


Pintu terbuka memperlihatkan dalam toko yang terlihat lebih terawat dari para luarnya. Di salah satu meja terlihat beberapa botol kaca telah tertata rapi.


“Selamat datang, Tuan dan Nona.” Ucap wanita dengan lingkar mata hitam.


“Kenapa dengan kamu, Laura.” Ucap Marissa dengan khawatir.


“Saya tidak tidur semalaman, Nona Marissa.” Ucap Laura dengan menguap.


“Kenapa kamu tidak tidur?” Ucap Marissa dengan melihat wajah Laura.


“Hehe, saya terlalu senang dan terkejut dengan apa yang terjadi kemarin.” Ucap Laura dengan tersenyum.


“Hahaha, kamu sampai tidak tidur. Kamu terlalu mengejutkannya Nara.” Ucap Fiona dengan ekspresi senang.


“Sudahlah, Laura mari kita diskusikan lagi tentang perjanjian kerja sama.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Baik, Tuan Nara. Mari silakan masuk ke ruang kerja saya.” Ucap Laura sambil memandu jalan.


...—–—...


Laura memandu Nara masuk ke dalam ruangan. Di ruangan itu terlihat berantakan. Dengan keras berserakan dimana-mana.


Di ruangan ini terdapat banyak tabung kecil yang berisikan semacam cairan. Dalam cairan tersebut terdapat benda berbentuk butiran.


“Selamat datang di ruang kerja saya, Tuan Nara.” Ucap Laura dengan tersenyum.


“Jadi disini terciptanya Mystical Plant Seeds?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Benar, Tuan Nara. Di dalam tabung-tabung reaksi tersebut terdapat Mystical Plant Seeds yang hampir jadi.” Ucap Laura dengan menunjuk salah satu tabung reaksi.


“Baiklah, ayo kita mulai diskusinya.” Ucap Nara sambil duduk di sofa.


“Baik, Tuan Nara.” Ucap Laura dengan duduk di hadapan Nara.


“Seperti telah dibahas kemarin. Aku ingin kamu menjadi pemasok Mystical Plant Seeds.” Ucap Nara dengan tak acuh.


Laura hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Aku tidak hanya ingin kamu menjadi pemasok biasa. Aku juga ingin kamu mengembangkan berbagai jenis Mystical Plant Seeds.” Ucap Nara dengan serius.


“Tapi itu agak sulit, Tuan Nara. Selain tingkat keberhasilan yang kecil. Sumber daya yang dibutuhkan juga besar.” Ucap Laura dengan gugup.


“Kamu tidak perlu memikirkan tentang sumber daya. Aku yang akan memberikannya kepadamu.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Sebagai gantinya aku ingin kamu membuat berbagai jenis Mystical Plant Seeds. Bagaimana kamu mau?” Ucap Nara dengan melihat mata Laura.


“Baik, saya bersedia, Tuan Nara.” Ucap Laura dengan yakin.


“Kalau begitu mari kita buat surat perjanjiannya.” Ucap Nara dengan mengeluarkan kertas dari cincin dimensi.