The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Jangan Macam-macam



...Jangan Macam-macam...


Di sebuah kamar yang terlihat mewah.


“Haa, lelah sekali.” Ucap pria tampan berambut hitam legam yang sedang berbaring di tempat tidur.


Tentu saja kau lelah, dasar Tuan aneh. Kau berlari ke sana kemari sambil membantai wild beast yang terlihat tanpa merubah raut wajahmu yang tak acuh dan malas. Dasar aneh.


Pikir burung Gagak Hitam yang dari tadi memandangi pria tampan berambut hitam legam itu dengan raut wajah jengkel.


“Kala, coba kau ikuti wanita berambut pirang keputihan tadi.” Ucap Nara kepada burung Gagak Hitam yang dari tadi memandangnya dengan tatapan aneh.


Dia tidak akan menyebarkan rumor aneh tentangku kan?


Pikir Nara tentang wanita berambut pirang keputihan tersebut.


“Oakh”


Suara Kala yang kemudian terbang keluar jendela menuju hutan.


“Hoam, sepertinya aku harus tidur.” Ucap Nara sambil memandangi langit yang mulai menjadi oren gelap.


...—–—...


Sementara pria tampan berambut hitam legam itu tertidur. Burung Gagak Hitam sedang sibuk mengikuti rombongan wanita berambut pirang keputihan yang mulai memasuki gerbang Wilayah Duke Satya.


Rombongan wanita berambut pirang keputihan tersebut berhenti di salah satu penginapan yang bernama Clover Red.


Di salah satu kamar di Penginapan Clover Red.


“Nona, seperti kita sedang diikuti.” Ucap Vania dengan berbisik.


“Biarkan saja.” Ucap wanita berambut pirang keputihan dengan santai tanpa rasa khawatir.


“Tapi-” Ucap Vania yang tidak setuju dengan Keputusan wanita berambut pirang keputihan tersebut.


“Tidak apa-apa, Vania.” Ucap wanita berambut pirang keputihan tersebut menenangkan Vania.


“Baik, Nona.” Ucap Vania menyerah dan patuh pada perintah wanita berambut pirang keputihan tersebut.


Sepertinya ada yang mencoba bermain denganku.


Pikir wanita berambut pirang keputihan dengan ekspresi datar.


Wendy, coba kau sapa tamu kita yang satu ini. Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan dengan pelan tanpa merubah raut wajah datar.


Sebuah siluet putih keluar dari bayangan wanita tersebut dan keluar dengan cepat melalui jendela menuju sebuah pohon yang tidak jauh dari jendela kamar wanita berambut pirang keputihan tersebut.


...—–—...


Di atas dahan pohon yang berada tidak jauh dari jendela wanita berambut pirang keputihan.


“Sssss, mau apa kau dengan Nona Fiona. ” Ucap seekor ular putih dengan rantai emas sebagai hiasan di sekelilingnya.


“Oakh, tidak ada.” Ucap burung Gagak Hitam yang tidak memperdulikan ular putih yang berada di dekatnya.


“Sssss, kau seperti burung jelek yang menyebalkan.” Ucap ular putih dengan mengejek burung Gagak Hitam.


“Oakh, kau juga adalah ular paling tidak anggun yang pernahku temui.” Ucap burung Gagak Hitam membalas ejekan ular putih.


“Sssss.”


Ular Putih langsung menyerang burung Gagak Hitam.


“Oakh.”


Burung Gagak Hitam menghindar serangan gigitan dengan terbang.


Serangan terus berlanjut dengan Ular Putih mengeluarkan sihir rantai emas yang langsung mencoba mengikat Burung Gagak Hitam.


“Cring.”


Suara rantai emas yang berhasil mengikat Burung Gagak Hitam.


“Oakh, sial.” Ucap Burung Gagak Hitam yang menggerutu.


“Sssss, Haha, kena Kau. Dasar Gagak jelek.” Ucap Ular Putih sambil tersenyum.


“Oakh.”


Burung Gagak Hitam terus bergerak melepas diri dan tiba-tiba menghilangkan.


“Oakh.”


Burung Gagak Hitam yang telah terbebas langsung menyergap dan mengangkat Ular Putih terbang tinggi dan tiba-tiba menukik tajam ke arah dahan pohon dan menghilangkan menjadi asap hitam.


“Braak.”


Ular Putih bertabrakan dengan dahan pohon.


“Oakh-Oakh, hahaha rasakan itu, dasar Ular jelek.” Ucap Burung Gagak Hitam mengejek dan kemudian terbang meninggalkan Ular Putih yang masih terlihat kesakitan.


“Sssss, sialan, dasar Gagak jelek.” Ucap Ular Putih yang kemudian langsung berubah menjadi siluet putih dan kembali menuju jendela kamar penginapan.


...—–—...


Di salah satu kamar penginapan Clover Red.


“Sssss.”


Siluet putih memasukkan kamar melewati jendela.


“Sssss.”


Ular Putih tersebut mengangguk.


"Saya tidak apa-apa, Nona Fiona." Ucap Ular Putih melalui pikiran.


“Baguslah, jadi siapa yang kamu lawan?” Ucap wanita berambut pirang keputihan sambil mengalirkan mana putih keemasan ke tubuh Ular Putih.


“Sssss.”


Ular Putih tersebut menatap wanita berambut pirang keputihan tersebut.


"Saya tadi melawan Gagak Hitam jelek dan aneh. Tapi dia berhasil kabur." Ucap Ular Putih tersebut dengan nada jengkel.


“Tidak apa-apa, Wendy. Yang penting kita sudah tahu siapa yang mengikuti kita dan dia juga berhasil kabur.” Ucap wanita berambut pirang keputihan tersebut sambil mengelus sidik kepala Ular Putih yang terlihat mulai tertidur.


Hmm, siapa yang mengirim Gagak Hitam tersebut. Apakah pria aneh yang tadi.


Pikir wanita berambut pirang keputihan tersebut sambil membawa Ular Putih ke tempat tidur dan berbaring sambil memejamkan mata.


...—–—...


Sementara wanita cantik berambut pirang keputihan tertidur. Di salah satu kamar di Mansion Duke Satya. Pria tampan berambut hitam legam terbangun. Karena Burung Gagak Hitam yang menggerutu di dalam pikirannya.


“Diam lah, Kala.” Ucap Nara yang jengkel dengan Burung Gagak Hitam yang terus menggerutu sejak kembali dari mengikuti wanita berambut pirang keputihan tersebut.


“Oakh,”


Burung Gagak Hitam menatap Nara.


"Bagaimana bisa diam. Ular jelek itu menghina Gagak Hitam tampan ini. Kita harus membalas dendam, Tuan." Ucap Kala melalui pikiran.


“Iya-iya, besok saja.” Ucap Nara yang mulai jengkel karena tidurnya terganggu.


"Tapi Tuan-" Ucapan Kala terhenti ketika melihat tangan Nara yang mengeluarkan hawa hitam.


"Baik, Tuan." Ucapan Kala langsung berhenti dan terbang ke tempat biasanya dia hingga di kamar Nara.


Akhirnya berhenti. Sebenarnya apa yang terjadi? Sepertinya wanita tersebut tidak sesederhana yang terlihat. Menarik.


Pikir Nara sambil tersenyum memandangi langit malam yang indah.


“Hoam, sebelum itu. Aku harus tidur. Karena Gagak Hitam itu tidur indahku terganggu.” Ucap Nara sambil berjalan menuju tempat tidur.


...—–—...


Keesokan paginya di taman Mansion.


Nara yang sedang menikmati teh dengan ditemani Tiara dan Lisa. Tergantung dengan kehadiran pelayan.


“Tuan Nara, saya diminta untuk menyampaikan pesan kepada Anda, bahwa Anda diminta Nyonya untuk segera datang ke ruang keluarga.” Ucap pelayan tersebut dengan nada gugup.


“Tidak, apa lagi sekarang.” Ucap Nara berjalan menuju ke ruang keluarga dengan menggerutu.


...—–—...


Di Luar Ruang Keluarga Duke Satya.


Nara tiba di depan pintu. Dan terlihat seorang wanita berambut hijau memakai pakaian pelayan. Menatap tajam ke arah Nara.


Nara tidak peduli dan langsung masuk ke dalam tanpa permisi. Sementara itu Tiara dan Lisa menunggu di luar bersama wanita berambut hijau tersebut.


Di Dalam Ruang Keluarga Duke Satya.


Terdapat dua sofa panjang yang saling berhadapan dengan dibatasi oleh meja yang berlapis emas dan kristal indah.


Di salah satu sofa terdapat sepasang suami-istri yang terlihat mirip dengan Nara yang sedang mengobrol dengan wanita berambut pirang keputihan yang berada di sofa lainnya.


“Ada apa, Bu?” Ucap Nara langsung kepada ibunya.


“Duduklah.” Ucap ibu Nara tanpa menjawab pertanyaan Nara.


Nara langsung ingin duduk di sebelah ibunya.


“Tidak disini Nara, tapi di sana!” Ucap ibu Nara menghentikan Nara dan menunjuk sofa yang telah terdapat wanita berambut pirang keputihan.


“Haa.”


Nara menghela nafas kecil dan langsung duduk di sebelah wanita berambut pirang keputihan dengan jarak yang cukup 'dekat’.


“Sekarang apa?” Ucap Nara yang tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.


“Begini Nara, kamu sudah mengetahui bahwa kamu akan di dijodohkan?” Ucap ibu Nara dengan menatap wajah Nara.


Nara mengangguk, sambil tetap memperhatikan ibunya.


“Wanita di sebelahmu adalah tunanganmu.” Ucap ibu Nara yang berhasil mengagetkan Nara.


“Apa! Dia? Tunangan?” Ucap Nara sambil menoleh ke samping yang terlihat wanita berambut pirang keputihan dengan wajah santai dan cantik.


“Ada apa Nara? Kamu tidak suka?” Ucap ibu Nara kepada Nara yang terdiam ketika melihat wajah wanita tersebut.


“Tidak hanya saja-“ Ucap Nara terhenti dengan ucapan ayahnya.


“Sudah, kamu akan kami tinggal. Silakan kalian berkenalan.” Ucap ayah Nara sambil mengajak istrinya untuk pergi meninggalkan Nara dan wanita tersebut berduaan.


“Tapi Nara ingat jangan macam-macam! Kalian belum menikah.” Ucap ibu Nara sambil melotot kepada Nara yang kemudian keluar dari ruang keluarga.