
...Cara Masuk Yang Aneh
...
Di bawah cahaya sang bulan dengan ditemani oleh ribuan bintang yang bersinar redup.
Halaman penginapan Star Sea terlihat banyak orang yang sedang duduk dan makan sambil menikmati suasana malam di daerah pesisir pantai.
Suasana yang tadi ramai menjadi sunyi dengan turunnya sepasang manusia dengan di ikuti oleh tiga wanita.
Saat rombongan itu menuju meja yang masih kosong. Para tamu lain menggosipkan mereka.
“Apakah itu Tuan Nara dan Nona Fiona?” Ucap salah seorang tamu wanita.
“Sepertinya begitu, lihat pakaian Tuan Nara dan Nona Fiona terlihat begitu serasi. Dengan perpaduan warna hitam dan putih keemasan yang begitu elegan.”
“Iya, kau benar. Bahkan pelayan mereka memakai pakaian yang bagus.”
“Bila Tuan Nara mencari seorang selir atau bahkan penghangat ranjang. Aku tidak keberatan untuk mendaftar.”
“Terlalu bermimpi kau! Apakah kau tidak dengar jika Tuan Nara tidak bisa berada di dekat seorang wanita sembarangan!”
“Kenapa memangnya?”
“Jika Tuan Nara berada di dekat wanita sembarangan beliau akan tidak segan-segan untuk membunuh wanita itu bila menyentuh tubuhnya.”
“Seram sekali.”
...—–—...
Di meja makan yang masih kosong.
“Nona Fiona kenapa? Sepertinya kesakitan?” Ucap Lisa dengan tatapan khawatir sambil menarikan kursi untuk Fiona.
“Aku tidak apa-apa Lisa. Hanya saja Tuanmu yang gila ini bermain terlalu kasar.” Ucap Fiona dengan melotot kepada Nara yang sudah duduk.
“Baru beberapa jam saja sudah kelelahan. Bagaimana dengan perjanjianmu yang harus melayaniku sebulan penuh.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Emangnya aku pernah janji? Aku tidak ingat.” Ucap Fiona dengan bersikap bodoh.
“Sudahlah lupakan, aku sangat lapar.” Ucap Nara dengan mengelus perutnya.
“Baiklah.” Ucap Fiona lalu mengangkat tangan.
Tidak lama pelayan menghampiri Fiona.
“Ada yang bisa dibantu?” Ucap pelayan wanita dengan sopan.
“Kami ingin memesan makanan. Apakah ada buku menu?” Ucap Fiona dengan santai.
“Ada Nona, silakan.” Ucap pelayan wanita dengan sopan sambil menyerahkan buku menu.
“Kamu mau pesan apa Nara?” Ucap Fiona kepada Nara yang dari tadi melihat ke arah laut yang tenang.
“Aku mau makanan yang autentik dengan kota Densar Coast.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Untuk menu autentik kota Densar Coast. Kami merekomendasikan menu makanan kepiting merah karang bakar, lobster biru kristal pedas, kerang hijau bumbu Densar.” Ucap pelayan wanita menjelaskan menu autentik kota Densar Coast.
“Aku pesan menu autentik itu semua.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Baik.” Ucap pelayan wanita sambil menulis.
“Aku pesan kerang hijau bumbu Densar, sate ayam api lima tusuk, dan jus buah pisang.” Ucap Fiona dengan santai.
“Baik.” Ucap pelayan wanita sambil menulis.
“Kalian pesan apa?” Ucap Fiona sambil menyerahkan buku menu.
“Saya sama dengan Nona Fiona.” Ucap Vania lalu mengoper buku menu ke Tiara.
“Saya udang biru bakar dan jus buah pisang.” Ucap Tiara lalu menyerahkan buku menu ke Lisa.
“Saya kerang hijau bumbu Densar dan jus buah naga.” Ucap Lisa sambil menyerahkan buku menu kepada pelayan.
Pelayan wanita menerima dan membacakan kembali menu dipesan.
“Tambahkan satu jus buah kelapa biru.” Ucap Fiona dengan santai.
“Baik, saya permisi. Mohon ditunggu makanan dan minumannya.” Ucap pelayan wanita dengan sopan sambil membungkuk hormat.
“Anda pesan minum lagi untuk apa, Nona Fiona?” Ucap Vania dengan penasaran.
“Untuk pria tampan itu yang lupa memesan minum.” Ucap Fiona dengan menatap Nara yang dari tadi memperhatikan laut.
“Ada apa, Nara?” Ucap Fiona yang penasaran apa yang dilihat Nara.
“Sepertinya bukan hanya aku penguasa tempat ini.” Ucap Nara dengan tersenyum.
“Memangnya siapa lagi yang menguasai wilayah ini jika bukan kamu?” Ucap Fiona yang semakin penasaran ketika melihat Nara tersenyum.
“Seekor atau seorang telah menguasai wilayah laut selatan ini.” Ucap Nara sambil menunjuk laut yang tenang.
“Apakah lebih kuat dari kamu?” Ucap Fiona yang semakin tertarik.
“Aku kurang tahu. Tapi levelnya tidak setara dengan level Raja atau Kaisar.” Ucap Nara dengan santai.
“Begitu, aku penasaran seperti apa rupa penguasa laut selatan ini.” Ucap Fiona sambil melihat tajam ke arah tengah laut.
“Aku juga ingin melihatnya. Dan bertanya apa dia teman atau musuh.” Ucap Nara dengan tak acuh.
...—–—...
Tidak lama kemudian. Muncullah beberapa pelayan membawa makanan dan minuman yang dipesan oleh rombongan Nara.
Kemudian mereka makan dengan tenang sambil sesekali mengobrol santai.
Setelah makan malam. Meja Nara dihampiri oleh seorang pria berambut hitam pendek.
“Bagaimana makanan dan minuman Kami, Tuan Nara dan Nona Fiona? Apakah ada yang tidak disukai?” Ucap pria berambut hitam pendek.
“Makanan dan minuman yang enak. Aku suka makanannya terasa masih fresh, Tuan Emilio.” Ucap Nara dengan santai.
“Terima kasih atas pujiannya, Tuan Nara. Jika butuh sesuatu Anda bisa minta tolong kepada saya. Saya permisi dulu.” Ucap Emilio sambil membungkuk hormat lalu pergi.
...—–—...
Setelah para tamu selesai makan malam. Keluar para pelayan membawa Wine lalu memberikannya kepada para tamu.
Dan pada panggung yang berada di dekat meja para tamu. Muncullah seorang wanita cantik berambut hitam dengan panjang sepunggung.
Kemudian wanita cantik berambut hitam sebahu itu mulai mengeluarkan suaranya yang lembut dan indah. Seperti menyihir para pendengarnya.
Para tamu yang mendengar suara wanita cantik berambut hitam sebahu menjadi terdiam menikmati lantunan suara wanita berambut hitam dengan tenang lalu tertidur secara serempak.
Braak
Tubuh para tamu jatuh pada meja di depan mereka. Tersisa rombongan Nara yang santai menikmati lantunan suara wanita cantik berambut hitam sebahu itu.
Plak-plak-plak
“Pertunjukan yang sangat bagus sekali, bravo.” Ucap Nara dengan nada tak acuh sambil bertepuk tangan.
Wanita cantik berambut hitam sebahu itu turun dari panggung dan berjalan menuju meja Nara. Tiara, Lisa ,dan Vania yang melihat itu menjadi waspada dan berdiri melindungi Nara dan Fiona.
“Kalian biarkan saja.” Ucap Nara sambil meminum Wine.
“Tapi Tuan-” Ucap Vania terputus.
“Tidak apa-apa.” Ucap Fiona dengan santai.
“Baik.” Ucap Tiara, Lisa, dan Vania secara bersamaan lalu membiarkan wanita berambut hitam sebahu berjalan dan duduk di kursi tepat di hadapan Nara dan Fiona.
Setelah duduk wanita berambut hitam sebahu menuang Wine ke gelas kosong. Lalu meminum seperti tidak terjadi apa-apa.
“Jadi siapa kamu?” Ucap Nara dengan tak acuh sambil menikmati Wine.
Cara baru untuk masuk yang sangat aneh dan tidak bisakah biasa saja! Seperti masuk dengan menyapa halo salam kenal. Kenapa harus membuat seluruh tamu penginapan tertidur! Ini pasti akan berakhir merepotkan.
Ucap Nara dalam hatinya dengan muka masam.