
...Biar Aku Melihat Tikus Itu...
Di ruang kerja Nara.
“Hahaha, laporan yang bagus Lisa. Kamu membawa hiburan untukku yang lelah ini. Kamu bisa pergi dan kamu akan mendapatkan bonus atas laporan ini.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Terima kasih, Tuan.” Ucap Lisa yang sudah berkeringat dingin dan pergi dengan cepat.
“Kamu membuatnya takut.” Ucap Fiona yang turun dari meja Nara dan duduk di pangkuan Nara.
“Biarkan saja, biar dia mengerti dengan sifatku yang apa adanya.” Ucap Nara dengan menyenderkan kepalanya ke dada Fiona.
“Jadi apa yang akan kamu lakukan dengan tikus itu.” Ucap Fiona sambil mengelus rambut hitam legam Nara.
“Kita lihat nanti di pertemuan makan malam empat hari lagi. Biar aku melihat sosok tikus itu.” Ucap Nara yang sudah menggigiti dada Fiona.
Setelah itu terjadi aktivitas panas yang sempat tertunda. Ruang kerja Nara menjadi panas dan berisik dengan suara-suara.
...—–—...
Di area latihan prajurit.
Terlihat seorang pria tampan berambut hitam legam yang sedang duduk di kursi malas sambil menikmati keripik buah.
Dengan melihat ke arah prajurit yang tengah berlatih dengan metode yang Nara berikan beberapa tempo hari lalu.
“Apakah itu Tuan Nara yang telah memberikan metode latihan yang efektif ini? Terlihat.” Ucap salah satu prajurit yang tengah beristirahat.
“Diamlah, apakah kau tidak tahu? Jika Tuan Nara yang terlihat seperti itu memiliki sifat yang kejam.” Ucap salah satu prajurit.
“Tidak hanya itu aku pernah mendengar rumor bahwa level Tuan Nara sangat tinggi di usianya yang masih muda.” Ucap prajurit lain menimbrung.
“Apakah kalian menikmati bergosip tentang Tuan Nara?” Ucap prajurit muda berambut hitam.
“Tidak, Jenderal Diego.” Ucap para prajurit yang bergosip yang langsung berdiri memberi hormat.
“Jika sudah beristirahat jangan malah bergosip! Cepat lanjutkan latihan. Apa kalian tidak malu bergosip ketika Tuan Nara melihat kalian!” Ucap Diego dengan tegas.
“Maaf, Jenderal Diego.” Ucap para prajurit tersebut sambil membungkuk hormat.
“Sudah, lanjutkan latihan kalian.” Ucap Diego dengan tegas.
“Baik.” Ucap para prajurit yang kemudian pergi.
...—–—...
Di pinggir area latihan.
Seorang prajurit muda berambut hitam yang sedang mengawasi latihan prajurit tapi terhenti ketika.
“Diego!” Suara kerja terdengar dari seorang pria tampan berambut hitam legam yang sedang menikmati keripik buah.
Prajurit muda berambut hitam yang mendengar itu langsung menghampiri pria tampan yang sedang duduk di kursi malas.
“Hamba, menemui Tuan.” Ucap Diego sambil berlutut hormat.
“Sepertinya kamu sudah terbiasa dengan posisi Jenderal dan kemampuan prajurit sudah berkembang sesuai bidang mereka. Kerja bagus.” Ucap Nara sambil memakan keripik buah.
“Ini semua berkat, Tuan Nara. Hamba akan selalu setia kepada Anda.” Ucap Diego dengan bersumpah setia.
“Kau tahu kan kekuatan keluarga Satya. Bila kau bersumpah kepada salah seorang keluarga Satya kau tidak bisa menariknya.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Hamba mengetahuinya. Hamba tidak akan menarik sumpah setia kepada Anda.” Ucap Diego dengan tegas.
“Kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu.” Ucap Nara dengan santai sambil menikmati keripik buah.
“Baik, Tuan Nara.” Ucap Diego memberi hormat dan pergi.
Akhirnya aku mendapat bawahan yang mumpuni dan lagi ini gratis. Waktu tidurku bertambah, terima kasih Diego. Ucap Nara sambil tersenyum berjalan pergi dari area latihan.
...—–—...
Di ruang kerja Nara.
Tok-tok
“Masuk!” Ucap Nara sambil tetap fokus membaca dokumen.
Pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita cantik mengenakan pakaian Maid dengan berambut hitam panjang yang tergerai.
“Saya ingin menyampaikan bahwa para Count akan tiba saat makan malam, Tuan Nara.” Ucap wanita tersebut setelah membungkuk hormat.
“Aku mengerti, terima kasih, Tiara.” Ucap Nara dengan tak acuh menatap Tiara.
“Sudah tugas saya, Tuan Nara.” Ucap Tiara dengan membungkuk hormat lalu pergi.
“Hmm, sudah waktunya untuk melihat wajah para Count itu dan aku sudah tidak sabar melihat tikus yang memasuki wilayahku.” Ucap Nara sambil tersenyum menatap tajam keluar jendela.
...—–—...
Sang bulan telah menampakkan dirinya. Waktu makan malam telah tiba.
Di ruang makan Mansion Nara. Terdapat empat orang yang duduk. Telah menyelesaikan makan malam tanpa ada percakapan yang berarti.
“Jadi ada apa, memanggil kami ? Tuan Nara.” Ucap pria paruh baya berbadan tegap.
“Aku ingin melihat kalian dan ingin tahu apa kalian mau berada di bawahanku atau pergi dari wilayahku.” Ucap Nara dengan tak acuh kepada keempat Count.
“Heh! Seorang bocah mau memerintah. Pulang saja sana ke pelukan ibumu!” Ucap seorang pria paruh baya berbadan berisi.
“Diamlah, Walsh! Kalau boleh tahu keuntungan apa yang saya dapatkan jika mengikuti Anda, Tuan Nara?” Ucap pria paruh baya yang memakai kacamata.
“Pertanyaan itu bisa aku jawab ketika kalian memutuskan untuk menjadi bawahanku.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Heh, Emangnya siapa kamu bocah! Aku akan pergi! Dari pada harus menjadi bawahan seorang bocah.” Ucap pria paruh baya yang memiliki badan berisi.
“Ada yang ingin mengikuti? Aku mempersilahkan tapi seperti yang telah kalian ketahui gelar Count kalian akan diturunkan menjadi rakyat biasa “ Ucap Nara sambil menikmati Wine.
“Keluarga Ameera akan selalu setia kepada Kerajaan Majapahit. Saya menerima tawaran Anda, Tuan Nara.” Ucap Count Ameera dengan berdiri lalu membungkuk hormat kepada Nara.
“Keluarga Carter selalu melihat keuntungan bisa diraih. Tawaran Anda terlihat menguntungkan. Saya menerima tawaran Anda, Tuan Nara.” Ucap Count Carter dengan berdiri lalu membungkuk hormat kepada Nara.
“Saya dan Keluarga Foster akan mengikuti Anda, Tuan Nara.” Ucap Count Foster dengan membungkuk hormat.
“Oh, baguslah aku tidak perlu mengganti kalian dengan orangku.” Ucap Nara dengan santai sambil menikmati Wine.
“Jadi keuntungan apa yang ingin Anda sampaikan tadi. Tuan Nara.” Ucap Count Carter dengan tatapan tertarik di balik kacamatanya.
“Aku dengar wilayah Count Carter sedang mengalami masalah hama.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Anda benar, ketika mendekati waktu panen. Kami kewalahan menghadapi hama yang memakan tanaman dan hasil panen menjadi tidak maksimal.” Ucap Count Carter menjelaskan keadaan wilayahnya.
“Aku bisa membantu wilayah Anda dengan mengirimkan obat dan cara mengatasi hama. Bagaimanapun juga Class ku adalah Farmer.” Ucap Nara dengan santai sukses membuat ketiga Count terkejut.
“Class Anda Farmer?” Ucap Count Carter dengan terkejut.
“Iya, jadi bagaimana tawaranku?” Ucap Nara dengan santai.
“Saya menerima, tapi saya yakin itu tidak gratis. Berapa Anda mematok harganya.” Ucap Count Carter dengan tatapan bisnis.
“Untuk metode cara mengatasi hama, itu akan menjadi hadiah karena menjadi bawahanku. Lalu untuk obat hama aku sendiri yang membuatnya dan itu sulit dan membutuhkan bahan.
Mungkin 100 koin emas hitam untuk 150 obat anti hama.” Ucap Nara dengan nada kesulitan.
Count Carter terlihat berpikir dan menghitung dengan tangannya.
“Tawaran Anda cukup bagus. Saya menerimanya.” Ucap Count Carter sambil berjabat tangan dengan Nara.