The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Munculnya Penjinak Buaya



...Munculnya Penjinak Buaya...


“Akhirnya selesai juga. Ibu memang terlihat seram ketika marah.” Ucap Nara ketika selesai berkomunikasi dengan orang tuanya.


“Orang tua Anda terlihat menyayangi Anda, Tuan muda.” Ucap Lisa berpendapat


“Mungkin karena aku adalah anak satu-satunya.” Ucap Nara.


Setelah itu Nara memperhatikan Gagak kecil yang terlihat kebingungan di atas meja.


“Baiklah, Gagak Hitam kecil. Mari kita berkenalan. Aku adalah Tuanmu.” Ucap Nara pada Gagak Hitam kecil.


“Oakh-Oakh” suara Gagak tersebut yang terlihat mengerti.


“Karena kau belum memiliki nama, aku akan memanggilmu Kala.” Ucap Nara pada Gagak Hitam kecil.


“Oakh” suara Kala yang terlihat mengerti.


“Oakh-Oakh Oakh-Oakh” suara Kala.


“Ada apa Kala? Kau menginginkan sesuatu.” Ucap Nara.


Kala tidak bersuara, tetapi langsung mematuk jari Nara hingga terluka. Pada jari yang terluka tersebut Kala seperti menjilati tetesan darah Nara.


“Apakah kau makanannya adalah darah?” ucap Nara.


“Oakh” ucap Kala sambil menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu kau hanya ingin mengenaliku dengan darah?” Ucap Nara.


“Oakh-Oakh” ucap Kala sambil mengangguk.


Ekstrem sekali cara berkenalanmu, dasar burung aneh. Batin Nara


“Begitu, kalau begitu apakah makananmu tumbuhan dan beast yang mengandung mana?” Ucap Nara sambil mengeluarkan Mananya.


“Oakh-Oakh” ucap Kala sambil memakan Mana Nara.


Nara terus mengalir Mananya keluar dan Kala memakannya.


Tidak berselang lama ketika Nara memberi makan Kala Mananya. Terdengar suara ketukan pintu.


“Tiara coba lihat siapa yang mengetuk pintunya.” Ucap Nara.


Tiara langsung membuka pintu melihat siapa yang mengetuk dan langsung masuk kembali sambil membawa sebuah amplop.


Amplop tersebut tersegel dengan lambang kerajaan Majapahit.


Segel tersebut hanya terbuka ketika bertemu dengan Mana orang yang dituju.


Nara mengalirkan Mananya ke segel kerajaan dan terbukalah segel tersebut. Di dalam amplop tersebut terlihat sebuah surat.


Nara membaca surat itu dengan teliti.


Isi surat tersebut adalah undangan untuk menghadiri akademi pelatihan. Akademik itu akan diadakan satu bulan dari sekarang. Dan berakhir dalam lima bulan pelatihan.


“Sepertinya hari-hari santaiku akan terganggu.” Ucap Nara.


Beberapa hari telah terlewati. Hari ini adalah hari akan diadakan akademi pelatihan.


Sejak terakhir kali Nara memberi makan Mananya pada Kala, burung Gagak Hitam itu tumbuh menjalar burung Gagak ukuran normal seperti Gagak dewasa normal.


“Oakh-Oakh” suara burung Gagak yang nyaring terdengar.


“Tuan muda, bangun ini sudah pagi.” Terdengar suara Tiara.


“Iya.” Ucap Nara sambil bangun.


“Pakaian Anda sudah saya siapkan.” Ucap Tiara.


“Emm.” Ucap Nara.


“Kalau begitu saya permisi.” Ucap Tiara lalu pergi.


“Kau terlihat berantakan. Dari manah? Bulu penuh lumpur dan terdapat noda darah. Kau berburu habis berburu lagi?” Ucap dingin Nara pada Kala.


Kala yang mendengar itu ingin langsung terbang menghindari Tuannya. Tetapi itu tidak berhasil karena Nara memberikannya tekanan.


“Sepertinya aku kurang mendisiplinkan burung yang satu ini.” Ucap Nara sambil tersenyum.


Setelah itu terdengar suara Gagak yang menjerit-jerit meminta tolong.


“Kau mengerti, tidak kau tidak boleh berburu secara sembarangan.” Ucap Nara sambil berkaca dan Tiara yang merapikan pakaian Nara.


“Oakh” ucap pelan Kala.


“Bagus kau sudah mengerti. Ayo pergi sarapan.” Ucap Nara. Lalu keluar kamar dengan diikuti Tiara dan Kala yang terbang di atas Nara.


Lantai satu, restoran penginapan.


“Iya.” Ucap Nara.


Setelah itu mereka sarapan. Dengan tenang.


Setelah selesai sarapan.


Nara memperhatikan Kala yang sedang bermain bersama burung Nuri dan Kelinci putih.


“Lisa, kau sudah memberi nama pada beastmu?” Ucap Nara.


“Sudah, Tuan muda. Nama namanya Neva.” Ucap Lisa.


“Nama yang bagus. Neva yang berarti salju putih.” Ucap Nara.


“Tiara kalau burung Nurimu kau beri nama siapa?” Ucap Nara.


“Namanya Jeni, Tuan muda.” Ucap Tiara.


“Nama yang bagus dan indah.” Ucap Nara.


Setelah berbincang-bincang setelah sarapan. Nara keluar dari penginapan pergi menuju akademi pelatihan.


Setelah itu kereta kuda Nara berhenti di suatu bangunan. Bangunan tersebut terlihat seperti sebuah kastel kecil yang memiliki halaman yang luas.


“Jadi ini tempat yang akan dijadikan akademi pelatihan.” Ucap Nara ketika turun dari kereta dan melihat sekeliling.


“Hei-hei lihat itu! Bukankah orang itu dirumorkan yang telah menghajar anak Baron Niki.” Ucap seorang remaja seusia Nara ketika melihatnya.


“Kau benar. Sepertinya memang orang itu.” Ucap seorang remaja yang berada di dekat orang yang melihat Nara.


“Kenapa dia ada disini? Apa dia akan mengikuti akademi ini?”


“Sepertinya begitu.”


“Kyaaa!” tiba-tiba terdengar suara histeris para remaja wanita.


“Aaa, Pangeran Mahkota Ryan nikahilah aku.” Ucap seorang remaja wanita yang histeris ketika melihat pangeran mahkota Ryan turun dari kereta.


“Kau itu tidak pantas, aku saja bersyukur jika hanya dijadikan penghangat ranjang saja.” Ucap seorang remaja wanita menanggapi.


“Aah, kau benar juga. Tidak mungkin pangeran mahkota Ryan melirikku.”


Pangeran mahkota Ryan berjalan menuju ke arah Nara.


“Jangan berjalan ke arahku, sialan.” Ucap pelan Nara.


“Hei! Nara kau sudah sampai lebih dulu rupanya. Kenapa dengan mukamu?” Ucap pangeran mahkota Ryan yang melihat wajah Nara yang terlihat tidak suka dengan kedatangannya.


“Tidak.” Ucap Nara.


“Kau yang kenapa! Kau tidak tahu menjadi teman orang yang terkenal itu tidak menyenangkan, aku tidak bisa bersantai tahu!” ucap Nara di dalam hatinya.


“Oh ya, kau melihat Darius? Aku tidak melihatnya ketika sampai.” Ucap Pangeran Ryan.


“Itu.” Ucap malas dan jijik Nara menunjuk seorang remaja pria yang kesana-kemari mengajak berkencan remaja-remaja cantik.


“Haaa, dia memang seperti itu.” Ucap pangeran Ryan ketika melihat Darius.


Tidak berselang lama ketika pangeran Ryan mendesus.


Terlihat tiba-tiba seseorang berdiri di belakang Darius dan langsung menarik telinga Darius.


“Kau tidak pernah berubah ya! Selalu saja bertingkah seperti monyet musim kawin saja.” Ucap seorang remaja wanita yang menarik telinga Darius.


“Siapa kau! Beraninya menarik telinga Darius Bima yang perkasa ini.” Ucap Darius tanpa melihat ke belakang.


“Oh, kau melupakan suaraku ya!”


Darius yang mendengar itu langsung melihat ke belakang dan langsung terkejut ketika melihat sosok tersebut.


“Oh, sayangku, cintaku. Alangkah terkejutnya aku ketika melihat sosok cantik nan indahmu.” Ucap Darius yang mencoba merayu sosok tersebut.


“Aku tidak akan termakan lagi oleh rayuan buayamu!” Ucap sosok wanita tersebut yang masih menarik telinga Darius.


“Hahahaha, kau memang hebat Nina. Darius kau ini sudah memiliki tunangan masih saja banyak bertingkah.” Ucap Ryan yang menghampiri Darius yang telinganya yang masih ditarik Nina Inera.


“Good job, kak Nina.” Ucap Ellisa sambil mengacungkan jempol.


Sementara itu Nara hanya memperhatikan tanpa berekspresi sedikit pun di luarnya tetapi di dalam hatinya ia berkata.


“Apakah seperti itu rasanya memiliki tunangan! Tidak, tidak jika seperti itu mangkinkah waktu tidur siangku akan terusik. Oh dewa, iblis tolong Jangan mengurangi waktu tidur siangku yang berharga!” ucap Nara dalam hati


.


“Ada apa Nara? Kenapa kau seperti tertekan.” Ucap pangeran Ryan yang melihat Nara.


“Tidak, ada.” Ucap Nara.