
...Pria Cantik...
Setelah itu pintu kereta terbuka. Terlihat seorang pria berambut hitam legam. Dengan mengenakan jas hitam dan rompi merah yang dipadukan dengan kemeja hitam.
Dengan diikuti seorang wanita berambut hitam terurai ke bawah. Dengan mengenakan pakaian maid berwarna hitam.
“Selamat datang di Eternal Rock, Tuan Nara.” Ucap beberapa orang yang mengenakan pakaian maid.
Nara hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu berjalan memasuki Mansion diikuti oleh wanita berambut hitam dengan pakaian maid.
Dengan di belakang mereka terlihat seorang wanita berambut hitam keunguan dan seorang prajurit wanita berambut hitam.
...—–—...
Di dalam Mansion.
Nara melihat sebuah mansion yang seperti sudah lama tidak di tempati. Seperti telah terjadi sesuatu yang mengerikan.
Nara berjalan hingga memasuki sebuah ruangan. Ruangan yang terlihat rapi dengan beberapa kertas yang bertumpukan satu sama lain.
Kemudian Nara duduk di sofa besar yang ada di ruangan tersebut. Setelah duduk Nara memperhatikan dua orang yang berada di depannya.
“Jadi siapa kalian?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Perkenalkan nama saya Lidya Amethyst dan dia adalah pengawal saya, Tuan Nara.” Ucap wanita berambut hitam keuguan.
“Jadi kamu adalah keluarga Amethyst yang menangani wilayah Eternal Rock.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil menatap wanita yang masih berdiri di depannya.
“Benar, Tuan Nara. Saya di minta untuk menangani wilayah Eternal Rock oleh orang tua saya.” Ucap Lidya dengan sopan.
Setelah itu Nara berdiri dari sofa. Lalu menatap Lidya dengan jarak yang sangat dekat. Sehingga terdengar nafas Lidya yang tenang.
“Hmm, kamu cukup menjanjikan untuk menjadi seorang Count.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil memperhatikan Lidya.
“Anda terlalu memuji, Tuan Nara.” Ucap Lidya dengan tenang sambil bersikap biasa.
“Jadi bagaimana kamu mau mengambil posisi seorang Count?” Ucap Nara dengan tak acuh sambil kembali duduk di sofa.
“Jadi bagaimana kamu mau mengambil posisi seorang Count?” Ucap Nara dengan tak acuh sambil kembali duduk di sofa.
Lidya hanya diam sambil menatap Nara. Dengan tersenyum Nara berdiri lalu berjalan menuju pintu.
“Kamu bisa pikirkan nanti, Lidya. Sekarang temani aku untuk berkeliling di Eternal Rock.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil keluar dari ruangan.
Setelah itu wanita berambut hitam berpakaian maid berjalan mengikuti Nara keluar. Kemudian Lidya dan prajutit wanita keluar menyusul Nara.
...—–—...
Di jalan utama Eternal Rock. Terlihat seorang pria tampan berambut hitam yang menari perhatian setiap mata yang melihatnya.
Seorang pria yang terlihat tampan dan mengerikan di saat yang sama. Karena berjalan santai dengan seorang putri seorang bangsawan yang cukup terkenal.
“Bukankah itu Nona LIdya?” Ucap orang yang melintas.
“Sepertinya itu memang Nona Lidya. Tapi siapa yang berada di sampingnya?” Ucap orang dengan memperhatikan.
“Apa orang itu tidak takut dengan Tuan Javier Pearl?” Ucap orang lain yang melihat.
...—–—...
Kemudian tidak lama setelah orang-orang mulai membicarakan tentang pria yang berada di samping wanita berambut hitam keunguan.
Terlihat sebuah kereta yang berwarna putih dengan aksen emas di sekelilingnya. Kereta itu terus berjalan hingga berhenti di dekat wanita berambut hitam keunguan.
Lalu turunlah seorang pria berambut putih yang terlihat cantik dari pada terlihat tampan. Pria cantik itu berjalan ke arah wanita berambut hitam keunguan.
Kemudian pria cantik itu berlutut dengan satu kaki di hadapan wanita berambut hitam keuguan. Lalu mengeluarkan satu buket bunga keluar di tangannya.
“Oh. sang pujaan hatiku, Lidya Amethyst.” Ucap pria cantik itu dengan menyodorkan buket bunga.
“Kenapa kamu di sini, Javier?” Ucap wanita berambut hitam keunguan dengan tenang.
“Aku hanya menemaninya berkeliling Eternal Rock.” Ucap Lidya dengan tenang.
“Kenapa harus kamu yang menemaninya? Kenapa tidak pelayan saja?” Ucap Javier yang masih menatap tajam.
“Itu tidak mungkin.” Ucap Lidya dengan tenang sambil keringat membasahi dahinya.
“Kenapa? Apa karena dia adalah pacar kamu?” Ucap Javier dengan nada tinggi sambil mendekat ke arah pria tersebut.
“Itu karena dia adalah Tuan Nara Satya.” Ucap Lidya dengan tenang sambil keringat membasahi pelipisnya.
Javier yang mendengar ucapan Lidya melihat secara detail pria yang berada di depannya. Mulai dari rambut hingga ujung kaki.
“Rambut hitam legam. Mata merah gelap. Wajah berekspresi malas. Pakaian bernuansa hitam. Tunggu berarti-” Ucap Javier dalam hati dengan keringat dingin membanjiri pelipis dan punggungnya.
Kemudian Javier melangkah ke belakang. Lalu dengan cepat bersembunyi di balik tubuh Lidya dengan raut wajah ketakutan.
“S-salam hormat, Tuan Nara.” Ucap Javier dengan takut sambil mengintip di balik punggung Lidya.
“Apa yang akan Anda lakukan jika saya ditemani oleh Nona Lidya?” Ucap Nara dengan tersenyum sambil menatap Javier.
“T-tidak, Tuan Nara. Saya hanya bercanda.” Ucap Javier dengan takut sambil tetap bersembunyi di belakang punggung Lidya.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita lanjutkan berkeliling di Eternal Rock.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil melanjutkan berjalan.
“Baik, Tuan Nara.” Ucap Lidya dengan tenang sambil mengikuti Nara.
Javier yang melihat Lidya mengikuti Nara bergegas menyusul Lidya. Dengan perasaan takut Javier mengikuti Nara dengan di belakang Lidya.
...—–—...
Kemudian mereka berjalan hingga ke sebuah bangunan yang cukup besar. Sebuah bangunan yang bernuasa putih sehingga berkesan mewah.
Di luar bangunan tersebut banyak orang berlalu lalang keluar masuk. Orang yang berlalu lalang kebanyakan mengenakan pakaian mewah.
Nara dan yang lainnya mulai memasuki bangunan tersebut. Saat memasuki bangunan tersebut para orang yang mengenakan pakaian yang sama menyambut mereka.
“Selamat datang di Shining Gems.” Ucap beberapa orang yang mengenakan pakaian yang sama.
Nara hanya mengangguk lalu berjalan melihat sekeliling toko.
Toko tersebut terlihat terdapat beberapa etalase yang berjejer rapi. Di dalam etalase terdapat beberapa batu yang berbeda-beda.
Batu yang terdapat di dalam etalase memiliki berbagai bentuk dan rupa. Dan juga batu-batu yang ada di dalam etalase mengeluarkan hawa mana.
Hawa mana yang keluar dari berbagai macam elemen. Mana yang keluar sesuai dengan warna dari batu.
Nara berhenti di depan etalase yang memperlihatkan beberapa batu. Dari beberapa batu yang ada di etalase.
Ada sebuah batu yang menarik perhatian Nara. Batu tersebut berwarna kuning transparan yang memancarkan hawa mana putih.
“Ada yang bisa dibantu, Tuan?” Ucap wanita yang mengenakan seragam toko Shining Gems.
“Bisa lihat batu yang itu.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil menunjuk batu kuning transparan.
“Wanita tersebut mengambil batu yang ditunjuk oleh Nara lalu meletakkannya di atas etalase.
Ini adalah batu berjenis kristal kuning. Yang mengandung mana cahaya.” Ucap wanita tersebut menjelaskan.
Nara mengambil batu tersebut sambil melihat secara detail. Kemudian meletakkannya kembali ke atas etalase.
“Berapa harganya?” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Untuk harganya sendiri sekitar 37.000 koin emas hitam.” Ucap wanita tersebut dengan tersenyum.
“Kalau begitu tolong bungkuskan. Saya mau melihat lihat lagi.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Kalau begitu Anda bisa membayarnya di resepsionis utama.” Ucap wanita tersebut dengan tersenyum.
“Baiklah, terima kasih.” Ucap Nara tak acuh sambil kembali berjalan melihat lihat.