The Prince Of Laziness

The Prince Of Laziness
Wanita Memang Selalu Benar



...Wanita Memang Selalu Benar...


Di sebuah kamar di Penginapan Star Sea.


Muncul mulut raksasa yang keluar dari lantai kamar. Mulut raksasa kegelapan memperlihatkan tiga orang.


Dua wanita yang terlihat tertidur di kursi malas. Dengan mengenakan bikini. Dan seorang pria berambut hitam legam.


Pria berambut hitam legam memindah tubuh dua wanita yang tertidur ke tempat tidur yang cukup besar.


Setelah selesai memindahkan dua wanita tersebut ke tempat tidur. Pria berambut hitam legam memperhatikan tubuh mereka. Terlihat tubuh yang indah tapi tertutup oleh luka tebasan dan kesakitan.


Pria berambut hitam legam mengarahkan tangannya ke arah tubuh kedua wanita yang tertidur. Setelah itu pria tersebut merapal mantra sihir.


“Bless Laziness Against Pain”


Dari tangannya keluar lingkaran sihir hitam. Lingkaran sihir hitam keluar tangan raksasa. Dari tangan raksasa seperti memberikan tetesan darah hitam ke atas tubuh kedua wanita tersebut.


Darah hitam dari tangan raksasa membentuk suatu simbol pada bagian atas perut kedua wanita tersebut.


Setelah simbol tersebut selesai terbentuk. Dari simbol yang terdapat di wanita berambut pirang keputihan mengeluarkan asap hitam dengan asap emas. Sedangkan dari simbol yang terdapat di wanita berambut hitam kecokelatan mengeluarkan asap hitam dengan asap biru.


Setelah simbol tersebut habis menjadi asap. Badan kedua wanita tersebut terlihat membaik. Dengan hilangnya tanda tebasan dan kesakitan dari tubuhnya.


...—–—...


“Akhirnya selesai, kalian memang merepotkan.” Ucap pria berambut hitam legam sambil duduk di kasur.


Tidak lama setelah pria berambut hitam legam duduk di kasur. Dari jendela kamar, terbuka dan memperlihatkan seekor gagak hitam.


Gagak hitam terbang menghampiri pria yang duduk di kasur. Lalu mendarat di bahu pria berambut hitam legam tersebut.


“Bagaimana? Apa sudah kamu perbaiki?” Ucap pria berambut hitam legam kepada gagak hitam.


Oakh


“Sudah saya selesaikan perbaikan pulaunya hingga kembali ke semula, Tuan Nara.” Ucap gagak hitam dengan membusungkan dadanya dengan bangga.


“Bagus, sekarang kembalilah.” Ucap Nara dengan wajah tak acuh.


Oakh


“Baik, Tuan Nara.” Ucap Kala lalu berubah menjadi asap dan masuk pada kegelapan Nara.


“Hoam, saat untuk tidur. Kalian sudah membuatku tidak bisa tidur. Lihat saja nanti jika kalian tidak mengatinya.” Ucap Nara sambil melihat dua wanita yang tertidur pulas di ranjang yang sama dengannya.


...—–—...


Di saat pagi yang indah yang seharusnya terdengar nyanyian burung. Di kamar Nara terdengar suara yang cukup keras.


“Kenapa kamu ada disini? Ini kamarku dan Nara, dasar ikan busuk.” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan yang memakai bikini berwarna merah.


“Memangnya kenapa kalau aku disini? Tidak boleh aku berada di dekat suamiku, dasar cacing gila.” Ucap wanita cantik berambut hitam kecokelatan.


“Siapa yang kamu sebut suami? Nara adalah suamiku, dasar ikan busuk.” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan.


“Enak saja, aku yang telah memenangkan pertempuran. Jadi aku yang akan menjadi istri pertama Nara.” Ucap wanita cantik berambut hitam kecokelatan.


“Haaa! Aku yang memenangkan pertempuran kemarin.” Ucap wanita cantik berambut pirang keputihan.


Kedua wanita itu terus saling berdebat. Hingga suara mereka membangunkan pria tampan berambut hitam legam.


“Diam, bisakah kalian diam.” Ucap pria tampan berambut hitam legam dengan pelan dan menyeramkan.


Kedua wanita yang dari tadi berdebat hebat. Menjadi diam patuh mendengar suara pria tampan berambut hitam legam.


“Hoam, kenapa kalian berisik sekali di pagi yang indah ini.” Ucap pria tampan berambut hitam legam sambil menguap.


“Itu karena wanita ular ini yang gila.” Ucap wanita berambut hitam kecokelatan.


“Apa kamu bilang? Wanita ular? Kamu yang wanita ikan busuk.” Ucap wanita berambut pirang keputihan.


“Wanita ikan busuk ini, mengaku menjadi istri pertamamu, Nara.” Ucap wanita berambut pirang keputihan dengan duduk di sebelah kanan pria tampan tersebut.


“Memang itu kenyataannya, dasar wanita ular gila. Kamu melihatkan Nara?” ucap wanita berambut hitam kecokelatan sambil duduk di sebelah kiri pria tampan itu.


“Memangnya aku pernah bilang bahwa salah satu dari kalian akan menjadi istri pertamaku?” Ucap Nara sambil melihat wajah kedua wanita tersebut.


Mereka menatap Nara dengan tatapan tajam. Dari wanita berambut pirang keputihan mengeluarkan pedang cahaya ditangannya.


Sedangkan wanita berambut hitam kecokelatan tersenyum sambil mengeluarkan payung transparan berwarna biru. Sambil merapal mantra sihir.


“Ehem, kalian terlalu cepat mengambil keputusan. Jadi jangan salahkan aku.” Ucap Nara dengan keringat dingin membasahi pipinya.


“Oh, jadi begitu. Jadi ini salah kami? Kak Marissa sepertinya Nara membutuhkan pijatan.” Ucap wanita berambut pirang keputihan sambil menatap tajam ke arah Nara.


Kak? Sejak kapan mereka menjadi akrab? Pikir Nara dengan heran dan cemas.


“Kamu benar, Fiona. Sepertinya Nara membutuhkan pijatan. Iya kan?” Ucap wanita berambut hitam kecokelatan tersenyum ke arah Nara.


“Aku pergi dulu, aku haru-” Ucap Nara terhenti ketika kedua tangan dan kakinya terikat dengan air berwarna biru gelap.


“Sinner’s Water Prison”


“Kamu mau kemana, Nara.” Ucap Marissa dengan tersenyum sambil mengarahkan payungnya yang terlihat mengeluarkan lingkaran sihir.


“Kamu harus dihukum bukan?” Ucap Fiona dengan berjalan menghampiri Nara sambil menatap tajam ke arahnya.


“Hei! Berhenti, kita bisa selesai dengan baik-baik.” Ucap Nara sambil berusaha memberontak.


“Ini juga baik-baik.” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Iya, ini akan baik-baik saja Nara.” Ucap Fiona sambil terus bergerak menuju ke arah Nara.


“Tidaaa-mhmm!” Ucap Nara tertahan dengan air yang menutup mulutnya.


“Shss, diamlah Nara. Nanti terdengar di telinga orang lain, Hehe.” Ucap Marissa dengan tersenyum.


“Tidak, kedua wanita ini sudah gila. Aaaaa!”


Dari kamar Nara terdengar suara orang yang menjerit tapi seperti tertahan sesuatu. Dan suara tertawa yang terdengar seperti suara wanita.


...—–—


...


Pada siang hari yang tidak terlalu panas. Di pasar dekat dengan penginapan Star Sea.


Terlihat tiga orang yang menarik perhatian orang yang melewatinya. Dari pakaian mereka yang terlihat mewah.


Perhatian orang yang melihatnya. Langsung tertuju pada dua wanita cantik yang sedang bercanda ria. Tapi tidak itu saja yang menarik perhatian orang lain.


Perhatian orang-orang juga tertuju pada sang pria yang terlihat tersiksa dengan membawa begitu banyak barang.


“Berapa banyak lagi yang akan kalian beli? Sudah semua toko kalian kunjungi.” Ucap pria berambut hitam legam dengan ekspresi jengkel.


“Tinggal beberapa lagi. Sabarlah Ini juga bagian dari hukumanmu. Benarkan, kak Marissa?” Ucap wanita berambut pirang keputihan.


“Benar tinggal beberapa toko lagi yang mau aku rekomendasi ke Fiona.” Ucap wanita berambut hitam kecokelatan.


“Cepatlah, aku sudah lelah menemani kalian dari pagi.” Ucap pria berambut hitam legam.


“Memangnya ini salah siapa coba?” ucap Fiona dengan menatap tajam pria tersebut.


“Iya, ini salahku.” Ucap pria berambut hitam legam.


“Itu tahu, ayo cepat. Aku sudah tidak sabar untuk berbelanja lagi. Masih jauhkan tempatnya, kak Marissa?” ucap Fiona dengan tidak sabar.


“Harus tinggal beberapa meter lagi, Fiona.” Ucap Marissa dengan tersenyum.


Haaa, wanita selalu benar. Lain kali aku tidak akan macam-macam dengan wanita, haaa.