The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Mystical Plant Seeds



...Mystical Plant Seeds...


Di sebuah toko yang atap bangunannya terlihat akan roboh. Dinding bangunan yang ditumbuhi oleh tanaman rambat. Terdengar suara pintu terbuka dengan ditandai dengan bunyi bel.


Kring


Pintu toko terbuka dengan melihat dua orang wanita dan satu pria.


“Kita tidak salah tempatkan, kak Marissa?” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan.


“Tidak, ini merupakan salah satu toko yang harus kamu kunjungi di kota Densar Coast, Fiona.” Ucap wanita cantik berambut hitam kecokelatan.


“Toko ini memiliki aura mana yang aneh.” Ucap pria tampan berambut hitam legam sambil memperhatikan sekitar.


Saat mereka sedang berbincang-bincang dan memperhatikan isi toko yang terlihat berdebu.


Tidak lama setelah mereka menunggu. Dari salah satu pintu di dalam toko terbuka. Memperlihatkan seorang wanita pendek dengan memakai topi boater di kepalanya.


“Anda datang berkunjung, Nona Marissa. Apakah ada yang ada inginkan, Nona Marissa?” Ucap wanita berambut coklat sambil membungkuk hormat.


“Tidak ada, aku hanya ingin merekomendasikan tokomu kepada mereka, Laura.” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Oh, begitu. Salam kenal, nama saya Laura Kiara. Saya seorang alkemis wilayah laut selatan.” Ucap Laura memperkenalkan dirinya.


“Iya, salam kenal juga. Fiona Larissa dan dia adalah Nara Satya.” Ucap Fiona memperkenalkan dirinya dan Nara.


“Oh, Anda adalah penguasa South Of Eternal, Tuan Nara Satya. Dan Anda adalah tunangan Tuan Nara.” Ucap Laura dengan mata berbinar.


“Laura, bukankah sebaiknya kamu memperkenalkan produk jualanmu pada mereka.” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Hehe, maaf Nona Marissa. Saya terlalu bersemangat melihat tokoh penting selain Anda.” Ucap Laura dengan tersenyum sambil menggaruk kepalanya.


“Mari silakan lihat-lihat.” Ucap Laura dengan tersenyum.


...—–—...


Setelah itu Nara mulai berkeliling mencari apa yang menarik perhatiannya. Di dalam toko Laura terdapat banyak etalase kaca.


Yang terlihat di dalamnya terdapat botol kaca dengan isinya berbagai warna dan bentuk. Tidak hanya botol-botol ramuan.


Di dalam toko Laura terdapat berbagai macam benda sihir. Mulai dari tongkat sihir sampai dengan kristal mana.


Tapi semua itu tidak menarik perhatian Nara. Saat Nara hendak kembali. Matanya langsung tertuju pada sebuah etalase kaca di pojok ruangan.


Di dalam etalase kaca itu terdapat botol kaca. Di dalam botol-botol kaca tersebut tidak terdapat cairan ramuan.


Tetapi di dalamnya terdapat semacam benda berbentuk butiran. Butiran-butiran yang ada di dalamnya memiliki berbagai bentuk dan warna.


Tidak hanya berbeda bentuk dan warna. Butiran-butiran itu juga memiliki berbagai macam tekstur retakan yang mengeluarkan mana yang berbeda-beda.


“Hei, apakah ini juga barang jualanmu, Laura?” Ucap Nara dengan tidak mengalihkan pandangan dari etalase kaca tersebut.


“Benar, Tuan Nara. Ini juga merupakan produk jualanmu buatan saya sendiri.” Ucap Laura sambil menghampiri Nara.


“Kamu serius?” Ucap Nara dengan tak percaya.


“Saya serius, Tuan Nara. Ini merupakan produk buatan saya sendiri.” Ucap Laura dengan mata berair.


“Hei, kenapa kamu menangis?” Ucap Nara dengan terkejut.


“Nara, apa yang kamu lakukan? Sampai membuat Laura menangis.” Ucap Fiona dengan menatap tajam ke arah Nara.


“Ada apa Laura? Bilang saja jika Nara mengganggumu.” Ucap Marissa dengan tersenyum sambil mengelus punggung Laura.


“Apakah itu benar, Laura?” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Iya, itu benar. Tuan Nara memang berkata seperti itu.” Ucap Laura sambil menghapus air matanya.


“Tapi kenapa kamu menangis?” Ucap Fiona dengan ekspresi penasaran.


“Karena Tuan Nara tidak percaya jika itu adalah buatanku sendiri.” Ucap Laura sambil menunjuk etalase kaca yang berada di belakang Nara.


“Aku berkata seperti itu karena terkejut melihat benda yang begitu menarik ada disini.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Memangnya apa yang isi botol-botol kaca itu, Laura?” Ucap Fiona dengan ekspresi penasaran.


Setelah mendengar pertanyaan Fiona. Laura berjalan mengambil salah satu botol kaca yang ada di etalase tersebut dan kembali ke tempatnya.


“Ini adalah biji tanaman mistis atau Mystical Plant Seeds. Biji tanaman mistis ini terbentuk dari biji tanaman sihir yang saya kontaminasikan dengan hawa mana yang kuat dan terus-menerus.” Ucap Laura sambil membuka tutup botol kaca.


Setelah membuka tutup botol kaca. Laura mengeluarkan tiga biji tanaman mistis dan membagikannya ke pada Nara, Fiona dan Marissa.


“Wow, biji tanaman ini unik sekali. Mengeluarkan hawa mana yang aneh.” Ucap Fiona sambil memperhatikan dengan saksama biji tanaman mistis.


“Aku baru tahu kamu membuat ini Laura.” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Itu, karena ini hanya produk yang belum berhasil. Aku sudah mencoba menanamnya tapi tidak tumbuh.” Ucap Laura dengan gugup.


“Tentu saja itu tidak akan tumbuh. Mystical Plant hanya akan tumbuh jika yang ditanam oleh seorang Class Farmer.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil terus memperhatikan biji tanaman mistis ditangannya.


“Kalau tidak salah Classmu adalah Farmer. Jadi alasan kenapa kamu begitu tertarik karena ini berhubungan dengan Classmu.” Ucap Fiona dengan menatap Nara.


“Iya, aku sudah mencoba mencarinya di ibukota Kerajaan Majapahit. Tapi tidak pernah menemukannya.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Apakah Anda yakin bisa menumbuhkannya, Tuan Nara?” Ucap Laura tidak percaya dengan perkataan Nara.


“Kamu tidak percaya? Perlu aku buktikan?” Ucap Nara dengan tak acuh.


Laura hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Haa, baiklah ayo kita buktikan.” Ucap Nara sambil mengetukkan kakinya di lantai dengan pelan.


Setelah itu muncul mulut raksasa yang keluar dari lantai toko Laura. Mulut raksasa kegelapan menelan.


...—–—...


Di sebuah pulau kecil yang terlihat indah dengan terdapat sedikit area pantai. Muncul mulut raksasa dari tanah. Mengeluarkan empat orang dari mulutnya.


Satu pria yang terlihat tak acuh. Dua wanita cantik yang terlihat bisa saja. Dan seorang wanita yang mengenakan topi boater yang terduduk di tanah.


“Haa-haa, kenapa Anda tidak bilang terlebih dahulu, Tuan Nara. Saya berpikir tadi adalah akhir hidup saya.” Ucap Laura dengan terengah-engah.


Nara hanya melihat Laura dengan tersenyum Lalu pergi ke tempat yang memiliki tanah yang cukup luas.


“Haha, kamu tidak apa-apa, Laura?” Ucap Marissa membantu Laura berdiri.


“Kamu akan terbiasa dengan kemalasan Nara untuk berpindah tempat. Sehingga membuat makhluk kegelapan hanya untuk mengantarnya.” Ucap Fiona dengan tersenyum.


“Saya sudah mendengar tentang sifat malas Tuan Nara yang terkenal di kerajaan Majapahit. Tapi saya tidak menyangka sampai seperti ini.” Ucap Laura dengan ekspresi terkejut.


“Hehe, sudahlah lupakan. Kita kesini untuk melihat kebenaran perkataan Nara.” Ucap Marissa sambil berjalan menuju tempat Nara.


Fiona dan Laura juga langsung mengikuti Marissa ke tempat Nara berdiri dengan melihat sekelilingnya.