
...Tidak Jadi Melihat Leluhur...
Setelah mendengar pujaan Nara kepada tidur siang. Pencocokan Class tetap berlanjut. Hingga giliran Darius Bima.
Di depan barisan peserta.
“Ternyata peserta selanjutnya adalah Tuan muda Darius Bima, Putra tertua keluarga Duke Bima.” Ucap penyihir kerajaan saat melihat Darius.
“Salam.” Ucap Darius memberi salam.
“Baiklah, mari kita mulai.” Ucap penyihir kerajaan sambil menyodorkan Crystal Ball ditangannya.
Setelah mendengar itu, Darius menempatkan tangannya di atas Crystal Ball dan mengalirkan mana. Tidak berselang lama cahaya keluar dari Crystal Ball dan memperlihatkan cahaya bertuliskan “Sword Master”.
“Selamat Tuan muda Darius. Karena telah mendapatkan Class Sword Master. Selamat.”
“Terima kasih” ucap Darius dengan sedikit mengangkat dadanya.
Darius kembali ke barisan dan menyombongkan Class yang didapatnya kepada sahabatnya.
“Hahahaha, aku memang cocok menjadi Panglima besar. Hahaha.” Ucap Darius kepada para sahabatnya.
“...” akan tetapi Nara dan Ryan tidak menanggapi omong besar Darius.
“Kak Darius hebat.” Ucap Ellisa yang memuji Darius.
“Tentu saja, Haha.” Ucap Darius.
“Biasa saja. Jika bakat besar tidak diimbangi dengan latihan maka itu hanya sekedar pajangan saja.” Ucap Nina yang terdengar menyakitkan bagi Darius.
“Sayang, bisakah kau bilang sesuatu yang lebih enak didengar. “Seperti sayang kamu hebat sekali.” Tunggu, apa jangan-jangan kamu menghawatirkan masa depanku?” ucap Darius menggoda Nina.
“Ti-dak mungkin, a-ku hany-“ Ucap Nina dengan wajah memerah, belum selesai Nina berbicara tiba-tiba ada sebuah tangan mengelus rambutnya.
“Terima kasih telah menghawatirkanku, Nina sayang.” Ucap manis Darius sambil mengelus rambut Nina.
Nina hanya diam menikmati elusan Darius pada rambutnya.
“Oww, kak Darius sangat romantis sekali.” Ucap Ellisa yang kagum dengan sikap romantis Darius.
“Dasar buaya. Sikap seperti itu di gunakan Darius untuk menarik mangsanya.” Ucap Ryan yang melihat sikap Darius.
“Sibuk saja kau ini. Cari pacar sana, masa seorang Pangeran Mahkota Ryan Lewis masih belum memiliki pasangan, Hahahaha.” Ucap Darius mengejek Ryan.
“Kau ini.” Ucap Ryan yang memanas dengan ejekan Darius.
Tiba-tiba terdengar suara gumaman.
“Bukankah punya pasangan itu merepotkan Nara? Sepertinya iya.” Ucap Nara bergumam sendiri pada dirinya sendiri, Nara tidak menyadari jika gumamannya terdengar oleh sahabatnya.
“...” para sahabatnya hanya terdiam mendengar gumaman Nara.
Pencocokan Class berlanjut. Dengan sebagai besar peserta memiliki Class Knight, Mage/Penyihir, Hunter/pemanahan.
Tapi tiba-tiba suasana menjadi tegang. Ketika mendengar suara penyihir kerajaan.
“He-bat, hebat! Kerajaan Majapahit melahirkan seorang Class Dragon Tamer.” Ucap penyihir kerajaan yang terkagum-kagum.
Ucap penyihir kerajaan itu ketika memeriksa Class remaja pria yang seorang rakyat biasa.
Di barisan peserta, para peserta sedang bergosip.
“Kau dengar itu? Bakat sehebat itu muncul di rakyat jelata!”
“Bukankah itu tidak berguna sama sekali? Rakyat jelata hanya akan menyia-nyiakan bakat hebat itu.”
Tiba-tiba terdengar suara yang memecahkan para peserta yang bergosip.
“Kenapa kalian ini! Bukankah bagus jika rakyat kerajaan Majapahit memiliki bakat yang hebat! Kalian hanya pengecut! Kalian takut jika seorang rakyat biasa melengserkan posisi bangsawan kalian! Dasar sialan.” Ucap Ryan Lewis sang pangeran mahkota.
Semua orang yang mendengar ucapan Ryan Lewis hanya bisa diam. Pangeran mahkota yang bisanya bersikap ramah menjadi marah jika itu berhubungan dengan keadilan/ kesejahteraan.
“Sudah pangeran mahkota. Hamba yang rendah ini tidak layak menerima pembelaan seorang pangeran mahkota.” Ucap remaja pria yang memiliki Class Dragon Tamer sambil membungkuk.
“Tidak, keadilan harus ditegakkan. Apalagi jika itu terjadi di depan mataku secara langsung.” Ucap Ryan Lewis yang terlihat marah.
“Tidak apa-apa pangeran mahkota. Hamba sudah biasa menerima hal tersebut.” Ucap remaja pria tersebut yang masih membungkuk.
“Berdiri. Perkenalkan namamu.” Ucap Ryan kepada remaja pria tersebut.
“Perkenalkan nama saya Leo.” Ucap remaja pria tersebut yang bernama Leo.
“Dengarkan Leo. Kamu adalah salah satu masa depan kerajaan Majapahit. Berdirilah dengan tegak dan jadilah pedang kerajaan Majapahit. Jangan lupa apa yang kamu rasakan saat dihina dan jadikanlah itu sebagai bahan bakar untuk mencapai tujuan yang besar.” Ucap Ryan Lewis.
“Leo, maukah engkau menjadi pedangku yang selalu ada saat aku membutuhkan.” Ucap Ryan Lewis sambil menatap mata Leo.
Leo yang mendengar itu dan melihat mata Ryan yang terlihat bersungguh-sungguh memancar aura dominasi.
“Hamba menerimanya. Hamba siap menjadi pedang pangeran mahkota dan akan selalu melindungi pangeran mahkota.” Ucap Leo dengan berlutut satu kaki.
“Berdirilah.” Ucap Ryan.
“Selamat datang pedangku di masa depan.” Ucap Ryan sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Leo langsung menjabat tangan Ryan.
“Baik! Saya akan berlatih dengan keras dan tidak akan membuat pangeran mahkota kecewa.” Ucap Leo.
Setelah itu Ryan kembali ke barisan dan diikuti Leo di belakangnya.
“Hoam, siapa orang itu?” terdengar suara Nara yang menguap.
“Kau dari tadi ke mana saja! Orang yang Ryan bawa adalah seorang DRAGON TAMER.” Ucap Darius menjelaskan kepada Nara.
“Terus?” ucap Nara dengan acuh.
“Kenapa dengan Dragon Tamer? Penjinak reptil bersayap yang sombong. Apakah itu hebat?” ucap Nara yang tidak mengerti kenapa Class penjinak reptil bersayap begitu heboh.
“Kalian semua aneh.” Ucap Nara kembali duduk dengan membuat kursi dari mana dan terlihat Kala yang membawakan Nara anggur.
Ryan yang bertepatan kembali mendengar dengan jelas apa yang Nara ucapkan seketika membeku.
Sedangkan Leo yang menjadi pusat pembicaraan tersungkur ke tanah.
Sedangkan Darius, Ellisa, dan Nina yang dari tadi mendengar dengan jelas tersedak darah.
“Kenapa kalian? Aneh.” Ucap Nara sambil melanjutkan makan anggur.
“Kenapa pemikiranmu seperti itu sih? Setelah kembali aku harus mengunjungi Bibi Sarah dan menanyakan apa yang beliau idamkan saat hamil sehingga melahirkan sosok seorang remaja yang satu ini.” Ucap Darius yang tidak mengerti dengan pola pikir Nara.
“Mungkin kita harus cerita tentang sikap kakak Nara kepada Bibi Sarah. Siapa tahu kita mendapatkan pemandangan dimanah kak Nara hanya diam saja dimarahi oleh Bibi Sarah." Ucap Ellisa tersenyum.
“Aku setuju.” Ucap Ryan yang setuju dengan saran adiknya.
“Hehehe.” Sementara Darius dan Nina tertawa dengan ide Ellisa.
“Ja-jangan, apa kalian tidak tahu jika ibu tahu aku bermalas-malasan. Aku akan disuruh mengurusi urusan wilayah yang merepotkan itu. Sungguh mengerikan.” Ucap Nara langsung berdiri menghentikan ide gila Ellisa.
Leo yang mendengar itu hanya bingung bagian mananya yang mengerikan dari mengurusi wilayah.
Melihat bawahan barunya yang terlihat bingung, Ryan menjelaskan sifat Nara yang malas. Bahkan jika menurut orang lain itu adalah berkat, Nara malah menganggapnya sebagai kutukan.
Leo yang mendengar penjelasan Ryan hanya mengangguk diam.
Setelah perbincangan itu , tidak lama kemudian tibalah giliran Nara untuk melakukan pencocokan Class.
Di depan barisan peserta.
“Peserta selanjutnya silakan maju.” Ucap penyihir kerajaan.
Tidak lama kemudian muncullah seorang remaja pria yang tampan. Maju menuju penyihir kerajaan dengan menguap.
“Oh, ternyata putra Duke Satya. Nara Satya seorang yang terkenal malas dan mengerikan disaat bersamaan.” Ucap penyihir kerajaan melihat Nara.
“Bisa dimulai?” ucap Nara yang acuh.
“Tentu.” Ucap penyihir kerajaan yang terlihat biasa saja dengan sikap Nara yang acuh.
Penyihir kerajaan menyodorkan Crystal Ball dan mulai mengalirkan Mananya.
Tak berselang lama cahaya keluar bertuliskan “FARMER” dari Crystal Ball.
“Class Farmer? Apa terjadi kesalahan? Seorang putra Duke memiliki Class Farmer?” ucap penyihir kerajaan yang terlihat bingung dengan hasil Class Nara.
“Hahahaha, hei lihat itu Class Farmer. Hahaha.”
“Hahahaha, seperti masa depan orang itu sudah tidak ada.”
Terdengar suara ejekan mengenai Class Nara.
Sementara itu Nara yang mengetahui Classnya adalah Farmer. Nara tersenyum dan sedikit tertawa.
“Hehe, seperti ini adalah hari keberuntungan.” Penyihir kerajaan yang mendengar itu sedikit terkejut dengan sikap Nara. Sir Tron yang dari tadi hanya diam memperhatikan juga sedikit terkejut.
“Apakah dia gila.”
“Mungkin dia sudah kehilangan akal.”
Kerumunan peserta mulai membicarakan tentang sikap Nara yang aneh.
Kemudian Nara kembali ke barisannya. Di perjalanan Nara banyak sekali menerima ejekan dan hinaan dari peserta lainnya. Tapi tiba-tiba Nara terhenti ketikan salah satu peserta meludahinya.
“Hahahaha, kenapa seorang petani berada di sini, haha-“ ucap peserta tersebut terhenti ketika melihat Nara yang sudah berada di belakangnya sambil menempelkan bilah sabit berwarna merah gelap di leher peserta yang meludahinya.
Ketika Nara hampir memutuskan kepada peserta tersebut Nara terhempas ke samping.
Bruk!
“Apa yang kamu pikirkan Nara Satya!” terdengar suara yang keras meneriaki Nara.
“Tidak ada, aku hanya ingin mencoba senjata baru.” Ucap Nara pada orang yang menendangnya, Sir Tron.
“Apa kau ingin membuat masalah? Saat aku yang mengawasi tidak akan ada yang bisa membuat masalah disini.” Ucap Sir Tron.
“Oh, ya.” Ucap Nara yang kemudian menghilang dari tempatnya.
Nara muncul di depan peserta yang meludahinya.
“Sepertinya kau tidak akan melihat leluhurmu, sayang sekali.” Ucap Nara yang tersenyum tepat di depan wajah peserta tersebut.
Peserta yang berada di depan Nara jatuh terduduk ketakutan melihat Nara.
“Nara Satya!” ucap Sir Tron yang meneriaki Nara.
Setelah itu Nara memasukkan kembali sabitnya ke cincin dimensi. Dan berjalan menuju ke arah tempat sahabatnya.