
...Kabut Hitam...
Di sebuah jalan di kaki gunung yang bernama Sacred Mountain. Sebuah gunung yang konon katanya menyimpan banyak mineral langka.
Tapi banyak orang yang enggan untuk menambangnya bahkan mendekatinya saja orang akan memilih untuk menghindarinya.
Karena banyak legenda mengatakan bahwa ada kekuatan aneh yang akan menyerang mereka jika mereka berani untuk mendekati gunung tersebut.
Dahulu banyak orang yang mengabaikan legenda tersebut dan berakhir pulang dengan banyak luka sayatan yang tidak bisa sembuh bahkan dengan kekuatan penyembuh.
...—–—...
“Begitu ceritanya, Tuan Nara.” Ucap Joy dengan membuat muka seram.
“Oh, begitu.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil menikmati wine biru.
Joy kecewa dengan reaksi Nara yang tidak takut sedikit pun.
“Kamu perlu usaha yang lebih untuk membuat Tuan Nara takut, gadis kecil.” Ucap Tiara dengan mengejek.
“Aku tidak ingin mendengar hal itu darimu, dasar tante-tante.” Ucap Joy dengan wajah kesal.
“Apa katamu!” Ucap Tiara dengan muka kesal.
“Tiara berhenti. Apakah tempatnya masih jauh?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Baik, Tuan Nara.” Ucap Tiara dengan masih melotot kepada Joy.
“Kita sudah berjalan selama 3 hari. Seharusnya tidak lama lagi, Tuan Nara.” Ucap Lidya dengan tenang.
“Begitu, aku sudah bosan berada di dalam kereta.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil memandang ke arah jendela.
Dari jendela terlihat kabut hitam yang tidak bisa menutupi area hutan yang terdapat banyak pepohonan yang menjulang tinggi.
Semakin Nara melihat kabut tersebut. Kabut tersebut terlihat seperti bergerak ke arah Nara dengan cepat.
Nara yang menyadari ada yang aneh hanya tersenyum dan berkata.
“Berhentikan keretanya, Javier.” Ucap Nara dengan tersenyum.
Kemudian kereta berhenti di tepi jalan di kaki gunung. Setelah kereta berhenti Nara turun dengan mengeluarkan sabitnya.
“Apakah ada serangan, Tuan Nara.” Ucap Javier sambil menghampiri Nara.
“Tidak, hanya ada sesuatu yang menarik mendekati kita.” Ucap Nara dengan tersenyum.
Setelah itu Tiara, Lidya, dan Joy keluar dari kereta dengan bingung melihat Nara yang telah mengeluarkan senjatanya.
Dengan muka kebingungan mereka menatap Nara. Javier yang melihat itu menghampiri mereka.
“Tuan Nara merasakan hal yang menarik yang mendekati kita.” Ucap Javier sambil menghampiri mereka.
Lidya dan Joy hanya bisa mengangguk. Sementara Tiara memandang ke arah di mana Nara memandang.
...—–—...
Tiara melihat kabut hitam yang semakin mendekat ke arah mereka. Tapi tidak itu, Tiara juga melihat sesuatu yang terbang bersama dengan kabut hitam tersebut.
“Tuan Nara, sepertinya ada sesuatu yang membuat kabut hitam tersebut.” Ucap Tiara dengan yakin.
“Apa kamu bisa menghentikannya, Tiara?” Ucap Nara dengan menatap mata Tiara.
“Saya bisa menghentikannya, Tuan Nara. Jeni keluarlah kita memiliki misi.” Ucap Tiara dengan bersemangat.
Kemudian muncul seekor burung Nuri berbulu tajam dan Tiara juga menggeluarkan sepasang pedang pendek.
Setelah itu dengan kecepatan tinggi Tiara melesat ke arah kabut tersebut.
Kemudian Tiara seperti di lahap oleh kabut hitam tersebut sehingga tidak terlihat lagi keberadaannya.
“Apakah nona Tiara baik-baik saja?” Ucap Lidya dengan khawatir.
“Dia akan baik-baik saja.” Ucap Nara dengan tenang.
...—–—
...
Sementara itu terjadi pertarungan di dalam kabut hitam. Pertarungan yang terjadi antara seorang wanita dengan sebuah belati.
Belati yang memiliki ujung runcing dan bilah yang bergelombang sampai pada pegangan belati.
Dengan bilah yang bergelombang berwarna hitam keabu-abuan dan pangkal bilah berwarna emas yang mencap dengan kokoh pada gagang kayu.
Tiara terlihat kesulitan bertarung dengan belati tersebut. Dengan sepasang pedang pendeknya Tiara menahan setiap serangan yang di keluarkan oleh belati tersebut.
“Sial, kabut hitam ini mengganggu penglihatanku.” Ucap Tiara yang kesulitan menahan serangan dadakan belati tersebut.
“Jeni, coba kamu halau kabut hitam dengan angin pisaumu.” Ucap Tiara dengan menahan sakit akibat serangan belati tersebut.
Burung nuri tersebut mengangguk, kemudian terbang di hadapan Tiara lalu mengepakkan sayapnya dengan keras.
“Blade Wind”
Swuss
Kepakan sayap Jeni menghasilkan hembusan angin yang cukup untuk membantu Tiara melihat keberadaan belati tersebut.
Akhirnya aku bisa melihatmu dengan jelas. Ucap Tiara saat melihat belati tersebut.
Belati tersebut langsung menyerang Tiara dengan menerjang dengan kecepatan tinggi.
Tiara yang menyadari hal itu langsung memasang pertahanan dengan sepasang pedang pendeknya.
Ting-ting Ting-ting
Terdengar suara gesekan antara sepasang pedang pendek Tiara dengan belati tersebut.
Serangan demi serangan terus terjadi hingga dengan pergerakan yang cepat Tiara menghilang dari kemudian muncul di belakang belati tersebut.
Tiara langsung dengan cepat memegang belati tersebut dengan kedua tangannya.
Belati yang berada di tangan Tiara meronta-ronta ingin lepas dari genggaman Tiara.
Tiara yang merasa tidak akan bisa menahan belati tersebut lebih lama lagi. Dia mencari jalan keluar dari kabut hitam tersebut.
Setelah keluar dari kabut hitam tersebut Tiara langsung menghampiri Nara.
...—–—...
Di luar kabut hitam terlihat Nara dan yang lainnya melihat Tiara yang keluar dari kabut hitam.
Tapi Tiara seperti membawa sebuah belati yang terlihat meronta-ronta dari tangannya.
Saat Tiara hampir sampai di tempat Nara berada.
Belati tersebut terlepas dari tangan Tiara dan melayang di udara.
Kemudian dengan kecepatan tinggi belati tersebut mencoba untuk menyerang Tiara.
Tiara yang menyadari hal itu langsung membuat posisi bertahan dengan tangannya.
Saat serangan belati tersebut hampir mengenai tangan Tiara yang bertahan.
“Bless the Laziness of Anger”
Sebuah tangan raksasa berwarna muncul menangkap belati tersebut dengan kuat dan kemudian membawanya ke arah Nara.
Tiara yang melihat tangan raksasa tersebut langsung melihat ke arah Nara berada.
Tepat pada bagian belakang Nara terdapat sebuah lingkaran sihir berwarna hitam yang memunculkan tangan raksasa tersebut.
“Terima kasih, Tuan Nara. Maaf jika saya merepotkan Anda.” Ucap Tiara dengan kecewa.
“Tidak apa-apa. Sudah tugas seorang pemimpin melindungi bawahannya.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil memerhatikan belati.
Pada genggaman tangan raksasa terlihat belati yang sudah tidak meronta-ronta lagi.
Belati tersebut terlihat terbebas dari kemarahan yang menyelimutinya.
Kemudian Nara membuka genggam tangan raksasa dan memegang belati tersebut.
Di tangan Nara belati tersebut sudah diam dan tidak melakukan perlawanan lagi.
Dan tepat ketika belati tersebut berada di tangan Nara.
Kabut hitam menjadi hilang dan memperlihatkan seekor burung nuri yang membawa sepasang pedang pendek menghampiri mereka.
“Sepertinya kabut hitam tersebut berasal dari belati ini, Tuan Nara.” Ucap Lidya sambil memperhatikan belati yang berada di tangan Nara.
“Kamu benar, sepertinya belati ini memiliki semacam kekuatan.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Hmm, belati seperti apa yang bisa mengeluarkan kabut seperti itu.” Ucap Javier menghampiri Nara.
“Apa itu seperti senjata yang berisi kekuatan mistik?” Ucap Joy yang melihat belati dengan penasaran.
“Entah apa pun itu. Kita pasti akan menemukan jawabannya di desa Dwarf.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Tidak ada yang lebih ahli dalam senjata dari pada Ras Dwarf.” Ucap Tiara membenarkan ucapan Nara.
Kemudian mereka masuk kembali ke dalam kereta dan melanjutkan perjalanan mencari keberadaan desa Dwarf.