
...Wedang Uwuh...
Di kota Dwarf yang terletak di dalam gunung Sacred Mountain.
Terlihat sebuah kereta berwarna hitam yang berjalan menuju sebuah bangunan yang berbeda dari yang lainnya.
Kota Dwarf sendiri terbentuk dari sebuah gua yang cukup luas hingga seluas kota.
Menurut Hugo mereka para Dwarf tinggal di sini sudah hampir beberapa abad yang lalu.
Mereka para Dwarf sebenarnya tinggal di sebuah benua yang bernama Benua Masenan.
Bangunan yang kereta berwarna hitam itu tuju terletak di pusat kota Dwarf.
Sebuah bangunan yang terlihat lebih mewah dan terjaga dari pada yang lainnya.
...—–—...
Setelah kereta hitam tersebut sampai pada depan bangunan tersebut.
Terlihat seorang pria tampan berambut hitam bermata merah gelap turun dari kereta.
Dan di ikuti oleh beberapa orang yang berada di dalam kereta tersebut.
“Jadi ini rumah pemimpin kota Dwarf.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil melihat sekitar.
“Benar ini adalah rumah Nyonya Agnes Taylor.” Ucap Hugo dengan memperkenalkan.
Kemudian mereka berjalan menuju rumah pemimpin kota Dwarf.
Saat hampir mendekati pintu bangunan tersebut.
Tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita cantik berbadan pendek.
Wanita tersebut memandang sejenak ke arah Nara lalu membungkuk hormat.
“Selamat datang di kota Dwarf, Penguasa South Of Eternal Mojopahit.” Ucap wanita tersebut dengan sopan.
“Tidak perlu sampai membungkuk, Pemimpin kota Dwarf.” Ucap Nara dengan tak acuh.
Kemudian wanita Dwarf cantik tersebut berhenti membungkuk lalu menatap Nara.
“Silakan masuk, Penguasa South Of Eternal Mojopahit.” Ucap wanita tersebut sambil mempersilakan masuk.
Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah sang pemimpin kota Dwarf.
Dalam rumah pemimpin kota Dwarf tersebut terlihat begitu penuh dengan alat-alat yang terkenal di buat oleh Ras Dwarf.
Mulai dari alat sederhana hingga alat perang menjadi hiasan di dalam rumah tersebut.
...—–—...
Mereka berjalan hingga mereka memasuki sebuah ruangan yang terlihat mewah.
Sebuah ruangan yang terdapat beberapa sofa panjang dan sebuah meja sebagai pusatnya.
Kemudian wanita tersebut mempersilakan Nara dan rombongannya untuk duduk.
“Silakan duduk, Tuan Nara.” Ucap wanita tersebut dengan tersenyum.
Setelah mendengar itu Nara dan yang lainnya duduk di sofa.
Kemudian wanita tersebut juga duduk di hadapan Nara dan yang lainnya.
Tidak lama setelah wanita itu duduk keluarlah beberapa orang berbadan pendek yang mengenakan pakaian pelayan.
Pelayan-pelayan tersebut membawa beberapa minuman di nampan mereka.
Kemudian pelayan-pelayan tersebut menghampiri Nara dan rombongannya.
“Silakan, Tuan.” Ucap salah satu pelayan yang menghampiri Nara.
Nara memperhatikan segelas minuman yang berwarna kemerahan dengan aroma yang harum.
“Apa ini, Nyonya?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Panggil saja saya dengan nama Agnes Taylor, Tuan Nara.” Ucap Agnes dengan tersenyum.
“Dan untuk yang berada di tangan Anda itu adalah wedang Uwuh.” Ucap Agnes menjelaskan.
“Apakah ini minuman khas kota Dwarf?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Benar, Tuan Nara.” Ucap Agnes dengan tersenyum.
Kemudian dengan penasaran Nara mencoba untuk meminum apa yang disebut wedang uwuh tersebut.
Nara meminumnya dengan pelan sambil mencoba merasakan rasanya.
Setelah beberapa teguk Nara membuka mulutnya dan menatap ke arah Agnes.
“Wow, minuman ini cukup enak.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Terima-kasih atas pujiannya, Tuan Nara.” Ucap Agnes dengan tersenyum.
Melihat tuan mereka meminum minuman yang terlihat aneh tersebut.
Dan mereka memperlihatkan reaksi yang sama dengan Nara.
“Hmm, enak sekali.” Ucap Tiara dengan mata berbinar.
“Benar, ini enak juga.” Ucap Javier dengan tersenyum.
“Minuman ini berasa menghangatkan.” Ucap Lidya dengan tenang.
“Hmm, apa aku bisa meminta lagi?” Ucap Joy dengan tersenyum lebar.
“Hahaha, syukurlah jika kalian suka.” Ucap Agnes dengan tersenyum.
“Pelayan berikan lagi Nona kecil ini wedang uwuh.” Ucap Agnes dengan tersenyum.
...—–—...
Kemudian suasana kembali menjadi serius ketika Agnes membuka pembicaraan.
“Jadi apa yang membuat Anda kemari, Tuan Nara?” Ucap Agnes dengan serius.
“Aku berniat untuk menyatukan South Of Eternal.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Menyatukan? Apa maksud Anda, Tuan Nara?” Ucap Agnes dengan bingung.
“Aku ingin tidak hanya wilayah-wilayah yang berada di naunganku yang berkembang.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Tapi aku juga ingin ras-ras tinggal di dalamnya juga ikut berkembang.” Ucap Nara dengan serius.
Agnes sedikit terkesan dengan omongan Nara. Lalu dia diam sejenak mencerna omongan Nara.
“Bagaimana Anda akan mewujudkannya, Tuan Nara?” Ucap Agnes dengan penasaran.
“Tentu saja dengan uang.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Uang?” Ucap Agnes dengan bingung.
“Iya, uang. Tapi juga kekuatan.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Tapi bagaimana Anda mendapatkan uang untuk mewujudkannya?” Ucap Agnes dengan penasaran.
“Dengan menjalin kerja sama dengan siapa saja.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Dengan siapa saja? Jadi Anda tidak membeda-beda partner bisnis?” Ucap Agnes yang penasaran.
“Benar, siapa saja yang membawa keuntungan aku menerimanya.” Ucap Nara dengan santai.
“Bagaimana jika ada yang berkhianat?” Ucap Agnes yang mulai percaya dengan Nara.
“Heh, tentu saja.” Ucap Nara dengan tersenyum lebar sambil mengeluarkan aura hitam.
“Tapi sebelum itu terjadi kita harus melihat bagaimana partner bisnis kita.” Ucap Nara dengan tersenyum sambil menarik aura hitamnya.
“Jadi begitu, apa Anda mau kami menjadi rekan bisnis, Tuan Nara?” Ucap Agnes dengan tersenyum.
“Benar, aku ingin kalian menjadi partner bisnisku.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Tapi sebelum itu, saya memiliki permintaan kepada Anda.” Ucap Agens dengan tenang.
“Apa itu, Nyonya Agens?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Aku ingin melihat bagaimana partner yang akan berbisnis dengan kami.” Ucap Agnes dengan tenang.
Nara tersenyum dengan permintaan Agnes tentang melihat partner bisnis.
“Bagaimana saya harus membuktikannya, Nyonya Agnes?” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Kami para Dwarf hanya percaya pada apa yang ada di depan mata kami.” Ucap Agnes dengan tenang.
“Kami ingin Anda bertarung dengan salah satu pejuang kami.” Ucap Agnes kepada Nara.
“Hmm, kapan kita mulai?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Kita bisa mulai besok siang, Tuan Nara.” Ucap Agens dengan tersenyum.
“Begitu, apakah pertarungan itu pertarungan hidup dan mati?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Tentu saja tidak, Tuan Nara.” Ucap Agnes dengan tersenyum.
“Apakah ada peraturan lain?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Anda harus menahan kekuatan Anda.” Ucap Agnes dengan tersenyum.
“Baiklah.” Ucap Nara dengan tak acuh.
Kenapa aku harus menahan diri? Apakah aku terlalu kuat?
Pelayan tolong antar para tamu ke kamar tamu yang tersedia. Ucap Agnes dengan tersenyum.
Kemudian para pelayan menghampiri Nara dan rombongannya dan mengantarkan mereka pada kamar tamu.
Semoga besok tidak ada yang begitu bodoh memprovokasi Tuan Nara. Ucap Agnes sambil menatap kepergian Nara.