
...Apa Kamu Yakin Ini Tempat Yang Cocok ?...
Setelah beberapa lama Nara melihat lihat di dalam toko Shining Gems. Akhirnya Nara kembali ke resepsionis.
Di resepsionis Nara melihat Lidya, Tiara, dan juga Javier yang masih menghindari tatapan mata Nara.
Resepsionis yang melayani Nara seorang wanita berambut merah gelap. Dengan tersenyum wanita tersebut melayani Nara.
“Ada yang bisa di bantu, Tuan?” Ucap wanita resepsionis dengan tersenyum.
“Saya ingin membayar.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Kalau begitu tunggu sebentar, Tuan. Saya konfirmasi dulu barang yang Anda beli.” Ucap wanita resepsionis dengan tersenyum ramah.
Tidak berselang lama setelah resepsionis tersebut memanggil Nara.
“Apakah benar Anda yang membeli batu kristal kuning, batu kristal biru, batu kristal putih, batu kristal hijau, dan batu kristal hitam?” Ucap wanita resepsionis menjelaskan.
“Benar, jadi berapa?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Total belanjaan Anda adalah 185.000 koin emas hitam.” Ucap wanita resepsionis dengan tersenyum.
Kemudian Nara menyerahkan sekantong koin emas dari cincin dimensi. Lalu memasukkan batu-batu yang dibelinya ke dalam cincin dimensi.
“Terima kasih, silakan mampir lagi.” Ucap wanita resepsionis dengan tersenyum sambil membungkuk hormat.
Nara hanya mengangguk lalu berjalan keluar. Diikuti oleh Lidya, Javier, dan Tiara.
...—–—...
Di luar Shining Gems. Terlihat sang matahari telah tepat berada di atas kepala. Menandakan waktunya mengisi perut yang kelaparan.
“Sudah waktunya makan siang. Kalian ada tempat yang rekomendasi?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Saya ada tempat yang cocok untuk makan siang.” Ucap Javier dengan takut sambil bersembunyi di belakang punggung Lidya.
“Kalau begitu tunjukkan jalannya, Javier.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil menatap Javier.
“Baik, Tuan Nara.” Ucap Javier dengan bersemangat sambil memimpin jalan.
...—–—...
Tidak berselang lama. Mereka sampai di sebuah restoran yang terlihat tidak meyakinkan. Sebuah restoran yang lusuh berada di depan Nara.
Restoran kecil dengan penampilan yang lusuh. Dinding yang penuh dengan tanaman rambat. Pintu restoran yang terlihat akan copot.
“Apa kamu yakin ini tempat yang cocok?” Ucap Nara dengan tak percaya.
“Jangan menilai dari sampulnya, Tuan Nara. Restoran ini adalah restoran yang sangat enak makanannya.” Ucap Javier dengan tersenyum.
“Baiklah.” Ucap Nara dengan tak yakin dengan Javier.
Kemudian dengan perasaan tak yakin Nara melangkahkan kakinya ke dalam restoran.
...—–—...
Di dalam restoran terlihat beberapa kursi dan meja yang terbuat dari batu tersusun dengan cukup rapi.
Kemudian terlihat seorang gadis yang sedang membersihkan meja. Lalu gadis itu menoleh ke arah pintu masuk.
“Selamat datang, ternyata yang datang, kak Javier.” Ucap gadis itu dengan senang sambil menghampiri Javier.
“Aku datang lagi, Joy.” Ucap Javier dengan tersenyum lalu memeluk gadis kecil itu.
Nara dan yang lainnya melihat Javier yang sedang memeluk gadis kecil itu dengan tatapan jijik.
“Jangan salah paham. Aku sudah menganggapnya sebagai adik sendiri.” Ucap Javier dengan gugup sambil menjelaskan.
“Jangan marah sama kak Javier.” Ucap Joy dengan pipi mengemaskan.
“Adik kecil kamu di ancam apa sama Javier.” Ucap Tiara dengan tersenyum sambil jongkok di depan Joy.
“Siapa kamu dasar tante jelek!” Ucap Joy dengan mengejek Tiara.
Tiara yang merasa terhina kembali berdiri. Lalu menatap Javier dengan tersenyum.
“Kamu tidak boleh seperti itu, Joy.” Ucap Javier dengan muka takut.
“Sudahlah, ayo kita makan. Aku sudah lapar.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil duduk di salah satu kursi.
“Baiklah, aku akan membuatkan. Beatrix keluarlah kita ada pesanan.” Ucap Joy dengan tersenyum.
Lalu dari kalung kristal putih di lehernya keluar seekor harimau putih berukuran besar.
Kemudian Joy dan harimau putih besar pergi ke arah belakang menuju dapur restoran.
...—–—...
Tak berselang lama. Joy datang bersama harimau putih besar dengan membawa beberapa nampan berisi makanan dan minuman.
Lalu Joy meletakkan piring berisi makanan di meja Nara. Meja yang awalnya kosong kini terisi penuh oleh makanan dan minuman.
“Terlihat enak seperti biasanya, Joy.” Ucap Javier dengan tersenyum sambil mengelus rambut Joy.
“Baunya harum.” Ucap Lidya sambil mencium bau makan di depannya.
“Ternyata kamu bisa masak juga, gadis kecil.” Ucap Tiara sambil menatap Joy.
“Tentu saja, aku bisa masak. Dasar tante-tante.” Ucap Joy sambil menjulurkan lidahnya.
Sabar Tiara, dia hanya gadis kecil. Tapi kenapa kelakuannya seperti itu.
Tiara yang melihat itu hanya bisa bersabar.
...—–—...
“Hmm, apakah ini makanan lokal Eternal Rock?” Ucap Nara sambil menatap salah satu piring.
“Apa kamu orang luar? Rendang sapi batu saja tidak tahu.” Ucap Joy dengan mengejek.
“J-joy kamu tidak boleh begitu.” Ucap Javier dengan takut sambil melihat ke arah Nara.
“Kenapa memang siapa pria itu?” Ucap Joy dengan penasaran sambil menatap Nara.
“Dia adalah Tuan Nara Satya. Penguasa South Of Eternal.” Ucap Javier memperkenalkan Nara.
Joy yang sedang minum langsung menyemburkan ke arah Javier. Dengan gugup Joy menatap Nara dari atas hingga bawah.
“Di-a Tuan Nara yang terkenal kejam itu.” Ucap Joy dengan gugup sambil keringat membasahi dahinya.
“Tentu saja di Tuan Nara yang hebat dan tampan itu.” Ucap Tiara dengan tersenyum bangga.
Sementara mereka berbicara Nara makan dengan lahap. Dan telah menghabiskan beberapa piring rendang sapi batu.
Semua orang menatap tumpukan piring yang telah bersih tanpa tersisa di depan Nara.
“Kenapa kalian?” Ucap Nara menatap mereka dengan tak acuh.
“Saya mohon maaf atas kelakuan saya, Tuan Nara.” Ucap Joy dengan gugup sambil sujud di lantai.
Nara menggeser kursinya agar berhadapan dengan Joy yang sedang bersujud.
Kemudian Nara menatap Joy dengan tajam sambil tersenyum menyeramkan.
Joy yang sedikit mengintip ke arah Nara menjadi ketakutan dengan melihat senyumnya.
Saking takutnya Joy sampai menangis keras hingga memecahkan gelas kaca di meja.
Harimau putih yang tadi hanya tiduran di pojok ruangan langsung melompat ke depan Joy bersujud dengan meraung keras ke arah Nara.
Melihat harimau putih berukuran besar meraung ke arahnya. Bukanya takut Nara malah tersenyum lebar.
“Apa yang mau di lakukan kucing kecil ini!” Ucap Nara dengan mengeluarkan aura hitam pekat di sekitarnya.
Aura hitam itu membuat orang di sekitar Nara merasa tertekan dengan sesuatu hal.
Sesuatu tersebut membentuk seperti ada sosok hitam yang sedang menatap mereka dengan tatapan mata merah gelap.
Harimau yang menjadi sasaran utama terlihat sudah tidak kuat berdiri. Tapi karena berusaha untuk melindungi Joy.
Harimau itu berusaha untuk menyebarkan aura mananya ke sekitar tubuh Joy yang telah pingsan setelah menangis kencang.
“Hmm, hubungan apa yang kalian miliki?” Ucap Nara dengan menatap harimau putih yang telah pingsan.
Kemudian Nara menarik kembali aura hitam dengan tersenyum melihat perjuangan harimau putih yang berjuang melindungi Joy yang pingsan.
Walau pun tahu bahwa dia bukan tandingan Nara tapi dia tetap berjuang demi Joy.