
...Rapat Yang Hebat...
“Ras-ras yang ada pada South Of Eternal adalah Ras Manusia, Ras Dwarf, Ras Mermaid, dan Ras kecil lainnya.” Ucap Marissa menjelaskan tentang ras-ras yang ada di South Of Eternal.
“Cukup banyak juga ras yang tinggal di South Of Eternal. Ucap Nara dengan terkejut.
Apakah perlu aku jelaskan dimanah mereka tinggal, Nara?” Ucap Marissa kepada Nara dengan tersenyum.
“Kalau begitu tolong jelaskan sekalian, Marissa.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Baiklah, untuk Ras Manusia sepertinya tidak perlu dijelaskan. Ras Dwarf tinggal di kedalaman wilayah Eternal Rock.
Lalu untuk Ras Mermaid dan Ras penghuni laut lainnya. Kami tinggal di laut selatan yang berada di kekuasaanku.
Kemudian Ras kecil lainnya, biasanya mereka tinggal di pelosok South Of Eternal atau mereka adalah budak yang ditangkap.” Ucap Marissa menjelaskan dengan tersenyum lalu duduk kembali.
“Begitu, sepertinya aku harus melihat mereka.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Setelah itu kita akan membahas tentang wilayah-wilayah yang berbatasan dengan South Of Eternal. Ada yang mau menjelaskan?” Ucap Nara dengan tak acuh sambil tetap membaca dokumen.
“Saya mau menjelaskan, Tuan Nara.” Ucap pria yang memakai pakaian militer.
“Silakan, Diego.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Wilayah South Of Eternal berbatasan dengan dua wilayah. Yaitu wilayah Duke Hendrix Satya dan juga wilayah Duke Lucas Galeleo.” Ucap Diego dengan menjelaskan.
“Yang perlu kita perhatikan adalah wilayah Duke Lucas Galeleo. Karena yang saya dengar beliau kurang menyukai keputusan Raja mengangkat Anda menjadi Marques.” Ucap Diego dengan tidak senang lalu kembali duduk.
“Begitu, jadi yang perlu kita perhatikan adalah perbatasan dengan Duke Lucas Galeleo.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Benar, Tuan Nara.” Ucap Diego sambil mengangguk.
“Selanjutnya kita akan membahas tentang ekonomi South Of Eternal. Karena jika tidak keuangan kita tidak bisa menjalankan rencana.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Izinkan saya yang menyampaikannya, Tuan Nara.” Ucap wanita Elf yang mengenakan baju maid berwarna putih.
“Baiklah, silakan Lisa.” Ucap Nara dengan tak acuh.
“Perekonomian South Of Eternal cukup bagus untuk saat ini. Keuangan South Of Eternal saat ini sebagian besar berasal dari pajak.
Dari pajak warga dan para bangsawan mendapatkan 25% dari pendapatan mereka. Setiap bulan kurang lebih mendapatkan 1.500.000 koin emas hitam.” Ucap Lisa dengan tenang menjelaskan.
“Untuk perekonomian kita cukup banyak untuk membangun South Of Eternal.” Ucap Nara dengan tak acuh sambil membaca dokumen.
“Selanjutnya kita akan berdiskusi cara seperti apa yang kita gunakan untuk mempercepat pembangunan South Of Eternal.” Ucap Nara dengan tak acuh.
Kemudian mereka semua berdiskusi tentang cara mengembangkan South Of Eternal. Dan saling memberikan pendapat yang sesuai dengan Nara.
...—–—...
Beberapa jam telah telah berlalu. Akhirnya diskusi panjang membuahkan hasil.
“Kita akan membahas kembali hasil diskusi tentang membangun South Of Eternal.” Ucap Nara sambil membaca kertas di tangannya.
“Dari diskusi tadi kita mendapatkan hasil. Cara yang tepat untuk membangun South Of Eternal adalah menjalin kerja sama dengan berbagai orang atau pun wilayah.
Tapi kita juga harus pintar-pintar memilih dengan siapa kita berbisnis. Jangan pernah berurusan dengan organisasi ilegal bahkan dengan organisasi *******.
Kalian mengerti! Kita tetap utamakan perdamaian dan jangan merusak itu.” Ucap Nara dengan mengeluarkan aura mana hitam yang kuat.
“Kami mengerti, Tuan Nara.” Ucap mereka secara bersamaan.
“Dan satu lagi kita menjalin hubungan melalui bisnis dan juga kerja sama. Jangan menerima semua bentuk suap atau hal-hal ilegal.
“Kami tidak akan berani melakukannya, Tuan Nara.” Ucap mereka secara serempak.
“Bagus, jangan kecewakan aku. Kalian bisa kembali. Rapat sudah berakhir.” Ucap Nara dengan tersenyum.
Kemudian mereka membungkuk hormat lalu pergi dari ruangan Nara. Di ruangan Nara hanya tersisa Nara dan dua wanita.
“Tadi adalah rapat yang hebat, Nara.” Ucap wanita berambut pirang keputihan.
“Kamu benar, ternyata kamu hebat juga. Aku pikir kamu hanya memikirkan kenikmatan saja.” Ucap wanita berambut hitam kecokelatan.
“Haa, aku lelah sekali.” Ucap Nara sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
“Selanjutnya pasti akan lebuh berat lagi, Nara.” Ucap wanita berambut hitam kecokelatan.
“Dia sudah tidur, kak Marissa.” Ucap wanita berambut pirang keputihan.
Setelah itu kedua wanita tersebut menemani Nara tidur di ruang kerjanya.
...—–—...
Waktu terus berjalan. Hingga tidak terasa beberapa hari telah berlalu sejak dimulainya rapat untuk membangun South Of Eternal.
Pada pagi yang cerah di South Of Eternal. Terlihat matahari yang bersinar dengan terang. Tapi cahayanya terhalang oleh awan-awan lembut di langit.
Di jalan yang telah tertata rapi dengan bebatuan. Terlihat sebuah kereta yang ditarik oleh beberapa macan kumbang hitam.
Kereta tersebut terus bergerak hingga berhenti di depan gerbang yang besar dengan beberapa kristal mana.
Di depan gerbang yang terbuka terlihat beberapa pria yang mengenakan armor berwarna biru tua dengan pedang sedang di sampingnya.
Kemudian prajurit yang berjaga di depan gerbang itu memberhentikan kereta yang ditarik oleh beberapa macan kumbang hitam.
“Permisi, bisa perlihatkan identitas?” Ucap prajurit pria yang berdiri tepat pada jendela kereta.
Kemudian tirai jendela yang berwarna putih terbuka. Memperlihatkan pria tampan berambut hitam legam dengan sepasang mata merah.
“Salam, Tuan Nara.” Ucap prajurit dengan terkejut sambil membungkuk hormat.
“Apakah aku boleh masuk?” Ucap pria berambut hitam legam dengan tak acuh.
“Tentu saja Anda bisa masuk, Tuan Nara.” Ucap prajurit dengan gugup.
“Prosedur penjagaan yang bagus.” Ucap Nara sambil membuka jendela lalu memberikan beberapa koin emas hitam.
“Terima kasih, Tuan Nara.” Ucap prajurit sambil membungkuk hormat.
Setelah itu kereta Nara kembali bergerak memasuki gerbang yang memberi kesan terlihat kokoh dan kuat.
Kemudian kereta Nara terus bergerak hingga memasuki sebuah kota yang terlihat di penuhi oleh bangunan yang menggunakan bahan batu sebagai bahan utama.
Lalu dari jendela kereta Nara. Terlihat terbuka dan memperlihatkan pria tampan yang membuka tirai jendela dengan tangan yang tertutup sarung tangan hitam.
“Sebuah kota yang bagus.” Ucap pria berambut hitam legam.
“Anda memang benar, Tuan Nara.” Ucap wanita berambut hitam yang terurai sampai punggung.
“Wilayahnya masih tenang setelah cukup lama kehilangan seorang Count. Sepertinya ada sosok yang menggantikan peran Duke.” Ucap Nara dengan tersenyum sambil kembali menutup tirai jendela kereta.
Kemudian kereta terus berjalan hingga berhenti di depan sebuah Mansion yang lebih kecil jika dibandingkan dengan Mansion Nara.
Sebuah Mansion mewah yang bahan utamanya terbuat dari batu. Dengan beberapa orang yang memakai pakaian maid.