The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Masa Lalu Gadis Kecil



...Masa Lalu Gadis Kecil...


Selang beberapa lama setelah Joy pingsan. Akhirnya Joy terbangun dengan berada di sebuah tempat tidur bersama dengan Harimau putihnya.


Joy terbangun sambil melihat sekeliling. Joy mendapatkan dirinya berada di kamarnya di dalam restoran.


Kemudian Joy pandangannya beralih ke Harimau putih yang berada di sampingnya sambil mengelus bulu rambutnya.


“Dia tidak apa-apa.” Ucap Nara yang masuk ke dalam kamar Joy.


“T-tuan Nara.” Ucap Joy dengan takut sambil berusaha untuk berdiri dari tempat tidur.


“Tidak usah berdiri. Apa aku yang tampan ini terlihat menakutkan?” Ucap Nara dengan narsis.


Joy hanya diam sambil menundukkan kepalanya menghadap bawah.


“Kamu tidak perlu merasa takut, Joy.” Ucap Nara sambil duduk di tepi tempat tidur Joy.


“Sepertinya tadi aku terlalu berlebihan, aku minta maaf.” Ucap Nara sambil sedikit membungkuk.


Joy yang kaget dengan Nara yang meminta maaf sambil membungkuk menjadi gugup.


“Tidak perlu minta maaf, Tuan Nara.” Ucap Joy dengan gugup.


“Saya juga minta maaf atas perilaku tidak sopan saya kepada Anda.” Ucap Joy sambil membungkuk.


Apakah aku boleh bertanya sesuatu?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Silakan, Tuan Nara.” Ucap Joy dengan lebih tenang.


“Sebenarnya hubungan apa yang kamu miliki dengan harimau putih itu?” Ucap Nara dengan penasaran.


“Sebenarnya semua bermula ketika saya berusia 9 tahun.” Ucap Joy yang kemudian menceritakan masa lalunya.


...—–—...


Pada beberapa tahun lalu. Di sebuah desa yang terletak di pelosok Kerajaan Majapahit.


Terlihat seorang anak perempuan yang sedang berjalan dengan gembira di sepanjang jalan desa.


Anak perempuan tersebut berjalan menuju ke suatu rumah yang terlihat sederhana tidak terlalu mencolok.


Anak perempuan tersebut berjalan dengan gembira sambil memasuki rumah tersebut sambil memanggil ibunya.


“Ibu aku pulang.” Ucap anak perempuan tersebut sambil membuka pintu rumah.


“Selamat datang Joy, anak ibu yang cantik.” Ucap wanita cantik dengan tersenyum.


“Ibu lihat aku membawa banyak ikan untuk di masak.” Ucap Joy sambil menunjukkan hasil tangkapannya.


“Wow, banyak sekali siapa yang akan memakan semuanya?” Ucap wanita dengan membuat wajah bingung.


“Tentu saja aku yang akan menghabiskannya.” Ucap Joy dengan bersemangat.


“Kalau begitu bantu ibu membuat ikan bakar spesial.” Ucap wanita dengan tersenyum.


“Siap! Aku pasti akan membantu ibu.” Ucap Joy dengan membuat pose hormat.


Kemudian mereka berdua pergi ke arah dapur untuk membuat ikan bakar spesial.


...—–—...


Suasana yang begitu tenang dan hangat. Tiba-tiba berubah menjadi mencekam dengan terdengar teriakkan dari salah satu warga desa.


“Lari ada segerombolan serigala merah menyerang!” Ucap warga yang lari dengan ketakutan.


Kemudian terdengar banyak warga desa yang lari dengan berteriak ketakutan dan meminta tolong.


“Ibu, Joy takut.” Ucap Joy sambil memeluk kaki ibunya.


“Jangan takut sayang. Kita harus tenang dan berpikiran jernih.” Ucap wanita sambil menggendong Joy.


Wanita cantik menggendong Joy sambil berjalan keluar dari rumahnya. Berjalan dengan sedikit cepat keluar dari desa.


...—–—...


Di jalan desa terlihat gerombolan serigala merah sendang menyerang warga yang tertinggal dan merusak rumah-rumah warga.


Wanita cantik yang mendong Joy dengan hati-hati berjalan keluar dari desa. Tapi hal itu di ketahui oleh gerombolan serigala merah.


“Joy kamu harus lari sendiri. Biar ibu yang menahan mereka.” Ucap wanita tersebut sambil mengelus rambut Joy.


“Tidak, aku tidak mau.” Ucap Joy dengan menangis sambil memeluk wanita tersebut.


“Kamu harus lari sayang.” Ucap wanita tersebut sambil mencium dahi Joy.


Kemudian wanita tersebut menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Sambil mengucapkan sesuatu.


“Aku membutuhkan kekuatanmu, wahai pelindung keluarga Vendor.” Ucap wanita sambil tetap menyatukan telapak tangannya.


Kemudian muncul sebuah lingkaran sihir berwarna putih kebiruan dengan tulisan aksara kuno di sekelilingnya.


Dari lingkaran keluar seekor harimau putih dengan mata biru menatap wanita tersebut.


“Apa yang bisa aku bantu, wahai pewaris darah Vendor?” Ucap harimau putih tersebut.


“Aku membutuhkan kekuatan untuk melindungi anakku.” Ucap wanita tersebut sambil menatap harimau putih.


“Aku bisa membantu.” Ucap harimau putih sambil menatap wanita tersebut.


“Tapi dengan kekuatanmu yang sekarang itu akan memakan energi kehidupanmu.” Ucap harimau putih tersebut.


“Aku tidak apa-apa dan bisa kamu wariskan darah Vendor padanya.” Ucap wanita tersebut sambil tersenyum.


“Baiklah, waktu kita tidak banyak. Gerombolan serigala merah itu sudah semakin dekat.” Ucap harimau putih.


Kemudian wanita tersebut menyatukan kembali telapak tangannya. Setelah itu setengah wajah wanita tersebut berubah menjadi harimau putih.


Tidak hanya badannya salah satu tangannya ikut berubah menjadi tangan harimau putih.


Setelah itu wanita tersebut berlutut di depan Joy sambil membasuh pipinya yang basah dengan air mata.


“Joy sayang kamu harus pergi. Ini akan melindungi kamu dan akan memberikan kamu kekuatan.” Ucap wanita sambil menyerahkan sebuah telur berwarna putih.


Auuu-Auuu


Suara serigala merah mulai terdengar semakin mendekat.


“Pergilah sayang, ibu mencintaimu.” Ucap wanita tersebut sambil mencium dahi Joy.


Joy dengan air mata mengalir melalui matanya. Dengan hati yang tersayat-sayat tetap berlari meninggalkan ibunya.


“Ibu aku juga mencintaimu.” Ucap Joy dengan menangis sambil terus berlari.


...—–—...


Sementara itu wanita cantik melihat Joy yang berlari menjauhinya. Wanita cantik tersebut menangis sambil tersenyum.


“Sepertinya dia adalah gadis yang baik.” Ucap harimau putih dengan tersenyum.


“Tentu saja dia adalah putriku.” Ucap wanita cantik tersebut.


“Tapi sepertinya ini pertemuan terakhirmu dengannya.” Ucap harimau putih.


“Tidak apa-apa aku sudah siap menerimanya.” Ucap wanita cantik dengan tersenyum.


Auuu-Auuu


“Baiklah, aku ingin lebih lama berbincang-bincang denganmu. Tapi tamu kita sudah tidak sabar.” Ucap harimau putih melihat ke arah gerombolan serigala merah.


Kemudian pertarungan antara wanita dengan gerombolan serigala merah terjadi. Pertarungan tersebut menyebabkan desa menjadi rata dengan tanah.


Dan kabar tentang wanita tersebut hingga kini tidak jelas keterangannya. Dan tidak ada yang pernah melihatnya lagi bahkan anaknya sendiri.


...—–—...


Kembali ke masa sekarang. Terlihat seorang gadis berusia 13 tahun sedang tertidur di samping pria berambut hitam legam sambil mengelus rambut gadis tersebut.


Tidak lama kemudian pintu terbuka memperlihatkan tiga orang yang memasuki kamar tersebut.


“Apa kamu sudah tahu bahwa dia tidak memiliki siapa-siapa lagi, Javier?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Saya sudah mengetahuinya sejak awal bertemu dengannya, Tuan Nara.” Ucap Javier dengan menatap Joy yang sedang tertidur.


“Baiklah, kita keluar dulu.” Ucap Nara sambil beranjak berdiri dari tepi ranjang.


Kemudian mereka keluar dari kamar Joy dan meninggalkan Joy yang sedang tertidur bersama dengan harimau putih.