The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Perebutan Gelar Istri Pertama



...Perebutan Gelar Istri Pertama...


Beberapa hari telah terlewati setelah terjalinnya hubungan kerja sama antara Nara dengan Marissa.


...—–—...


Di pantai dekat dengan penginapan.


“Haaa, akhirnya selesai juga. Kenapa selalu saat aku libur selalu ada yang mengganggu.” Ucap Nara sambil tiduran pada kursi malas.


“Itu karena kamu kurang membahagiakan tunangan cantikmu ini.” Ucap Fiona dengan duduk di sebelah kiri Nara sambil menyerahkan kelapa muda kepada Nara.


“Kamu kurang bahagia apa memangnya?” Ucap Nara sambil meminum kelapa muda yang diberikan Fiona.


“Aku kurang bahagia karena tidak bisa mengalahkanmu dalam hal kekuatan dan ketahanan dalam pertempuran di kasur.” Ucap Fiona dengan ekspresi jengkel di mukanya.


“Hehe, jika itu aku tidak bisa mengalah. Aku selalu kurang menghajarmu di kasur. Kamu terlalu nikmat.” Ucap Nara dengan tersenyum sambil mengelus bibir merah Fiona.


“Kenapa kamu tidak menahan diri. Kamu lihat dada dan leherku banyak tanda gigitan kamu.” Ucap Fiona dengan menunjuk dadanya yang banyak bekas gigitan yang terlihat jelas dari pakaian bikininya.


“Itu salahmu sendiri terlalu nikmat. Jadi aku tidak bisa mengendalikan diriku.” Ucap Nara sambil mengelus bekas gigitannya pada leher Fiona.


Saat sedang asyik mengobrol. Mereka terganggu dengan suara seorang.


“Sepertinya kalian sedang bermesraan di depan umum.” Ucap wanita cantik berambut hitam sebahu dengan mengenakan pakaian bikini hijau yang menutupi tubuhnya yang tidak kalah dengan tubuh Fiona.


“Kamu disini, Nona Marissa?” Ucap Nara dengan santai.


“Pakaian Anda sangat bagus, Nona Marissa?” Ucap Fiona dengan memuji.


“Saya kesini untuk melihat Anda, Tuan Nara. Dan terima kasih, Nona Fiona. Pakaian Anda juga terlihat sangat seksi dengan tubuh Anda yang bagus.” Ucap Marissa dengan duduk di kursi yang ada di sebelah kanan Nara.


“Jadi ada perlu apa? Nona Marissa?” Ucap Nara dengan tak acuh.


“Jadi harus ada perlu untuk menemui Anda, Tuan Nara?” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Tidak.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil memecahkan matanya.


Melihat Nara yang memejamkan matanya. Marissa tersenyum menatap wajah tampan Nara. Tanpa sadar tangan Marissa mencoba memegang wajah Nara.


“Anda mau melakukan apa, Nona Marissa?” Ucap Nara dengan memegang tangan Marissa sambil menatap wajah Marissa yang memerah.


“Maaf.” Ucap Marissa sambil menundukkan kepalanya yang memerah.


“Hehehe, sepertinya dia menyukai kamu, Nara.” Ucap Fiona dengan tersenyum melihat tingkah laku Marissa.


“Benarkah? Apakah ini yang dinamakan pesona orang tampan?” Ucap Nara dengan tersenyum bangga dengan dirinya sendiri.


“Haa, sudahlah. Jadi Nona Marissa, apakah Anda menyukai tunangan saya?” Ucap Fiona dengan ekspresi serius kepada Marissa yang masih menundukkan kepalanya.


“Iya, saya menyukai Tuan Nara. Maaf Nona Fiona, saya tidak bermaksud untuk merebut Tuan Nara dari Anda.” Ucap Marissa dengan muka semerah apel.


“Aku tidak masalah dengan itu. Tapi yang harus menjadi istri pertama adalah aku.” Ucap Fiona dengan ekspresi serius.


Marissa yang tadinya tertunduk. Mengangkat kepalanya dengan cepat. Menatap tajam ke arah Fiona.


“Kenapa harus begitu? Kamu masih tunangan.” Ucap Marissa dengan ekspresi tidak suka di mukanya.


“Sudah jelaskan, aku adalah wanita pertama Nara. Sudah seharusnya aku menjadi istri pertamanya. Bukan kamu yang baru bertemu Nara sudah ingin menjadi istrinya.” Ucap Fiona dengan ekspresi jengkel.


“Haa! Emangnya kenapa kalau aku langsung menjadi istrinya? Apakah ada aturan bahwa baru bertemu tidak bisa langsung menjadi istrinya.” Ucap Marissa dengan ekspresi tidak terima dengan pernyataan


“Kau! Aku sudah lebih dulu merasakan batang Nara.” Ucap Fiona dengan berdiri sambil menunjuk tepat pada ************ Nara.


“Memangnya kenapa? Aku bisa merasakannya juga nanti. Mungkin lebih sering dari pada kamu!” Ucap Marissa sambil berdiri menatap tajam Fiona.


“Bagaimana kalau kita buktikan lewat kekuatan? Siapa yang menang akan menjadi istri pertama Nara!” Ucap Fiona dengan lantang menantang Marissa.


“Ayo, aku kita buktikan lewat kekuatan. Nara yang akan menjadi saksi.” Ucap Marissa menuju Nara yang dari tadi diam.


Nara yang dari tadi menjadi fokus pembicaraan hanya diam memperhatikan tingkah laku dua wanita di depannya.


“Baiklah, aku akan menjadi saksi pertarungan kalian. Tapi ingat jangan sampai keterlaluan. Aku tidak mau salah satu dari kalian terluka parah.” Ucap Nara dengan berdiri sambil menatap tajam mata Fiona dan Marissa.


“Baik, aku setuju untuk tidak terlalu berlebihan.” Ucap Fiona menyetujui permintaan Nara.


“Aku juga setuju.” Ucap Marissa dengan menganggukkan kepalanya.


Uluran tangan Nara dipegang oleh Fiona dan Marissa. Setelah uluran tangan Nara dipegang muncul dari tanah mulut raksasa terbuat dari kegelapan yang langsung melahap mereka.


...—–—


...


Di suatu pulau kecil di Eternal Coastal. Muncul dari tanah sebuah mulut raksasa yang berwarna hitam legam. Mengeluarkan tiga sosok manusia.


“Di sisi kalian bisa bertarung dengan bebas. Tidak ada yang akan terluka terkena dampak pertarungan kalian.” Ucap pria tampan yang memakai kemeja santai dan celana pendek.


“Baiklah, tempat ini tidak buruk juga.” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan yang memakai bikini berwarna merah.


“Aku tidak masalah bertarung di mana saja asalkan masih ada air.” Ucap wanita cantik berambut hitam sebahu yang memakai bikini berwarna hijau.


“Baik, karena kalian menyetujui tempat ini. Pertandingan kalian bisa kalian mulai jika sudah siap.” Ucap pria tampan berjalan menjauh dari tempat dua wanita cantik berdiri.


Pria tampan itu berjalan cukup jauh lalu berhenti di bawah pohon kelapa yang rindang. Sambil mengeluarkan kursi.


“Kala keluarlah.” Ucap pria tampan dengan duduk di kursi malasnya.


Dari bayangan pria tampan itu muncul seekor burung gagak dewasa berwarna hitam legam.


Oakh-Oakh


“Saya hadir di sini, Tuan Nara.” Ucap burung gagak hitam.


“Kamu awasi kedua wanita itu. Bila mereka sudah keterlaluan kamu tahan mereka. Awasi dengan diam, mengerti?” Ucap Nara sambil menunjuk ke arah dua wanita.


Oakh-Oakh


“Saya mengerti, Tuan Nara.” Ucap Kala lalu menghilang menjadi asap hitam yang terbang tinggi ke langit.


Semoga mereka tidak keterlaluan. Haa, memang susah jika sudah menjadi tampan.


...—–—


...


Di tempat kedua wanita berdiri.


Terlihat dua wanita yang berdiri berhadapan dengan saling menatap tajam.


“Kita mulai saja langsung, Marissa!” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan yang memakai bikini berwarna merah.


“Aku juga memikirkan yang sama, Fiona.” Ucap wanita cantik berambut hitam sebahu yang memakai bikini berwarna hijau.


Setelah mengatakan hal tersebut kedua wanita itu langsung saling menjauh menjaga jarak.


Di sisi wanita berambut pirang keputihan.


Wanita berambut pirang keputihan mengeluarkan pedang dengan bilah berwarna keemasan. Lalu di punggung bawah tubuhnya keluar empat buah rantai cahaya.


“Wendy keluarlah. Kita akan melawan ikan.” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan.


Kemudian keluar ular putih dewasa dari sebuah lingkaran cahaya. Berjalan ke samping wanita berambut pirang keputihan.


Sssss-Sssss


“Saya siap bertarung, Nona Fiona.” Ucap ular putih berukuran dewasa.


Sedangkan di sisi wanita berambut hitam.


Wanita berambut hitam mengeluarkan sebuah payung transparan berwarna biru laut. Dari sebuah lingkaran air.


“Naraya keluarlah, kita harus mengalahkan cacing putih.” Ucap wanita cantik berambut hitam.


Kemudian keluar dari laut seekor paus putih berukuran raksasa. Terbang di samping wanita berambut hitam.


Oaou-Oaou


“Saya menerima panggilan Anda, Nona Marissa.” Ucap paus putih berukuran raksasa.


Dimulailah pertarungan antara ratu laut selatan dengan ratu ular selatan. Untuk memperebutkan gelar istri pertama seorang penguasa kegelapan.