The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Jadilah Kuat Dan Bawa Kemenangan



...Jadilah Kuat Dan Bawa Kemenangan...


Di salah satu ruangan di dalam toko Raging Iron.


Terlihat seorang pria tampan yang duduk di sofa sambil menatap tajam ke arah wanita yang duduk di sofa seberangnya.


“Jawab dengan benar. Siapa kamu?” Ucap Nara dengan menatap tajam Grace.


“Sudah saya jawab, saya adalah seorang Dwarf.” Ucap Grace dengan canggung.


Nara menatap Grace dengan tatapan tidak terlalu percaya.


“Lalu bagaimana kamu menjelaskan tentang senjata-senjata yang kamu buat itu?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“I-itu adalah rahasia perusahaan, Tuan Nara.” Ucap Grace dengan gugup sambil tersenyum canggung.


“Hmm, kalau kamu tidak ingin bilang. Tidak usah bilang.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Terima-kasih, Tuan Nara.” Ucap Grace dengan senang.


“Tapi jika hal itu membahayakan South Of Eternal. Aku akan membuat hidupmu terasa di surga.”


Ucap Nara dengan tersenyum.


“Anda bisa percaya pada saya, Tuan Nara.” Ucap Grace dengan yakin.


“Baiklah, kita akhiri pembahasan tentang itu.” Ucap Nara dengan tak acuh.


Grace hanya menganggukkan kepalanya.


“Apa aku bisa memesan senjata?” Ucap Nara dengan tak acuh.


Grace melebarkan matanya dengan tatapan tidak percaya.


“Anda ingin saya buatkan senjata?” Ucap Grace dengan tidak percaya.


“Kenapa? kamu tidak bisa?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Tentu saja saya bisa membuatkan Anda senjata, Tuan Nara.” Ucap Grace dengan senang.


“Aku ingin-” Ucapan Nara dihentikan oleh Grace.


“Tunggu sebentar Tuan Nara. Saya ingin mengambil pena dan kertas.” Ucap Grace dengan buru-buru.


kemudian Grace keluar ruangan dengan buru-buru.


...—–—...


Setelah beberapa saat berlalu. Grace terlihat kembali dan membawa beberapa kertas dan pena di tangannya.


“Jadi senjata seperti apa yang Anda inginkan, Tuan Nara?” Ucap Grace dengan memegang pena.


“Aku ingin senjata berbentuk dua sabit pendek. Dan rantai yang menghubungkannya.” Ucap Nara dengan tak acuh.


Grace mendengarkan ucapan Nara dan menulis di dalam kertas dengan bersemangat.


Dan Grace juga menggambar sketsa senjata yang Nara inginkan berdasarkan ucapan Nara.


...—–—...


Tidak lama kemudian Grace menunjukkan hasil gambarnya kepada Nara.


“Bagaimana Tuan Nara?” Ucap Grace dengan menunjukkan hasil gambarnya.


“Hmm.” Ucap Nara sambil melihat hasil gambar Grace.


Di kertas yang ditunjukkan oleh Grace terlihat gambar dua buah sabit yang berbeda.


Sabit yang berada di sebelah kanan berbentuk ramping dengan pegangan yang juga ramping.


Dan pada akhir pegangan sabit tersebut terdapat semacam tali.


Sedangkan sabit yang berada di sebelah kiri terlihat sebuah sabit dengan bentuk yang sangat berbeda.


Sebuah sabit dengan bentuk yang sangat mencolok dengan pegangan yang sedikit lebih besar.


Dan pada akhir pegangannya terdapat rantai.


“Bagus, kapan bisa kamu selesaikan?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Terima-kasih, saya bisa selesaikan dalam waktu 3 hari.” Ucap Grace dengan tersenyum.


“Apa kamu serius?” Ucap Nara dengan tidak percaya.


“Saya serius, Anda bisa percayakan pada saya.” Ucap Grace dengan yakin sambil tersenyum.


“Harganya 1 juta koin emas hitam.” Ucap Grace dengan tersenyum senang.


Nara sedikit terkejut dengan harga yang ditawarkan oleh Grace.


“Kalau begitu aku akan bayar 500 ribu koin emas hitam sebagai uang mukanya.” Ucap Nara dengan mengeluarkan kantong dari cincin dimensi.


“Anda memang pelanggan yang baik, Tuan Nara.” Ucap Grace dengan senang menerima koin emas yang diberikan Nara.


...—–—...


Kemudian Nara keluar dari ruangan dan melihat para bawahannya yang telah menunggu dengan penasaran.


“Tuan Nara!” Ucap mereka dengan bersamaan.


“Semuanya baik-baik saja.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Begitu.” Ucap Lidya dengan tenang.


“Jadi kalian menemukan senjata yang cocok?” Ucap Nara dengan penasaran.


“Tuan Nara, lihat!” Ucap Joy dengan menunjukkan sesuatu di tangannya.


Di tangan Joy terlihat sebuah tombak panjang dengan ujungnya terdapat seperti bilah pedang berwarna merah muda.


“Hmm, senjata yang bagus, Joy.” Ucap Nara dengan tersenyum sambil menggosok rambut Joy.


“Berapa harganya, Grace?” Ucap Nara dengan tak acuh.


Grace yang baru keluar dari ruangan langsung melihat senjata yang di pegang oleh Joy.


“Itu harganya 100 ribu koin emas hitam.” Ucap Grace dengan biasa.


Joy yang mendengar harga senjata yang ingin dia beli menjadi tidak enak dengan Nara.


“Emm, tidak jadi, Tuan Nara.” Ucap Joy dengan tidak enak.


“Kenapa? Aku sudah janji akan membelikan kalian.” Ucap Nara dengan tersenyum.


“Ini, Grace.” Ucap Nara sambil menyerahkan kantong koin emas hitam.


“Terima-kasih atas pembeliannya.” Ucap Grace dengan tersenyum.


“Kalian tidak ada senjata yang cocok?” Ucap Nara kepada bawahannya yang lain.


“Tidak ada yang cocok dengan pria tampan ini.” Ucap Javier dengan berlagak narsis.


“Tidak ada yang cocok, Tuan Nara.” Ucap Lidya dengan tenang.


“Tidak ada, Tuan Nara.” Ucap Tiara dengan tersenyum.


“Kalau begitu, kita akan kembali ke penginapan.” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Grace aku pergi.” Ucap Nara dengan berjalan keluar toko.


“Silakan datang lagi.” Ucap Grace dengan tersenyum.


Kemudian Nara dan para bawahannya pergi dari toko Raging Iron.


...—–—...


Di salah satu penginapan di Kota Dwarf.


Terlihat Joy yang sedang memandangi senjata yang baru saja ia dapatkan.


Dengan raut muka tidak enak Joy terus memandanginya.


“Kenapa dengan mukamu itu?” Ucap Nara dengan tiba-tiba berada di sisi Joy.


“Jika merasa tidak enak. Buktikan bahwa kamu layak untuk mendapatkan itu di medan pertempuran besok.” Ucap Nara dengan tak tak acuh.


“Bisa?” Ucap Nara dengan tersenyum.


“Pasti, saya akan membawa kemenangan.” Ucap Joy dengan mata membara.


“Bagus, segera tidur dan bawa kemenangan untukku.” Ucap Nara dengan tersenyum.


Joy kemudian berdiri dan pergi ke dalam kamarnya.


Nara memandangi kepergian Joy dengan raut muka senang.


“Benar, jadilah kuat dan bawa kemenangan untukku. Dengan begitu aku bisa bermalas-malasan lagi.” Ucap Nara dalam hati sambil tersenyum.